Home / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / BAB 171 - RETAKAN DI ANTARA DUNIA

Share

BAB 171 - RETAKAN DI ANTARA DUNIA

Author: Vika moon
last update publish date: 2026-03-19 11:40:38

Hutan Sumberrejo tidak lagi terasa seperti bagian dari dunia manusia.

Langit di atasnya berdenyut antara terang dan gelap.

Cahaya merah keemasan dari Aruna bertabrakan dengan energi hitam milik Zareth, menciptakan gelombang yang merusak keseimbangan alam di sekitarnya.

Pohon-pohon tua bergetar.

Tanah retak semakin dalam.

Udara terasa seperti terbelah menjadi dua.

Aruna berdiri dengan napas berat.

Tubuhnya masih dipenuhi cahaya, namun ia mulai merasakan sesuatu yang berbeda.

Kekuatan ini—

terlal
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 275 H DUNIA SETELAH KEHILANGAN

    Cahaya portal di ujung ruang itu terus berkedip tidak stabil. Retakan besar menyebar ke mana mana, membuat seluruh tempat terasa seperti akan hancur dalam hitungan detik.Pelangi menggenggam Asa erat sambil berlari.“Atas sana! Cepat!”Aruna bergerak lebih dulu melewati serpihan cahaya yang terus berjatuhan. Sosok besar mengikuti di belakang mereka sambil terus mencatat keadaan ruang yang semakin kacau.“Integritas ruang tersisa dua belas persen.”Pelangi langsung panik.“Bisa nggak sih ngomong yang nggak bikin stres?!”Namun tidak ada yang menjawab.Karena semua orang tahu…keadaan mereka memang sedang buruk.Asa bergerak di samping Pelangi tanpa banyak bicara.Cahayanya redup.Sangat redup.Pelangi meliriknya beberapa kali dengan khawatir.“Asa…”Asa tidak menjawab.Ia masih terlihat kosong setelah kepergian Eren.Dan itu membuat hati Pelangi terasa berat.Dummm!Lantai di belakang mereka runtuh besar sekali.Pelangi refleks mempercepat langkah.“Cepat!”Portal bercahaya itu kini te

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 274 _ SAAT DUNIA MULAI RUNTUH

    Retakan besar di bawah mereka terus melebar. Cahaya putih yang selama ini memenuhi ruang perlahan runtuh menjadi serpihan serpihan kecil seperti kaca pecah yang jatuh ke dalam kegelapan tanpa dasar.Pelangi hampir kehilangan pijakan saat lantai di bawahnya berguncang hebat.“Asa!”Ia menggenggam cahaya Asa kuat kuat.Asa bergerak mendekat refleks.“…Pelangi…”Suara runtuhan terdengar dari segala arah. Langit ruang itu juga mulai retak semakin parah, memperlihatkan pusaran hitam besar di baliknya.Aruna berdiri menjaga keseimbangan sambil melihat sekeliling.“Ruang ini tidak akan bertahan lama.”Sosok besar langsung mencatat.“Perkiraan kehancuran total semakin dekat.”Pelangi langsung panik.“Terus kita harus gimana?!”Sosok tinggi itu menatap retakan di langit.“Kita harus keluar sebelum inti ruang hancur sepenuhnya.”Eren masih berdiri di dekat pintu yang nyaris pecah total. Cahaya hitam di tubuhnya bergerak tidak stabil mengikuti runtuhnya tempat itu.Ia memandang sekeliling perlah

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 273 - ORANG YANG MENARIK ASA KEMBALI

    Cahaya hitam itu terus merambat dari tangan Eren menuju tubuh Asa perlahan seperti akar gelap yang hidup. Seluruh ruang dipenuhi getaran aneh yang membuat udara terasa semakin berat.Pelangi langsung bangkit meski tubuhnya masih terasa sakit akibat terpental tadi.“Asa!”Asa menoleh sedikit.Cahayanya berkedip kacau.“…Pelangi…”Namun tangan Eren masih mencengkeramnya erat.Tatapan gelap itu tidak berpindah sedikit pun dari Asa.“Aku sudah terlalu lama sendirian,” katanya pelan.Pelangi menggigit bibir kuat kuat.“Aku bilang lepasin dia!”Ia mencoba mendekat lagi.Namun kali ini Aruna langsung menahan lengannya.“Tunggu.”Pelangi langsung menoleh kesal.“Nunggu apalagi?!”Aruna menatap Eren serius.“Kalau kau bergerak sembarangan sekarang, energi mereka bisa bentrok.”Sosok besar langsung menambahkan.“Kemungkinan kehancuran ruang meningkat drastis.”Pelangi mengepalkan tangan.Ia benci harus diam saat Asa terlihat kesakitan.Eren perlahan mendekatkan wajahnya ke Asa.“Aku terus meman

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 272 - JANGAN PERGI SENDIRI LAGI

    Retakan di pintu itu terus menyebar seperti luka yang tidak bisa dihentikan. Cahaya hitam keluar semakin banyak, membuat seluruh ruang terasa dingin dan berat.Tangan Eren kini sudah sepenuhnya mencengkeram sisi pintu.Perlahan.Namun pasti.Ia sedang mencoba keluar.Pelangi masih menggenggam cahaya Asa erat erat. Jantungnya berdetak kacau saat melihat Asa melangkah maju tadi.Ketakutan yang sejak tadi ia tahan akhirnya muncul sepenuhnya.Bukan takut pada kehancuran.Bukan takut pada Eren.Namun takut kehilangan Asa.“Asa…” suaranya pelan namun bergetar.Asa menoleh perlahan.Cahayanya bergerak tidak stabil.“…aku harus…”“Nggak,” potong Pelangi cepat.Ia menggenggam cahaya itu semakin erat.“Kamu jangan ngomong kayak mau ninggalin aku.”Sunyi.Kalimat itu membuat Asa langsung diam.Bahkan retakan pintu yang terus berbunyi terasa seperti menjauh beberapa detik.Eren memperhatikan mereka dari balik celah pintu.Matanya yang gelap bergerak perlahan.“Masih sama seperti dulu.”Pelangi la

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 271 - PENANTIAN YANG BERUBAH MENJADI GELAP

    Retakan di pintu itu terus melebar perlahan. Cahaya hitam yang keluar darinya mulai memenuhi udara di sekitar mereka seperti kabut tipis yang hidup.Pelangi berdiri di depan Asa tanpa sadar. Tangannya sedikit gemetar, namun ia tetap tidak mundur.Entah kenapa…semakin lama mendengar suara Eren…semakin terasa bahwa sesuatu dalam dirinya telah berubah terlalu jauh.Asa masih menunduk.Cahayanya tidak stabil.“…Eren…”Suara itu terdengar seperti bisikan penuh rasa bersalah.Dari balik pintu, mata gelap itu tetap memandang lurus ke arah Asa.“Akhirnya kau masih mengingat namaku.”Sunyi.Namun kali ini…sunyi itu terasa seperti luka yang membuka dirinya perlahan.Pelangi menoleh sedikit ke arah Asa.“Kamu… dekat sama dia ya…”Asa diam cukup lama.Lalu perlahan berkata.“…dia… sahabat…”Kalimat itu membuat dada Pelangi terasa sesak.Karena sekarang semuanya mulai masuk akal.Rasa bersalah Asa begitu besar bukan hanya karena kehilangan seseorang.Namun karena yang hilang adalah orang yang s

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 270 - SOSOK DI BALIK RETAKAN

    Suara dentuman dari pintu itu terus menggema ke seluruh ruang. Setiap bunyinya terdengar berat, seperti sesuatu yang sangat besar sedang mencoba menghantam dari sisi lain.Dummm…Retakan cahaya di permukaan pintu semakin melebar sedikit demi sedikit.Pelangi berdiri mematung sambil menggenggam cahaya Asa lebih erat. Jantungnya berdetak sangat cepat.“Aku serius… ini nggak normal…”Aruna menatap pintu itu tanpa berkedip.“Memang bukan.”Sosok besar langsung mencatat.“Tekanan energi meningkat drastis.”Asa gemetar di samping Pelangi.“…dia… bangun…”Pelangi langsung menoleh.“Siapa dia…”Namun Asa hanya menunduk.Cahayanya bergerak kacau.Seperti ketakutan lama yang kembali muncul seluruhnya.Sosok tinggi itu melangkah mendekati pintu perlahan.“Aku tidak menyangka segelnya melemah secepat ini.”Pelangi langsung berkata cepat.“Kalau emang berbahaya kenapa nggak ditahan!”Sosok itu diam beberapa detik.Lalu menjawab pelan.“Karena segel itu terhubung dengan Asa.”Sunyi.Pelangi langsun

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 52 – Bisikan yang Tidak Pernah Pergi

    Malam turun perlahan di Desa Waringin. Tidak ada hujan, tidak ada angin kencang, namun udara terasa berat, seolah sesuatu yang tak kasat mata sedang menggantung rendah di atas atap-atap rumah warga. Di dalam rumah Pak Seno, lampu-lampu sudah dipadamkan satu per satu. Anak-anak KKN memilih beristir

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 51– Setelah Sunyi Pergi

    Pagi itu datang tanpa tanda-tanda aneh. Tidak ada angin mendadak, tidak ada bisikan, tidak ada bayangan yang menyelinap di sudut pandang. Hanya cahaya matahari yang menembus sela jendela rumah Pak Seno, jatuh lembut di lantai kayu yang sudah lama menua. Aruna terbangun dengan napas pelan. Untuk pe

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 50 - Suasana Semakin Menegangkan

    Suasana di kamar Embun masih membeku ketika Pak Seno dan Bu Seno datang tergesa, dipanggil oleh Alvaro yang berlari ke ruang depan. Lampu rumah dinyalakan semua, mengusir bayangan gelap yang sejak tadi menekan udara. Namun meski cahaya memenuhi ruangan, rasa dingin itu tidak sepenuhnya pergi. Pak

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 49 – Jejak yang Tak Terlihat

    Malam turun perlahan di Desa Sumberjati, membawa udara lembap dan aroma tanah basah yang khas. Lampu-lampu rumah warga menyala satu per satu, menciptakan cahaya kuning redup yang tampak hangat di mata, tapi tidak sepenuhnya menenangkan hati. Di rumah Pak Seno, anak-anak KKN berkumpul di ruang tengah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status