MasukDemi melunasi utang dan lolos dari paksaan ibu tirinya yang kejam, Malikha nekat menerima tawaran pernikahan ta'aruf rahasia dengan Reyhan Al-Fahri, CEO dingin yang butuh mengamankan posisinya dari kubu lawan. Di kantor mereka berpura-pura asing, namun di rumah mereka harus berbagi ruang dalam satu kamar pengantin. Saat faksi lawan mulai mengendus rahasia mereka dan melempar fitnah yang mengancam kebebasan, sanggupkah ikatan di atas selembar kertas kontrak ini menyelamatkan mereka?
Lihat lebih banyakBertahun-tahun terlilit hutang, disiksa ibu tirinya hingga Ia lelah bekerja dan terpojokkan ketika semua utang itu akhirnya menumpuk. Ketika semuanya perlu dibayarkan segera, Malikha tidak pernah menyangka Ia sepasrah ini.
Ia akan melakukan suatu hal gila dengan bosnya sendiri demi kepentingan masing-masing. Kawin Kontrak.
Malikha harus membayarkan utang keluarganya, dan bosnya memerlukan istri untuk menangkis serangan ibu tirinya melalui pernikahan politik. Mereka membutuhkan satu sama lain, tetapi...
"Dua syarat, Pak Reyhan. Jika Anda setuju, saya akan menandatangani surat pernikahan ini sekarang juga," ucap Malikha Az-Zahra tenang, namun tegas.
Di dalam ruang kerja pribadi yang kedap suara itu, dia menatap lurus ke arah pria yang duduk di hadapannya. Udara di sekitar mereka terasa begitu berat, seolah-olah keputusan ini mampu mengubah seluruh hidup mereka selamanya.
Reyhan Al-Fahri, CEO muda yang biasanya mengintimidasi siapa saja dengan satu tatapan mata, kali ini harus menahan napas. Dia menyandarkan punggung ke kursi kebesaran dan melipat tangan di dada. Ada riak kagum tersembunyi di balik mata dingin Reyhan melihat keberanian wanita berhijab di depannya.
"Sebutkan," jawab Reyhan pendek, suaranya berat dan dipenuhi rasa penasaran.
Malikha menggeser selembar kertas pembatas yang sudah dia persiapkan sejak semalam. Jemarinya yang ramping sedikit bergetar, namun dia berusaha menyembunyikannya.
"Pertama, pernikahan ini harus dirahasiakan dari siapa pun di kantor. Saya ingin tetap bekerja sebagai karyawan biasa tanpa ada perlakuan khusus atau gosip," ujar Malikha tegas. "Kedua, tidak ada sentuhan fisik di antara kita sampai kita benar-benar saling menerima dengan tulus. Kita menjalani ta'aruf, meskipun lewat hubungan kontrak ini."
Reyhan terdiam, matanya menatap wajah Malikha yang bersih tanpa riasan tebal. Syarat kedua itu benar-benar mengejutkannya. Ego Reyhan sebagai seorang pria dewasa justru merasa tertantang, sekaligus menaruh rasa hormat yang mendalam.
"Kenapa harus serumit itu, Malikha?" tanya Reyhan sambil memajukan tubuhnya. "Ini hanya kesepakatan di atas kertas demi menyelamatkan posisi saya dari kubu lawan di keluarga besar yang ingin mendepak saya dari kursi CEO."
Jarak mereka kini mengikis, membuat atmosfer mendadak terasa intim dan menegangkan. Malikha bisa mencium aroma parfum maskulin Reyhan yang pekat campuran kayu cendana dan mint. Tatapan tajam Reyhan membuat jantung Malikha berdegup kencang, namun dia meremas jemarinya di bawah meja demi menguasai kembali akal sehatnya.
"Karena bagi saya, pernikahan bukan sekadar permainan bisnis untuk mempertahankan takhta, Pak Reyhan," balas Malikha. Mata jernihnya sempat berkedip ragu saat menatap bibir tegas pria itu, namun suaranya tidak goyang. "Meskipun ini rahasia, saya tetap harus menjaga kehormatan saya sebagai seorang wanita muslimah. Aturan agama saya tidak berubah hanya karena selembar kontrak bisnis."
Mendengar jawaban yang begitu telak, sudut tidur Reyhan terangkat tipis, membentuk senyuman misterius yang sangat jarang dia perlihatkan pada siapa pun. Tatapan matanya yang tadi sedingin es kini tampak sedikit melembut, memicu semburat merah samar di pipi Malikha.
"Bagaimana jika kubu lawan sengaja memancing kita di depan umum?" pancing Reyhan, ingin menguji keteguhan wanita di depannya.
"Saya akan bersikap profesional sebagai karyawan Anda, dan Anda tetap bos saya," jawab Malikha tanpa ragu. "Batasan kita hanya luntur di dalam rumah, itu pun dalam koridor ta'aruf yang saya sebutkan tadi."
"Menarik," ucap Reyhan akhirnya, memecah keheningan. Dia menarik sebuah pulpen mahal berlapis emas dari saku jasnya. "Saya terima semua syaratmu. Tanpa pengumuman kantor, dan tanpa sentuhan fisik sebelum ada cinta yang nyata di antara kita."
Reyhan menggoreskan tanda tangan di atas dokumen tersebut dengan gerakan tegas. Malikha menarik napas panjang untuk menenangkan dadanya yang sesak, lalu membubuhkan namanya tepat di samping nama pria yang kini secara sah menjadi suaminya.
Saat dokumen selesai ditandatangani, Reyhan bangkit berdiri. Postur tubuhnya yang tinggi tegap membuat Malikha harus sedikit mendongak. Reyhan kemudian mengulurkan telapak tangan kanannya ke arah Malikha.
"Kesepakatan dimulai," kata Reyhan tenang.
Malikha melihat uluran tangan itu sesaat. Bukannya menyambut jabatan tangan tersebut, Malikha justru menarik kedua tangannya dan menangkupkannya di depan dada sambil tersenyum sangat manis sebuah senyuman yang membuat jantung Reyhan seperti melewatkan satu detakan.
"Maaf, Pak. Ingat syarat kedua," tegur Malikha halus, mengingatkan batasan mereka.
Reyhan sempat terpaku selama beberapa detik, tangannya menggantung di udara karena sedikit canggung. Namun, sedetik kemudian dia menarik kembali tangannya dan memasukkannya ke dalam saku celana untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya yang langka. Pria itu berdeham kecil.
"Mulai hari ini, kamu adalah istri rahasia saya, Malikha."
Malikha mengangguk pelan, menundukkan kepalanya demi menyembunyikan rona merah yang kini memenuhi wajahnya. Di dalam hatinya, dia merapalkan doa yang tulus, berharap semoga keputusan nekat ini tidak akan menghancurkan hatinya di kemudian hari. Sebab dia tahu, berada di dekat pria sekharismatik Reyhan akan membuat benteng pertahanan hatinya diuji dan diguncang setiap detik.
Berkat rekaman suara digital yang dibawa oleh Malikha, nama baik Reyhan Al-Fahri bersih seketika. Pihak berwajib langsung membatalkan seluruh tuduhan dan membebaskan sang CEO muda dari masa penahanan singkatnya. Tuduhan kriminal itu kini sepenuhnya berpindah ke balik jeruji besi tempat Ibu Karina merenungi segala kelicikannya.Sore itu, suasana apartemen mewah milik Reyhan terasa begitu sunyi, namun ada kehangatan berbeda yang mengalir di dalamnya. Malikha berdiri di dekat jendela besar ruang tengah, meremas jemarinya dengan jantung yang berdegup kencang berkejaran dengan waktu. Dia tahu Reyhan sudah dalam perjalanan pulang.Pintu depan apartemen mendadak terbuka dengan bunyi klik halus.Sesosok pria bertubuh tegap melangkah masuk. Reyhan berdiri di sana, tanpa setelan jas mahalnya, hanya mengenakan kemeja putih yang lengannya sedikit digulung. Wajahnya tampak sedikit lelah, namun sepasang mata legamnya langsung berbinar cerah begitu menangkap sosok wanita berhijab yang sangat dia rin
Rasa sedih dan air mata Malikha telah mengering, berganti menjadi keberanian yang membakar dada. Didorong oleh rasa cinta yang baru dia sadari dan rasa bersalah karena membuat Reyhan mengorbankan diri, Malikha bertransformasi. Dia bukan lagi karyawan biasa yang bisa diintimidasi. Demi menyelamatkan suaminya dari balik jeruji besi, dia siap menghancurkan topeng kelicikan Ibu Karina.Di dalam ruangan rahasia, Malikha berdiri di samping Hendra. Asisten pribadi Reyhan itu menatap Malikha dengan pandangan penuh hormat."Semua petinggi perusahaan dan dewan direksi sedang berkumpul di ruang rapat besar atas undangan Ibu Karina," lapor Hendra dengan nada serius. "Dia ingin memanfaatkan momentum penangkapan Pak Reyhan untuk mengambil alih posisi CEO hari ini juga."Malikha mengepalkan tangannya kuat-kuat, meremas robekan kertas kontrak pernikahan di dalam saku gamisnya. "Kita tidak akan membiarkan wanita itu menang, Pak Hendra. Apakah benda yang saya minta sudah siap?"Hendra mengangguk, lalu
"Pak Reyhan, apa Anda sadar dengan apa yang baru saja Anda ucapkan?"Petugas berwajib menatap Reyhan dengan pandangan serius. Ruangan itu kini dilingkupi keheningan yang mencekam. Semua orang menahan napas, tidak percaya dengan keputusan gila yang diambil oleh sang CEO muda."Saya sadar sepenuhnya," jawab Reyhan, suaranya terdengar sangat tenang, datar, namun sarat akan ketegasan seorang pria yang tidak akan menarik kembali kata-katanya. Dia berdiri tegap, menghalangi tubuh Malikha dari jangkauan siapa pun. "Malikha tidak bersalah. Dia hanya melakukan apa yang saya perintahkan. Jika ada hukum yang dilanggar, maka sayalah yang harus menanggung akibatnya.""Mas... tidak, Mas! Jangan lakukan ini!" jerit Malikha dari belakang punggung Reyhan.Air matanya tumpah ruah, membasahi seluruh wajahnya. Dadanya terasa seolah dihantam gada besar hingga hancur berkeping-keping. Sisi rapuh Malikha terguncang hebat; dia tidak pernah menyangka bahwa pria yang biasanya sedingin es dan begitu mengagungka
Ruang pemeriksaan di lantai eksekutif terasa sedingin es. Malikha duduk di sebuah kursi kayu dengan kedua tangan yang saling meremas di atas pangkuan. Di hadapannya, bukan lagi sekadar auditor internal, melainkan dua orang petugas berwajib berseragam lengkap yang sengaja didatangkan oleh kubu Ibu Karina."Semua bukti dokumen palsu ini mengarah langsung pada Anda, Saudari Malikha," ujar salah satu petugas sambil mengetuk-ngetuk map berkas di atas meja. "Ada aliran dana besar yang dicuri dari rekening perusahaan, dan persetujuan akhirnya dikirim melalui akun pribadi Anda.""Saya bersumpah, Pak... Bukan saya pelakunya," lirih Malikha. Suaranya bergetar hebat, pecah oleh rasa takut yang luar biasa. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh deras membasahi pipinya. "Saya hanya karyawan biasa di bagian administrasi. Saya bahkan tidak tahu bagaimana cara memindahkan uang sebanyak itu.""Tapi sistem komputer tidak pernah berbohong, Malikha!" potong Ibu Karina yang tiba-tiba masuk ke dala
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.