LOGINBenjamin Stiller akhirnya menandatangani pakta perjanjian untuk menjual saham mayoritas miliknya di The Starline. Perusahaan itu disepakati akan dijual dalam harga yang telah disepakati. Sebagai balasannya, Abraham akan mencari dan menemukan Herman Heubert yang telah menipu dan menjual secara ilegal Superhart Tech bahkan mempertaruhkannya di meja judi.
“Apa yang akan kamu lakukan setelah menemukan Huebert?” tanya Abraham sambil berbasa-basi seraya menyesap kopinya. Benjamin hanya mendengus menyengir menatap Abraham.
“Jika kamu jadi aku apa yang akan kamu lakukan padanya?” Benjamin balik bertanya pada Abraham. Abraham terkekeh kecil dan menggelengkan kepalanya.
“Jika aku jadi kamu maka aku tak akan membeli perusahaan seperti itu di meja judi. 90 persen sudah jelas itu adalah penipuan. Entah perusahaan itu terlilit banyak utang atau dimiliki oleh gembong mafia. Tinggal pilih!” sindir Abraham pada Benjamin yang langsung cemberut
Pintu lift terbuka, Rei Harristian terlihat keluar dari lift sendirian dengan sebuah buket bunga di tangannya. Ia memakai jas tuxedo dengan cummerbund warna merah maroon sama seperti hiasan di saku jas depannya. Ia berjalan dengan senyuman tipis dan seorang pegawai hotel lantas membukakan pintu untuk Rei masuk ke dalam ballroom tempat makan malam sekaligus pesta pernikahan kedua orang tuanya berlangsung.“Pestanya mulai jam berapa?” tanya Rei pada salah satu panitia yang menyambutnya.“Sekitar setengah jam lagi, Tuan,” jawab pegawai itu dan Rei mengangguk.“Aku ingin mengunjungi Ayahku!” pegawai itu langsung menjulurkan tangannya sebagai penunjuk jalan bagi Rei untuk naik ke sebuah ruangan tempat kedua pengantin bersiap untuk turun. Beberapa tamu yang merupakan keluarga besar mereka mulai berdatangan. Dan Rei hanya melihat sekilas saja sambil menaiki tangga.Ia diantarkan ke kamar ganti milik Arjoona Harristian, ayahnya
Rei mulai bosan karena Honey yang tengah menjadi Axel kini sedang cuti. Honey baru cuti satu hari, akan tetapi Rei sudah uring-uringan. Ia bahkan sampai duduk di kursi kerja milik Honey untuk bisa merasakan keberadaannya. Rei benar-benar sedang jatuh cinta dan jauh dari Honey adalah hal yang paling menyiksa.Tiba-tiba ponsel Rei bergetar dan itu langsung membuat Rei jadi menoleh cepat ke arah kanan. Rei membesarkan matanya dan mengira jika yang menghubunginya mungkin Honey. Rei bergegas cepat ke mejanya dan harus kecewa saat melihat layar ponsel dan ternyata yang menghubunginya adalah Ayahnya Arjoona. Rei menghela napas kecewa dan mengambil panggilan tersebut.“Ya Dad?” sapa Rei dengan sikap malas. Ia menyandarkan punggungnya di ujung sisi meja sambil mendengarkan ayahnya bicara.“Kamu akan datang makan malam nanti kan?” sahut Arjoona menghubungi anaknya untuk memastikan kehadirannya. Kening Rei sontak mengernyit tak mengerti.&ldq
“Aku perlu bicara denganmu!” ujar Christina lagi dengan nada memelas. Ia benar-benar tak punya pilihan lain selain menghubungi Dalton. Dan Dalton Curt tahu persis hal tersebut.“Soal apa?” tanya Dalton pura-pura tidak tahu. Ia masih bernada dingin dan ketus.“Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku tidak mau masuk penjara!” pinta Christina mulai memelas. Dalton menaikkan ujung bibirnya dan mendengus sinis.“Entahlah apa kamu masih bisa bekerja untukku atau tidak. Aku punya hal yang jauh lebih menarik di depanku,” gumam Dalton sambil menatap Charlotte nakal. Charlotte sedikit membesarkan matanya dan menunduk. Dalton lantas memilih untuk berdiri dan bicara pada Christina bukan di depan Charlotte dan Travis. Setelah Dalton menjauh dari mereka, Travis sedikit mendekat untuk berbisik pada Charlotte.“Jika Dalton memintamu menjadi salah satu pacarnya, kamu harus menyetujuinya,” bisik Tra
Honey sedikit resah saat makan siang. Pasalnya, Rei Harristian masih berada di dalam lemari pembersih. Waktu sudah lewat 15 menit dan ia pasti sangat sesak berada di dalam lemari itu. Tak ada ventilasi kecuali dari lubang kunci.“Dad, aku mau ke kamar sebentar. Aku mau ke toilet!” ujar Honey meminta ijin pada Ayahnya. Abraham langsung mengangguk dan tanpa menunggu persetujuan ayahnya, Honey langsung pergi begitu saja. Axel sepertinya tahu jika Honey sudah mengetahui jika Rei ada di dalam lemari tersebut. Honey masuk ke dalam kamar untuk mengganti celana pendeknya serta memakai camisole agar dadanya tak terlihat. Setelah itu barulah ia keluar dari kamar untuk melihat Rei.Honey bergegas ke lemari pembersih itu dan mengira jika Rei pasti sudah pingsan. Begitu ia membukanya, ternyata Rei sedang santai memainkan ponselnya dan bersandar dengan sisi lengannya ke lemari di sebelahnya. Rei langsung menaikkan pandangannya begitu mengetahui pintu terbuka. Ia menyengi
Rei menatap ke sekelilingnya. Lemari tempatnya bersembunyi cukup kecil. Karena tinggi tubuhnya, lampu yang tergantung di atas langit-langit lemari sudah menyentuh kepalanya. Rei bahkan harus sedikit memiringkan kepalanya agar tak terkena bola lampu.“Ah, gue udah jadi sapu bentar lagi!” rutuk Rei sambil memindahkan beberapa barang dan sebuah gagang pel jatuh mengenai kepalanya.“Ouchh ... aduh ... apaan sih ini!” Rei mengomel dengan keras sambil mengaduh karena kepalanya terkena gagang pel. Belum beberapa barang lainnya yang berjatuhan.Terdengar suara yang cukup keras dari dalam lemari karena Rei harus memindahkan beberapa barang yang menimpanya di dalam lemari sempit tersebut.“Ahhh ... sial!” pekik Rei tak sadar jika suaranya bisa saja terdengar keluar.“Apa yang terjadi? Mengapa rambutmu jadi berubah pendek seperti ini?” Abraham masih terperangah tak percaya melihat keadaan Honey yang begitu jauh
Travis Lancey dan Charlotte Harper diterima oleh Dalton Curt di apartemen mewahnya di Manhattan. Saat Travis datang dan menawarkan sesuatu, Dalton awalnya tak tertarik. Tapi ia meyakinkan Dalton bahwa yang sedang ia bawa dapat membuat Dalton bisa menyingkirkan Rei Harristian dengan mudah. Sementara Charlotte masih di antara bimbang atau tidak dengan apa yang sedang dilakukannya.“Jadi apa yang ingin kamu katakan?” tanya Dalton dengan sikap dingin dan sangat tak bersahabat pada Charlotte. Charlotte menelan ludahnya dan sedikit menunduk. Ia jadi ragu akan bicara. Travis lantas menepuk pelan lengannya agar Charlotte mau bicara.“Aku tidak punya waktu untuk menunggumu seharian!” tambah Dalton pagi makin ketus. Charlotte agak sedikit gelagapan karena hal itu.“Uhm … aku …” Charlotte menoleh sekilas pada Travis lalu kembali pada Dalton. Pria itu mulai jengah dengan sikap Charlotte yang tak jelas. Travis jadi agak sedik







