LOGINKetegangan di dalam rumah makan bersahaja itu kian memuncak saat Malikha menatap lekat logo stempel digital pada draf surat utang. Di ambang pintu masuk, Reyhan berdiri diam dengan tangan mengepal di dalam saku celananya. Konflik batin berkecamuk hebat di dalam dada sang CEO. Instingnya sebagai pria dan mantan pemimpin tertinggi korporasi mendesaknya untuk langsung maju, merebut kertas palsu itu, dan mengusir ibu tiri Malikha dengan ancaman hukum pidana secara instan.
Lembaran draf pengakuan utang baru dari komite keluarga masih tergeletak di atas meja kerja sekunder, memancarkan ancaman yang begitu nyata. Di bawah tatapan penuh tuntutan dari ibu tiri dan Farah, Malikha justru menarik napas dalam-dalam, menepis kepanikan sosial yang sengaja diembuskan untuk menyudutkannya. Ia menolak keputusan sepihak yang memaksanya tunduk pada draf jebakan tersebut."Saya tidak akan menandatangani dokumen ini sore ini," ucap Malikha, suaranya mengalun tenang dengan keteguhan prinsip yang mutlak. "Nilai agama mengajarkan kita untuk tidak memberikan kesaksian atas sesuatu yang batil dan meragukan. Jika komite keluarga ingin mengajukan draf pemecatan untuk Mas Reyhan, silakan bawa ke dewan komisaris utama. Namun, saya yakin kebenaran administrasi memiliki jalannya sendiri untuk bermusyawarah."Ibu tiri Malikha mendengus kencang, sementara Farah hanya melirik dengan senyuman sosial yang kaku sebelum akhirnya faksi musuh itu melangkah keluar ruangan dengan kekesalan y
Suasana pasca-rapat pleno kehormatan tidak lantas meredakan ketegangan. Ketika Malikha dan Reyhan melangkah keluar dari ruang sidang komite keluarga menuju selasar utama kantor pusat Al-Fahri, mereka langsung disambut oleh kerumunan dewan komisaris junior dan beberapa anggota keluarga besar yang telah menanti. Bisik-bisik miring mengenai skandal finansial panti asuhan langsung berdengung di koridor umum.Reyhan menghentikan langkahnya, wajahnya tampak kaku menahan amarah yang bergejolak. Sanksi penonaktifan sementara untuk proyek logistik luar miliknya baru saja dijatuhkan secara lisan oleh para sesepuh, dan kini ia harus menelan kekalahan reputasi di depan publik kantornya sendiri."Pak Reyhan, apakah benar draf kuitansi pelunasan yang diajukan istri Anda terbukti fiktif seperti yang dituduhkan?" tanya salah seorang kerabat jauh yang menjabat sebagai perwakilan komite pengawas, menghentikan langkah mereka dengan gestur kecil yang menuntut penjelasan segera. "Jika nama baik Al-Fahri t
Kabar hilangnya Paman Supardi beserta draf kuitansi asli bagaikan hantaman badai yang seketika meruntuhkan sisa ketenangan di dalam apartemen. Di ruang tengah, Malikha terpaku dengan gawai yang masih menyala di atas meja. Konflik batin berkecamuk hebat di dalam dadanya; satu-satunya bukti sah untuk mematahkan draf surat utang rekayasa itu kini lenyap. Reyhan berdiri tegak di hadapannya, wajahnya memerah menahan gelombang kemarahan yang meluap karena merasa salah strategi sejak awal."Ini akibatnya karena kita terlalu banyak menenggang adab dan menunda tindakan hukum, Malikha!" ucap Reyhan, suaranya meninggi memecah keheningan malam dengan nada menyalahkan yang kaku. "Seharusnya sejak awal aku menggunakan tim pengacara korporasi kantor pusat untuk mengunci Paman Supardi. Sekarang saksi utama kita mundur dan bukti fisik itu hilang. Rapat pleno kehormatan besok pagi akan menjadi panggung pembunuhan karakter untuk reputasi jabatan kita!"Malikha menarik napas dalam-dalam, menahan rasa ses
Keraguan yang sempat terpancar dari mata Hendra menyisakan ganjalan yang berat di hati Malikha. Ketika malam merayap di apartemen, atmosfer sunyi menyelimuti ruang tengah. Malikha sedang menata draf berkas di atas meja ketika Reyhan berjalan mendekat setelah menyelesaikan ibadah salat Isya berjamaah. Keheningan di antara mereka terasa canggung, sarat akan sisa ketegangan dari perbedaan sudut pandang mereka sejak siang tadi."Kamu masih memikirkan perkataan Hendra?" tanya Reyhan, memecah kesunyian sembari melipat sajadah. Suaranya terdengar berat, menyimpan getaran cemas yang belum tuntas. "Aku sudah menegurnya. Hendra tidak seharusnya mempertanyakan integritas draf kuitansi yang kamu bawa."Malikha menghela napas perlahan, menatap suaminya dengan pandangan jernih. "Hendra tidak salah, Mas. Dia hanya mencemaskan reputasi jabatan Mas Reyhan. Jujur, ada bagian dari konflik batin saya yang merasa bersalah karena masalah keluarga saya kembali merembet ke koridor kantor pusat."Mendengar pe
Draf surat panggilan dari komite pengawas keluarga besar Al-Fahri bergeming di atas meja pantry apartemen. Ketegangan kembali merayap, merubuhkan atmosfer manis yang sempat mereka bangun semalam. Reyhan berjalan mondar-mandir dengan rahang mengeras, sementara Malikha duduk tenang sembari merapikan catatan manual miliknya. Konflik batin membuat dada Reyhan bergemuruh hebat; ia merasa strategi menahan diri yang ia lakukan kemarin justru memberi ruang bagi musuh untuk beralih menggunakan legalitas formal keluarga."Ini tidak bisa dibiarkan, Malikha," ucap Reyhan, suaranya meninggi dipenuhi kemarahan agresif yang tertahan. "Tuntutan agar kamu hadir sendirian tanpa didampingi aku adalah jebakan sosial yang nyata. Om Burhan dan ibu tirimu sengaja memotong keberadaanku agar bisa menekankan draf pengakuan aset itu secara sepihak. Aku akan mengerahkan seluruh pengaruh jabatan CEO-ku untuk membatalkan rapat pleno kehormatan para sesepuh besok pagi."Malikha menatap suaminya dengan pandangan jer
Bukti mutasi rekening dari Hendra yang menunjukkan keterlibatan Om Burhan memperjelas peta persaingan. Meski demikian, Malikha tidak membiarkan fakta itu merusak fokusnya. Malam harinya di dalam apartemen, ia memilih menyusun kembali draf kronologi administrasi panti asuhan. Malikha memperoleh secercah harapan ketika Paman Supardi, yang merasa ketakutan setelah kepalsuan stempel digitalnya terbongkar sore tadi, mengirimkan pesan rahasia berisi foto draf kuitansi internal panti yang asli. Satu orang akhirnya berbalik percaya pada kejujuran Malikha."Paman Supardi tidak tahu kalau stempelnya dipalsukan oleh ibu tiri, Mas," ujar Malikha, meletakkan gawainya di atas meja makan. "Kuitansi asli ini membuktikan bahwa utang almarhum kakek sebenarnya sudah lunas sejak sepuluh tahun lalu. Ibu tiri saya hanya menyimpan draf kosong yang belum dimusnahkan untuk merekayasa jumlah piutang."Mendengar hal itu, Reyhan tidak langsung merasa le
Masa skorsing yang panjang akhirnya berlalu, meninggalkan kedewasaan baru di dalam ruang tengah apartemen mereka. Pagi itu, Malikha merapikan bros jilbabnya di depan cermin kecil kamar utama dengan gerakan tenang. Di dekat meja makan, Reyhan memperhatikan istrinya dengan segelas susu hangat yang
Malam yang tenang kembali menyelimuti apartemen setelah badai pesan singkat dari Clarissa meredakan tawa kecil mereka. Di atas meja makan, cangkir teh yang mulai mendingin menjadi saksi bisu dua pasang mata yang menatap lurus ke depan, merenungi bayangan konflik baru yang mulai bersemi sebelum lu
Malam itu, ruang tengah apartemen dipenuhi lembaran berkas yang tertata rapi di atas meja. Kabar mengenai sidang etik darurat yang mengancam Pak Joko membuat Malikha dan Reyhan tidak bisa tinggal diam. Namun, alih-alih panik dan bertindak kasar, mereka menggunakan sisa waktu yang sempit untuk mem
Malam kembali mempertemukan Malikha dan Reyhan di ruang tengah apartemen. Di atas meja, lembaran catatan nomor seri perangkat keras dari gudang sekunder tergeletak berdampingan dengan buku agenda manual almarhum Ayah. Reyhan duduk dengan kedua tangan bertumpu pada lutut, menatap Malikha yang baru







