LOGINIa kehilangan segalanya dalam satu malam— cinta, nama, dan tempat untuk pulang. Alea Morgan, perempuan yang pernah mencintai Ethan Vale sepenuh hati, kini hanya menyisakan kehancuran. Ketika kebenaran pahit tentang pertukaran bayi dan pengkhianatan terbuka, ia memilih langkah paling gila dalam hidupnya: menikahi pria sekarat demi menebus harga dirinya. Namun di antara kebencian, luka, dan perjanjian dingin, takdir perlahan mempermainkannya lagi. Karena kadang, untuk benar-benar hidup… seseorang harus mati terlebih dahulu—setidaknya, di dalam hati
View MoreKarena fitnah cinta pertama suaminya, Alea malah terkurung di dalam gudang bahkan nyaris kehabisan napas karena traumanya terhadap ruangan yang gelap.
Amis darah mulai tercium disekitar ruangan, terlebih saat jemari Alea terasa perih karena terus berusaha mencakar dan memukul pintu berharap ada yang menolongnya. "Buka .. Aku ti-tidak kuat la-gi... to-tolong..," rintih Alea, dengan suara yang mulai melemah dan napas yang terdekat. Seberapa lamapun Alea didalam, tidak ada yang mau menolongnya, bahkan beberapa kalipun ia mendengar langkah yang mendekat ke arah gudang, tidak satupun dari mereka yang mau membukakan pintu untuknya. Hingga di detik terakhir, ketika napas Alea mulai tercekat dan pandangannya nyaris gelap, pintu itu akhirnya didobrak keras dari luar. Cahaya menembus debu yang beterbangan, menyingkap siluet seorang pria di ambang pintu, napasnya berat, tatapannya tajam. "Bersihkan jalan dan hubungi rumah sakit agar bersiap!" Alea masih sempat mendengar suara teriakan itu. teriakan yang meski terdengar keras, tapi masih menenangkan ditelingannya. Selain itu, samar Ia melihat sorot mata tajam dari seorang pria yang kini menggendong tubuhnya dalam sekali sentak. “Maaf, aku terlambat menemukanmu. Bertahanlah," suara pria itu berat dan dalam, nyaris seperti gema di antara kabut kesadarannya yang memudar.... lalu semuanya gelap. --- Dua hari sebelum semuanya berantakan, makan malam keluarga Morgan berubah menjadi ruang interogasi. “Alea, kita perlu bicara.” David Morgan meletakkan sendoknya. Suaranya tenang.... bahkan mungkin sangat tenang, dengan cara yang membuat Alea ingin melempar seluruh isi meja. Alea mengangkat wajah. “Tentang apa kali ini, Ayah?” Vanessa Morgan saling pandang dengan suaminya sebelum akhirnya membuka suara. “Alea, kau tahu sendiri bukan... Serena selama ini selalu menderita, dia lemah dan tidak sekuat kamu. Sebelumnya dia sempat menikah dan malah jadi sakit bahkan hancur karena suami lamanya. Sekarang... dia benar-benar tidak lagi sama. Dia butuh kebahagiaan.” Alea menahan napas. "Lalu Apa?” David mencondongkan tubuh ke depan. “Alea, kita bicara baik-baik. Serena, dia... Dia sudah benar-benar terluka. Kau tahu hubungan pernikahannya saat itu sangat rumit. Dan sekarang, dia sudah sendirian. Dia... maksudku, Ethan sekarang kembali mencarinya... sama seperti dia yang mencari Ethan dulu..” Alea tertawa pendek, sinis. 'Mencari Ethan? bahkan dulu dia membuang Ethan, hanya karena dia gagal memulai usaha,' batin Alea, namun sama sekali tidak terucap di bibirnya. “Jadi?” tanya Alea berusaha tenang dan tidak menunjukkan sisi emosionalnya. Hatinya benar-benar sudah kebas, diminta selalu mengalah dan selalu berkorban untuk orang yang bahkan selalu menginginkan kehancurannya. “Seperti yang kami bilang tadi. Tolong kali ini, mengalah untuk Kakakmu, tolong izinkan dia bahagia kali ini.” Vanessa menyambung cepat, seperti takut kehilangan momen. Vanessa menatap putrinya seolah memohon pengertian, tapi kalimat berikutnya justru membuat Alea ingin menertawakan nasibnya sendiri. Alea diam. Bukan karena terkejut, tetapi karena lelah. Kata mengalah sudah seperti mantra keluarga Morgan. Mantra yang selalu ditujukan padanya. Mengalah demi kebahagiaan Kakakmu, mengalah demi kebahagiaan dan kesehatan Serena yang katanya lemah. Ia menyandarkan punggung. Sudut bibirnya terangkat...senyum yang tidak benar-benar senyum. Senyum yang bahkan sudah berada di titik muak dan bosan. “Jadi, kali ini aku harus mengalah dalam hal apa lagi? Melepaskan Ethan? Bukannya kalian tahu, kami suami istri meski tidak di publikasikan?” Alea berkata sambil tersenyum miring...senyum yang tampak seperti retakan terakhir dari seseorang yang sudah terlalu sering ditarik, didorong, dan disingkirkan demi kepentingan keluarga. David mendengus, mengangkat dagu sedikit. “Justru karena itu, Alea. Pernikahan itu tidak pernah diumumkan. Tidak ada yang tahu. Kalau kau mundur sekarang, tidak ada yang akan mempertanyakannya.” Vanessa mengangguk cepat, seolah kalimat itu harus segera disetujui sebelum Alea berubah pikiran. “Benar. Jadi tidak ada yang perlu dibesar-besarkan. Lagipula…” Ia menggenggam jemarinya sendiri, ragu sejenak… sebelum melanjutkan. "Serena dan Ethan, hubungan mereka sudah sangat jauh. Bahkan lebih jauh ketimbang hubunganmu sendiri sebagai seorang istri.” Tawa Alea pecah, terdengar sumbang, getir dan bahkan membuatnya sampai mengeluarkan air mata. Tawa yang bahkan membuat Vanessa dan David saling pandang dengan ekspresi bingung...karena itu bukan tawa orang yang sedang bercanda. Itu tawa seseorang yang akhirnya berhenti memperjuangkan apa pun. Alea menunduk sedikit, menutup tawa itu dengan punggung tangan, sebelum menatap mereka kembali. “Ah… jadi begitu.” Senyumnya melengkung, dingin. “Hubungan mereka lebih jauh? Lebih dalam? Lebih kuat? Bahkan kembali di rajut, setelah Serena meninggalkan Ethan tanpa ampun ya? Ya… tentu saja. Bahkan ketika aku masih menjadi istrinya, Ethan selalu punya tempat untuk Serena, bukan?” David mengetuk meja, berusaha mengontrol keadaan. “Alea, jangan berlebihan.” “Aku?” Alea menunjuk dirinya sendiri. “Berlebihan?” Ia tertawa lagi...kali ini lebih pendek, tapi jelas menyakitkan. “Kalau mereka memang sejauh itu, kenapa tidak jujur sejak awal? Kenapa harus ada aku? Kenapa aku harus menjadi penutup luka lama seseorang yang katanya lemah?” Vanessa menghela napas, nadanya lembut namun menusuk. “Alea… Serena hanya butuh kesempatan baru. Dia sudah hancur sebelumnya. Dia tidak kuat menahan tekanan seperti kamu.” Alea menatap ibunya lama. Sangat lama. Hingga air matanya yang hampir jatuh justru mengering lagi sebelum sempat keluar. “Benar.” Ia mengangguk pelan. “Serena tidak pernah kuat.” Ia menatap keduanya satu per satu. “Dan aku? Aku selalu harus kuat. Selalu harus mengalah.” Ia berdiri. Tangannya bergerak pelan ke arah cincin yang melingkar di jari manisnya...cincin yang menandai hubungan yang ia jaga sendirian selama ini. Dengan gerakan sangat tenang, Alea memutarnya… …lalu menariknya keluar. Cincin itu lepas dengan suara kecil. Seperti mengakhiri sesuatu yang bahkan tidak pernah diperjuangkan selain oleh dirinya sendiri. Alea memandangi cincin itu sejenak...tanpa tangis, tanpa bimbang. Kemudian ia letakkan di atas meja. Dentingnya terdengar nyaring. Memotong kesunyian ruang makan seperti sebuah pengumuman kematian. Alea menghembuskan napas pelan. “Baik. Kalau itu yang kalian mau…” Tatapannya berubah datar. Bukan marah...lebih kosong dari itu. “…aku akan mengalah. Seperti biasa.” Ia tersenyum tipis, getir. “Aku akan melepaskan apapun yang berhubungan dengan Ethan. Kali ini, Serena kembali menang. Mereka sudah jauh, bukan? Jauh sekali… bahkan ketika aku masih menjadi istrinya.” Vanessa tampak lega. David mengangguk. Tapi Alea belum selesai. Ia menatap mereka dengan sorot mata yang benar-benar mati rasa. “Dan aku juga menyetujui permintaan anda.” David mengerutkan kening. “Permintaan apa?” Alea mengangkat dagunya sedikit. “Aku akan menerima pinangan itu. Sean Miller Kingston.” Vanessa terbelalak. “Alea...” “Tidak perlu drama, Bu.” Alea memotong cepat, nadanya sedingin baja. “Lagipula… bukankah ini yang kalian rancang dari awal? Serena tidak sanggup, jadi aku yang harus menggantikan. Sama seperti yang aku lakukan selama ini. Selalu menjadi tumbal untuk anak tersayang kalian. .” David mencoba bicara, namun Alea melanjutkan tanpa memberinya ruang. “Aku akan menikah dengannya, tapi dengan satu syarat." "Apa syaratnya?" Melihat binar dimata Vanessa, membuat luka di hati Alea semakin menjadi. Harinya benar-benar kebas dengan apa yang dilakukan orang tua, yang katanya orang tua kandungnya sendiri. "Aku akan menikah dengan Sean Miller Kingston, menggantikan Serena. Asal kalian membuat pernyataan didepan publik, kalau kalian tidak memiliki ikatan darah apapun dengan seorang bernama Alea."Tamu-tamu terkejut. Vanessa langsung terlonjak kecil. David terbelalak melihat putri kesayangannya berlutut dihadapan adiknya.Dan Serena, dengan tubuh bergetar penuh drama, menangis di hadapan Alea.“Aku mohon… jangan katakan hal-hal buruk itu di depan umum…” suara Serena pecah.“Ini bukan tempatnya… ini bukan waktu untuk membuka luka lama… Adik, Kejadian yang kamu sebutkan itu ketika kita masih kecil. Jangan sampai, kamu membuka luka itu dan membuat ayah malu," mohon Serena.Ia memegang ujung gaun Alea, seolah Alea yang menyakitinya dengan begitu kejam.“Ayah bukan orang buruk… dia bukan orang jahat… kumohon jangan buat semua orang salah paham…”Alea mematung.Serena mengangkat wajahnya—dan untuk satu detik, Alea melihatnya tersenyum tipis. Senyum manipulatif yang hanya terlihat oleh Alea.Kemudian Serena kembali menunduk, menangis lagi.Para tamu mulai berbisik murmur simpati.“Kasihan sekali… kakaknya sampai memohon…”“Apa benar Alea membenci keluarganya sendiri?”“David Morgan te
Wajah David tampak mengeras mendengar ucapan Alea yang begitu berani, tegas, dan tanpa satu pun keraguan di sana.“Jaga mulutmu, Alea. Jangan karena kamu sudah menikahi konglomerat Kingston, kamu jadi merasa bisa melupakan siapa dirimu sebenarnya. Kamu lupa asalmu?” suara David rendah, namun penuh ancaman.Beberapa tamu mulai memperhatikan dari kejauhan. Musik ballroom yang lembut seolah memudar, digantikan ketegangan di udara.Alea menatap David lama, tatapannya dingin dan tidak goyah sedikit pun.“Asal?” Alea mengulang pelan.“Jika yang Anda maksud adalah keluarga yang tidak pernah saya miliki… mungkin memang saya lupa. Atau memang tidak pernah ada yang perlu saya ingat.”David mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. “Kamu itu anak keluarga Morgan! Kamu dibesarkan di rumahku, kamu makan dari uangku. Dan sekarang kamu berdiri di sini, menyangkal keluarga yang sudah memberimu hidup?”Alea tersenyum tipis. Senyum yang tidak ramah, tidak bahagia, hanya… menyedihkan.“Memberi hidup?” ia
David menatap Alea dengan tatapan taja, dan jelas terlihat rasa tidak suka yang dimilikinya terhadap Alea."Kenapa, Tuan? Sepertinya anda terlihat tidak suka ketika saya mengatakan hal demikian. Padahal saya sudah bertanya dengan nadayang bahkan sangat sopan," ujar Alea denga anggun, meski jelas gemuruh dalam dadanya begitu kuat.Apa yang dilakukannya saat ini, hanya menutupi setiap rasa sakit yang amat sangat, yang selama ini selalu ia pendamdari keluarga Morgan."Kamu masih bertanya tentang ini, Alea. Sementara kamu sendiri tahu kalau kami ini keluargamu, sudah sepantasnya, marga yang kamu miliki itu tertulis danbersanding dengan marga suamimu. Karena bagaimanapun, ini pernikahan keluarga Morgan,"ungkap David.Serena yang sejak tadi diam, mulai ikut bicara dan mengingatkan Alea.“Adik… harusnya Ayah ada di sini,” ucap Serena pelan, seolah menahan tangis.Ia menyentuh lengan David dengan gerakan yang dibuat-buat lembut, memperlihatkan pada tamu-tamu sekitar bahwa ia ‘mendukung’ ayahn
Vanessa dan juga Serena mematung, saat melihat siapa yang saat ini berjalan disamping kursi roda Sean Miller. "Ibu... dia Alea kan? kenapa dia bisa menikah dengan Sean Miller?" tanya Serena, diliputi rasa yang bercampur jadi satu. antara terkejut, senang dan sedikit heran sebab orang tuanya sepertinya tidak tahu apa-apa. Belum sempat Vanessa menjawab, suara David Morgant yang baru saja datang mendekat, langsung berkomentar tentang Alea. "Apa-apaan anak itu? Alea benar-benar keterlaluan. dia menghilang begitu saja tanpa kabar selama berhari-hari, dan sekarang dia menikah tanpa memberitahu kita sama sekali? Kurang ajar,," geram David, mengepalkan tangannya saat melihat Alea berdiri dengan gaun yang begitu anggun dan juga mewah. Jemarinya mengepal dengan kuat, hingga ruasnya terlihat memutih. wajahnya menegang dan rahangnya mengeras. Serena yang mendapati kekesalan David, merasa mendapatkan celah. "Ayah... apa dia benar-benar marah padaku, sampai melampiaskannya pada k
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.