My Husband's Sweet Trap

My Husband's Sweet Trap

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-11-04
Oleh:  MakairaBaru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Belum ada penilaian
7Bab
21Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Pernikahan karena kewajiban moral harusnya berakhir saat cinta tak kunjung datang. Ketika Liora sudah bulat memutuskan untuk berpisah, Rain justru menuntut kehadiran seorang pewaris tepat di hari jadi pernikahan mereka yang kelima. Situasi kian rumit saat wanita lain hadir, memicu rasa tidak percaya diri yang kian mengikis hati Liora. Dia tidak sadar bahwa semua ini adalah bagian dari taktik tersembunyi suaminya. Bagaimanakah jebakan manis yang dipasang Rain demi mempertahankan rumah tangga mereka? Akankah sang suami yang berkepribadian tsundere ini mau mengalah dan mengakui perasaannya sebelum Liora benar-benar menghilang?

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

"Sejak kapan kita jadi seperti ini?" Jerit batin Liora tak terdengar, tenggelam dalam tatapan kosongnya pada selembar foto pernikahan yang membeku di dinding.

Di bawah kepungan gulita, potongan-potongan memori manis masa lalu mendadak berputar tanpa izin.

Membakar benaknya, jauh lebih intens dan menyakitkan ketimbang adegan film romantis mana pun.

Lima tahun sudah jemarinya menyandang cincin sebagai Nyonya Frost. Sebuah pesta bak dongeng kerajaan yang kini terasa seperti sangkar emas; megah di luar, namun hampa di dalam.

Klik.

Cahaya lampu mendadak benderang, menggilas habis seluruh lamunannya. Liora tersentak.

Di ambang pintu, Rain berdiri tegak dengan rahang mengeras dan wajah sekaku pahatan es.

"Apa yang kamu lakukan di kegelapan?" Suara Rain memecah hening, datar dan dingin.

Langkah kakinya terdengar konstan, sementara sepasang matanya mengunci pergerakan Liora tanpa jeda.

"Kupikir kamu tidak pulang hari ini," sahut Liora, menetralkan nada suaranya agar terdengar acuh tak acuh.

"Urusanku selesai lebih cepat." Rain melirik jam tangan, lalu beralih pada sang istri. "Malam ini akan badai. Bukankah kamu takut petir?"

Liora mendengus tipis, membuang muka. "Aku bukan anak kecil lagi."

"Kamu menungguku? Ada yang ingin didiskusikan?"

Liora menggeleng. Ia memutar tubuh, menghadap suaminya yang kini sudah duduk dengan posisi punggung tegak sempurna.

Di balik bingkai kacamata peraknya, sorot mata Rain masih belum beralih sepeser pun darinya.

"Tidak ada," jawab Liora, melangkah pergi begitu saja melewati sofa empuk di ruang tengah.

"Liora."

Ketukan tumit sandal Liora mendadak terkunci. Posisinya tepat di samping sofa tempat suaminya bersandar.

"Hm?"

Dada Liora berdesir hebat saat menangkap pergerakan Rain yang mulai menggeser posisi duduk.

Demi menyembunyikan detak jantung yang menggila, ia buru-buru memotong keheningan sebelum suaminya sempat bersuara.

"Mau makan sesuatu? Kurasa ART meninggalkan beberapa menu di kulkas yang bisa dihangatkan."

"Tidak usah." Rain melonggarkan sedikit dasinya, lalu menatap Liora lekat-lekat. "Bagaimana denganmu? Lapar? Kurasa camilan malam bukan ide yang buruk."

Tanpa memberi jawaban verbal, Liora membalikkan badan menuju dapur. Denting piring dan gemercik bumbu beradu cepat.

Tak butuh waktu lama, beberapa piring makanan sudah tersaji rapi di atas meja makan, memutus jarak yang sempat membeku di antara mereka.

"Kudengar kamu sedang mengerjakan proyek pengambilalihan lahan." Suara Rain memecah denting sendok yang beradu dengan piring.

Liora hanya merespons dengan anggukan samar, lalu menyuapkan beberapa sendok lauk ke dalam mulutnya tanpa minat untuk memperpanjang obrolan.

"Ada masalah?" cecar Rain lagi, matanya menyipit menuntut jawaban.

Liora menggeleng pelan, tetap fokus pada makanannya.

Sikap dingin dan respons minimalis itu mulai memicu percikan kekesalan di dada Rain. Ia meletakkan garpunya sedikit lebih keras. "Kenapa menungguku kalau hanya untuk diam?"

Klank.

Liora meletakkan alat makannya di atas piring, memutus keheningan dengan sengaja. Nada suaranya mendadak naik satu oktav.

"Siapa yang menunggumu?"

Rain agak tersentak, namun dengan cepat menutupi kegusarannya. Ia bersedekap, mencari pembenaran.

"Aku pikir kamu punya masalah. Berdiri diam sendirian di kegelapan seperti tadi, apa namanya kalau bukan ada yang mengusik pikiranmu?"

"Tidak ada apa pun, Rain," tegas Liora, menyatukan jemarinya di atas meja. "Hanya..."

"Apa?" potong Rain cepat, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Apa yang sedang kamu pikirkan?"

Secara perlahan, Liora mengangkat kepalanya. Manik mata berwarna kecoklatan miliknya kini mengunci tatapan Rain yang berada tepat di seberang meja.

"Ulang tahun pernikahan kita. Orang tuamu ingin kita merayakannya dengan megah, dan mereka meminta kita datang besok."

Rain terdiam sejenak, ketegangan di bahunya sedikit mengendur. "Jam berapa? Kita bisa pergi bersama."

"Besok pagi aku ada pertemuan penting dengan klien."

"Dengan pria bernama Jade itu?" dengus Rain. Ia mendadak meraih kembali garpunya, lalu mulai mengacak-ngacak makanan di piringnya dengan gestur gusar yang kentara.

Liora memperhatikan tingkah suaminya dengan alis terangkat sebelah. "Hm."

"Kamu kan bisa menyuruh asistenmu saja," gerutu Rain setengah bergumam, pandangannya sengaja dialihkan ke arah lain.

"Kamu bicara sesuatu?" pancing Liora, menyadari nada cemburu yang disembunyikan suaminya.

Rain langsung menggeleng cepat, menegakkan punggungnya kembali seolah tidak terjadi apa-apa.

"Aku akan mengantarmu ke tempat pertemuan. Setelah urusanmu selesai, kita langsung ke rumah orang tuaku. Oke?"

Liora hanya bisa menghela napas panjang dalam hati. Ia tahu betul watak pria di hadapannya ini, keras kepala dan tidak pernah mengenal kata penolakan jika sudah mengambil keputusan.

"Ya," angguk Liora pasrah, menyudahi perdebatan malam itu.

Di luar rumah, rintik hujan mulai berdenting menyentuh genting, menciptakan simfoni sunyi yang memeluk kediaman Frost.

Di dalam kamar utama, dua insan yang terikat dalam janji suci justru saling memunggungi di atas kasur berukuran king size, menyisakan jarak tak kasatmata yang begitu lebar.

Blarrr!

Suara gemuruh petir tiba-tiba saling menyambar di langit malam. Refleks, Liora meremas erat pinggiran selimutnya, menyembunyikan wajah di balik kain tebal.

"Takut?"

Pertanyaan Rain memecah kesunyian. Di telinga Liora yang sedang berjuang menahan kedutan ngeri di bahunya, suara itu terdengar menyerupai ejekan.

"Tidak," sahut Liora ketus, meski getaran halus di ujung suaranya tidak bisa membohongi keadaan.

"Kemarilah," bujuk Rain, namun nada suaranya tetap mutlak bak sebuah perintah yang tak boleh dibantah.

"Tidurlah," usir Liora tanpa menoleh.

"Aku sedang tidak berniat menyentuhmu."

"Rain!"

Sentakan itu membuat Liora langsung terduduk tegak di atas kasur. Sepasang matanya menghunus tajam dalam kegelapan.

"Tutup mulutmu, atau aku—"

Belum sempat ancamannya tuntas, jemari kokoh Rain bergerak secepat kilat. Pria itu menarik pergelangan tangan Liora hingga tubuh wanita itu limbung dan jatuh tepat di atas dekapan dadanya yang bidang.

"Lepas!" pekik Liora. Ia mulai memberontak, mendorong dada Rain demi keluar dari kungkungan posesif sang suami.

"Sstt..."

Bibir hangat Rain menyentuh cuping telinga Liora, menyalurkan sensasi panas menyengat yang seketika mengunci seluruh pergerakan Liora.

"Besok kamu ada pertemuan penting, kan? Tidurlah."

Liora membeku. Ia tahu malam ini ia telah kalah telak. Rain tahu betul bagaimana memanfaatkan titik lemahnya terhadap hari berpetir.

Perlahan, kehangatan pelukan itu mengikis rasa takutnya. Aroma tubuh Rain yang khas yaitu maskulin bercampur wangi sabun yang mengisi setiap tarikan napas Liora, mengalirkan ketenangan yang lambat laun memberatkan kelopak matanya. Embusan napasnya mulai teratur.

Tepukan-tepukan halus tangan Rain di punggung Liora tak pernah berhenti, berirama konstan menidurkan sang istri.

Begitu menyadari napas Liora sudah sepenuhnya tenang menandakan ia telah terlelap, Rain menunduk. Ia mengecup pucuk kepala Liora dengan kelembutan yang selalu ia sembunyikan saat wanita itu terbangun.

"Apa yang menyebabkan hatimu berubah? Kemana sikap manjamu yang dulu My-Lio?" lirih Rain parau pada keheningan malam. Tatapannya meredup penuh luka tersembunyi. "Apakah... Karena pria bernama Jade itu?"

Rain kembali mengecup kening Liora sekilas, sebelum akhirnya ia memejamkan mata dan mempererat dekapannya, mengunci tubuh sang istri secara posesif ke dalam pelukannya.

​

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
7 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status