LOGINMenjelang sore, Salma dan Rivan langsung meninggalkan hotel menuju apartemen Rivan yang akan mereka tempati selagi menjalani pernikahan sementara. Tiba di sana, Rivan mempersilakan Salma untuk masuk ke kamar barunya.“Aku paling nggak suka orang asing masuk ke ruang pribadi, jadi kemungkinan ART hanya akan datang seminggu satu atau dua kali aja,” jelas Rivan. “Itu pun bukan untuk membereskan kamar, melainkan hanya untuk mencuci piring dan bersih-bersih area selain kamar. Waktunya sekitar satu sampai dua jam aja, setelah itu keluar lagi.”Rivan melanjutkan, “ART itu satu-satunya orang selain kita yang diizinkan masuk. Bahkan, asisten pribadiku dan manajer kamu pun nggak aku izinkan untuk masuk.”“Aku rasa kita nggak terlalu butuh ART deh.”“Kamu yakin? Sepertinya kita akan sama-sama sibuk sehingga nggak akan sempat beres-beres.”“Selama ini Mas Rivan jam kerja ART-nya seperti itu?”Rivan menggeleng. “Sejujurnya selama ini aku nggak pakai ART, apalagi aku tinggal sendiri dan terbiasa me
Siapa yang tidak terkejut?Rivan kira Salma itu orangnya polos dan murni. Tidak pernah sama sekali terpikirkan bahwa wanita itu akan langsung menunjukkan sisi liarnya. Jika saja Rivan tidak melirik ke arah bufet kaca, dijamin pria itu tidak akan mengetahui apa yang istri sementaranya itu lakukan.Bahkan, Rivan yakin sebenarnya Salma ingin mendesah, tapi situasi tak memungkinkan sehingga mau tak mau wanita itu harus menahannya. Itu sebabnya Rivan memberanikan diri menerobos batas di antara mereka. Persetan dengan logika, saat hasrat sudah di ujung tanduk, semua alasan jadi tak berarti.Sementara itu, Salma memang langsung sadar begitu ada pergerakan dari sofa tempat Rivan berbaring. Rivan tampak beranjak dari duduknya dan saat itu Salma sedang tanggung-tanggungnya hampir mencapai puncak yang diinginkan.Hampir gila saat Rivan berjalan ke arah ranjang. Salma sampai bertanya-tanya ... kenapa Rivan mendekat? Apa yang pria itu inginkan? Jangan-jangan Rivan tahu apa yang sedang Salma lakukan
Secepatnya Rivan meletakkan kembali ponsel Salma di tempat semula. Ia duduk di sofa sambil menunggu aplikasi Langit Fiksi terpasang di ponsel miliknya. Selesai memasang, mau tidak mau Rivan harus mendaftar akun lantaran penasaran dengan cerita yang Salma tulis.Terlebih judulnya Love in Contract, bukankah kebetulan sekali? Konyolnya lagi, malam ini seharusnya malam pertama mereka dan Salma mengunggah chapter berjudul malam pertama.“Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu, Salma?” batin Rivan.Setelah berhasil membuat akun, Rivan melakukan pencarian pada judul novel yang Salma tulis. Tidak sulit menemukannya karena langsung muncul di paling atas karena termasuk novel populer di aplikasi tersebut.Satu hal yang pasti, Salma tidak menggunakan nama aslinya. Bahkan, nama pena-nya Sava Elara, sangat jauh dengan nama asli wanita itu. Soal ini, Rivan sama sekali tidak merasa aneh dengan penggunaan nama pena karena sangat lumrah.Konyolnya, Rivan yang sebenarnya tidak suka membaca novel fiksi se
Meskipun Salma sudah mengatakan pada Rivan kalau dirinya tak ingin berdansa, pada akhirnya ia tetap melakukannya bersama pria itu. Salma tak kuasa menolak saat Rivan langsung membawanya ke lantai dansa untuk bergabung dengan pasangan-pasangan lain.Jujur saja, tatapan Rivan itu seolah penuh cinta, padahal hanya akting. Salma curiga seandainya pria itu tidak meneruskan bisnis keluarganya, ada kemungkinan Rivan debut menjadi aktor.“Ada apa antara kamu dengan Anjar Adrian?” tanya Rivan.Awalnya, gerakan mereka memang cenderung kaku, tapi lama-lama Salma mulai terbiasa. Terlebih gerakannya sederhana dan mudah dipahami.“Hah? Maksudnya gimana?” Salma bertanya balik. “Aku sama dia nggak ada apa-apa, kok,” sambungnya.“Jangan bohong. Saya bisa melihat itu dari raut wajah kamu.”Beberapa saat yang lalu, Rivan memang sempat memperhatikan interaksi Salma dengan Anjar. Meskipun Salma berpura-pura menjadi Nova, tetap saja ada sesuatu yang menurut Rivan janggal.“Apa kamu sudah pernah mengenalnya
Di ball room sebuah hotel mewah, musik pengiring pernikahan masih bergema setelah Nova ‘palsu’ alias Salma dan Rivan dinyatakan resmi sebagai suami-istri. Tepuk tangan tamu undangan memenuhi ruangan, sedangkan pengantin baru itu berdiri berhadapan.Pernikahan palsu ini membuat Salma sangat gugup. Bagaimana kalau ketahuan dirinya bukanlah Nova?“Jangan tegang banget,” bisik Rivan pelan, bisa dipastikan hanya Salma yang mendengarnya.“A-aku takut ketahuan.”“Itu sebabnya kita harus meyakinkan mereka,” jawab Rivan. “Wedding kiss.”Tunggu, apa?Salma menelan ludah, jantungnya berdegup tak karuan. Pernikahan ini hanyalah sandiwara, Rivan pun sempat beberapa kali meyakinkannya dengan mengatakan tak akan ada kontak fisik apa pun. Tapi kenapa tiba-tiba ada wedding kiss?Dengan gerakan tenang, Rivan meraih wajah Salma, mendekatkan diri. Bibir mereka akhirnya bersentuhan dalam sebuah ciuman singkat. Ciuman yang merupakan sebuah formalitas, tapi cukup untuk membuat Salma merasakan sesuatu yang t
Sepuluh tahun yang lalu, orangtua Salma dan Nova memutuskan bercerai. Saat itu si kembar masih berusia 17 tahun dan sama-sama duduk di bangku kelas 2 SMA. Meskipun keduanya sempat menolak, pada akhirnya Salma setuju untuk ikut dengan sang ibu meninggalkan Jakarta dan pindah ke Senjaratu. Sedangkan Nova tetap tinggal dengan ayahnya di Jakarta.Meskipun berat, si kembar terpaksa harus hidup terpisah. Salma dan Nova sadar perpisahan orangtua mereka adalah jalan terbaik setelah hari-hari ayah dan ibu mereka hanya berisi pertengkaran dan pertengkaran saja. Benar-benar tidak menemukan titik terang sehingga perpisahan hanyalah satu-satunya opsi.Setelah Salma tinggal di tempat baru, ia masih aktif bertukar kabar dengan Nova. Entah itu video call atau sekadar saling berbalas pesan. Namun, itu pada tahun-tahun pertama saja karena setelah itu mereka sama-sama disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Terlebih saat keduanya mulai kuliah, intensitas komunikasi mereka semakin jarang sehingga perl







