LOGINPerjalanan kembali menuju Jakarta dimulai menjelang pukul sebelas siang.
Langit Bandung cerah.Kabut tipis yang sejak pagi menggantung di kawasan Dago perlahan menghilang, berganti sinar matahari yang hangat.SUV silver milik Zyandru meluncur meninggalkan Hotel Indigo dengan kecepatan sedang.Berbeda dengan perjalanan mereka semalam, kali ini suasana jauh lebih tenang.Vimala duduk di kursi penumpang depan.Sabuk pengaman melintang rapi di tubuhnya.Sementar“Investasi mantan kamu salah sasaran, Sayang.” Ratu kembali tertawa. Bagas mengangkat kedua tangan. “Aku cuma berharap kalau nanti kita nikah, dia enggak minta pengembalian dana CSR.” “Kalau diminta gimana?” “Aku cicil deh.” “Berapa lama?” “Seumur hidup. Bunganya aku bayar pakai kesetiaan.” Ratu terdiam sejenak. Kemudian senyumnya berubah lembut. “Gombal.” “Engineering Manager juga boleh gombal dooonk.” Bagas menyenggol bahunya. “Tapi serius….” “Hm?” “Kamu percaya cerita Vimala?” Ratu menatap kotak makanan di hadapannya. “Aku enggak tahu juga ya.” “Kenapa?” “Karena dia bilang dengar sendiri percakapan Zyan sama Ryley waktu ulang tahun kak Luna di Lembang.” Bagas mengangguk pelan. “Berarti ada dasar ceritanya.” “Iya.” Ratu mengusap ujung sendok. “Aku cuma…”
Di sebuah apartemen kawasan Jakarta Selatan, Ratu sedang duduk bersila di sofa ketika Bagas datang membawa dua kantong makanan.“Permisi. Layanan pengantaran makanan khusus perempuan galak.”Ratu mengangkat wajah.“Siapa yang galak?”“Yang hari ini bikin satu gedung kantor heboh.”Ratu membeku.Bagas berhenti tersenyum. “Eh.”Ia meletakkan kantong makanan di meja.“Berarti bener?”Ratu memejamkan mata.“Kamu udah dengar?”“Hanya sebagian. Tadi sekuriti loby kasih tahu aku katanya gini, ‘Mas … tadi ceweknya dilabrak istri orang.” “Oh ya?” Ratu tergelak merasa lucu.Bagas duduk di sampingnya.“Ayo cerita.”Ratu mengembuskan napas berat.“Vimala datang ke kantor tadi pagi.”“Waw… seru ini.”Ratu tersenyum kecut. “Dia ada di lobi waktu kebetulan aku lagi ada urusan di sana, terus langsung nuduh aku pelakor.”Wajah Bagas berubah. “Di depan banyak orang?”Ratu mengangguk. “Aku ajak bicara
“Mala, hubungan aku sama Ratu sekarang cuma pekerjaan. Harus berapa kali aku jelasin ke kamu?” Zyandru terdengar frustrasi.“Tapi kamu bohong … Kamu enggak pernah bilang kalau adiknya bang Satria adalah perempuan yang pernah kamu cintai, kamu enggak bilang kalau kamu sedang bekerja sama dengan perempuan yang merupakan cinta masa lalu kamu.”Vimala menoleh menatap map.“Ini juga!” Air matanya menetes ke dagu.“Selalu ada sesuatu yang baru aku tahu setelah aku cari sendiri!”Zyandru menunduk.Ia ingin membantah.Ingin menjelaskan bahwa ia tidak pernah bermaksud membuat istrinya merasa bodoh.Namun semua penjelasan yang selama ini ia siapkan mendadak terdengar seperti pembenaran.Vimala menarik napas panjang.“Waktu aku nemu nama Ratuku di ponsel kamu, aku tanya apa kamu masih cinta sama dia.”Zyandru mengangguk pelan.“Aku ingat.”“Aku tanya apa kamu cinta sama aku.”“Aku jawab.”“Kamu bilang cinta.”“Dan sampai sekarang jawabannya sama.”Vimala menatapnya.Zyandru ber
Mobil Zyandru memasuki halaman kediaman Natamanggala ketika langit Jakarta mulai kehilangan warna terangnya.Sang driver bahkan belum memarkirkan mobil dengan sempurna sewaktu dia turun.Sambil menderapkan langkah menuju teras, dia menatap layar ponselnya.Tidak ada pesan baru dari Vimala.Robi memang telah mengabarkan bahwa istrinya sedang diantar pulang. Namun sampai sekarang, perempuan itu belum juga menjawab satu pun panggilannya.Langkah panjangnya semakin terburu-buru, dengan jas tersampir di lengan.Pintu utama terbuka sebelum ia sempat menekan bel.“Tuan!”Bi Tina berdiri dengan wajah cemas.“Mala mana, Bi?”“Di kamar, Tuan.”“Sudah makan?”Bi Tina menggeleng.“Dari tadi Bibi tawarin, Non enggak mau.”“Obatnya sudah diminum?”“Belum waktunya yang malam. Tapi Non juga belum makan apa-apa sejak pulang.”Zyandru mengusap wajah.“Kenapa enggak dipaksa sedikit, Bi?”“Bibi sudah coba, Tuan. Non bilang mau makan sendiri.”Ia hendak melewati bi Tina tapi kemudian be
Robi akhirnya membelokkan mobil memasuki halaman kediaman Natamanggala.Begitu kendaraan berhenti, Vimala langsung melepas sabuk pengaman.“Mala, tunggu.”Namun perempuan itu terlanjur membuka pintu.Vimala menurunkan satu kaki.Kemudian kaki berikutnya.Baru saja mencoba berdiri tegak—ia merasa pandangannya berkunang-kunang.Tubuhnya oleng.“Mala!”Robi buru-buru turun dan memutari setengah bagian mobil.Tangannya langsung meraih lengan Vimala.“Pelan-pelan.”“Aku enggak apa-apa.”“Kamu hampir jatuh.”“Cuma pusing sedikit.”Robi menatap wajah Vimala yang tampak pucat.Bibirnya kehilangan warna.“Kita balik ke rumah sakit saja ya?”Vimala menggeleng. “Enggak.”“Tapi—”“Aku mau masuk.”Robi akhirnya mengalah.Ia membantu Vimala berjalan sampai ke teras.Pintu utama terbuka.“Non!” Bi Tina bergegas menghampiri.“Astaga, Non. Kenapa?”“Enggak apa-apa, Bi.”
Di dalam mobil, Robi sedang berhenti di lampu merah ketika ponselnya bergetar.Nama yang muncul di layar membuat rahangnya mengeras.Zyandru Gunadhya.Ia melirik Vimala.Perempuan itu duduk diam di kursi penumpang dengan map medis di pangkuannya.Sejak meninggalkan rumah sakit, Vimala nyaris tidak berbicara.Matanya menatap lurus ke depan.Sudah tidak menangis juga tidak ada marah di raut wajahnya. Hanya datar. Kosong.Bahkan ketika Robi beberapa kali mencoba mengajaknya bicara, perempuan itu hanya menjawab seperlunya.Dan justru keadaan itulah yang membuat Robi mulai khawatir.“Mala.”Tidak dijawab.“Kamu mau minum?”Vimala menggeleng.Ponsel Robi kembali bergetar.Nama Zyandru kembali muncul.Robi menolak panggilan tersebut.“Siapa, Kak?”Pertanyaan Vimala membuatnya menoleh.“Orang kantor.”“Oh.”Hanya itu.Vimala kembali menatap jalan.Robi mengembuskan napas lega.







