INICIAR SESIÓNAduh, ini kakak tiri dari awal meresahkan banget. Kira-kira dia ngomong apa????
Meskipun Salma tertidur lebih dulu, tapi Rivanlah yang bangun lebih cepat. Jika dihitung dari durasi film-nya, berarti sekitar sepuluh menit lagi film-nya selesai. Selama beberapa saat, Rivan berbaring menyamping untuk memperhatikan wajah Salma yang terlelap. Saat tidur pun Rivan akui Salma begitu cantik.Namun, satu hal yang pasti. Sekarang bahkan sejak awal ... Rivan melihat Salma sebagai Salma. Tak pernah satu kali pun ia melihat Salma sebagai Nova sekalipun wajah mereka benar-benar identik.Jika orang lain mungkin kesulitan membedakannya, tapi bagi Rivan yang sudah berinteraksi sangat dekat dengan keduanya ... bisa dipastikan ia mampu membedakan mana Nova dan Salma.“Mereka memang kembar, tapi secara karakter ... sangat berbeda,” batin Rivan.Saat Salma mulai menunjukkan gelagat hendak membuka matanya, Rivan buru-buru menatap ke arah layar, berpura-pura menonton filmnya.Tak lama kemudian, Salma benar-benar membuka matanya. Ia mengucek-ngucek matanya lalu menutup mulutnya yang men
Salma menoleh ke luar jendela, menyadari mobil yang Rivan kemudikan memasuki sebuah mal.“Loh, kita ke sini, Mas?” tanya Salma heran.Rivan tadi mengatakan akan memberikan apresiasi atas kerja keras Salma hari ini dengan menawarkan sensasi tidur yang berbeda, tapi kenapa ke sini?“Apa Mas Rivan mau ngajak aku makan dulu? Padahal aku udah makan. Kalaupun belum, yang aku butuhkan tidur.”Tidak mungkin juga, kan, kalau sensasi tidur yang berbeda yang Rivan maksud adalah tidur di mobil?Detik berikutnya, Rivan sudah memarkirkan mobilnya di basemen. Mesin mobilnya pun sudah dimatikan. Namun, Rivan tidak langsung mengajak Salma turun, meski sabuk pengaman pria itu sudah dibuka.“Kita ngapain ke sini?” tanya Salma lagi, karena sejak tadi Rivan belum memberikan penjelasan apa pun.“Merasakan sensasi tidur yang berbeda.” Rivan masih konsisten dengan jawabannya.“Iya, tapi yakin ke sini?” Mungkin Salma tidak akan se-heran ini kalau Rivan mengajaknya ke hotel.“Aduh, seharusnya aku mengajukan sa
Dalam perjalanan, Salma dan Rivan membahas tentang kondisi Nova. Rivan meyakinkan Salma kalau saudara kembarnya pasti baik-baik saja. Meskipun sekarang tidak bisa sering-sering menjenguk, tapi Rivan memastikan dengan cara begini ... kondisi Nova jadi lebih terjamin.“Kita bisa menjenguk sebelum berangkat atau sepulang honeymoon nanti.”Salma mengangguk paham.“Ngomong-ngomong, syuting-nya berjalan lancar?”“Sempat nggak lancar, ternyata nggak semudah itu. Aku beneran nol banget,” jujur Salma. “Tapi akhirnya semua selesai. Meski aku ragu, sih, hasilnya bakal memuaskan atau nggak. Secara aku bukan Nova.”“Udah sampai di titik ini aja, kamu udah hebat. Serius.”Salma menggeleng berulang, membayangkan adegan dewasa yang ia lakukan bersama Anjar tadi.“Sumpah deg-degan banget. Ditambah malu karena dilihatin banyak orang.”“Sekarang kamu mau apa? Anggap aja apresiasi karena kamu berhasil melewati chapter tersulit. Beradegan dewasa, terlebih dengan mantan pacar itu bukan sesuatu yang mudah.”
“Halo, Mas Rivan?” ucap Salma pada suaminya si seberang telepon sana tepat saat panggilan terhubung.“Halo, Sal. Kamu udah selesai syutingnya?”“Udah, barusan banget. Tadi Mas Rivan nelepon aku?”“Iya, maaf banget nggak bisa langsung kasih kabar. Aku sengaja membiarkan kamu fokus dulu.”Salma memperhatikan sekeliling, memastikan tidak ada yang menguping pembicaraannya. Setelah itu, ia agak berbisik, “Ada apa, Mas? Apa yang terjadi? Gimana kondisinya?”Saking khawatirnya dengan keadaan Nova, sampai-sampai Salma membombardir Rivan dengan tiga pertanyaan sekaligus.“Aku dan ayah memutuskan untuk membawa Nova ke rumah sakit, dengan harapan kondisinya dapat lebih terjamin.”“Apa? Ke rumah sakit?”“Iya. Di rumah sakit, fasilitas medis jauh lebih lengkap serta banyak tenaga kesehatan yang siap siaga. Bukannya apa-apa, kita nggak tahu apa yang terjadi ke depannya. Jika sewaktu-waktu Nova butuh tindakan darurat, setidaknya dia berada di tempat yang tepat untuk menyelamatkannya,” jelas Rivan. “A
Ekspresi Rivan yang sulit diartikan membuat Salma menerka-nerka. Ia yakin ada sesuatu tentang Nova. Tunggu, apa Nova siuman? Itulah yang mereka harapkan sejak lama. Hanya saja, ekspresi Rivan cenderung ke arah yang tidak diinginkan.“Nova kenapa? Perawat Nova bilang apa?”“Tanda vitalnya sempat menurun lalu perlahan pulih. Meski begitu, aku tetap harus ke sana.”“Ya ampun. Aku nggak yakin bisa batalin jadwal syuting begitu aja.”“Jangan, kamu beraktivitas seperti biasa aja. Kamu nggak bisa batalin jadwal dengan alasan yang sangat rahasia. Takutnya ada yang curiga lalu ketahuan yang sebenarnya. Jangan sampai begitu,” ucap Rivan. “Pokoknya kamu tenang aja. Biar aku yang ke sana dan memastikan sendiri kondisi Nova.”Salma mengangguk tanda paham. Ia tak bisa menolak ketenangan yang terpancar dari Rivan, dan ucapan pria itu cukup menenangkan hingga membuatnya berhenti panik“Nanti kabarin lagi kondisinya. Lewat chat pun nggak apa-apa.”“Hape Nova bakal dipegang Septi. Bahaya,” balas Rivan.
Keesokan harinya....Pada akhirnya, hari ini benar-benar datang, hari di mana Salma harus berakting menggantikan Nova. Jika saja lawan mainnya bukan Anjar, mungkin Salma tidak akan se-gugup ini. Namun, sebisa mungkin Salma akan bersikap selayaknya tidak terjadi apa-apa. Ia harus ingat, di mata Anjar ... dirinya adalah Nova.Salma yang baru selesai bersiap-siap untuk berangkat, keluar dari kamarnya dan mendapati Rivan sudah berpenampilan rapi. Bukan penampilan formal, melainkan kasual. Hal yang tak terduga bagi Salma adalah ... Rivan menawarkan diri untuk mengantarnya ke lokasi syuting.“Tiba-tiba?” tanya Salma heran.“Ya. Bukankah setelah menikah, satu kali pun aku belum pernah antar kamu bekerja?”“Iya, sih. Memangnya Mas Rivan nggak sibuk?”“Sibuk, tapi mulai besok. Jangan lupa, aku harusnya baru pulang hari ini.”Benar juga.Rivan kembali berbicara, “Meskipun pulang lebih cepat, tapi aku belum meminta sekretarisku mengatur ulang jadwal. Jadi aku senggang seharian ini, sampai nanti m
Sepuluh tahun yang lalu....“Sebelum kita berpisah dan nggak akan bertemu lagi, aku mau jujur tentang sesuatu yang selama ini kamu belum tahu. Bukannya nggak mau kasih tahu, tapi waktunya selalu nggak tepat. Ternyata sekarang adalah waktunya,” ucap Salma dengan nada serius.Saat itu, Salma dan Anjar
“Aku pikir, aku hanya perlu menunggu sampai Nova bangun. Kenyataannya, aku punya tanggung jawab yang lebih besar dari itu,” keluh Salma yang saat ini duduk di samping kursi kemudi.Sedangkan Rivan duduk diam mendengarkan. Mobil yang dikemudikannya juga sudah mulai menjauh meninggalkan kediaman orang
Tak lama setelah bercerai dengan ibu kandung Salma dan Nova, Fahmi menikah dengan Aruni—janda anak satu dan sang anak ikut serta bersamanya sehingga dalam pernikahan itu ... Fahmi membawa Nova sedangkan Aruni membawa Giri, putra tunggalnya yang berusia dua tahun lebih tua dari Nova.Itu sebabnya Gi
Menjelang sore, Salma dan Rivan langsung meninggalkan hotel menuju apartemen Rivan yang akan mereka tempati selagi menjalani pernikahan sementara. Tiba di sana, Rivan mempersilakan Salma untuk masuk ke kamar barunya.“Aku paling nggak suka orang asing masuk ke ruang pribadi, jadi kemungkinan ART ha







