Masukđ WARNING: STRICTLY RATED 18!!!đ Lorenzo pulled my hair back as I moaned aloud, the harmonic sound of my moan and the sound of our skin slapping reverberating through the room. He pounded into me roughly, his cock thrusting in and out, sending waves of pleasurable pain across my arched back. I quivered under his electrifying touch, my heart racing in my ribcage. Skin on skin, flash against flesh, I felt an uncontrollable desire as my soul stirred. I bit down a moan, a curse escaping my throat as he spanked my ass. My eyes rolled to the back of my head, stars spinning around me. "Fuck, Lavender!" He whispered in satisfaction as he pumped his load into me, pulling his inches out. ~ An Angel and The Devil. Beauty and The Beast. A Damsel In Distress With No Prince Charming. That was where it began, a passionate one night stand that tangled their destinies. She is ready to serve him and be his ride or die, for no reason but to carry out the assignment entrusted to her to destroy him. But what happens when the lines between lust and duty starts to fade?
Lihat lebih banyakPintu besar rumah itu terbuka pelan, mengeluarkan suara decitan samar yang biasanya tak pernah mengganggu ketenangan malam. Rayhan yang tengah bersandar di sofa ruang tengah menoleh perlahan saat mendengar langkah ringan masuk ke dalam rumah.
Di ambang pintu berdiri Alesha. Wajahnya masih muda, polos, tapi Rayhan tak bisa mengabaikan perubahan yang jelas terlihat: gadis kecil yang dulu cerewet dan riang itu kini telah menjadi wanita muda dengan pesona yang tak terelakkan.
Dia membawa kantong plastik berisi bubur hangat dan obat-obatan. âOm Rayhan?â sapanya lembut, suara itu mengisi ruang hening dengan kehangatan yang aneh.
Rayhan menghela napas panjang. Tubuhnya masih terasa lemah, demam yang menghantui dua hari terakhir ini belum sepenuhnya pergi. Tapi tatapannya tak bisa lepas dari sosok Alesha yang berdiri di hadapannya.
Kaos putih tipis yang dikenakannya menempel pada lekuk tubuhnya, memperlihatkan garis halus yang tak bisa dipandang sebelah mata. Celana jeans robeknya membuat Rayhan sadar betapa gadis itu sudah tumbuh jauh dari masa kecilnya.
Dia berusaha mengalihkan pandangan, tapi pikirannya berontak, membawa dia ke tempat-tempat yang tak pantas.
âLesha ... kamu?â suara Rayhan serak, setengah tak percaya.
Alesha tersenyum, senyum yang dulu sering dia lihat saat kecil, tapi kini terasa berbeda. âOm Rayhan, aku bawain bubur. Kata Zira Om sakit?â
Rayhan mengangguk pelan, berusaha menghilangkan rasa malu yang tiba-tiba muncul di dadanya. Wajahnya memang pucat, tubuhnya lemah, dan bukan hanya karena sakitâada sesuatu yang jauh lebih berat bersemayam di dalam dada.
Saat Alesha duduk di sebelahnya dan mulai membuka bungkus bubur, Rayhan tak bisa mengalihkan pandangannya. Wajah polos itu, rambut yang dikuncir rapi, lengan yang tertutup kaos tipis. Namun, keindahan tubuhnya sudah tak bisa disangkal.
Rayhan menghela napas, lalu lirih berkata, âLidah aku ⌠terasa pahit, Lesha.â
Alesha menatapnya penuh perhatian, lalu tersenyum lembut. Tanpa banyak bicara, ia mengambil sendok dan mulai menyuapi bubur ayam hangat itu ke mulut Rayhan.
Jarak wajah mereka begitu dekat, hanya sejengkal. Rayhan menahan napas, berusaha mengendalikan gemuruh yang menggelegar di dadanya.
Rayhan menutup mata sejenak, merasakan hangatnya bubur yang perlahan mengusir pahit di lidahnya. Sentuhan lembut Alesha saat menyuapi membuat dadanya berdebar. Ia berusaha menenangkan diri, berulang kali mengingatkan diri bahwa ini hanya perhatian seorang gadis muda pada pria yang sedang sakit.
Namun, tiap kali pandangannya bertemu dengan mata jernih Alesha, ada sesuatu yang tak bisa ia bendungâcampuran antara rasa rindu lama dan gejolak yang tak seharusnya ada.
âAlesha ....â Suaranya pelan, hampir tak terdengar.
âAda apa, Om?â tanyanya dengan penuh kepedulian.
Rayhan menggeleng, menarik napas panjang. âTidak apa-apa. Hanya ⌠aku sudah lama tidak merasa sebegini lemah.â
Alesha menggenggam tangan Rayhan sejenak, memberi kekuatan tanpa kata-kata.
Suasana seketika terasa hening, namun hangat.
Di tengah keheningan itu, Rayhan merasa ada jarak yang harus dijaga, namun sulit untuk tidak merasakan kehadiran Alesha yang semakin dekat.
Rayhan menunduk, mencoba menyembunyikan wajah yang memerah.
Dia pria kepala empat, ayah dari sahabat Alesha. Seharusnya perasaannya tak boleh sampai sedalam ini.
Tapi entah mengapa, kehadiran gadis itu mengacaukan segalanya.
Saat dia menatap ke bawah, terpeleset pandangannya pada bagian dada Alesha yang samar terlihat lewat leher kaosnya yang sedikit melorot. Mata Rayhan langsung menutup, jantungnya berdegup kencang.
âApa ini ...?â gumamnya dalam hati.
Ia tahu ini salah. Sangat salah.
Namun tubuh dan pikirannya seperti sedang bertarung, antara apa yang benar dan apa yang diinginkan.
âOm, kamu sudah minum obat?â tanya Alesha polos, mengembalikan Rayhan ke kenyataan.
Rayhan menggeleng pelan. Ia tidak sanggup menjawab lebih banyak.
Alesha menuntunnya duduk kembali di sofa, merapikan selimut tipis yang menutupi tubuhnya. Perhatian gadis itu membuat dada Rayhan terasa sesak.
âBesok aku datang lagi, ya, Om. Aku janji,â ucap Alesha, suara lembut penuh ketulusan.
Rayhan mengangguk, tanpa mampu berkata apa-apa.
Ketika pintu rumah itu tertutup dan suara langkah Alesha menjauh, keheningan melingkupi rumah mewah itu.
Tapi dalam keheningan itu, pikirannya malah bertambah gaduh.
Bayangan Aleshaâkaus putih tipis, jeans ketat yang memperlihatkan lekuk pinggulnya, aroma vanila lembut yang masih tercium samar di udaraâmenghantui setiap sudut pikirannya.
Dia mencoba menarik napas dalam-dalam, meremas tangan sendiri, berusaha mengusir gelombang rasa yang membingungkan itu.
âLo harus waras, Rayhan,â ia bergumam pelan.
Tapi, bagaimana bisa waras jika gadis itu datang lagi besok, dan lusa, dan entah sampai kapan?
***
Keesokan Harinya,
Rayhan duduk di sofa ruang keluarga, tubuhnya masih lemah, wajahnya yang biasanya tegas tampak pucat dan penuh ketidakberdayaan.
Keringat dingin mengalir di pelipisnya meski suhu ruangan cukup sejuk. Pagi itu, suasana rumah terasa hening, hanya suara jam dinding dan hembusan angin kecil di jendela.
Ketukan pintu pelan terdengar. Rayhan menoleh, melihat Alesha berdiri di ambang pintu dengan wajah cerah.
âSelamat pagi, Om. Pasti belum sarapan, ya?â sapanya ceria.
Dia membawa sebungkus bubur hangat dan nampan kecil berisi teh manis. Gerakannya lincah dan ringan, hampir seperti menari saat ia melangkah ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan.
Rayhan mengamati Alesha dari balik sofa, hatinya sedikit tergerak oleh kehangatan yang berbeda di udara pagi itu.
Saat Alesha selesai menata meja, Rayhan memberanikan diri bertanya, âLesha, kamu ... kok pagi-pagi sudah datang? Bukannya pagi ini kamu ada kuliah?â
Alesha tersenyum kecil, sedikit ragu, lalu menatap Rayhan dengan mata teduhnya. âAku kan cuma ada kuliah dua hari dalam seminggu, Om. Hari ini aku sengaja datang lebih pagi, aku pengen jagain Om, biar gak sendirian.â
Rayhan mengangguk pelan, tapi dalam hatinya bertanya-tanya.
Beberapa saat kemudian, saat mereka selesai makan, Rayhan mencoba membuka pembicaraan yang sudah lama mengganjal.
âKamu ... nginep di sini?â
Alesha tertawa kecil, menatapnya serius. âIya, Om. Aku janji sama Zira buat jagain Om sampai Om sembuh. Aku juga kasihan Om sendirian di rumah besar ini.â
Rayhan menelan ludah, dadanya tiba-tiba sesak.
Dua hari.
Dua hari bersama Alesha.
Berdua.
Perasaan yang mulai bergejolak di dadanya semakin sulit ia kendalikan.
Rayhan menelan ludah, dada sesak. Ia sadar, ia harus menjaga jarak. Tapi hatinya seperti memberontak.
Apa yang harus dia lakukan?
Bagaimana jika perasaan ini terus tumbuh?
Malam itu, Rayhan kembali duduk sendiri di ruang tengah. Tangannya gemetar, ia memegang gelas air dingin erat-erat.
âAlesha sudah bukan anak kecil lagi,â bisiknya lirih.
Dan dia ... pria yang harus bertanggung jawab, bukan terjebak dalam gejolak perasaan yang berbahaya ini.
Tapi apakah hatinya akan sanggup bertahan?
---
048Lavender.It's been hours since we've brought Lorenzo to the hospital and it was now 3am. I sat in the waiting room, my eyes heavy and pleading to rest but my heart desired otherwise. I forced myself to stay awake, pacing back and forth for some minutes then settling down then pacing again.I was restless while Lorenzo's best friend sat there with his head facing down.âJust rest.â He advised, observing my restlessness.I gulped, letting out a sigh as I turned to look at him with hopeless eyes.He stretched his hand, inviting me to come sit.âRelax. He'll be fine.âI groaned, dragging myself back to sit beside him. âI hope so.âWe sat there for about thirty minutes, and somehow, the silence ate me up slowly.Seeing him sit calmly beside me was baffling. âDo you not care about him?â I mouthed, placing my elbow on my knee with my jaw in my palm.âOf course, I do. He's my favorite person.ââI know, but you don't seem worried. You're way too calm.ââThis ain't the first time anyway. I
046Lavender.My nails sank deep into my palm, my grip tightening on the fork as I sat right beside Lorenzo, puncturing the salad repeatedly.Since Dorothy left, betraying me, Lorenzo and I had still not said anything to each other and my fate was uncertain.Does this mean Iâm now free from Charlieâs assignment, or does it mean Iâve failedâand should be afraid?My heart kept pounding in my chest the whole time, not only because of my uncertain fate but somehow, jealousy had been spreading in me like wildfire since earlier today, threatening to erupt.I swallowed for the nth time, trying to hold myself from throwing questions at Lorenzo. But again, I shouldnât be worried about that. I should worry about myself and what Charlie might possibly do to me.âWhatâs wrong?" Lorenzo whispered, his voice low.I didnât respond. I kept staring into space silently until I felt my phone vibrate on the table.I grabbed it, my face plastered to the screen.âWhere is the original flash drive, this shi
045Dorothy.âWhat a fool. It took less than 5 hours to manipulate her.â I scoffed, relaxing in the car as it sped through the road.The look on her face at the last second was amazing. She looked nothing far from a lost kitten.In no time, I arrived at the hotel where Charlie said he was for the meantime that afternoon.I climbed out of the car, striding into the building.âI'm here to see Charlie Brown. He's at room 001" I said to the ladies behind the counter, skipping the pleasantries.I had no time for fucking greetings. I just needed to see Charlie now! Right away!âAre you Dorothy?â One of them asked.I scoffed, looking away."Here you go," she slid a key to my side of the counter. I flashed her a smile, âHave a great day ahead of you,"She hummed. I turned to leave, taking the elevator until I got to the second floor.I walked out of the elevator and the room that was right ahead of me had the tag 001 on it.I sighed, walking to the door. I inserted the key and twisted it, pu
044â _â _â _â _â _â FLASHBACK ENDSâ _â _â _â _â _â Lavender.She placed a hand on my shoulder, smirking.âAnyway, I'm not here to fight you or report you,â she giggled. She then leaned in, and whispered, ânot because I can't,"I gulped. âTha-"âShush," she whispered, taking her hand off my shoulder and placing her index on her lips. âDon't thank me yet. I won't tell him about it, on one condition,âShe turned away, cat walking slowly to the bed. Spinning around, she lowered her body as she arched her back to sit on the soft bed.âWe both have the same goal. You find the flash drive with me and we take it to Charlie. It's a fair deal actually. Lorenzo loves me, so I'll distract him most of the time to buy you time to search for the flash drive. Once you find it, you get out of this mess as we'll take it to Charlie together.âI took in a sharp breath, my chest inflating. I parted my lips to speak but before a word could escape my throat, she cut me off.âDeal? Or not. Don't waste my time," she ad
032đŠđŠNOTE THAT THIS CHAPTER IS A NEW CHARACTER'S POINT OF VIEW!đŠđŠSandra.I settled on the bed, looking at the room and still amazed after four hours of being there. It looked so luxurious, like a room designed for a god.I was scared to stand up as I was scared to see the stain my clothes mad
029Lavender.âYou're coming, like right now?" She asked.I hummed, âYeah, bye." I blurted out before ending the call.I turned to Lorenzo. âLorenzo, I know you're in a rush but can you just park the car now? I need to attend to something in my company real quick. I promise to be back in thirty minutes.
020Lavender."Get in!â He commanded.I rolled my eyes, throwing my face away. He could take his car and give himself a ride but I didn't care.I kept walking off but he kept following me with the car.âStop following me!" I shouted, turning to face him.He didn't say a word, he only gestured for me to ge
015Lorenzo.I sat in the backyard, in front of the swimming pool. The afternoon air was blowing in peace and soothing my skin.Just as I found peace and quiet in the afternoon, my phone rang aloud piercing the silence. I fetched it from my pocket and fixed my gaze on the screen.It was Mom calling and
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan