LOGINComplete!!!!!! She grew in wealth without the love she needed the most. In a world with customs and traditions, her upbringing was her destruction. She was trained to make men bend their knees at the sight of her smile yet she bores pure innocence. Then, she was sold to the highest bidder for what her family calls an initiation before she turns a woman. What would happen to her? Would she fall in love to the enigmatic prince who bought her? What would happen if she delve herself on her darkest desires? ...... Hot breath tickled my nose and the smell of my favorite vanilla potpourri filled me. I opened my eyes. Gray met me, like a cluster of angry clouds. "Good morning," the guy whispered in my face. His proximity made me hold my breath. The guy won the bidding and I wasn't wrong. His stare held intensity. He backed down, going to his seat, across from mine. My head snapped to the side; the morning lights seeped through the window beside me. White cumulus clouds parted as the plane flew us above the horizon. I must be asleep for too long that they were able to transfer me from the helicopter to the plane. I snapped back my attention to the guy, "What's your name?" I asked the first question that popped in my mind, being able to let go of the building tensions. "I'm An--" A chuckle escaped from the guy. "No need for proper introductions but as you initiated. I am Yulian." He scratched his chin, looking for my reactions, his thick accent indicated Russian descent. "And you, milady is going to be Mi Eliza, my wife." "Wife? But--" I stopped couldn’t able to form the right words to say. "For a year, yes."
View More“Gimana, Abra, enak nggak sup iganya?” suara Riani mengisi ruang makan.
Serayu melirik suaminya yang menjawab singkat, “Enak,” sambil tetap makan. Senyum puas muncul di wajah sang mertua, senyum yang sudah sering Serayu lihat, tapi tak pernah terasa hangat. Abra merangkul bahu Serayu dengan santai. Sentuhan itu membuatnya kaku, bukan karena tidak nyaman, tapi karena ia tahu mata Riani sudah memperhatikan. Dan benar saja, tatapan tajam itu langsung menusuk, seolah menilai bahwa Serayu tak pantas berada di sana. “Ini masakan Aileen,” ucap Riani tiba-tiba. Nama itu menghantam Serayu lebih kuat daripada nada suara yang mengatakannya. Abra tersedak spontan dan saat Serayu hendak memberinya air, Riani menepis tangannya seolah ia hanya gangguan. Sang mertua yang kemudian menyodorkan gelas pada Abra, membuat batas antara mereka semakin jelas, bahwa Serayu tetap orang luar. “Aileen mampir tadi. Sekarang dia pindah tugas ke sini,” lanjut Riani. “Tambah cantik, pintar, karirnya bagus… harusnya dulu kamu sabar nunggu dia S2.” Ucapan itu menusuk, bukan karena Serayu cemburu, tetapi karena ia sudah terlalu sering dibandingkan dengan perempuan yang bahkan belum pernah ia temui. Abra menahan ibunya dengan satu kata, “Mama.” Saat itu juga Serayu tahu makan siang itu sudah berakhir untuknya. “Kenapa, Abra? Nyatanya, sampai detik ini Mama memang tidak pernah merestui pernikahan kalian,” ujar Riani tanpa ragu. Ia menatap Serayu dengan tajam, seperti bagaimana ia selalu menatap menantunya itu. “Ma, sudahlah.” Abra mulai kesal, tapi masih menahan diri. Sementara Serayu, ia hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia tahu, ia hanyalah koas dari keluarga sederhana yang masuk rumah sakit itu lewat beasiswa. Hidupnya berubah sejak kecelakaan kecil dengan mobil milik Abra, dokter bedah muda yang arogan dan pewaris rumah sakit. Berniat bertanggung jawab, Serayu menyadari jumlah uang yang dikeluarkan untuk memperbaiki mobil itu cukup besar. Hingga akhirnya, tawaran pernikahan kontrak muncul dari Abra sebagai jalan keluar. Serayu sudah menolaknya, tapi keadaan keluarganya yang serba kekurangan memaksanya menerima. Tak ada yang tahu perjanjian itu, termasuk Riani, yang sejak awal menolaknya. Serayu terlalu “biasa” untuk keluarga besar itu. Apa pun yang Serayu lakukan selalu tampak salah di mata Riani. Bahkan hal sekecil menaruh gelas pun bisa menjadi alasan untuk merendahkannya. “Abra, sampai kapan kamu mau dibutakan oleh istri kecilmu itu? Dia ini hanya mengincar hartamu, memanfaatkan popularitasmu di dunia kedokteran!” seru Riani tak tahan lagi. Tatapannya kembali terarah pada Serayu. “Kamu ini dari keluarga miskin, modal beasiswa, harusnya kamu sadar diri.” Serayu kembali menunduk, tak tahu harus merespon dengan kalimat apa. Ia tahu, pernikahan ini hanya di atas kertas, tapi apa yang ibu mertuanya katakan tentang latar belakang keluarganya benar-benar meluikai hatinya. “Ibu Riani, saya memang dari keluarga miskin, tapi saya nggak pernah punya niatan buruk pada Mas Abra dan keluarga,” lirih Serayu berusaha membela diri. Awalnya, ketika menerima perlakuan buruk dari sang ibu mertua, Serayu tak ingin ambil pusing. Ia hanya perlu bertahan hingga kontrak pernikahannya dengan Abra berakhir. Namun lama-kelamaan, ibu mertuanya semakin keterlaluan. “Di dunia ini tidak ada maling yang mengaku, Serayu! Saya nggak tahu, apa yang sudah kamu perbuat sampai bisa mencuci otak anak saya dan berani melawan ibunya sendiri,” cibir Riani tanpa perasaan. Serayu meremas ujung bajunya di bawah meja. Tatapannya terarah ke arah Riani dengan penuh rasa tidak terima. Abra yang melihat ekspresi Serayu langsung mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan istrinya di bawah meja. Seolah memberi instruksi untuk tidak lagi membalas ucapan ibunya agar suasana tidak semakin keruh. “Sejak awal semua sudah berjalan lancar. Abra hanya tinggal menunggu waktu untuk menikah dengan Aileen, tapi tiba-tiba kamu muncul dan mengacaukan semuanya. Seharusnya kamu nggak usah menampakkan diri di hidup anak saya,” lanjut Riani seolah masih belum puas menyudutkan sang menantu. “Ma, dari awal Abra memang nggak ingin menikah dengan Alieen,” sahut Abra menyanggah. “Iya karena perempuan ini lebih dulu mencuci otakmu, Abra!” seru Riani makin kesal. Serayu makin merasa kesal. Ia tahu, tiap kali kejadian seperti ini datang, Abra memang berusaha membelanya. Entah apa motif sebenarnya, setidaknya Serayu sedikit merasa terbantu meskipun rasanya juga percuma karena ibu mertuanya itu sama sekali tak bisa dibantah. Jika saja Abra bersikap abai, mungkin hidup Serayu akan semakin terasa terperosok. Sudah terjebak dalam pernikahan kontrak, masih juga ditindas di keluarga suaminya tanpa pembelaan sedikitpun. “Sudahlah, Abra antar Mama pulang,” kata Abra pasrah. Ia berdiri dan bersiap untuk pergi dari ruang makan. “Kamu benar-benar berubah semenjak menikah dengannya,” tuduh Riani dengan nada dingin. Abra tidak menanggapi, hanya menghela napas lalu menoleh pada istrinya. “Masuklah dulu, Saya akan antar Mama pulang,” titahnya berbisik, meminta Serayu masuk ke dalam kamar. Serayu menurut, tapi belum genap langkahnya tiba-tiba suara Riani membelah keheningan. “Ceraikan Serayu, Abra!”It doesn't mean that when you decide to leave, you will be forever running. Sometimes you just need the time to sort things out, even birds come back.I couldn't tell how long I gazed at his sleeping form before I turned my back. I left without a single word of goodbye. I was scared. I knew that I might not leave if he tried to beg me one more time. I knew that I would give in to him. I badly wanted to stay but I couldn't afford to so. I forced myself to walk out of the house that morning with heavy feet and never looked back again. I willed myself to move on even if it was killing me. Thus, from that day on, my dreams were haunted by his image.
Memories are the windows to the almost forgotten past.There's a faint noise in the background, followed by soft footsteps. My door opened and I heard momma sing. "Happy birthday to you... Happy birthday to you... Happy birthday to you!" I pretended to wake up. Momma sat on the side of the bed, holding a plate of steaming pancakes. I anchored my elbow to a sitting position, a smile spread on my lips. "Happy birthday baby girl!" Momma greeted me with a big grin.
Our past will never define our future."Anja, what taking you so long?" Yulian called from downstairs.The past months had been really great and now I'm in my last week of stay with Yulian. I had no idea what was about to happen, how our goodbyes would turn out to be but one thing I was sure of, I have no interest in coming back home. The idea of living in the same house with my father a
Sometimes, you find happiness in the most unexpected way possible. But most of the time, happiness is not a permanent thing. You need to constantly work for it or it will fade within your grasp."What do you want to do now? Do you want to go back to Crestwood?" Yulian whispered in my ears, waking me up. We stayed late at night after mending our misunderstandings. We talked endlessly about every topic you could think of without getting tired. I haven't even realized that I fell asleep until I felt Yulian's kisses on my neck and ears.I stretched out my hands,
In order to be believable, what you need to do was to stick to your story.
The secrets you tell someone, are the daggers that will kill you.
Monsters aren't born, they are handcrafted.
Trust isn’t an overnight process. There are certain criteria you should meet for someone to give their trust to you. But then there are times when you are overshadowed w






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore