MasukEmily masuk ke dalam novel sebagai tokoh figuran; seorang wanita yang hanya menjadi latar belakang tragis Nicholas, sang tokoh utama pria yang merupakan suaminya. Suatu saat, Nicholas akan bersatu dengan tokoh utama wanita, dan hidup Emily akan berakhir tragis. Oleh karena itu, Emily memutuskan untuk bercerai, dan melepaskan diri dari takdir menyedihkan. Tapi, pengacara dingin yang seharusnya mencintai tokoh utama wanita itu, justru menarik pinggang Emily dengan posesif, menahannya pergi darinya! "Kau mau menggugat cerai? Jangan harap. Sekali menjadi milikku, tetap akan jadi milikku."
Lihat lebih banyakSaat Emily masuk ke dalam ruang kerja suaminya sore itu, ia menemukan pria itu sedang bercumbu dengan wanita lain.
Nicholas tengah mendekap Olivia di pelukannya, napas mereka beradu, kemejanya tampak kusut.
Melihat Emily masuk secara tiba-tiba, mereka menegang. Keduanya memundurkan tubuhnya selangkah. Olivia menunduk dengan canggung.
"Keluar, Olivia," perintah Nicholas dengan suara beratnya yang sedikit serak. Pria itu sibuk membenarkan letak dasinya yang miring.
"B-baik, Tuan," jawab Olivia dengan suara bergetar.
Saat Olivia keluar dan melewatinya, Emily melihat rambutnya sedikit berantakan, ada noda merah tipis yang tercetak tidak rapi di sudut bibir wanita itu.
Sepeninggal Olivia, keheningan yang canggung menyelimuti ruangan. Nicholas berdeham pelan, mencoba mengembalikan wibawanya yang sempat runtuh karena keterkejutan.
"Ada noda di pakaianku," ucap Nicholas tiba-tiba, memecah keheningan dengan nada defensif. "Olivia menyadarinya dan hanya membantuku membersihkannya."
Emily tidak langsung menjawab. Ia melangkah maju dengan tenang dan meletakkan tumpukan dokumen di tangannya ke atas meja kerja pria itu.
"Begitukah?" jawab Emily seadanya tanpa minat lebih.
Tentu saja Emily tidak percaya. Bukan hanya karena bukti fisiknya terlalu terpampang nyata, tapi karena ia tahu persis adegan ini.
Dunia ini adalah dunia novel. Sebulan yang lalu, setelah mengalami kecelakaan maut di dunia nyata, ia terbangun di dalam tubuh tokoh figuran bernama Emily. Ia adalah istri sah dari Nicholas Spencer, si tokoh utama pria yang saat ini berdiri di hadapannya.
Pernikahan mereka hanyalah kesepakatan bisnis keluarga yang dingin dan tanpa cinta. Singkatnya, dirinya hanyalah tokoh tidak penting yang hidup hanya sebagai latar belakang kisah tragis sang tokoh utama pria.
Sebagai pembaca yang sudah menamatkan novel tersebut, Emily tahu betul bahwa Nicholas dan Olivia adalah sepasang protagonis yang ditakdirkan bersama. Adegan barusan hanyalah satu dari sekian banyak momen asmara mereka di kantor.
Lalu bagaimana dengan nasib Emily di novel ini?
Tentunya…
Tidak baik.
Setelah skandal kebusukan perusahaan keluarganya terbongkar, ia akan diceraikan, diusir tanpa membawa sepeserpun uang, dan mati dalam kesendirian.
Bahkan membayangkan akhir hidupnya, Emily dapat merasakan bulu kuduknya berdiri, ia tidak ingin mati sia-sia dua kali!
Karena alasan itulah, alih-alih menangis atau meminta penjelasan melihat kemesraan suaminya dengan wanita lain, Emily memilih untuk sama sekali tidak peduli. Tujuannya saat ini hanya satu, bertahan hidup dan bercerai secepatnya.
"Nicholas." Emily mendongak sedikit menatap suaminya. "Apakah aku bisa menyewa salah satu pengacara dari firma hukum ini?"
Satu alis Nicholas terangkat, suaranya dingin dan menyelidik. "Untuk apa?"
"Untukku. Ada urusan pengadilan yang harus kuurus."
Wajah Nicholas sontak mengeras. Dari perubahan ekspresi itu saja, Emily sudah bisa menebak isi kepala suaminya. Pria ini pasti sedang berpikir bahwa Emily baru saja membuat masalah besar yang memalukan di luar sana.
Nicholas menghela napas kasar dan memijat pangkal hidungnya dengan kuat.
"Jika kau memang memiliki masalah, kenapa kau tidak mengatakannya padaku sejak awal?!" suara Nicholas meninggi, menahan amarah yang mulai meledak. "Kau kira menyelesaikannya ketika masalah itu perlu dibawa ke pengadilan adalah hal yang mudah?!"
Bentakan itu membuat Emily terdiam. Wajahnya tetap datar, tapi di dalam dadanya, rasa kesal mulai mendidih.
Pria itu bahkan tidak repot-repot bertanya apa alasannya dan langsung menghakimi Emily. Tapi melihat kebisuan Emily yang menatapnya dengan dingin, Nicholas justru mengartikan hal itu sebagai rasa ketakutan atau rasa bersalah.
Di matanya, Emily adalah istri tidak becus yang hanya membuat masalah.
"Sudahlah," ucap Nicholas tiba-tiba. Suaranya sedikit merendah, meski sisa-sisa kekesalan masih kental terdengar. "Aku yang akan menjadi pengacaramu. Apa kasusnya?"
"Kamu tidak bisa menangani kasusku," jawab Emily. “Aku harus mencari pengacara lain.”
Penolakan Emily yang tenang itu justru membuat emosi Nicholas tersulut lagi. Rahang pria itu mengeras dan wajahnya menggelap.
"Kamu meragukanku?"
Tatapan dingin itu dan suara rendahnya sejujurnya begitu mengerikan, Emily nyaris tak mampu berkutik. Tapi ia berusaha mengumpulkan keberaniannya.
“Bukan begitu…” ucapnya, menatap lurus ke dalam manik mata pria itu dan menjatuhkan kalimatnya.
"Karena kamu adalah tergugatnya. Aku ingin bercerai darimu."
"Olivia," Daniel merespons, sedikit terkejut dengan kontak fisik yang tiba-tiba itu. Ia berusaha menjaga nada bicaranya tetap ramah. "Maaf, aku sedang menyambut Nicholas dan Emily."Olivia menoleh, memasang senyum yang paling manis di wajahnya, namun matanya sengaja mencari tatapan Nicholas."Oh, Tuan Spencer! Dan… Emily," sapa Olivia riang. "Betapa kebetulan yang sangat menyenangkan kita bisa bertemu di acara ini.""Yah, benar-benar… kebetulan." balas Emily tenang, namun matanya bergerak memperhatikan ekspresi Olivia."Tentu saja," Olivia melebarkan senyumnya. Ia sengaja mengeratkan pelukannya di lengan Daniel, sedikit menempelkan tubuhnya pada pria itu. "Daniel mengundangku secara khusus malam ini. Dia bilang dia sangat tidak ingin aku merasa sendirian dan bersedih lagi. Bukankah begitu, Daniel?""Aku memang mengundangmu sebagai temanku, Liv," jawab Daniel, mencoba memberi jarak, begitu takut Emily salah paham."Dia benar-benar pria yang sangat manis, hangat, dan luar biasa perhati
Lampu blitz kamera dari para jurnalis menyala berkedip-kedip saat Nicholas dan Emily melangkah keluar dari mobil hitam mewah yang berhenti tepat di depan hotel yang menjadi tempat diadakannya pesta malam itu.Begitu mereka berdiri berdampingan, tangan Nicholas yang bebas langsung melingkar dengan protektif di pinggang ramping Emily, menarik tubuh istrinya itu agar menempel erat di sisinya."Tumben sekali kau begitu patuh malam ini," bisik Nicholas persis di telinga Emily, nada suaranya terdengar sedikit heran namun terselip kepuasan yang kental. "Kau tidak menepis tanganku seperti biasa.""Aku hanya sedang tidak ingin bertengkar denganmu di tempat umum, Nicholas," jawab Emily pelan."Alasan yang bagus," puji Nicholas, mempererat cengkramannya di pinggang wanita itu. "Pertahankan sikap manismu ini sampai acara selesai."Emily hanya diam, membiarkan tangan besar dan hangat itu menguasai pinggangnya tanpa perlawanan berarti. Ia membuang muka, menatap lurus ke arah pintu masuk ballroom.B
"Apakah tidak ada cara untuk mempercepatnya, Tuan Andrew?" tuntut Emily. Suaranya sedikit meninggi, memecah keheningan di dalam ruang kerja Nicholas yang luas itu. "Aku tidak bisa terus-terusan berada dalam ketidakpastian hukum seperti ini.""Proses pengadilan perdata dan pidana memiliki prosedurnya sendiri," ucap Andrew.Pria yang dulu sering kali berbicara pada Emily dengan nada membentak itu berbicara dengan begitu hati-hati. "Bahkan dengan intervensi langsung dari Firma Spencer, membersihkan nama Anda dari skema penipuan dan bisnis yang ditinggalkan ayah Anda adalah hal yang sangat rumit.""Kau bilang kau akan membereskannya, Nicholas," ucap Emily, menoleh tajam ke arah suaminya yang duduk dengan angkuh di kursi kebesarannya."Aku sedang membereskannya, Emily. Hukum butuh waktu," jawab Nicholas tanpa berkedip"Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Duduk diam menunggu bertahun-tahun?!""Yang harus Anda lakukan hanyalah tetap berada di bawah pengawasan kami," sela Andrew dengan
"Lepaskan tanganmu, Nicholas!" desis Emily tertahan, mencoba memutar tubuhnya untuk melepaskan diri dari kungkungan pria itu.Namun, pergerakan itu justru menjadi bumerang. Nicholas dengan cepat membalikkan tubuh Emily sepenuhnya hingga menghadapnya. Kedua lengan pria itu yang terbalut kemeja putih seketika mengunci pinggang Emily, menariknya dengan satu sentakan keras hingga tubuh mereka menempel tanpa celah."Nicholas!" pekik Emily, kedua tangannya refleks menahan dada bidang pria itu."Berhenti menghindariku, Emily," suara Nicholas terdengar parau, sarat akan keputusasaan yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun di luar ruangan ini. "Tatap aku.""Mundur! Kau melanggar batasanmu!""Persetan dengan batasan," geram Nicholas rendah, napasnya yang memburu menerpa wajah Emily. "Kau istriku. Kau milikku. Berhenti bersikap seolah sentuhanku beracun untukmu.""Sentuhanmu memang beracun!" balas Emily sengit, mendorong dada Nicholas sekuat tenaga, namun tubuh besar itu sama sekali tidak b
Suasana di dalam kabin mobil mewah yang membelah jalanan malam itu terasa sangat hening dan canggung.Emily duduk bersandar sambil membuang pandangannya ke luar jendela kaca. Pikirannya terus berputar, mengulang kembali setiap detik percakapannya dengan Daniel di kafe tadi. Ada sesuatu yang menggan
Denting halus dari garpu dan pisau yang beradu dengan piring menjadi satu-satunya suara yang terdengar dari meja mereka.Malam itu, mereka makan malam di sebuah restoran mewah yang terletak di lantai atas gedung pencakar langit. Namun, kemewahan itu sama sekali tidak bisa menyentuh hati Emily yang
"Ini, makanlah."Sebuah kantong tas berlogo restoran mewah disodorkan ke hadapan Emily. Ia mendongak dengan tatapan kosong dan mendapati Nicholas sudah berdiri di depannya. Jas pria itu sudah ditanggalkan, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung asal hingga siku, memperlihatkan gurat kelel
Emily menunduk, memainkan jemarinya yang terasa dingin di ruang tunggu rumah sakit yang sepi.Perasaan khawatir dan rasa sedih yang mendalam di hatinya, yang ia kira absen dari emosi Emily yang asli, kini perlahan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan