LOGINZyandru tiba di proyek menjelang tengah hari.Tidak ada waktu makan siang.Ia hanya minum kopi yang bahkan tidak habis setengah.Rapat steering coordination berlangsung bersama Ratu, Pak Arief, tim project control, engineering, commercial, serta beberapa perwakilan kontraktor.Agenda mereka kali ini penting.Final sequencing untuk pekerjaan utilitas harus dikunci agar tidak mengganggu pekerjaan struktur berikutnya.Ratu berdiri di depan layar.“Kalau pekerjaan zona C dimulai sebelum temporary diversion di zona B verified, kita punya potensi conflict di access corridor.”Pak Arief menunjuk gambar.“Tim lapangan bilang dua hari cukup.”“Dua hari untuk installation,” jawab Ratu. “Bukan testing dan sign-off.”Zyandru membaca jadwal.“Berapa waktu yang realistis?”“Tiga setengah sampai empat hari.”Commercial manager ikut menyela. “Kalau empat hari, milestone berikutnya geser.”“Lebih murah geser satu hari daripad
Ruang rapat utama lantai empat puluh dua MG Group sudah penuh ketika Zyandru datang.Davin mengikuti beberapa langkah di belakangnya.Pak Huda telah berada di sana bersama dua direktur lain, CFO, Head of Corporate Finance, Legal, Strategic Development, serta Burhan yang berada di sisi kanan meja panjang.Presentasi pagi itu berkaitan dengan pendanaan tahap berikutnya untuk ekspansi MG Logistics & Industrial Hub, proyek pengembangan kawasan pergudangan dan distribusi yang telah direncanakan sejak era Wisnutama.Nilainya besar.Dan membutuhkan keputusan cepat.Begitu Zyandru duduk, CFO mulai memaparkan dua opsi utama.Opsi pertama—yang didorong Burhan—adalah bridge financing dari konsorsium bank dengan struktur konvensional, sambil menunggu refinancing jangka panjang.Opsi kedua adalah proposal baru yang dibawa Zyandru: MG Group menunda penarikan penuh fasilitas bridge loan dan menggunakan kombinasi kas internal, committed credit line yang lebih kecil, serta penjualan sebagian a
Pagi itu rasanya Zyandru ingin membatalkan seluruh agendanya.Bukan menunda atau mendelegasikan sebagian melainkan membatalkan semua.Pasalnya sejak membuka mata pagi ini, tubuh Vimala terasa lebih hangat dari biasa. Wajahnya semakin pucat, bibirnya kering, dan rasa mual yang sejak kemarin tidak kunjung hilang kembali membuatnya muntah meski nyaris tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan dari perutnya.Cairan infus masih menggantung di sisi ranjang.Perawat yang sejak kemarin mendampinginya baru saja selesai memeriksa tekanan darah ketika Zyandru keluar dari kamar mandi.“Bagaimana keadaannya?” tanya Zyandru cemas.Perawat itu menoleh. “Tekanan darahnya cenderung rendah, Pak. Bu Vimala juga masih lemas.”Zyandru melangkah mengikis jarak ke area ranjang. Vimala sedang berbaring dengan mata terpejam.“Mala.”Tidak ada respon dari sang istri.Zyandru akhirnya duduk di tepi ranjang untuk bisa menyentuh kening istrinya.“Sayang.”Kelopak mata Vimala bergerak perlahan.“Hm?”“K
Menjelang sore, keadaan tidak membaik.Makanan yang dicoba masuk kembali keluar.Air pun hanya bisa diminum sedikit demi sedikit.Mual datang berulang.Tubuh Vimala semakin lemah.Tekanan psikologis yang berat bukan penyebab penyakit Crohn’s-nya, tetapi pada kondisi tubuh yang belum benar-benar pulih, stres, kurang makan, dan muntah berulang membuat keadaannya jauh lebih sulit.Perawat beberapa kali berkomunikasi dengan tante Zara.Setelah penilaian kondisi, instruksi medis, dan memastikan tanda-tanda yang harus segera dirujuk ke rumah sakit, cairan intravena akhirnya diberikan karena Vimala kesulitan mempertahankan asupan oral.Jarum masuk ke pembuluh darah tangannya.Vimala memalingkan wajah.Bi Tina duduk di samping ranjang.“Non…”“Aku capek, Bi.”“Tidur saja.”Vimala menutup mata.Namun pikirannya tidak ikut beristirahat.Ada terlalu banyak suara di dalam kepalanya.Ucapan Ratu.Penjelasan
Ratu menarik napas.“Masih ada satu hal.”Davin nyaris ingin tertawa.Sepertinya hari-hari belakangan selalu dipenuhi kalimat masih ada satu hal yang kemudian membuka masalah baru.Zyandru menatap Ratu. “Apa?”Ratu tampak ragu sejenak. “Beasiswa aku.”Ekspresi Zyandru seketika berubah.Davin mengerutkan kening.Ratu tersenyum tipis. “Vimala cerita.”Zyandru mengerjap dengan sering.“Katanya dia pernah dengar pembicaraan kamu sama Ryley di Lembang.”Zyandru menunduk.“Jadi benar?”“Iya.”Ratu mengembuskan napas perlahan.“Kenapa?”“Karena kamu pantas mendapatkan itu.”“Terima kasih.” Dua kata itu terdengar sederhana.Namun membawa bertahun-tahun perjalanan di belakangnya.Zyandru tidak segera menjawab.“Tapi .…” Ratu belum selesai.Zyandru hampir tersenyum. “Tentu ada tapinya.”Ratu mengangkat dagu.“Aku tetap mau kamu tahu kalau aku bukan lulus karena kamu.”“Iya…
Ratu memang sudah berada di proyek ketika Zyandru tiba.Helm keselamatan putih menutupi sebagian rambutnya yang diikat rendah.Kemeja berwarna biru muda dipadukan dengan celana bahan gelap dan safety vest.Di tangannya terdapat tablet berisi beberapa catatan teknis.Tidak ada kecanggungan berlebihan ketika pandangan mereka bertemu.“Pagi, Pak Zyandru.”“Pagi, Bu Ratu.”Davin yang berjalan di samping Zyandru menahan senyum kecil.Mereka memang selalu proesional,Seolah-olah tidak pernah ada urusan hati yang belum selesai. Pertemuan pagi berlangsung di ruang koordinasi proyek.Pak Arief hadir bersama tim construction management, project control, perwakilan MEP, serta dua orang dari perusahaan Ratu.Tidak ada pembahasan personal maupun tatapan yang terlalu lama.Mereka membicarakan progres pekerjaan, penyelesaian discrepancy utility relocation, revisi sequencing, dan beberapa pekerjaan yang harus dikunci sebelum fase berikutnya berjalan.Zyandru bahkan beberapa kali menyer







