Beranda / Lainnya / TEARS of WITNESS / TOLONG JANGAN LAKUKAN ITU

Share

TOLONG JANGAN LAKUKAN ITU

Penulis: ADRI AUSTIN
last update Terakhir Diperbarui: 2021-03-18 18:28:42

Sudah lebih dari 15 menit, Eden membelakangi Katnis. Tak ada suara. Sehingga membuat Eden berkeinginan untuk menoleh. Dan benar saja, Katnis sudah tidak ada. 

"Sial! Pandai sekali dia," ucap laki-laki yang dikenal sebagai Ghost Assasin itu kesal.

Eden menyusuri tanah lapang yang luas mencari Katnis. Sepanjang pinggiran jalan sejauh mata memandang, yang nampak terlihat hanya rerumputan tanpa ada rumah penduduk di sekitaran. Mau lari kemana dia, pikir Eden sambil menebarkan pandanganya keseluruh area. 

Dan akhirnya, jejak Katnis tercium. Dia melihat Katnis sedang berusaha menuruni sungai kecil yang ada di bawah sana. Kemudian, Eden memutari jalan. 

"Gadis bodoh! Kau pikir kau bisa lari dariku!" Umpatnya. 

Sementara itu, Katnis berusaha payah menyebrangi sungai kecil yang airnya tidak terlalu deras, namun cukup membuat langkah Katnis tidak dapat bergerak cepat. 

Sambil sesekali melihat ke belakang, khawatir kalau pria itu ada di dekatnya, Katnis perlahan melangkahkan kaki melewati bebatuan kecil nan licin. 

Aku tidak mau dijual! Aku harus melarikan diri, batin Katnis. 

Katnis memperhatikan tapaknya sambil mengangkat sedikit kain baju agar mudah dia melangkah. Dan ketika wajahnya menatap ke arah seberang, dia tercengang karena melihat laki-laki yang menakutkan sudah ada di seberang sana, sedang menunggunya. Karena terkejut, Katnis pun terpeleset. Dia tergelincir ke dalam sungai. 

Dengan cepat, Eden terjun bebas ke sungai dan menolong Katnis yang terus terombang-ambing terbawa arus. Padahal, sungai ini tidak terlalu dalam. Namun, dalam keadaan panik, Katnis tidak bisa menyeimbangi tubuhnya yang terbawa arus. 

Tidak butuh upaya berat, Eden sudah mampu menyelamatkan Katnis. Katnis kini sudah berada dalam genggamnya kembali. 

Eden membopong Katnis di atas pundaknya, bak mengangkat karung beras. Tubuh Katnis yang ramping sangat mudah diangkat olehnya. 

"Lepaskan aku!" teriak Katnis sambil memukul-mukul tubuh pria itu. 

"Lepaskan aku! lepaskan aku!" 

Tak dihiraukan. Eden terus berjalan menuju mobil. 

Dan kemudian, ia memasukan Katnis ke dalam mobil kembali. Kedua tangan Katnis diikat. Lalu, ia pun kembali melanjutkan perjalanan. 

Sementara Katnis, harus rela tubuhnya basah kuyup akibat tergelincir ke dalam sungai. 

Sepanjang perjalanan, Katnis menangis tanpa suara. Dia sangat ketakutan kalau dirinya sebentar lagi akan sampai kepada penadah gadis-gadis yang akan dijual ke luar negeri. 

"Tolong lepaskan aku ... " mohonya. Tapi tetap saja tidak berpengaruh apa-apa pada Eden. Dia masih berkonsentrasi menyetir. 

Jarum penunjuk minyak di dashboard sudah hampir menunjuk ke huruf E. Bahan bakar mobil ini hampir habis. 

Dua ratus meter di depan, Eden melihat ada plang penunjuk untuk mengisi bahan bakar. 

****

"Jangan berulah!" ucapnya penuh penekanan. Dan kemudian dia mengikat tangan Katnis di setir kemudi menggunakan borgol baja. Katnis terlihat pasrah. Lalu, Eden keluar dari mobil untuk mengisi bahan bakar. 

Sambil menunggu tangki bahan bakar penuh terisi, Eden menuju mini market yang masih berada di area tempat pengisian bahan bakar ini. Dia pun membayar tagihan untuk bensin dan juga membeli beberapa makanan ringan dan juga minuman kaleng. 

Dari pintu kaca mini market, Eden melihat ada sebuah SUV berhenti di belakang mobilnya. Terlihat normal, karena ini memang tempat pengisian bahan bakar. Namun, setelah ada seorang pria yang mengintip ke jendela mobil miliknya, itu yang membuat keadaan tidak menjadi biasa. 

Dengan santai, Eden berjalan mendekati kendaraanya setelah membayar semua tagihanya. Lalu, dia melepas selang pengisian bahan bakar yang sudah selesai dari mobilnya. 

Tatapan penuh intimidasi terhunus dari tiga pasang mata laki-laki bertubuh besar, yang keluar dari SUV itu. 

Dengan tenang, Eden melangkah jalan menuju pintu mobil. 

Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Katnis, ketika pintu mobil terbuka, Katnis berteriak pecah, "Toloooong!" 

Seketika membuat ketiga pria menoleh tajam ke arah mobil. Seseorang menarik kerah baju Eden. "Hei siapa perempuan itu!" Tanyanya tajam. 

"Bukan urusanmu!" Sahut Eden dingin. 

"Keparat!" Pria itu hendak memukul Eden. Namun tangan Eden lebih cepat memutar lengan pria itu, hingga dia terpelanting. 

Kejadian itu membuat kedua rekan dari pria itu marah. Mereka menyerang Eden secara bersama dari dua sisi. Eden berhasil menghindari pukulan pria yang dari sebelah kanan. Lalu menghantam balik pria yang di sebelah kiri. 

Jurus mematikan dari ilmu bela diri krafmaga yang dia kuasai, mampu melumpuhkan dengan cepat lawan-lawannya. 

Melihat ketiga pria-pria itu tersungkur jatuh, Eden cepat masuk ke dalam mobil, lalu mengendarai kendaraanya, meninggalkan tempat itu. 

"Lepaskan aku! Lepaskan! Tolong!" Katnis meronta. Mencoba menarik-narik borgol baja yang mengikat kedua tanganya. Akam tetapi, itu hanya perbuatan yang sia-sia untuknya. 

Sementara Eden tidak peduli dengan apa yang dilakukan Katnis. Dia hanya terus berkonsentrasi kepada setir kemudinya saja. 

Setelah lelah sendiri, Katnis pun terdiam. Tenaganya habis karena teriakan.

"Makan," kata Eden, sambil memberikan roti isi untuk Katnis. 

Katnis hanya melirik saja. Tanganya tidak bergerak untuk menerima roti pemberian Eden. 

Karena tidak ada tanggapan, Eden meletakan roti itu di atas dashboard. 

Tidak lama kemudian, karena perut Katnis yang sudah tidak mampu menahan lapar, Katnis pun terpaksa mengambil roti itu. Eden melirik, sambil tersenyum tipis. 

Akhirnya mobil pun mengakhiri perjalanan panjang yang tak berujung. Eden dan Katnis sudah memasuki kota. Eden menghentikan kendaraanya di sebuah motel. 

Katnis tercengang. "Mau apa kita ke sini?" ucap Katnis. Wajahnya memucat lantaran perasaan takut yang terus berselimut. 

Apa aku akan dibunuhnya di sini? Lalu dimutilasi? Atau ... argh! Gejolak berat dalam batin Katnis menumpuk banyak pertanyaan yang membuat hatinya menciut. 

Eden menoleh Katnis, lalu dia memukul leher Katnis, seketika itu Katnis pun pingsan. 

Dan kemudian, Eden membuka ikatan tangan Katnis. Lalu dia membopong Katnis masuk ke dalam motel. 

"Masih ada kamar kosong?" Tanya Eden kepada pelayan motel. 

Seorang petugas pelayanan hotel, menghunuskan tatapan penuh penilaian memandang Eden. 

"Apa dia mati?" tanya pelayan itu. 

"Dia mabuk," jawab Eden sekenanya. 

Dan setelah cukup lama memandangi Eden, pelayan itu memberikan kunci kamar. "Bayar di muka," ucapnya. Dan kemudian, Eden mengeluarkan sejumlah uang kertas lalu diletakan di atas meja. 

Eden pun beranjak menuju kamar. 

Eden meletakan Katnis yang masih belum sadarkan diri di atas ranjang. Lalu, dia menutup godeyn yang melapisi jendela kamar dan mematikan lampu. 

Eden membuka jaket kulitnya. Sehingga nampak jelas bentuk tubuhnya yang sangat atletis dari kaos ketat yang dia kenakan. 

Sesekali, dia melirik Katnis yang masih terpejam. Eden memang sengaja membuat Katnis pingsan agar Katnis tidak berteriak ketika bertemu pelayan kasir motel. 

Setelah memastikan semuanya aman, Eden pun beranjak ke dalam kamar mandi. Dia meyiram semua tubuhnya untuk membuat relax otot-otot yang tegang. Sekaligus membuat dingin hawa badan yang panas. 

Sementara itu, Katnis perlahan mulai sadar. Pelupuk matanya sudah bergerak. Dan kemudian, Katnis pun berhasil membukanya. 

Pandangan pertama yang dia lihat ketika membuka mata adalah sebuah ruangan asing dengan pencahayaan minim. "Di mana aku?" Gumamnya. Sesaat kemudian, Eden pun keluar dari kamar mandi. 

"Mau apa kau?" Katnis tercengang, dia menggeser tubuhnya memojok ke ujung ranjang. 

"Tolong jangan apa-apakan aku ... " mohonya. 

Tatapan mata Eden yang terhunus tajam tanpa pencerahan, membuat Katnis semakin ketakutan. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • TEARS of WITNESS   PERTEMUAN DENGAN EDEN KEMBALI

    "So beuatiful," ungkap Gerry. Bola matanya berbinar melihat kecantikan Katnis yang baru saja nampak di depan matanya. "Kalian liat apa? Nggak pernah liat cewek cantik, hah!" Umpat Katnis marah kepada pengawal Gerry yang menatap seronok kepadanya. Gerry mengedarkan pandangan satu per satu ke pengawalnya. "Apa yang kalian lakukan?" Tanya Gerry tajam. "Maaf Bos, kami cuma ... " "Jangan pernah tatap calon istriku seperti itu," ucap Gerry dingin. "I-iya Bos, maaf," ucap semuanya. Sementara Katnis sedang tertawa dalam hati. Pede sekali kau Gerry! Aku bukan calon istrimu. Simpan saja angan-anganmu itu! "Mau pergi sekarang atau ... ? Kalau begitu aku masuk ke kamar lagi." "Hei, jangan. Kita akan berangkat sekarang." Gerry menahan lengan Katnis.

  • TEARS of WITNESS   HADIAH CANTIK UNTUK KATNIS

    "Jangan harap kau bisa menikahiku kalau kau buang gelang itu!" Suara lantang bersamaan dengan hunusan pandang mata yang serius menghujam Gerry. Laki-laki yang dianggap psikopat itu sontak tercengang. "Sampai segitunya kau mempertahankan gelang ini," sahutnya. Katnis pun meraih gelang miliknya dari tangan Gerry dengan kasar. Lalu dia menyahuti, "gelang ini lebih berharga dari nyawaku." "What! Come on! Itu hanya gelang kulit. Aku akan belikan gelang emas untukmu." "Bik Ellen. Kau dengar apa yang dikatakan Tuan Gerry? Dia akan membelikan gelang emas untukmu," alih Katnis. Seketika raut wajah Ellen berubah rona, canggung. Bagaimana mungkin dia bisa terlibat pertikaian mulut dari kedua majikanya ini. Ada-ada saja Non Katnis, pikirnya. "Sudah sana! Aku mau mandi!" Ucap Katnis tajam. Sement

  • TEARS of WITNESS   GELANG

    "Ada masalah?" Tanya Katnis."Oh nggak. Nggak ada apa-apa. Hanya ... ya, cuma hal sepele. Nggak penting," alihnya."Aku lelah. Aku ingin istirahat."Gerry diam sejenak, lalu berkata, "Ya sudah kamu masuk lah ke dalam kamar. Nanti aku susul. Aku selesaikan dulu makan malamku.""No! Aku nggak mau satu kamar denganmu. Aku di kamar lain saja."Bola mata Gerry membulat. Karena pikiranya masih menggelegar kepada anak buahnya yang berkhianat, Gerry memilih untuk tak menanggapi debat dengan Katnis."James," panggil Gerry lantang. Pria bertato itu pun gegas menghampiri bosnya. "Antar gadis ini ke kamar bawah," perintahnya."Baik, Bos," sahut James. Dia pun mengawal Katnis sampai ke kamar."Silakan Nona, ini kamar anda," kata James, setelah membuka pintu dari sebuah ruangan cukup mewah yang berada di l

  • TEARS of WITNESS   PERSEMBAHAN MANIS UNTUK KATNIS

    "Bagaimana, sudah kau buang mayatnya?""Sudah, Bos.""Bagus!" Gerry tersenyum licik. Lalu dia menutup jendela kaca mobil. Dan kemudian memerintahkan supir untuk menancapk gas.Katnis menunduk lesu dengan meremas kedua tangan, duduk dihadapan Gerry di dalam limosin mewah."Kenapa kau tidak senang? Aku sudah membantumu membalaskan dendam atas kematian papamu," ujarnya.Katnis tidak menghiraukan. Luka membelah perasaanya yang lirih. Pikiranya kalut tak menentu."Sebaiknya, kau rawat diri setelah ini karena aku akan mempersiapkan pernikaham kita."Katnis mendongakan wajahnya menatap Gerry dengan sorotan mata tajam.Mobil pun melaju dengan cepat membelah angin di kelapnya malam tanpa bintang.****"Iko, cepat perbaiki jaringnya."Seorang bocah kecil melompat dari perahu kayu untuk memperbaiki mata kail jaring yang tersangkut."Ayo cepat! Se

  • TEARS of WITNESS   GERRY BERHASIL MEMPENGARUHI KATNIS

    "Hei, boleh mampir ke sana?" pinta Katnis, sambil menepuk pundak Eden di kala melintas di depan pasar rakyat.Eden membelokan sepeda motornya, menuju keramaian pasar."Kau baik sekali, terima kasih ya," ucap Katnis dengan wajah berseri, sambil berusaha turun dari sepeda motor. Dan kemudian, Eden membantu Katnis melepaskan pengikat tali pada helmet."Waaaaah bagus sekali," ungkapnya kagum."Memangnya sekarang hari apa? Kenapa malam ini ada pasar rakyat?""Ayo kita ke sana." Katnis menarik tangan Eden menuju tempat permainan anak-anak. Mereka menyebutnya fantasi bergerak. Di mana sebuah mesin memutarkan benda-benda yang ditunggangi oleh kebanyakan anak-anak. Namun, tidak menutup kemungkinan juga orang dewasa menaikinya.Katnis memperhatikan benda itu sambil melepas senyum lebar. Sementara Eden geleng-geleng kepala melihatnya."Ayo," ajak Eden."Aku ingin mencobanya, boleh?" pinta Katnis. Ed

  • TEARS of WITNESS   UNKNOWING

    BYURRRRRR!Katnis menggigil kala air mengguyur sekujur tubuhnya. Dia membersihkan ujung kaki sampai ke kepala dengan sentuhan lembut bercmpur sabun."Nikamat sekali rasanya," ungkap Katnis.Katnis membasuh kembali tubuhnya dengan air, membilas sampai bersih hingga tak sedikitpun sisa sabun menempel.Setelah itu dia mengusap lembut dengan handuk kering. Lalu membalut tubuhnya dengan handuk sampai ke lingkaran dada.Katnis beranjak keluar kamar mandi dengan rambut yang masih basah.Dia menatap cermin, melihat dirinya dengan seksama. Perlahan, Kartnis membuka lilitan handuknya.Bersamaan dengan itu, Eden membuka pintu kamar Katnis karena hendak mengajaknya pergi keluar, tanpa mengetuk dan meminta ijin terlebih dahulu.Eden tidak tahu kalau Katnis sedang memasang pakaianya. Itu yang membuat wajah Eden tercengang kala bola matanya menangkap pemandangan indah. Tanpa sengaja Eden melihat tubuh Katnis

  • TEARS of WITNESS   KEJUJURAN HATI KATNIS

    "Ayo," ajaknya."Kemana?""Masih bertanya? Bukankah kau menginginkan ini, untuk terus berada denganku?"Katnis tersenyum tipis. "Tapi, aku nggak mau kalau kau merasa kasihan denganku.""Lalu, karena alasan apa kalau bukan karena itu?" Eden menekankan ucapanya.Dasar laki-laki nggak peka! Gerutunya dalam hati."Ayo!"Eden pun masuk ke dalam taxi bersama Katnis."Emerald Golf Street no 14, Pak," pinta Eden kepada supir taxi."Baik, Tuan."Taxi pun melaju cepat.Walaupun tak ada percakapan apapun selama sepanjang jalan, Katnis merasakan hatinya senang. Dia tersenyum-senyum sendiri.****Bola mata Katnis memutar 180 derajat ketika sampai di bangunan mewah yang dia ketahui ini adalah milik Eden."Kau tinggal di sini sendiri?" Tanya Katnis, hatinya mengungkap kagum.Eden tak menanggapi."Waaaaaao bagus banget

  • TEARS of WITNESS   GADIS KECIL ITU ADALAH KATNIS

    "Silakan Nona," kata Suster, sambil memberikan semangkuk bubur halus ke tanganya. Katnis menatap heran. "Apa ini, Sus?"Suster itu pun tersenyum. "Bukankah akan semakin romantis jika Nona yang menyuapinya," bisik Suster itu. Namun telinga Eden masih cukup baik mendengarnya dengan jelas.Katnis terkejut. "Aku bukan siapa-siapanya," bantah Katnis.Suster itu menepuk pundak Katnis lalu pergi meninggalkan Katnis dan Eden berdua, sambil tersenyum.Katnis semakin merasa canggung. Tidak tahu apa yang harus dilakukanya."Letakan saja mangkuk itu di sini," pinta Eden. Katnis pun menuruti.Eden berusaha untuk menyuapi sendok ke dalam mulutnya. Namun karena tubuhnya masih lemah, dia agak kesulitan. Seketika membuat Katnis berkeinginan untuk membantunya.Katnis meraih sendok dan mangkuk itu dari tangan Eden. "Biar aku bantu," ucapnya pelan.Eden menatap datar Katnis. "Tidak perlu. Aku bisa se

  • TEARS of WITNESS   TRAGEDI

    Kereta pun tiba di stasiun terakhir. Sebuah kota di mana Katnis berasal.Katnis membuka matanya perlahan sambil menguap. "Kita sudah di mana?" tanyanya. Tak ada jawaban. Katnis mengucek mata dengan cepat."Kemana dia?"Bola mata berpindah-pindah, menebar ke sana sini, namun tak menemukan Eden. "Aaaregh! Paling suka banget hilang dan datang tanpa suara. Memang laki-laki jelmaan hantu," ocehnya. Dan kemudian, Katnis pun beranjak.Tatapanya menyapu sekitaran. Hanya kerumunan orang ramai pada lalu-lalang."Pergi nggak bilang-bilang, menyebalkan!"Dia pun melangkahkan kakinya. Sambil garuk-garuk kepala yang tak gatal, Katnis berpikir, "Aku mau pulang kemana? Tempat tinggal pun nggak ada. Uang cuma segini-segininya. Heeuufsss!" keluhnya.Dan di saat yang bersamaan, dia merasa perutnya lapar. "Aisshhhh ... lengkap sudah penderitaanku.""Taxi Non?""Taxi Non."Ramai memang

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status