INICIAR SESIÓNBukti mutasi rekening dari Hendra yang menunjukkan keterlibatan Om Burhan memperjelas peta persaingan. Meski demikian, Malikha tidak membiarkan fakta itu merusak fokusnya. Malam harinya di dalam apartemen, ia memilih menyusun kembali draf kronologi administrasi panti asuhan. Malikha memperoleh secercah harapan ketika Paman Supardi, yang merasa ketakutan setelah kepalsuan stempel digitalnya terbongkar sore tadi, mengirimkan pesan rahasia berisi foto draf kuitansi internal panti yang asli. Satu orang akhirnya berbalik percaya pada kejujuran Malikha."Paman Supardi tidak tahu kalau stempelnya dipalsukan oleh ibu tiri, Mas," ujar Malikha, meletakkan gawainya di atas meja makan. "Kuitansi asli ini membuktikan bahwa utang almarhum kakek sebenarnya sudah lunas sejak sepuluh tahun lalu. Ibu tiri saya hanya menyimpan draf kosong yang belum dimusnahkan untuk merekayasa jumlah piutang."Mendengar hal itu, Reyhan tidak langsung merasa le
Ketegangan di dalam rumah makan bersahaja itu kian memuncak saat Malikha menatap lekat logo stempel digital pada draf surat utang. Di ambang pintu masuk, Reyhan berdiri diam dengan tangan mengepal di dalam saku celananya. Konflik batin berkecamuk hebat di dalam dada sang CEO. Instingnya sebagai pria dan mantan pemimpin tertinggi korporasi mendesaknya untuk langsung maju, merebut kertas palsu itu, dan mengusir ibu tiri Malikha dengan ancaman hukum pidana secara instan.Namun, ingatan akan kesepakatan mereka di sepertiga malam kemarin menahan langkahnya. Reyhan tahu jika ia memotong masalah menggunakan kuasa besarnya secara serampangan, reputasi mandiri Malikha akan rusak di mata perwakilan warga. Tindakan agresifnya hanya akan membuat Malikha terlihat seperti istri lemah yang berlindung di balik kekayaan suami. Perlindungan tanpa musyawarah seperti itu tidak lagi ia inginkan karena terasa seperti kendali yang melukai harga diri pasangannya.
Foto digital dengan tulisan tangan ambigu dari ibu tirinya masih tergeletak di atas pangkuan Malikha. Di dalam kendaraan yang melaju membelah pinggiran kota, keheningan terasa begitu berat. Reyhan sesekali melirik istrinya dengan guratan cemas yang mendalam. Konflik batin kembali bergejolak di dada sang CEO. Ego penyelamatnya terusik hebat melihat ancaman pembunuhan karakter yang secara spesifik menyasar jabatan dan kelangsungan pernikahan mereka."Kita batalkan perjalanan menemui Paman Supardi, Malikha," ucap Reyhan, suaranya terdengar kaku saat ia memutar kemudi dengan sedikit terburu-buru. "Ini sudah keterlaluan. Aku akan membawa foto rekayasa ini langsung ke biro hukum kantor pusat sore ini. Biar tim pengacara keluarga Al-Fahri yang menekan ibu tirimu secara pidana sebelum dokumen palsu ini sampai ke tangan Oma."Malikha menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendapkan kepanikan yang sengaja diembuskan oleh musuh-musuhnya.
Pagi itu di apartemen, sisa-sisa kehangatan kesepakatan semalam masih terasa menenteramkan. Malikha sedang merapikan draf berkas panti asuhan di meja tengah saat Reyhan mendekatinya dengan langkah yang jauh lebih santai. Tidak ada lagi ketegangan kaku di antara mereka setelah ego masing-masing luluh dalam musyawarah yang jujur."Aku sudah meminta Hendra memastikan tidak ada berkas liar yang masuk ke meja dewan komisaris hari ini, Malikha," ucap Reyhan, suaranya lembut sembari menyerahkan segelas air putih hangat kepada istrinya. "Kita akan jalankan rencana tabayyun ke Paman Supardi sore nanti secara tenang, sesuai masukan penting darimu."Malikha menerima gelas itu, menyunggingkan senyuman manis yang menjadi penawar kecemasan bagi sang suami. "Alhamdulillah, terima kasih, Mas. Nilai adab mengajarkan kita untuk menjaga batasan, tetapi tetap kompak sebagai satu tim. Selama kita tidak menempuh cara yang zalim, insya Allah jalan
Memo Om Burhan yang tersebar di sistem kantor pusat menciptakan riak baru, tetapi di dalam apartemen, Malikha memilih menahan diri dari kepanikan. Di meja makan yang diterangi lampu gantung kekuningan, ia duduk berhadapan dengan Reyhan. Lembaran draf surat utang yang bocor itu bergeming di antara mereka. Konflik batin membuat dada Reyhan bergemuruh, tangannya berulang kali mengetuk permukaan meja dengan cemas."Aku akan mengerahkan tim hukum pribadi Al-Fahri untuk memblokir draf memo itu besok pagi, Malikha," ucap Reyhan, suaranya terdengar kaku dengan nada pelindung yang mutlak. "Ibu tirimu sengaja melempar ini ke koridor kantor untuk memaksamu berlutut. Kita harus memotong jalurnya secara hukum sebelum dewan komisaris junior mengadakan rapat reputasi jabatan."Malikha menatap suaminya, menolak keputusan sepihak yang diambil tanpa ruang diskusi itu. "Mas Reyhan, tolong jangan mengambil keputusan sepihak lagi. Saya tidak mau
Aroma teh melati yang mengepul dari cangkir porselen di meja pantry apartemen sempat membawa rasa damai yang semu. Pagi itu, setelah sidang pleno dewan keluarga besar Al-Fahri mereda, Reyhan menikmati kembali hak akses CEO-nya yang telah dipulihkan. Namun, kedatangan Paman tiri Malikha semalam dengan draf utang miliaran rupiah yang menjaminkan sertifikat panti asuhan, meninggalkan jejak kecemasan yang nyata.Malikha berdiri di dekat jendela, melipat jemari di dada dengan pandangan tertuju pada draf surat perjanjian usang yang diletakkan di atas meja. Konflik batin berkecamuk di dalam dirinya. Nilai kejujuran dan adab keluarganya kini diuji oleh masa lalu yang kelam."Mengapa kamu baru menunjukkan draf surat utang ini sekarang, Malikha?" tanya Reyhan, suaranya terdengar berat dan meninggi satu oktav. Pria itu berdiri dari kursinya, memandang Malikha dengan guratan emosi yang campur aduk antara marah dan cemas. "Pamanmu sudah m
Malam itu, ruang tengah apartemen dipenuhi lembaran berkas yang tertata rapi di atas meja. Kabar mengenai sidang etik darurat yang mengancam Pak Joko membuat Malikha dan Reyhan tidak bisa tinggal diam. Namun, alih-alih panik dan bertindak kasar, mereka menggunakan sisa waktu yang sempit untuk mem
Malam kembali mempertemukan Malikha dan Reyhan di ruang tengah apartemen. Di atas meja, lembaran catatan nomor seri perangkat keras dari gudang sekunder tergeletak berdampingan dengan buku agenda manual almarhum Ayah. Reyhan duduk dengan kedua tangan bertumpu pada lutut, menatap Malikha yang baru
Cahaya fajar menyelinap malu-malu ke dalam ruang tengah, menggantikan keheningan malam yang panjang. Malikha sedang menyeduh teh hangat di dapur ketika Reyhan berjalan mendekat dengan map usang di tangannya. Tidak ada lagi gurat kepanikan atau ego yang meledak-ledak di wajah pria itu. Kejadian ke
Pintu apartemen yang tertutup sore itu tidak benar-benar membawa Malikha pergi jauh. Setelah berjalan hingga ke lobi bawah, langkah kakinya tertahan oleh rasa tanggung jawab dan adab sebagai seorang istri. Kepergiannya bukanlah sebuah pelarian kekanak-kanakan, melainkan sebuah jeda untuk menyelam







