로그인Lima hari lagi menikah, aku justru memergoki calon suamiku sedang menelanjangi perempuan lain. Sialnya, perempuan itu adalah sepupuku sendiri. Hancur, marah dan kecewa tentu saja. Tapi pantang bagiku menyentuh mereka apalagi menangis darah. Kalau mereka bermain kotor, biar aku tunjukkan permainan yang lebih kotor sampai membuat mereka ingin lenyap dari muka bumi.
더 보기DIKHIANATI MAS DOKTER, DINIKAHI PAK MAYOR
******* “Aghh, pelan-pelan, Mas. Sakit!” “Sakit ... atau enak?” Senyumku seketika lenyap setelah berdiri tepat di depan pintu ruangan praktik Mas Arland, seorang dokter pintar yang merupakan calon suamiku. Tanganku yang seharusnya mendorong gagang pintu justru tertahan di udara karena tiba-tiba gemetar oleh suara-suara itu. Tubuhku perlahan merapat untuk mengintip pada celah pintu yang ternyata tidak tertutup rapat. Mataku langsung membelalak melihat pemandangan di dalam sana. “Cepat, Mas. Nanti ada orang.” “Jam praktik sudah selesai. Klinik sepi. Santai aja, Sayang.” Lalu terdengar suara desahan yang membuat tubuhku seperti disiram air es. Aku menyentuh dada yang seperti dihantam palu godam berkali-kali. Jantungku berdetak kencang, bukan hanya karena kaget tapi juga marah. Di sana, di atas ranjang yang harusnya hanya dipakai untuk memeriksa pasien, Mas Arland justru tengah menindih tubuh Alana, adik sepupuku sendiri. Mereka bergumul di dalam sana, tanpa sehelai benang, sedangkan pernikahan kami hanya tinggal hitungan hari. Aku mundur satu langkah. Duniaku terasa runtuh seketika. Tubuhku hampir limbung, tapi tanganku yang gemetar berhasil menyentuh kusen pintu untuk bertahan. “Mas … kalau disuruh milih, kamu pilih aku atau Ezlyra?” tanya Alana di sela tawanya. “Aku pilih kamu, Sayang.” Dengan hati carut marut, aku meraih ponsel dari dalam tas. Kemudian mengarahkan kameranya di celah pintu. “Tapi aku tetap harus nikahin Ezlyra dulu.” “Karena warisan itu?” “Iya. Papa cuma bakal kasih semua hak warisku kalau aku nikah sama dia. Lagian Ezlyra gampang diatur,” lanjut Mas Arland santai. “Dia terlalu polos. Dia percaya banget sama aku.” Napasku tercekat. Selama dua tahun hubungan kami, aku selalu berusaha menjadi perempuan terbaik untuknya. Aku mendukung kariernya. Aku menemani saat dia jatuh. Aku mempercayainya tanpa syarat. Namun semua itu justru membuatku terlihat bodoh di matanya. “Aku bertahan dengan Ezlyra cuma demi uang,” kata Mas Arland lagi. Kalimat itu menghantamku telak. Tanpa ampun. “Kalau semuanya selesai, aku tinggal ceraikan dia. Gampang.” “Kasihan juga sebenarnya,” ucap Alana pelan. “Kasihan apanya? Dia cinta mati sama aku. Perempuan kayak dia gampang diatur dan dibohongi.” Cukup! Aku sudah merekam semuanya. Bukti perselingkuhan mereka sudah tersimpan. Aku mundur perlahan dengan kaki lemas. Mataku memanas dan bulir beningnya tidak dapat ditahan lagi. Wajahku basah oleh air mata saat melangkah meninggalkan tempat praktik itu. Hatiku rasanya seperti terhempas dari langit ke tujuh, jatuh tanpa aba-aba ke dasar tanah. Hancur berantakan. Tapi di satu sisi aku bersyukur, karena Tuhan akhirnya membuka siapa sebenarnya lelaki yang sudah bersamaku hampir dua tahun lamanya. Dia yang kubantu saat kondisi keuangannya sulit. Aku juga ikut mengurus pembelian tanah untuk membangun kliniknya nanti. Dan malam ini, aku baru sadar kalau semua pengorbananku hanya dianggap kebodohan oleh laki-laki itu. Tanganku mengepal di sisi tubuh. Aroma kaldu dari sup ayam favoritnya dalam paper bag yang kubawa bahkan masih tercium. Aku sengaja membawanya karena aku tahu, dokter berusia tiga puluh tiga tahun itu sering lupa makan saat jadwalnya padat. Aku rela bermacet-macetan agar bisa langsung meluncur ke klinik itu tanpa pulang ke rumah lebih dulu. Setelah dua Minggu di luar kota mengurus pembelian tanah untuk kliniknya nanti, aku pulang dengan segenap kerinduan padanya. Tapi di sini, dia justru sedang meniduri perempuan lain. Dan sekarang aku bahkan baru tahu, kalau pernikahannya denganku hanya sekedar jembatan agar dia mendapatkan hak atas warisannya. Akhirnya aku sampai di samping mobil yang sebelumnya memang sengaja kuparkirkan jauh dari kliniknya. Aku ingin memberi kejutan untuknya, tapi ternyata, dia justru sedang menghina harga diriku di depan selingkuhannya. Aku masuk ke dalam mobil. Duduk di balik setir kemudi dengan dada terasa terhimpit. Paper bag berisi sup kaldu kulempar ke jok samping, hingga airnya tumpah. Hatiku meradang. Tenggorokanku rasanya panas. Kejadian di dalam klinik tadi terus berputar dalam kepalaku. Tanganku mencengkram setir kemudi kuat-kuat, hingga tampak memutih. Bisa saja tadi aku melabrak keduanya. Menjambak Alana, menampar Mas Arland dan menghancurkan semua barang yang ada di dalam sana. Tapi, aku tidak akan membuang energiku untuk melawan dua manusia sampah seperti mereka. Aku seorang arsitek senior, aku terbiasa menggunakan otak dalam bekerja dan menyelesaikan masalah, bukan tenaga. Begitu juga untuk menghancurkan mereka berdua. "Kalau kamu mengira aku hanya perempuan bodoh, kamu salah besar, Dokter Arland Maheswara. Aku pastikan, papamu sendirian yang akan mencoret namamu dari daftar penerima warisan itu." "Kamu cocok dengan Alana. Pengkhianat!" Aku langsung melajukan mobil keluar dari area ruko tanpa menoleh lagi ke belakang. Aku tertawa pendek. Tawa yang terdengar menyedihkan. Setelah semua yang kulakukan untuknya, ternyata penilaiannya begitu rendah padaku. Semuanya tidak berarti di matanya. Lampu-lampu jalan mulai tampak buram karena air mata yang terus menggenang di pelupuk mata. Namun aku terlalu marah untuk berhenti. Tiba-tiba ponselku bergetar, menunjukkan satu pesan masuk dari Mas Arland. "Sayang, kamu masih sibuk?" Aku mendecih. Setelah berselingkuh dan tidur dengan perempuan lain, masih sempatnya dia berbohong serta bersikap manis. Dadaku naik turun menahan emosi. Kuinjak pedal gas lebih dalam. Mobil pun melaju semakin cepat membelah jalanan malam yang mulai lengang. Di kepalaku, semua kejadian tadi terus berputar seperti rekaman rusak. Rasanya aku benar-benar muak. “Brengsek!” Tanganku menghantam setir keras. TINNN! Suara klakson memekakkan telinga. Namun isi kepalaku jauh lebih bising daripada itu. Aku mencengkeram setir makin kuat. Selama ini aku pikir hubungan kami dibangun karena cinta dan perjuangan bersama. Aku dengan sukarela mendesain rancangan klinik impiannya. Aku juga yang bolak-balik mengurus pembeliannya, karena ia harus praktik setiap hari. Tapi ternyata di matanya, aku hanya perempuan bodoh yang bisa dimanfaatkan. Kesetiaan dan pengorbananku dalam hubungan ini, malah membuatnya menganggap kalau aku hanyalah perempuan yang mudah diatur dan dibohongi. Air mataku kembali berjatuhan. Sudah kuusap agar tidak membasahi wajah. Namun pandanganku telanjur kabur. Sampai tiba-tiba, sorot lampu dari arah depan muncul begitu cepat. Mataku langsung membelalak. Sebuah motor melaju dari tikungan sempit tepat di depanku. “Ya Tuhan!” Refleks kakiku menginjak rem sekuat tenaga. Cekiiiittt! Ban mobil berdecit nyaring. Tubuhku terhempas ke depan saat mobil kehilangan kendali. Namun semuanya sudah terlambat. Bruaaakkk! Mobilku menghantam sesuatu dengan keras. Tubuhku terlonjak, dan kepala menyentuh setir. Beberapa detik aku hanya bisa diam, lalu pelan-pelan barulah menegakkan tubuh seraya meredakan pening yang menjalar di kepala. Tanganku membeku di atas setir, sampai akhirnya pandanganku turun ke arah depan mobil. Di bawah sorot lampu mobilku, seseorang terkapar tak bergerak di atas aspal. .Baru saja mobilku berhenti di halaman, Ravyan sudah berdiri di depan pintu rumah seperti biasanya.Tangannya terlipat di dada, tetapi tatapannya langsung menyapu wajahku dari ujung kepala sampai kaki.Aku baru saja turun ketika ia berjalan menghampiri.Bukannya tersenyum, ia justru memegang dahiku, lalu pipiku. Kemudian menatap kedua mataku lekat-lekat.Aku tertawa kecil. "Pak Mayor lagi ngapain?""Memastikan istri saya sehat."Aku mengembuskan napas pelan. "Aku sehat, kok."Ravyan menggenggam tanganku. "Tapi tetap, kita pergi sekarang juga.""Ke mana?""Ke klinik."Aku spontan menghentikan langkah. Jantungku berdegup lebih cepat. "Pak Mayor, aku gak apa-apa.""Lyra.""Sungguh.""Saya merasa perlu memastikan kondisi kamu dan saya gak mau ambil risiko."Nada suaranya begitu tenang, tetapi aku tahu itu adalah nada seorang Mayor yang sedang memberi keputusan, bukan menawarkan pilihan.Aku tersenyum tipis, lalu memegang kedua tangannya. "Pak Mayor ....""Hm?""Kalau hasilnya memang cuma k
Aku membasuh wajah berkali-kali, mengeringkan dengan tisu dan melakukan re-touch tipis-tipis. Memoles lip tint sedikit untuk menutupi bibirku yang memang lebih pucat akhir-akhir ini.Aku tidak boleh keluar dari toilet dengan mata sembab, kalau Aina melihatnya, perempuan itu pasti akan membombardirku dengan seribu pertanyaan.Tatapanku kembali jatuh pada test pack yang masih berada di atas wastafel.Aku menggigit bibir.Haruskah kubuang?Tapi, tidak.Aku tidak sanggup membuang benda kecil itu.Itu adalah benda pertama yang memberitahuku bahwa aku sedang mengandung anakku dan Ravyan.Aku mengambil kembali test pack tersebut, membungkusnya lagi, lalu memasukkan ke dalam kantong kecil beritsleting di dalam tas."Untuk sementara, tetap di sini dulu."Saat keluar dari toilet, aku menarik napas panjang. Meyakinkan diri bahwa aku tidak akan terlalu lama menutupi ini dari Ravyan.Siang ini peke
Aku melangkah menuju toilet di lantai yang paling jarang digunakan. Bukan toilet dekat ruang kerjaku. Bukan pula yang berada di dekat pantry. Aku memilih toilet di ujung koridor lantai enam, tempat yang biasanya sepi karena hanya digunakan oleh divisi legal. Semakin dekat ke sana, langkahku justru semakin lambat. Tanganku berkali-kali meremas tali tas. "Tenang, Lyra." "Gak usah takut." "Tinggal lihat hasilnya." Namun semakin kuucapkan kalimat itu, justru jantungku semakin berdebar. Pintu toilet kututup rapat. Kuncinya kupastikan benar-benar terpasang. Aku berdiri beberapa saat di depan wastafel untuk menatap bayanganku sendiri di cermin. Wajahku memang terlihat lebih pucat. Lingkar hitam di bawah mata juga mulai tampak jelas. Aku tersenyum tipis pada bayanganku sendiri. Barula
Aku menatap wajah Ravyan cukup lama.Tatapannya begitu tenang, tetapi penuh rasa ingin tahu.Aku tahu lelaki ini bukan sedang asal menebak. Selama beberapa hari terakhir, dia menyaksikan sendiri semua perubahan yang terjadi padaku.Aku menarik napas pelan."Entahlah." Suaraku lirih. "Aku juga bingung."Ravyan tidak langsung bertanya lagi. Ia hanya mengusap punggung tanganku dengan ibu jarinya."Kapan terakhir haid?"Pertanyaan itu akhirnya keluar juga.Aku menggigit bibir bawah, lalu menggeleng. "Aku gak ingat," jawabku setengah berbohong.Alis Ravyan langsung terangkat."Tapi siklusku memang pernah telat waktu kuliah dulu. Jadi mungkin ini cuma karena kecapekan." Aku buru-buru mencari alasan."Proyek ini juga nguras tenaga banget."Ravyan tetap diam. Tatapannya tidak berpindah sedikit pun dariku. "Sayang.""Hmm?""Sebaiknya lakukan test atau pemeriksaan. Bes
Lima hari berlalu.Seratus dua puluh jam.Dan aku menghitung semuanya.Lima hari sejak pertengkaran malam itu.Lima hari sejak Ravyan berangkat tugas.Lima hari tanpa satu panggilan.Tanpa satu pesan.Tanpa satu kabar selain informasi
Satu hari tanpa Ravyan, rumah menjadi benar-benar sunyi. Tidak ada suaranya saat mengaji. Tidak ada suaranya saat menggodaku. Dan yang paling terasa ialah tidak ada ocehannya yang cerewet untukku.Aku seperti orang asing yang linglung, karena hanya sendirian di tempat sebesar i
Setelah percakapan singkat dengan Aina, aku memaksa diriku kembali fokus.Atau setidaknya berusaha untuk fokus.Karena nyatanya pikiranku masih terus melayang pada seseorang yang sejak pagi memilih menghilang.Aku menghela napas panjang lalu menutup ruang obrolan dengan
Aku masih duduk di kursi makan sendirian. Menatap kue tart, lalu menatap ke arah pintu kamar kedua yang masih tertutup rapat.Menatap kue tart lagi lalu menunduk seraya mengembus napas berat.Jari jemariku saling meremas, baru kali ini aku mendapati sikap Ravyan seperti tadi.Ia sangat mungkin mara












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰