LOGINHujan selalu menjadi saksi dari segala yang hilang — juga dari kata-kata yang tak sempat diucapkan. Nara, seorang penulis yang kehilangan semangat hidup setelah patah hati dan kegagalan karier, kini menjalani hari-harinya tanpa arah. Di sebuah klinik pemulihan jiwa di kota kecil yang selalu diguyur gerimis, ia bertemu Ravindra — terapis pendiam yang menyembunyikan rahasia kelam di balik tatapan tenangnya. Diam-diam, Ravindra mengumpulkan setiap tulisan yang Nara buang dan merangkainya menjadi satu buku berjudul “Fragmen di Bawah Hujan.” Antara terapi dan perasaan yang tumbuh tanpa mereka sadari, keduanya saling menyembuhkan — tapi juga perlahan menyadari bahwa cinta tak selalu berarti memiliki. Sebuah kisah tentang kehilangan, penyembuhan, dan cinta yang datang seperti hujan — tenang, tapi meninggalkan jejak yang tak mudah hilang.
View MoreAku tidak tidur malam itu. Suara hujan seperti berputar-putar di kepalaku, menolak pergi bersama cahaya. Setiap kali aku memejamkan mata, bayangan Rian muncul di antara percik hujan—mantel abu-abu, tatapan yang tak lagi hidup, dan payung hitam yang ia tinggalkan di bangku kayu dekat stasiun.
Aku menatap benda itu sekarang, tergeletak di lantai kamar. Payung itu kuyup, tapi anehnya tidak berbau apek. Seolah-olah baru saja dijemur di bawah matahari. Aku memungutnya, memutar gagangnya perlahan. Ada inisial kecil terukir di sana: R.K. — Rian Karsa. Aku teringat dulu, ia sering mencoret-coret inisial itu di mana pun kami duduk bersama. Di meja, di buku catatanku, bahkan di cangkir kopi di tepi danau. Katanya, itu bukan tanda kepemilikan, tapi pengingat bahwa sesuatu pernah ada. Tapi malam ini, pengingat itu justru terasa seperti kutukan. Aku menatap jendela. Hujan belum berhenti. Setiap tetes air seperti mengetuk-ngetuk kaca, memanggil dengan suara lirih yang nyaris seperti bisikan. Aku tak tahu kenapa, tapi rasanya aku harus kembali ke sana—ke Stasiun Lama. Namun kali ini, bukan karena ingin. Tapi karena aku harus tahu. Pagi datang tanpa cahaya. Kabut turun, menyelimuti kota seperti tirai abu-abu. Lirona di musim hujan selalu tampak rapuh, seolah setiap bangunannya siap runtuh jika disentuh terlalu keras. Aku berjalan menyusuri jalan setapak menuju stasiun. Langkahku berhenti di dekat kios tua yang sudah tutup bertahun-tahun. Di kaca etalase yang pecah, ada goresan samar seperti tulisan: Kau tidak sendiri, Nara. Tanganku gemetar. Aku melangkah mundur, menatap tulisan itu dengan jantung berdetak cepat. Tulisan itu baru—masih berembun, seolah ditulis dengan jari seseorang dari luar. Tapi siapa? Tidak ada seorang pun di jalan itu. Aku berlari menuju peron. Bangku tempat Rian duduk malam tadi kini kosong. Payung yang semalam kutinggalkan sudah tidak ada. Yang tersisa hanya genangan air, memantulkan bayangan kusam dari papan nama stasiun yang nyaris rubuh. Aku menunduk, dan di genangan itu, sesuatu tampak bergerak. Bayanganku… tapi tidak persis bayanganku. Ia tersenyum, padahal aku tidak. “Rian… apa kau di sini?” suaraku hampir tenggelam oleh hujan. Tidak ada jawaban, hanya suara roda kereta yang bergemuruh pelan dari kejauhan. Tapi Lirona tak lagi punya kereta yang lewat sejak dua tahun lalu. Aku memejamkan mata. Dada terasa sesak. Semua ini tidak masuk akal. Mungkin aku hanya lelah. Mungkin bayangan Rian hanya sisa dari luka yang belum sembuh. Tapi mengapa semua terasa begitu nyata? Aku berbalik, hendak pergi, namun langkahku terhenti ketika seseorang berdiri di ujung peron. Bukan Rian. Seorang lelaki tua dengan jas panjang, wajahnya tersembunyi di balik kabut. Ia menatapku lama, lalu menunjuk ke arah rel yang berkarat. “Dia tidak pergi sendirian,” katanya lirih. Aku tertegun. “Apa maksud Anda?” “Yang menemuinya malam itu bukan hanya hujan.” Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi saat aku berkedip, lelaki itu sudah menghilang bersama kabut. Aku memeluk tubuhku sendiri, mencoba menahan gemetar. Kata-kata itu bergema di kepala—dia tidak pergi sendirian. Di perjalanan pulang, aku berhenti di jembatan kecil dekat penginapan. Di bawah sana, air sungai mengalir deras membawa ranting dan daun. Lalu mataku menangkap sesuatu: secarik kertas yang tersangkut di batu. Aku meraih dengan ujung payung, menariknya perlahan. Tulisan di atasnya samar, tapi masih bisa kubaca: “Jangan cari aku di tempat lama. Karena di sana, waktu berhenti menunggu.” Aku menggigit bibir, mencoba menahan perasaan yang tiba-tiba menyesak. Angin berhembus dingin, membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang tak asing—aroma parfum Rian yang dulu sering menempel di leherku setiap kali ia memelukku. Aku tahu aku tidak berhalusinasi. Sesuatu sedang terjadi di Lirona. Sesuatu yang menghubungkan hujan, kenangan, dan kematian yang belum selesai. Malamnya, aku kembali ke kamar dengan langkah lunglai. Ponselku bergetar di meja, ada pesan masuk tanpa nama pengirim. Hanya satu kalimat: “Aku tidak suka kau kembali ke stasiun, Nara.” Aku terdiam. Jari-jariku membeku di atas layar. Hujan di luar makin deras. Kutatap bayangan diriku di jendela yang berembun, dan untuk sesaat, aku melihat sosok lain berdiri di belakangku. Mantel abu-abu. Payung hitam. Aku menoleh cepat. Tidak ada siapa-siapa. Hanya kesunyian yang menatap balik. Dan di tengah kesunyian itu, aku sadar: Rian tidak sekadar kenangan yang datang bersama hujan. Ia adalah hujan itu sendiri—turun untuk mengingatkan bahwa sesuatu belum selesai di kota ini.Malam turun lebih cepat dari yang mereka sadari.Lampu di ruang kerja tim proyek masih menyala ketika sebagian besar lantai kantor sudah mulai sepi. Beberapa ruangan di ujung koridor telah gelap, menyisakan hanya suara pendingin udara yang berdengung pelan.Namun di ruang kecil tempat Aira, Arkan, dan Raka bekerja, cahaya layar komputer masih terang.Di layar utama Aira, struktur model baru terbuka.Bagian yang dulu mereka anggap sebagai gangguan—pola kecil dalam distribusi error—sekarang justru menjadi pusat dari desain ulang sistem.Ia menatap kode di layar.Beberapa jam terakhir mereka bekerja hampir tanpa henti.Arkan membantu merumuskan ulang hubungan matematis antara variabel utama dan pola yang ditemukan Raka.Sementara Raka sendiri menyusun kerangka simulasi yang jauh lebih besar dari sebelumnya.Simulasi yang akan menguji model baru ini dalam kondisi ekstrem.Bukan lagi ribuan siklus.Melainkan puluhan ribu.Jika model baru in
Hari ketiga dari dua minggu itu berjalan lebih sunyi dari sebelumnya.Ruang kerja tim proyek dipenuhi suara halus kipas laptop dan ketukan keyboard yang jarang-jarang.Di luar jendela, langit siang tampak pucat.Namun di dalam ruangan itu, waktu terasa seperti bergerak lebih lambat.Aira duduk di kursinya dengan mata lelah.Sejak pagi ia mencoba membangun ulang struktur model yang semalam mereka sepakati untuk dirombak sebagian.Namun semakin lama ia bekerja, semakin jelas satu hal muncul dalam pikirannya:Membangun ulang sesuatu tidak sesederhana mengganti bagian yang rusak.Setiap perubahan kecil menciptakan konsekuensi baru.Ia menatap layar.Beberapa simulasi pendek yang ia jalankan menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan.Namun ia belum berani percaya.Di papan tulis, Arkan masih berdiri dengan spidol di tangan.Setengah dari rumus yang dulu memenuhi papan itu sudah dihapus.Digantikan dengan struktur yang lebih sederhana
Hari pertama dari dua minggu itu dimulai dengan suasana yang tidak biasa.Ruang kerja tim proyek biasanya penuh dengan percakapan ringan di pagi hari.Namun pagi ini berbeda.Semua orang bekerja lebih cepat.Lebih diam.Seolah setiap detik memiliki berat yang berbeda.Di meja kerjanya, Aira sudah membuka beberapa jendela data sekaligus.Grafik simulasi baru berjalan di layar utama.Di layar lain, tabel parameter terbuka.Ia sedang mencoba sesuatu yang belum pernah mereka uji sebelumnya.Penyesuaian kecil pada variabel tambahan.Jika berhasil, drift yang muncul dalam simulasi panjang bisa dikurangi.Jika gagal—model itu mungkin akan menjadi jauh lebih tidak stabil.Aira mengetik beberapa baris kode.Simulasi baru dimulai.Angka-angka mulai bergerak.Ia tidak berkedip.Di meja sebelah, Raka juga sedang tenggelam dalam datanya.Ia membuat beberapa model perbandingan.Jika mereka harus merombak sebagian str
Pagi datang terlalu cepat bagi Aira.Ia hampir tidak tidur.Bayangan grafik dari simulasi semalam masih terus muncul di pikirannya.Deviasi kecil itu.Drift yang hampir tidak terlihat.Namun cukup untuk mengubah arah masa depan proyek mereka.Ketika ia memasuki kantor, suasana sudah berbeda dari biasanya.Beberapa orang berdiri di dekat meja kerja masing-masing.Percakapan terjadi dalam suara rendah.Semua orang tahu hari ini bukan hari biasa.Hari ini adalah hari evaluasi lanjutan.Hari di mana manajemen akan memutuskan apakah proyek ini masih layak dilanjutkan.Aira berjalan menuju ruang rapat.Pintu kaca besar itu sudah terbuka.Di dalamnya, meja panjang sudah dipenuhi laptop dan berkas.Damar sudah duduk di kursinya.Bagas juga sudah ada di sana.Raka dan Arkan datang beberapa menit setelah Aira.Semua orang duduk.Tidak ada pembukaan panjang.Damar langsung memulai.“Kita lanjutkan dari simulasi
Siang menjelang perlahan.Cahaya dari jendela mulai berubah lebih hangat.Di ruang kerja tim proyek, tiga laptop masih terbuka di atas meja.Simulasi tambahan terus berjalan sejak pagi.Grafik demi grafik muncul.Beberapa terlihat stabil.Beberapa menunjukkan deviasi tipis
Hari berikutnya dimulai lebih sunyi dari biasanya.Aira datang lebih pagi.Kantor masih setengah kosong ketika ia masuk ke ruangan tim mereka.Cahaya pagi masuk dari jendela besar di samping meja.Ia menyalakan laptopnya.Sistem internal langsung memuat data simulasi yang mere
Pagi itu terasa lebih terang dari biasanya.Matahari baru naik, namun gedung kantor sudah dipenuhi aktivitas.Orang-orang berjalan lebih cepat di lorong.Beberapa membawa laptop.Beberapa membawa map berisi laporan.Hari presentasi proyek besar memang selalu membawa suasana be
Pagi datang lebih cepat dari yang diharapkan.Bagi Aira, malam terasa terlalu pendek. Ia hampir tidak benar-benar tidur. Pikiran tentang grafik yang tidak stabil itu terus kembali setiap kali ia mencoba memejamkan mata.Ketika ia tiba di kantor, langit masih kelabu.Beberapa meja suda






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews