LOGINIvanka Julietta sudah memendam rasa kepada Elang Rajendra sejak masih mengenakan seragam SMA. Ia bahagia meski hanya bisa mencintai sang pujaan di dalam hati saja. Ivanka tak pernah menyangka, diusianya yang ke 25, ia dilamar lalu dinikahi oleh Elang Rajendra, pujaan hatinya. Sayangnya, cinta bertepuk sebelah tangan Ivanka ternyata belum selesai sebab Elang masih memiliki jalinan asmara yang belum usai. Dua insan satu atap di dalam mahligai pernikahan, akankah ada percintaan atau hanya keputus-asaan?
View MorePembawa acara yang telah mengantarkan seluruh rangkaian acara dari awal hingga akhir berseru penuh semangat. “Sang pengantin pria gagah dan tampan sementara pengantin wanitanya mungil, imut menawan.”
Kalimat santai itu menandai berakhirnya prosesi pernikahan antara Elang Rajendra dan Ivanka Julietta.
Kini keluarga dari kedua mempelai dan tetangga kanan – kiri yang tak mungkin kalau tak diundang mulai membentuk kelompok-kelompok, mengobrol gembira sambil menikmati cemilan yang semuanya berkualitas premium.
"Iva, silakan kalau mau istirahat dulu." Ibu mertuanya tersenyum hangat sembari menepuk lembut punggung anak mantunya. Wanita berusia mapan yang tampil mempesona itu tau betapa pegalnya terbalut kebaya sempit selama berjam-jam. Ditambah lagi dengan berbagai macam asesoris tradisional lengkap yang dilekatkan di tubuh ramping Ivanka.
"Mana bisa pengantin baru disuruh istirahat jam segini mbak." Salah satu kerabat sang suami yang tak dikenal oleh Ivanka menimpali sambil dengan sengaja mengedip-ngedip genit. "Pasti menjelang subuh baru bisa tidur." wanita itu merendahkan suara. "Apalagi Elang bugar perkasa begitu."
Ibu mertua Ivanka yang santun dan lembut itu tertawa pelan sembari menutup mulut menggunakan kipas berenda yang ada ditangannya. Rania Rajendra tak menimpali malah makin mendekat lalu merangkul Ivanka. "Sudah, jangan diambil hati Va. Masuk aja ke kamar untuk isirahat ya."
"Bener nggak apa-apa Ma?" mata Ivanka mengerjap. Sebenarnya ia juga malu menghilang dari tempat acara sekarang namun sedari tadi godaan demi godaan memang lebih banyak ditujukan kepadanya sampai ia merasa risih. Ia memilih menyingkir karena candaan mereka mulai melewati batas. Seputar kasur dan aktivitas di atas kasur melulu.
"Iya nggak apa-apa Va, beneran. Nanti begitu Mama menemukan Elang, Mama akan langsung menyuruhnya menyusul kamu ke dalam." Wanita itu menarik napas panjang. "Paling-paling dia lagi ngumpul sama teman-teman sablengnya di gazebo."
Pipi Ivanka merona. Ia mengangguk malu-malu. "Kalau begitu saya permisi dulu Ma." Gadis itu berjalan pelan-pelan meninggalkan tempat acara didampingi dua orang pegawai perias pengantin yang stand by sejak tadi pagi.
Satu orang akan membantunya berganti pakaian sementara satu orang lagi akan membantu membersihkan mukanya yang terasa tebal dan lengket oleh make up.
Ivanka mengeluhkan mukanya yang seberat lima ratus kilogram!
Periasnya tertawa geli sembari menjanjikan kalau mukanya akan kembali ringan, mulus dan polos seperti biasa setelah dibersihkan.
Sebentar saja mereka bertiga sudah akrab. Sambil melepaskan kaitan kancing kebaya Ivanka yang memang berada di punggung, mereka bertiga saling bertukar cerita. Seru sekali karena ternyata mereka memiliki beberapa hal favorit yang sama.
Ruangan itu berubah hening saat pintu kamar membuka.
Dua orang asisten perias tadi langsung menundukkan kepala lalu bekerja membuka kancing-kancing kemeja Ivanka dalam kesunyian.
Kedatangan Elang Rajendra seolah menjadi pertanda bahwa waktu mereka untuk keluar dari kamar sudah tiba.
Gerakan kedua orang itu berubah agak gugup dan terburu-buru, tak bersantai-santai seperti sebelumnya. Apalagi sambil berbagi kisah dan tertawa-tawa.
Suasana menjadi mencekam.
Padahal Elang melihat ke arah mereka pun tidak. Ia melewati tiga orang wanita yang berada di dalam kamarnya begitu saja tanpa kata. Lelaki berperawakan tinggi tegap itu langsung menghilang ke dalam kamar mandi.
"Kami permisi mbak." ucap salah satu dari mereka padahal tugasnya belum seratus persen selesai. Dua orang itu ngibrit besamaan keluar kamar begitu saja.
“Iya makasih mbak…” ucapan Ivanka hanya menyapa angin karena pintu kamar langsung menutup. Tatapannya berpindah ke pintu kamar mandi. "Ah keduluan." senyuman Ivanka kembali menyungging. "Padahal aku juga sudah kepingin banget ke toilet." Gadis itu pura-pura cemberut sambil tetap menatap pintu yang menutup rapat.
Tapi siapa yang bisa marah kalau sejurus kemudian pintu kamar mandi terbuka menampakkan Elang yang sudah berganti mengenakan pakaian santai. Ohh... God! Tampilan segar lelaki itu begitu menggoda iman.
Sejak dulu Ivanka lebih menyukai tampilan Elang yang seperti ini ; kaus oblong dan celana kolor sebatas lutut. Lebih... manusiawi.
Lelaki itu memilih duduk di sofa single yang terletak di sudut ruangan sambil menyilangkan sebelah kaki. Tangannya meraih hand phone yang entah kapan diletakkannya di atas meja kecil tepat disamping sofa. Jemari Elang sibuk menggulir layar.
"Mas Elang laper nggak? Apa mau aku ambilkan makanan atau cemilan kesini?" Astaga, pipinya pasti sudah semerah kepiting rebus sekarang.
Elang bergeming. Jangankan menjawab, melirik pun tidak.
Ivanka tidak merasa sakit hati dengan respon dingin membeku itu. Ia punya ide lain. Sebenarnya bisa saja Ivanka membuka sendiri sisa kancing-kancing kebayanya yang sudah longgar tapi ia ingin menggoda suami.
Keraguan menerpa gadis muda itu. Setahu Ivanka, Elang memang tak pernah kelihatan menggandeng perempuan. Itu sebabnya, lelaki itu perlu dipancing dulu agar bereaksi.
Ivanka menggigit bibir bawahnya. Apakah aku terlalu agresif? Tanyanya dalam hati. Memangnya ada lelaki yang jadi ilfeel karena istrinya terlalu genit? Harusnya enggak. Tapi ini Elang. Lelaki itu berbeda. Ah… Ivanka jadi mengkeret. "M... mas bisa bantu buka?" tapi ia paksakan dirinya untuk mencoba.
Tiba-tiba Elang mengangkat muka, beranjak dari single sofa menghampiri istrinya. Sorot mata lelaki itu tertuju lurus pada Ivanka.
Seketika jantung Ivanka berdebar. "Ma... mau apa mas? Apa mas mau mengajakku bercinta?" Ya Tuhan... bisa-bisanya pertanyaan seperti itu terlontar dari mulutnya!
Elang tak terpengaruh. Wajahnya biasa saja mendnegar pertanyaan sang istri. "Berapa nomor hand phone kamu?" tanyanya dingin sembari mengantongi handphonenya sendiri agar tangannya dapat membuka dua kancing terbawah kebaya pengantin yang dikenakan Ivanka. Setelah itu, ia kembali mengambil handphonenya, bersiap mencatat.
Ivanka menyebutkan nomornya dengan nada malu-malu. Pikirnya Elang akan marah kepadanya karena wajah lelaki itu seolah digelayuti mendung pekat yang mengerikan. Ia juga sempat berpikir kalau Elang akan menyergap tubuhnya ke tempat tidur. Ohh… pipinya merona lagi. Namanya juga pengantin baru, jauh sedikit pastilah diserang rindu.
Bahunya menjengit manakala tak sampai semenit hand phonenya mengeluarkan bunyi notifikasi.
"Buka." ucap Elang masih dengan nada dinginnya. Kaki yang panjang dan kokoh itu melangkah kembali ke kursi.
Ivanka memilih untuk menanggalkan kebayanya dulu, menyisakan dalaman krem lengan panjang, barulah duduk di tepi tempat tidur, membuka pesan yang ternyata berasal dari suaminya.
Sebuah dokumen yang harus di d******d. Mata Ivanka yang semula berbinar indah seketika meredup membaca judul dokumen tersebut. "Su... surat perjanjian kontrak pernikahan?" tanyanya terbata-bata. "Kita kan sudah menikah secara sah." ujarnya kemudian dengan wajah terangkat. "Apa maksudnya ini mas?"
Sahutan Elang amatlah pendek dan kaku. "Baca."
Satu kata itu kembali membuat Ivanka mengkeret. Tegas dan terkesan garang sekali suara Elang. Ivanka menunduk, membaca baris demi baris kalimat dalam dokumen itu. Semakin banyak ia membaca dokumen berjumlah tiga lembar itu, semakin panas matanya.
Dua butiran bening meleleh dari sudut-sudut mata gadis berusia dua puluh lima itu seiring ia selesai membaca.
"Sudah mengerti?" Elang menatap dari dari posisinya yang berseberangan dengan Ivanka. "Cinta bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Aku nggak mempunyai rasa sedikitpun kepadamu. Satu-satunya alasanku menerima pernikahan ini adalah kondisi ibuku yang sakit. Beliau menderita lemah jantung jadi aku tak kuasa menolak keinginannya. Aku tak ingin ada apa-apa dengan ibu."
Nada bicara Elang melembut tapi hati Ivanka malah tertusuk-tusuk.
Di jaman sekarang ini, ada berapa laki-laki yang memiliki kebaikan seperti Elang? Sanggup mengorbankan perasaannya demi sang ibu. Rasanya nggak banyak dan Ivanka merasa terluka karena orang sebaik itu ternyata tidak menyukainya.
Suara Elang kembali terdengar. "Jadi jangan berharap banyak dari aku. Kita menikah dan bersikap layaknya suami istri hanya di depan orang tuaku, hanya demi ibuku."
.
.
.
to be continued
Suara everest Elang memasuki halaman.Iva terburu membawa pakaian itu ke belakang lalu menyambut sang suami. "Ada yang ketinggalan mas?" Sesuai dugaannya, Elang hanya melewatinya begitu saja tanpa kata. Entah apa yang diambil lelaki itu dari dalam kamar utama tapi sebentar saja Elang sudah pergi lagi. "Iya kamu punya kekasih mas." Iva berujar lirih sambil berdiri di pintu utama menatap kepergian sang suami untuk yang kedua kali.Tergesa Iva menuju ke kamarnya sendiri begitu everest itu hilang dari pandangan. Ia meraih handphone yang sejak semalam ia biarkan tergeletak disana. Jemarinya menekan nomor kontak mamanya. Sebentar saja ia sudah tersambung. Iva menarik napas panjang, memastikan suaranya terdengar ceria."Apa kabar Mama dan semua orang rumah?""Mama dan adik-adikmu baik Va tapi Papa enggak. Tadi malam papamu kena serangan lagi."Iva menggigit bibir bawahnya mendengar itu. Mata kirinya langsung menjatuhkan setetes air mata."Untung saja mertuamu langsung membantu, Papa langsu
Iva menunggu sang suami sampai jam 11 malam tapi tak ada tanda-tanda Elang akan pulang. Ia nekat menunggu diluar tapi tak sampai 5 menit sudah masuk kembali gara-gara sayup didengarnya suara burung hantu.Gadis itu meringkuk di sofa ruang tamu. Ia tergeragap bangun saat pintu dibuka. "Mas...!" Pekiknya, serta merta bangkit dari sofa.Tekadnya untuk menyingkirkan cinta terpendamnya kepada Elang buyar saat mereka berdekatan begini. Penuh kerinduan Ivanka menghambur memeluk lelaki itu. "Darimana aja mas? Kok jam segini baru pulang? Aku nggak berani di kamar jadi aku nungguin disini sampai ketiduran." Berondongnya tanpa titik koma. Kedua lengannya melingkar erat di pinggang Elang."Lepaskan, aku mau buka sepatu." Ucap lelaki itu dingin."Enggak, aku kangen." Iva nekat menempelkan pipinya di dada Elang. Hidungnya kembang kempis mencoba mencari aroma manis khas perempuan yang tertinggal disana tapi tak ada apa-apa.Kedua tangan Elang mencengkeram pinggang gadis itu, siap mendorongnya mundur
Beberapa kepala terangkat, menatap takjub pada sosok Ivanka yang tengah tersenyum manis."Saya mau melamar menjadi guru.""Wah kebetulan bu, sekolah memang kekurangan guru. Ada beberapa posisi yang kosong." Seorang lelaki berkemeja batik mengajak Ivanka mengikutinya hingga ke depan meja yang berada di ujung ruangan. Meja di ujung itu paling besar dan paling bersih. "Ini meja bagian kepegawaian bu. Sebentar ya, duduk dulu."Ivanka mengangguk ia memangku tote bag-nya sambil mengedarkan pandang. Suasana begitu asri dan dingin di dalam situ walaupun hanya ada satu unit kipas angin yang ada di tengah-tengah ruangan. Bukan hanya soal asri saja tapi sambutan guru-guru yang ada di ruangan itu juga begitu hangat dan ramah. Belum apa-apa ia sudah merasa betah. Semoga saja ia diterima dan setelah diterima nanti perlakuan orang-orang ini tetap baik kepadanya. Begitu pemikirannya.Tekadnya untuk memadamkan perasaannya kepada Elang sudah bulat. Kalau hanya karena belum cinta, ia akan sabar menungg
Kelopak mata Ivanka mengerjap kaget saat pintu dibanting tepat dimukanya. Ia mengurut dada. Beberapa saat lamanya ia mematung di depan pintu. "Aku panggil lagi kalau airnya udah siap ya mas!" serunya belum menyerah namun suaranya sudah berubah sendu.Tak ada jawaban dari dalam kamar utama.Gadis itu tak menunggu lama. Ia beranjak ke dapur untuk menjerang air. Sambil menunggu air mendidih, Ivanka menatap kaca jendela dapur. Diluar sudah gelap gulita. Satu-satunya pendar cahaya berasal dari rumah keluarga mang Sarif. Ia mematikan kompor lalu bergegas menuju ke depan karena mendengar suara pintu membuka.Elang telah berganti pakaian. Kemejanya berganti polo shirt warna putih sementara celana bahannya berganti jins hitam."Mau kemana mas?" Gadis itu tergesa mendekat."Not your business." Lelaki itu berhenti. "Aku dengar kamu guru SD sewaktu belum menikah denganku?"Ivanka mengangguk bingung dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu. "Iya aku...""Berarti kamu bisa mengerti apa yang aku katakan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.