LOGINDelapan mahasiswa—Hileon, Bagas, Alvaro, Alex, Aruna, Embun, Pelangi, dan Bulan—menjalani KKN di Desa Sendang Pitu, desa sunyi yang diselimuti kabut dan larangan misterius. Warga hanya berpesan satu hal: jangan keluar malam, dan jangan mendekati sendang. Namun pada malam pertama, terdengar tembang sinden yang indah sekaligus menyesakkan dada. Suara itu datang tanpa wujud, memanggil tanpa nama. Malam demi malam, teror dimulai. Alex menghilang, Bulan berbicara dengan suara asing, dan Aruna menari mengikuti irama yang tak terdengar. Di balik tembang itu tersembunyi Sinden Ghaib, arwah perempuan yang mati terkhianati dan menuntut pengganti. KKN ini bukan kebetulan—mereka dipilih. Saat rahasia desa terungkap, satu pertanyaan menghantui mereka siapa yang akan pulang dan siapa yang harus tinggal selamanya.
View MoreVika putri A.
BAB 1 : DESA YANG SUDAH MENUNGU Mesin mobil tua itu meraung pelan sebelum akhirnya melambat. Roda-rodanya menggilas jalan tanah yang lembap, meninggalkan jejak panjang di antara kabut tipis yang menggantung rendah. Pepohonan tinggi menjulang di kiri dan kanan, rantingnya saling bertaut seolah sengaja menutup jalan keluar Di depan mereka, sebuah papan kayu tua berdiri miring DESA SENDANG PITU Cat hitamnya mengelupas, huruf-hurufnya pudar, seperti sudah terlalu lama tidak diperbarui. Aruna menatap papan itu cukup lama, sampai dadanya terasa sesak tanpa sebab. “Kenapa berhenti?” tanya Bagas dari belakang, suaranya masih ceria seperti biasa. “Sudah sampai,” jawab sopir singkat. Aruna turun pertama. Angin desa langsung menyentuh kulitnya—dingin, lembap, dan membawa aroma tanah basah bercampur bunga layu. Rambut hitamnya tergerai tertiup pelan, memperlihatkan mata hijaunya yang jernih. Ia tersenyum sopan, lesung pipinya muncul samar, senyum yang selalu membuat orang merasa tenang. Namun kali ini, senyum itu tak sepenuhnya tulus. Sebagai ketua kelompok KKN, Aruna terbiasa mengatur emosi. Sebagai mahasiswi kedokteran, ia percaya pada logika dan ilmu pengetahuan. Tapi sebagai indigo, ia tak bisa mengabaikan satu hal desa ini tidak kosong Ada banyak yang berdiri tak kasatmata Di belakangnya, Hileon ikut turun. Tubuhnya tegap, bahunya bidang, sorot matanya dingin dan waspada. Mahasiswa jurusan kemiliteran itu selalu terlihat tenang, nyaris tanpa ekspresi. Namun nalurinya bekerja cepat ada sesuatu yang salah di tempat ini. Ia melirik Aruna sekilas.wajah gadis itu tetap tenang, tapi jari-jarinya mengepal halus. “Teman-teman, tetap bareng ya,” ucap Aruna lembut tapi tegas. “Jangan berpencar.” Embun langsung mengangguk antusias. Gadis sastra sejarah itu menurunkan tas besar dari mobil dengan semangat berlebihan. “Akhirnya KKN juga! Desa banget, aku suka!” Namun beberapa detik kemudian, wajahnya berubah. Matanya kosong sesaat, napasnya tertahan. “Embun?” panggil Alex pelan. “Eh nggak apa-apa,” Embun tersenyum cepat. “Cuma… kayak lihat bayangan doang.” Tak ada yang menanggapi serius. “Bayangan masa depan cerahmu,” sahut Bagas sambil tertawa keras. Mahasiswa hukum itu memang tak pernah bisa diam. Rambutnya sedikit berantakan, senyumnya lebar, dan matanya terang-terangan tertuju pada Aruna. “Tenang, Bu Ketua. Ada Bagas, semua aman.” Aruna hanya tersenyum tipis. Di sisi lain, Pelangi turun dengan ribet seperti biasa tasnya banyak, mulutnya tak berhenti bicara. Mahasiswi sastra psikologi itu cantik, ekspresif, dan terlalu sadar akan keberadaannya sendiri. Matanya langsung mencari Hileon. “Hileon, panas nggak sih di sini? Aku kok ngerasa gerah ya,” katanya sambil mendekat. Hileon hanya mengangguk singkat, lalu memalingkan wajah. Tatapannya justru kembali ke Aruna, memastikan gadis itu baik-baik saja. Pelangi mendengus pelan. Bulan turun paling akhir. Gadis dari sosiologi itu pendiam, wajahnya tenang, sorot matanya tajam. Ia cantik dengan caranya sendiri—tak banyak bicara, tapi selalu memperhatikan. Sejak menginjakkan kaki di desa itu, Bulan merasakan sesuatu yang berat di dadanya, tapi ia memilih diam Alvaro, partner Aruna dari kedokteran, berdiri di sampingnya. Wajahnya tampan, pembawaannya dingin dan dewasa. “Kamu kelihatan capek,” katanya pelan pada Aruna. “Aku nggak apa-apa,” jawab Aruna, meski telinganya berdenging samar Terakhir, Alex turun sambil memeluk ranselnya erat. Pemuda pemalu itu menunduk, bahunya sedikit tegang. Matanya sempat menangkap sesuatu di balik pepohonan sekilas saja seperti kain hijau berkibar. Saat ia berkedip, tak ada apa punnIa menelan ludah. Desa Sendang Pitu menyambut mereka dengan sunyi yang tidak wajar. Tidak ada anak-anak bermain. Tidak ada suara ayam atau motor. Hanya langkah kaki mereka sendiri dan desir angin yang menyusup di sela daun. Beberapa warga desa berdiri di kejauhan, mengamati. Wajah mereka ramah, tapi mata mereka seperti menyimpan ketakutan lama. “Kami sudah menunggu,” kata seorang lelaki tua yang akhirnya mendekat. “Saya Pak Lurah.” Aruna menyalaminya sopan. “Terima kasih sudah menerima kami.” Pak Lurah mengangguk, lalu menatap satu per satu wajah mereka. Saat pandangannya bertemu Aruna, alisnya berkerut samar. “Kalian delapan, ya?” “Iya, Pak.” Pak Lurah terdiam terlalu lama. “Kalau begitu,” katanya akhirnya, “ada beberapa aturan.” Mereka dibawa ke rumah KKN bangunan tua berdinding kayu, catnya pudar. Di depan rumah, sebuah pohon besar berdiri, akarnya menjalar seperti ular. “Jangan keluar malam,” ucap Pak Lurah. “Jangan ke sendang. Dan kalau dengar suara… jangan diikuti.” “Suara apa, Pak?” tanya Bagas spontan. Pak Lurah menatapnya lama. “Suara yang indah.” Sore menjelang malam dengan cepat. Matahari tenggelam di balik pepohonan, membuat desa semakin gelap. Saat mereka membereskan barang, udara berubah lebih dingin Aruna berdiri di depan jendela, memandang kabut yang turun perlahan Lalu ia mendengarnya Tembang. Lirih. Panjang. Indah tapi penuh kesedihan. Aruna menutup mata. Bulu kuduknya meremang. “Hileon,” panggilnya pelan. “Iya?” “Kamu dengar?” Hileon mengangguk. “Dengar.” Embun muncul dari kamar dengan wajah pucat. “Kalian juga, kan?” Pelangi tertawa kecil, mencoba menutupi gugup. “Paling suara radio desa.” Namun Bulan berbisik, hampir tak terdengar, “Itu suara perempuan.” Tembang itu semakin jelas Alex mundur selangkah saat matanya menangkap sosok di luar perempuan berkebaya hijau pucat, berdiri di bawah pohon besar. Rambutnya panjang menutupi wajah. “Embun…” bisiknya gemetar. Saat semua menoleh, sosok itu menghilang. Tembang berhenti mendadak. Digantikan bisikan pelan sangat dekat di telinga Aruna. “Delapan datang satu akan tinggal.” Aruna tersentak. Napasnya tercekat Ia tahu, dengan sangat pasti KKN ini bukan kebetulan Dan mereka semua sudah dipilih.Gerbang cahaya keemasan itu berdiri megah di hadapan mereka. Serpihan cahaya putih masih beterbangan pelan di udara ruang perantara, membuat semuanya terasa seperti mimpi yang belum benar benar selesai. Pelangi berjalan pelan di samping Asa. Sesekali ia melirik cahaya kecil itu diam diam. Dan semakin ia melihatnya… semakin terasa bahwa Asa benar benar berubah. Bukan berubah menjadi lebih kuat saja. Namun lebih tenang. Rasa sakit itu masih ada. Pelangi tahu itu. Namun sekarang rasa sakit itu tidak lagi menghancurkan Asa dari dalam. Aruna berjalan beberapa langkah di depan mereka sambil memperhatikan gerbang. “Jalan pulang sudah stabil.” Sosok besar langsung mencatat sesuatu lagi. “Peluang perpindahan aman.” Pelangi langsung menghela napas lega. “Akhirnya ada kabar bagus.” Namun sebelum mereka melangkah lebih dekat… gerbang itu tiba tiba berdenyut pelan. Cahaya keemasannya bergerak seperti air. Pelangi langsung berhenti. “Eh…” Asa juga ikut diam. “…hangat…” Gerbang
Portal bercahaya itu bergetar pelan di depan mereka. Retakan ruang di belakang semakin melebar, membuat suara runtuhan terus terdengar seperti gema panjang yang tidak ada akhirnya.Pelangi berdiri di samping Asa sambil menatap portal itu hati hati.“Kita beneran masuk?”Aruna mengangguk singkat.“Kalau tidak, kita ikut hancur bersama ruang ini.”Pelangi langsung menelan ludah.“Oke… pertanyaan bodoh.”Sosok besar berjalan lebih dulu mendekati portal sambil tetap mencatat sesuatu di buku cahayanya.“Stabilitas cukup untuk dilewati.”Pelangi melihat Asa.Cahayanya kini jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.Masih redup karena kehilangan.Namun tidak lagi kacau.“Asa…”Asa menoleh perlahan.“…iya…”Pelangi tersenyum kecil.“Kita pulang.”Sunyi sebentar.Lalu cahaya Asa bergerak pelan.“…pulang…”Seolah kata itu masih terasa asing baginya.Pelangi mengangguk kecil.“Iya.”Ia menggenggam cahaya Asa lagi.“Bareng.”Dan untuk pertama kalinya…Asa menggenggam balik dengan lebih jelas.Cahaya
Cahaya portal di ujung ruang itu terus berkedip tidak stabil. Retakan besar menyebar ke mana mana, membuat seluruh tempat terasa seperti akan hancur dalam hitungan detik.Pelangi menggenggam Asa erat sambil berlari.“Atas sana! Cepat!”Aruna bergerak lebih dulu melewati serpihan cahaya yang terus berjatuhan. Sosok besar mengikuti di belakang mereka sambil terus mencatat keadaan ruang yang semakin kacau.“Integritas ruang tersisa dua belas persen.”Pelangi langsung panik.“Bisa nggak sih ngomong yang nggak bikin stres?!”Namun tidak ada yang menjawab.Karena semua orang tahu…keadaan mereka memang sedang buruk.Asa bergerak di samping Pelangi tanpa banyak bicara.Cahayanya redup.Sangat redup.Pelangi meliriknya beberapa kali dengan khawatir.“Asa…”Asa tidak menjawab.Ia masih terlihat kosong setelah kepergian Eren.Dan itu membuat hati Pelangi terasa berat.Dummm!Lantai di belakang mereka runtuh besar sekali.Pelangi refleks mempercepat langkah.“Cepat!”Portal bercahaya itu kini te
Retakan besar di bawah mereka terus melebar. Cahaya putih yang selama ini memenuhi ruang perlahan runtuh menjadi serpihan serpihan kecil seperti kaca pecah yang jatuh ke dalam kegelapan tanpa dasar. Pelangi hampir kehilangan pijakan saat lantai di bawahnya berguncang hebat. “Asa!” Ia menggenggam cahaya Asa kuat kuat. Asa bergerak mendekat refleks. “…Pelangi…” Suara runtuhan terdengar dari segala arah. Langit ruang itu juga mulai retak semakin parah, memperlihatkan pusaran hitam besar di baliknya. Aruna berdiri menjaga keseimbangan sambil melihat sekeliling. “Ruang ini tidak akan bertahan lama.” Sosok besar langsung mencatat. “Perkiraan kehancuran total semakin dekat.” Pelangi langsung panik. “Terus kita harus gimana?!” Sosok tinggi itu menatap retakan di langit. “Kita harus keluar sebelum inti ruang hancur sepenuhnya.” Eren masih berdiri di dekat pintu yang nyaris pecah total. Cahaya hitam di tubuhnya bergerak tidak stabil mengikuti runtuhnya tempat itu.
Suara dentuman dari pintu itu terus menggema ke seluruh ruang. Setiap bunyinya terdengar berat, seperti sesuatu yang sangat besar sedang mencoba menghantam dari sisi lain.Dummm…Retakan cahaya di permukaan pintu semakin melebar sedikit demi sedikit.Pelangi berdiri mematung sambil menggenggam caha
Ruang itu terasa jauh lebih tenang setelah percakapan panjang tentang masa lalu Asa. Untuk pertama kalinya sejak semua ingatan mulai terbuka, cahaya di sekitar Asa tidak lagi dipenuhi getaran kacau ataupun tekanan yang berat. Ia masih sedih. Masih menyimpan luka. Namun kini rasa itu tidak lagi
Udara di sekitar mereka berubah semakin dingin. Bukan dingin biasa, melainkan dingin yang terasa masuk hingga ke dalam kesadaran. Pelangi masih berdiri di depan Asa, meski dirinya sendiri bisa merasakan tekanan besar dari sosok tinggi itu.Asa bergetar pelan di belakangnya.“…Pe…la…ngi…”“Aku di si
Cahaya dari lingkaran itu semakin terasa kuat, bukan hanya terlihat, tapi juga seperti berdenyut langsung di dalam kesadaran mereka. Pelangi berdiri dengan napas yang mulai terasa tidak stabil. Ia tidak takut, tapi ada sesuatu yang terlalu besar untuk diabaikan.“Asa… pelan…” katanya dengan suara y
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.