Tangled In CEOs' Beds

Tangled In CEOs' Beds

last updateTerakhir Diperbarui : 2025-04-13
Oleh:  Heppie Leo🦋✨Tamat
Bahasa: English
goodnovel18goodnovel
10
2 Peringkat. 2 Ulasan-ulasan
49Bab
5.1KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

🔞 WARNING: STRICTLY RATED 18!!!🔞 Lorenzo pulled my hair back as I moaned aloud, the harmonic sound of my moan and the sound of our skin slapping reverberating through the room. He pounded into me roughly, his cock thrusting in and out, sending waves of pleasurable pain across my arched back. I quivered under his electrifying touch, my heart racing in my ribcage. Skin on skin, flash against flesh, I felt an uncontrollable desire as my soul stirred. I bit down a moan, a curse escaping my throat as he spanked my ass. My eyes rolled to the back of my head, stars spinning around me. "Fuck, Lavender!" He whispered in satisfaction as he pumped his load into me, pulling his inches out. ~ An Angel and The Devil. Beauty and The Beast. A Damsel In Distress With No Prince Charming. That was where it began, a passionate one night stand that tangled their destinies. She is ready to serve him and be his ride or die, for no reason but to carry out the assignment entrusted to her to destroy him. But what happens when the lines between lust and duty starts to fade?

Lihat lebih banyak

Bab 1

001

Pintu besar rumah itu terbuka pelan, mengeluarkan suara decitan samar yang biasanya tak pernah mengganggu ketenangan malam. Rayhan yang tengah bersandar di sofa ruang tengah menoleh perlahan saat mendengar langkah ringan masuk ke dalam rumah.

Di ambang pintu berdiri Alesha. Wajahnya masih muda, polos, tapi Rayhan tak bisa mengabaikan perubahan yang jelas terlihat: gadis kecil yang dulu cerewet dan riang itu kini telah menjadi wanita muda dengan pesona yang tak terelakkan.

Dia membawa kantong plastik berisi bubur hangat dan obat-obatan. “Om Rayhan?” sapanya lembut, suara itu mengisi ruang hening dengan kehangatan yang aneh.

Rayhan menghela napas panjang. Tubuhnya masih terasa lemah, demam yang menghantui dua hari terakhir ini belum sepenuhnya pergi. Tapi tatapannya tak bisa lepas dari sosok Alesha yang berdiri di hadapannya.

Kaos putih tipis yang dikenakannya menempel pada lekuk tubuhnya, memperlihatkan garis halus yang tak bisa dipandang sebelah mata. Celana jeans robeknya membuat Rayhan sadar betapa gadis itu sudah tumbuh jauh dari masa kecilnya.

Dia berusaha mengalihkan pandangan, tapi pikirannya berontak, membawa dia ke tempat-tempat yang tak pantas.

“Lesha ... kamu?” suara Rayhan serak, setengah tak percaya.

Alesha tersenyum, senyum yang dulu sering dia lihat saat kecil, tapi kini terasa berbeda. “Om Rayhan, aku bawain bubur. Kata Zira Om sakit?”

Rayhan mengangguk pelan, berusaha menghilangkan rasa malu yang tiba-tiba muncul di dadanya. Wajahnya memang pucat, tubuhnya lemah, dan bukan hanya karena sakit—ada sesuatu yang jauh lebih berat bersemayam di dalam dada.

Saat Alesha duduk di sebelahnya dan mulai membuka bungkus bubur, Rayhan tak bisa mengalihkan pandangannya. Wajah polos itu, rambut yang dikuncir rapi, lengan yang tertutup kaos tipis. Namun, keindahan tubuhnya sudah tak bisa disangkal.

Rayhan menghela napas, lalu lirih berkata, “Lidah aku … terasa pahit, Lesha.”

Alesha menatapnya penuh perhatian, lalu tersenyum lembut. Tanpa banyak bicara, ia mengambil sendok dan mulai menyuapi bubur ayam hangat itu ke mulut Rayhan.

Jarak wajah mereka begitu dekat, hanya sejengkal. Rayhan menahan napas, berusaha mengendalikan gemuruh yang menggelegar di dadanya.

Rayhan menutup mata sejenak, merasakan hangatnya bubur yang perlahan mengusir pahit di lidahnya. Sentuhan lembut Alesha saat menyuapi membuat dadanya berdebar. Ia berusaha menenangkan diri, berulang kali mengingatkan diri bahwa ini hanya perhatian seorang gadis muda pada pria yang sedang sakit.

Namun, tiap kali pandangannya bertemu dengan mata jernih Alesha, ada sesuatu yang tak bisa ia bendung—campuran antara rasa rindu lama dan gejolak yang tak seharusnya ada.

“Alesha ....” Suaranya pelan, hampir tak terdengar.

“Ada apa, Om?” tanyanya dengan penuh kepedulian.

Rayhan menggeleng, menarik napas panjang. “Tidak apa-apa. Hanya … aku sudah lama tidak merasa sebegini lemah.”

Alesha menggenggam tangan Rayhan sejenak, memberi kekuatan tanpa kata-kata.

Suasana seketika terasa hening, namun hangat.

Di tengah keheningan itu, Rayhan merasa ada jarak yang harus dijaga, namun sulit untuk tidak merasakan kehadiran Alesha yang semakin dekat.

Rayhan menunduk, mencoba menyembunyikan wajah yang memerah.

Dia pria kepala empat, ayah dari sahabat Alesha. Seharusnya perasaannya tak boleh sampai sedalam ini.

Tapi entah mengapa, kehadiran gadis itu mengacaukan segalanya.

Saat dia menatap ke bawah, terpeleset pandangannya pada bagian dada Alesha yang samar terlihat lewat leher kaosnya yang sedikit melorot. Mata Rayhan langsung menutup, jantungnya berdegup kencang.

“Apa ini ...?” gumamnya dalam hati.

Ia tahu ini salah. Sangat salah.

Namun tubuh dan pikirannya seperti sedang bertarung, antara apa yang benar dan apa yang diinginkan.

“Om, kamu sudah minum obat?” tanya Alesha polos, mengembalikan Rayhan ke kenyataan.

Rayhan menggeleng pelan. Ia tidak sanggup menjawab lebih banyak.

Alesha menuntunnya duduk kembali di sofa, merapikan selimut tipis yang menutupi tubuhnya. Perhatian gadis itu membuat dada Rayhan terasa sesak.

“Besok aku datang lagi, ya, Om. Aku janji,” ucap Alesha, suara lembut penuh ketulusan.

Rayhan mengangguk, tanpa mampu berkata apa-apa.

Ketika pintu rumah itu tertutup dan suara langkah Alesha menjauh, keheningan melingkupi rumah mewah itu.

Tapi dalam keheningan itu, pikirannya malah bertambah gaduh.

Bayangan Alesha—kaus putih tipis, jeans ketat yang memperlihatkan lekuk pinggulnya, aroma vanila lembut yang masih tercium samar di udara—menghantui setiap sudut pikirannya.

Dia mencoba menarik napas dalam-dalam, meremas tangan sendiri, berusaha mengusir gelombang rasa yang membingungkan itu.

“Lo harus waras, Rayhan,” ia bergumam pelan.

Tapi, bagaimana bisa waras jika gadis itu datang lagi besok, dan lusa, dan entah sampai kapan?

***

Keesokan Harinya, 

Rayhan duduk di sofa ruang keluarga, tubuhnya masih lemah, wajahnya yang biasanya tegas tampak pucat dan penuh ketidakberdayaan.

Keringat dingin mengalir di pelipisnya meski suhu ruangan cukup sejuk. Pagi itu, suasana rumah terasa hening, hanya suara jam dinding dan hembusan angin kecil di jendela.

Ketukan pintu pelan terdengar. Rayhan menoleh, melihat Alesha berdiri di ambang pintu dengan wajah cerah.

“Selamat pagi, Om. Pasti belum sarapan, ya?” sapanya ceria.

Dia membawa sebungkus bubur hangat dan nampan kecil berisi teh manis. Gerakannya lincah dan ringan, hampir seperti menari saat ia melangkah ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan.

Rayhan mengamati Alesha dari balik sofa, hatinya sedikit tergerak oleh kehangatan yang berbeda di udara pagi itu.

Saat Alesha selesai menata meja, Rayhan memberanikan diri bertanya, “Lesha, kamu ... kok pagi-pagi sudah datang? Bukannya pagi ini kamu ada kuliah?”

Alesha tersenyum kecil, sedikit ragu, lalu menatap Rayhan dengan mata teduhnya. “Aku kan cuma ada kuliah dua hari dalam seminggu, Om. Hari ini aku sengaja datang lebih pagi, aku pengen jagain Om, biar gak sendirian.”

Rayhan mengangguk pelan, tapi dalam hatinya bertanya-tanya.

Beberapa saat kemudian, saat mereka selesai makan, Rayhan mencoba membuka pembicaraan yang sudah lama mengganjal.

“Kamu ... nginep di sini?”

Alesha tertawa kecil, menatapnya serius. “Iya, Om. Aku janji sama Zira buat jagain Om sampai Om sembuh. Aku juga kasihan Om sendirian di rumah besar ini.”

Rayhan menelan ludah, dadanya tiba-tiba sesak.

Dua hari.

Dua hari bersama Alesha.

Berdua.

Perasaan yang mulai bergejolak di dadanya semakin sulit ia kendalikan.

Rayhan menelan ludah, dada sesak. Ia sadar, ia harus menjaga jarak. Tapi hatinya seperti memberontak.

Apa yang harus dia lakukan?

Bagaimana jika perasaan ini terus tumbuh?

Malam itu, Rayhan kembali duduk sendiri di ruang tengah. Tangannya gemetar, ia memegang gelas air dingin erat-erat.

“Alesha sudah bukan anak kecil lagi,” bisiknya lirih.

Dan dia ... pria yang harus bertanggung jawab, bukan terjebak dalam gejolak perasaan yang berbahaya ini.

Tapi apakah hatinya akan sanggup bertahan?

---

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Ulasan-ulasan

Book cover
Book cover
Charlie doesn't deserve Lavender!!
2024-12-12 12:26:05
1
1
Heppie Leo🦋✨
Heppie Leo🦋✨
Thank you for choosing this amazing book. I promise you won't regret it... frequent updates will start as soon as I complete my other ongoing book. Your comments, reviews, gems and gifts will sure go a long way in encouraging me. Go on and read further, darling!! ...
2024-11-05 05:39:46
6
0
49 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status