Share

Pagi Yang Berbeda

Author: Erna Azura
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-16 22:45:16

Sinar matahari pagi menerobos celah tirai suite Hotel Indigo, memantulkan warna keemasan yang hangat ke seluruh ruangan.

Vimala mengerjapkan mata perlahan.

Kepalanya masih terasa berat, tetapi tidak lagi berdenyut seperti semalam.

Ia menghela napas pelan..

Aroma disfuser samar bercampur dengan wangi kopi memenuhi indera penciumannya.

“Ini…?”

Butuh beberapa detik sebelum ingatannya kembali utuh.

Restoran.

Pertengkarannya dengan Zyandru.

Tubuhnya yang tiba-tiba ambruk.

Perjalanan di dal
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Percaya

    “Investasi mantan kamu salah sasaran, Sayang.” Ratu kembali tertawa. Bagas mengangkat kedua tangan. “Aku cuma berharap kalau nanti kita nikah, dia enggak minta pengembalian dana CSR.” “Kalau diminta gimana?” “Aku cicil deh.” “Berapa lama?” “Seumur hidup. Bunganya aku bayar pakai kesetiaan.” Ratu terdiam sejenak. Kemudian senyumnya berubah lembut. “Gombal.” “Engineering Manager juga boleh gombal dooonk.” Bagas menyenggol bahunya. “Tapi serius….” “Hm?” “Kamu percaya cerita Vimala?” Ratu menatap kotak makanan di hadapannya. “Aku enggak tahu juga ya.” “Kenapa?” “Karena dia bilang dengar sendiri percakapan Zyan sama Ryley waktu ulang tahun kak Luna di Lembang.” Bagas mengangguk pelan. “Berarti ada dasar ceritanya.” “Iya.” Ratu mengusap ujung sendok. “Aku cuma…”

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Investasi Zyandru

    Di sebuah apartemen kawasan Jakarta Selatan, Ratu sedang duduk bersila di sofa ketika Bagas datang membawa dua kantong makanan.“Permisi. Layanan pengantaran makanan khusus perempuan galak.”Ratu mengangkat wajah.“Siapa yang galak?”“Yang hari ini bikin satu gedung kantor heboh.”Ratu membeku.Bagas berhenti tersenyum. “Eh.”Ia meletakkan kantong makanan di meja.“Berarti bener?”Ratu memejamkan mata.“Kamu udah dengar?”“Hanya sebagian. Tadi sekuriti loby kasih tahu aku katanya gini, ‘Mas … tadi ceweknya dilabrak istri orang.” “Oh ya?” Ratu tergelak merasa lucu.Bagas duduk di sampingnya.“Ayo cerita.”Ratu mengembuskan napas berat.“Vimala datang ke kantor tadi pagi.”“Waw… seru ini.”Ratu tersenyum kecut. “Dia ada di lobi waktu kebetulan aku lagi ada urusan di sana, terus langsung nuduh aku pelakor.”Wajah Bagas berubah. “Di depan banyak orang?”Ratu mengangguk. “Aku ajak bicara

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Tidak Percaya Zyandru

    “Mala, hubungan aku sama Ratu sekarang cuma pekerjaan. Harus berapa kali aku jelasin ke kamu?” Zyandru terdengar frustrasi. “Tapi kamu bohong … Kamu enggak pernah bilang kalau adiknya bang Satria adalah perempuan yang pernah kamu cintai, kamu enggak bilang kalau kamu sedang bekerja sama dengan perempuan yang merupakan cinta masa lalu kamu.” Vimala menoleh menatap map. “Ini juga!” Air matanya menetes ke dagu. “Selalu ada sesuatu yang baru aku tahu setelah aku cari sendiri!” Zyandru menunduk. Ia ingin membantah. Ingin menjelaskan bahwa ia tidak pernah bermaksud membuat istrinya merasa bodoh. Namun semua penjelasan yang selama ini ia siapkan mendadak terdengar seperti pembenaran. Vimala menarik napas panjang. “Waktu aku nemu nama Ratuku di ponsel kamu, aku tanya apa kamu masih cinta sama dia.” Zyandru mengangguk pelan. “Aku ingat.” “Aku tanya apa kamu cinta sama aku.” “Aku jawab.” “Kamu bilang cinta.” “Dan sampai sekarang jawabannya sama.”

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Bohong

    Mobil Zyandru memasuki halaman kediaman Natamanggala ketika langit Jakarta mulai kehilangan warna terangnya.Sang driver bahkan belum memarkirkan mobil dengan sempurna sewaktu dia turun.Sambil menderapkan langkah menuju teras, dia menatap layar ponselnya.Tidak ada pesan baru dari Vimala.Robi memang telah mengabarkan bahwa istrinya sedang diantar pulang. Namun sampai sekarang, perempuan itu belum juga menjawab satu pun panggilannya.Langkah panjangnya semakin terburu-buru, dengan jas tersampir di lengan.Pintu utama terbuka sebelum ia sempat menekan bel.“Tuan!”Bi Tina berdiri dengan wajah cemas.“Mala mana, Bi?”“Di kamar, Tuan.”“Sudah makan?”Bi Tina menggeleng.“Dari tadi Bibi tawarin, Non enggak mau.”“Obatnya sudah diminum?”“Belum waktunya yang malam. Tapi Non juga belum makan apa-apa sejak pulang.”Zyandru mengusap wajah.“Kenapa enggak dipaksa sedikit, Bi?”“Bibi sudah coba, Tuan. Non bilang mau makan sendiri.”Ia hendak melewati bi Tina tapi kemudian be

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Vimala Tidak Pernah Tahu

    Robi akhirnya membelokkan mobil memasuki halaman kediaman Natamanggala.Begitu kendaraan berhenti, Vimala langsung melepas sabuk pengaman.“Mala, tunggu.”Namun perempuan itu terlanjur membuka pintu.Vimala menurunkan satu kaki.Kemudian kaki berikutnya.Baru saja mencoba berdiri tegak—ia merasa pandangannya berkunang-kunang.Tubuhnya oleng.“Mala!”Robi buru-buru turun dan memutari setengah bagian mobil.Tangannya langsung meraih lengan Vimala.“Pelan-pelan.”“Aku enggak apa-apa.”“Kamu hampir jatuh.”“Cuma pusing sedikit.”Robi menatap wajah Vimala yang tampak pucat.Bibirnya kehilangan warna.“Kita balik ke rumah sakit saja ya?”Vimala menggeleng. “Enggak.”“Tapi—”“Aku mau masuk.”Robi akhirnya mengalah.Ia membantu Vimala berjalan sampai ke teras.Pintu utama terbuka.“Non!” Bi Tina bergegas menghampiri.“Astaga, Non. Kenapa?”“Enggak apa-apa, Bi.”

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Masih Mengkhawatirkan Ratu

    Di dalam mobil, Robi sedang berhenti di lampu merah ketika ponselnya bergetar.Nama yang muncul di layar membuat rahangnya mengeras.Zyandru Gunadhya.Ia melirik Vimala.Perempuan itu duduk diam di kursi penumpang dengan map medis di pangkuannya.Sejak meninggalkan rumah sakit, Vimala nyaris tidak berbicara.Matanya menatap lurus ke depan.Sudah tidak menangis juga tidak ada marah di raut wajahnya. Hanya datar. Kosong.Bahkan ketika Robi beberapa kali mencoba mengajaknya bicara, perempuan itu hanya menjawab seperlunya.Dan justru keadaan itulah yang membuat Robi mulai khawatir.“Mala.”Tidak dijawab.“Kamu mau minum?”Vimala menggeleng.Ponsel Robi kembali bergetar.Nama Zyandru kembali muncul.Robi menolak panggilan tersebut.“Siapa, Kak?”Pertanyaan Vimala membuatnya menoleh.“Orang kantor.”“Oh.”Hanya itu.Vimala kembali menatap jalan.Robi mengembuskan napas lega.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status