LOGINDelapan mahasiswa—Hileon, Bagas, Alvaro, Alex, Aruna, Embun, Pelangi, dan Bulan—menjalani KKN di Desa Sendang Pitu, desa sunyi yang diselimuti kabut dan larangan misterius. Warga hanya berpesan satu hal: jangan keluar malam, dan jangan mendekati sendang. Namun pada malam pertama, terdengar tembang sinden yang indah sekaligus menyesakkan dada. Suara itu datang tanpa wujud, memanggil tanpa nama. Malam demi malam, teror dimulai. Alex menghilang, Bulan berbicara dengan suara asing, dan Aruna menari mengikuti irama yang tak terdengar. Di balik tembang itu tersembunyi Sinden Ghaib, arwah perempuan yang mati terkhianati dan menuntut pengganti. KKN ini bukan kebetulan—mereka dipilih. Saat rahasia desa terungkap, satu pertanyaan menghantui mereka siapa yang akan pulang dan siapa yang harus tinggal selamanya.
View MorePagi itu meja makan kembali dipenuhi aroma nasi hangat dan lauk sederhana buatan Bu Seno. Namun suasananya berbeda. Tidak ada canda ringan, tidak ada suara tawa kecil yang biasanya mengisi ruang itu. Yang terdengar hanya bunyi sendok menyentuh piring pelan, teratur, namun terasa hampa.Aruna duduk di tempatnya, punggung tegak tapi kaku. Ia menyuap makanan dengan gerakan lambat, seolah makan hanyalah kewajiban, bukan kebutuhan. Pandangannya kosong, berhenti di satu titik tanpa benar-benar melihat. Wajahnya pucat, bibirnya nyaris tak bergerak selain untuk mengunyah.Embun beberapa kali melirik Aruna, lalu cepat-cepat menunduk lagi. Bulan dan Pelangi saling pandang, sama-sama menangkap kejanggalan itu. Hileon memperhatikan dari seberang meja, alisnya berkerut, ada kekhawatiran yang tidak ia ucapkan. Alvaro ikut terdiam, matanya sesekali tertuju pada Aruna.Bu Seno berhenti di samping Aruna. Ia menatap gadis itu lama, seperti seorang ibu menatap anaknya yang sedang menahan beban terlalu b
Pagi datang tanpa suara. Cahaya matahari menyelinap pelan melalui celah jendela, jatuh di lantai kamar dengan lembut, seolah enggan membangunkan siapa pun. Rumah Pak Seno masih sunyi. Nafas para penghuni terdengar teratur, tenggelam dalam sisa-sisa tidur malam yang panjang Aruna membuka mata lebih dulu.Tubuhnya masih terasa pegal, lehernya sedikit nyeri, namun kebiasaan sebagai ketua membuatnya tak betah berlama-lama berbaring. Ia duduk perlahan, mengusap wajahnya, lalu menatap sekeliling kamar. Embun masih tertidur di ranjang sebelah, wajahnya pucat bahkan dalam tidur Aruna menghela napas pelan “Semoga hari ini… biasa saja,” gumamnya lirih Ia bangkit, mengambil handuk, lalu melangkah keluar kamar dengan langkah hati-hati agar tidak membangunkan yang lain. Udara pagi terasa dingin menusuk kulit. Dapur masih sepi, halaman belakang diselimuti kabut tipis Kamar mandi terletak di bagian belakang rumah Aruna masuk, menutup pintu perlahan. Cahaya matahari belum sepenuhnya menjangkau ruang
Aruna akhirnya menghela napas panjang. Cangkir teh di tangannya sudah hampir dingin, tapi ia tetap menyesapnya sekali lagi sebelum bangkit dari bangku teras. Malam semakin larut, dan angin yang tadi terasa sejuk kini mulai menusuk kulit. Ia tidak ingin berlama-lama di luar bukan karena dingin, melainkan karena pikirannya terlalu penuh Ia melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menoleh ke belakang, memastikan langkahnya ringan agar tidak menarik perhatian siapa pun. Lampu ruang tengah masih menyala redup. Suara tawa kecil dari dapur terdengar samar Bagas entah sedang bercanda apa dengan yang lain. Aruna mempercepat langkahnya, menyusuri lorong menuju kamarnya.Pintu kamar tertutup pelan di belakangnya Begitu sendirian, tubuh Aruna seperti kehilangan penopangnya. Ia bersandar sebentar di daun pintu, memejamkan mata. Dadanya terasa sesak, bukan karena sakit fisik, melainkan oleh perasaan yang sejak tadi ia tekan rapi Ia berjalan ke ranjang, duduk di tepinya, lalu meletakkan map catatan di sa
Langit mulai berubah jingga ketika motor-motor mereka memasuki halaman rumah Pak Seno. Suara mesin dimatikan satu per satu, digantikan oleh suara jangkrik yang mulai berani bersahutan. Setelah seharian penuh dengan latihan dan ketegangan yang tak terucap, rumah itu terasa seperti tempat berlindung yang diam-diam mereka rindukan Leon memarkir motornya terakhir. Aruna turun pelan dari boncengan, merapikan jaketnya, lalu berdiri sejenak. Tidak ada lagi kecanggungan seperti di jalan, hanya kelelahan yang samar dan perasaan yang masih mengendap di dada mereka masing-masing Bagas turun dengan wajah paling cerah di antara semuanya. “Ya ampun… gue laper setengah mati,” keluhnya dramatis sambil memegang perut. “Kalau nggak makan sekarang, gue bisa pingsan.” Bulan mendengus. “Drama.”Namun sebelum Bagas sempat membalas, aroma masakan hangat menyeruak dari dalam rumah. Bau sayur bening, tumisan, dan sambal segar bercampur jadi satu aroma yang langsung membuat perut mereka semua bergejolak. “L
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.