FAZER LOGINDengan santainya Mario menjawab, "Tidak ada. Kita berangkat sekarang!" Jasmine dan Emma saling menatap. Tidak mungkin Mario tidak mengatakan apa-apa karena jelas terlihat dari ekspresi Nyonya Ratih tadi. Mereka yakin jika Mario pasti bicara sesuatu. Apa mungkin Mario mengatakan tentang siapa penodonr jantung itu sebenarnya. Kedua gadis itu masih bertanya-tanya. Jasmine sendiri juga curiga sang suami mengatakan yang sebenarnya begitu juga dengan Emma. Hanya saja Emma sendiri belum tahu kisah yang sebenarnya seperti apa. Ia cuma menduga-duga saja. Saat dalam perjalanan. Emma langsung bertanya pada Mario soal tadi. Sepertinya gadis itu sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Jika benar pendonor jantung itu adalah ibu kandung Jasmine. Ini benar-benar hal yang sangat mengejutkan terutama untuk sang Oma. "Kak! Memangnya Kakak tahu siapa wanita pendonor jantung itu? Apa benar dia itu ibunya Kak Jasmine yang sudah meninggal saat melahirkan Kak Jasmine? Benar, begitu?" Pertanyaan
Kata-kata Emma sejenak membuat Nyonya Ratih terdiam dan berpikir. Kedua bola matanya sempat bergerak-gerak. Bagaimana jika itu benar, bagaimana jika Jasmine memang anak dari wanita yang mendonorkan jantungnya. Ah, tapi Nyonya Ratih tidak percaya begitu saja. Rasa ketidak percayaannya itu sudah mendarah daging. "Nggak mungkin! Oma nggak percaya sama sekali. Lagian kamu ngpaian juga berpikiran seperti kakakmu. Nggak ada bukti yag menunjukkan jika jantung Oma ini adalah jantung ibunya Jasmine. Kalau pun iya mungkin dari dulu Oma sudah tahu!" jawab Nyonya Ratih terus menyangkal. "Ada! Mama dan Papa sengaja menyembunyikan ini semua dari Oma karena permintaan ibunya Jasmine. Dan satu lagi, Oma masih ingat dengan Pak Kadir? Mantan tukang kebun kita yang dulu mengundurkan diri karena sakit dan digantikan saudaranya?" sahut Mario yang pantang menyerah untuk memberikan penjelasan kepada sang Oma. Jasmine sendiri sebenarnya tidak ingin terlalu mempermasalahkannya, yang penting dirinya masih d
Jasmine buru-buru mengusap air matanya. Mario tahu jika istrinya itu pasti bersedih dengan kata-kata dari Nyonya Ratih. Seharusnya Nyonya Ratih menyayanginya dan tidak memperlakukannya kasar seperti sekarang."Apa yang akan Oma katakan jika Oma bertemu dengan anak dari wanita pendonor itu?" sahut Mario. Dengan jelas Nyonya Ratih menjawabnya. " Tentu saja Oma akan memeluknya dan pastinya Oma akan bilang jika ibunya adalah wanita yang hebat, ibunya adalah penghuni surga dan wanita yang mulia!" Jasmine semakin bersedih. Seandainya saja Nyonya Ratih tahu siapa dirinya. Mungkin wanita itu tidak akan berkata kasar lagi. Lantas Mario kembali mengatakan dengan tegas jika Jasmine adalah anak dari wanita yang telah mendonorkan jantungnya untuk wanita itu. Hal ini ia lakukan karena tak tega melihat istrinya selalu dibeda-bedakan dan tidak disayangi sebagai cucu Nyonya Ratih."Jika anak itu adalah Jasmine, apa yang Oma katakan!" sahut Mari tanpa basa-basi. Tentu saja pertanyaan pemuda itu membu
Jasmine terkesiap dan ia harus memberikan jawaban yang tidak membuat Emma curiga. "Oh kemarin, iya kita berdua pergi ke toko buku. Kakak butuh bantuan Kak Mario buat ngerjain makalah, makanya kita pergi berdua. Mumpung kemarin Kak Mario ada waktu luang jadi sekalian kita pergi ke toko buku, getoh!" jawab Jasmine berbohong. Lalu gadis itu segera mengambil bajunya dari dalam lemari. "Oh, begitu. Lain kali ngomong dong kalau mau pergi ke toko buku. Aku juga mau beli novel baru, gabut di rumah!" kata Emma. Jasmine menoleh ke arah adiknya. "Iya nanti aku ajak ke toko buku, atau pulang sekolah kita mampir, gimana?" tawar Jasmine. Wajah Emma tiba-tiba berubah menjadi sumringah. "Beneran, Kak?" "Iya, dong!" "Oke deh kalau begitu. Nanti aku mau bilang ke Kak Mario dulu!" sahut Emma. ***** Saat sarapan pagi bersama. Nyonya Ratih mengatakan kepada ketiga cucunya untuk ikut makan siang bersamanya dalam rangka merayakan ulang tahun ayahnya Cerry, Pak Purba. "Nanti sepulang seko
"Mario! Nggak bisa gitu dong. Kamu tetap harus ikut!" sahut Nyonya Ratih. Mario pun kembali menegaskan jika ia tidak bisa pergi tanpa Jasmine di sisinya. "Aku akan pergi kalau Jasmine juga ikut pergi1" "Tapi Mario, Jasmine...!" Belum sampai Nyonya Marta menyelesaikan kata-katanya, Mario langsung memotong perkataan sang nenek. "Jasmine ikut, aku pasti ikut. Tapi jika Jasmine tidak ikut, jangan harap aku ikut. Jasmine adalah adikku dan dia adalah tanggung jawabku. Mama dan Papa sudah mewanti-wanti untuk menjaga adik-adikku jadi mana bisa aku meninggalkannya sendiri di rumah!" katanya. Nyonya Ratih pun kembali mengingatkan jika Jasmine itu bukanlah bagian dari keluarga mereka. "Mario, Kamu sudah tahu kalau Jasmine itu bukan adek kamu. Jadi untuk apa kita mengajaknya!" sahut Nyonya Ratih. "Dia memang bukan adikku, tapi dia tetap menjadi tanggung jawabku karena Mama dan Papa mempercayakan dia padaku. Sama halnya seperti Emma, Jasmine juga adikku dan tanggung jawabku. Aku ha
Mario langsung berdiri di samping istrinya dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. "Ada apa ini? Kenapa Jasmine menangis?" Nyonya Ratih langsung menunjukkan sesuatu pada Mario. "Tuh! Kamu lihat di leher Jasmine! Ada tanda menjijikkan di sana. Dia pasti sudah berbuat mesum dengan pacarnya. Oma yakin sekali. Emang kurang ajar sekali nih anak. Lama-lama Oma nggak sudi lihat mukanya!" jawab Nyonya Ratih dengan sinis.Mario langsung memeriksa leher istrinya. Pemuda itu menemukan tanda merah di leher dan dada gadis itu. Ia langsung menaikkan alisnya karena dirinya sendiri yang membuat tanda itu."Oh ini, aku pikir apaan!" jawab Mario yang tampak tak kaget sama sekali. Kali ini Ekspetasi Nyonya Ratih tak sesuai keinginannya. Ia pikir Mario bakalan ikut marah dan membenci Jasmine. Tapi nyatanya pemuda itu justru tak bereaksi berlebihan."Apa? Kamu nggak marah melihat keadaan Jasmine seperti itu, Mario? Itu tanda cupang loh. Oma nggak mungkin salah!" sahut Nyonya Ratih. Jasmine sendiri m
Juki hampir saja keceplosan. Pemuda itu segera meralat jawabannya pada pelanggan setianya."Eh maaf, maksudnya saya sedang sibuk bikin sate di rumah Tante Nadine. Jadi, mohon dimaklumi. Besok saya udah jualan lagi kok!"Akhirnya pelanggan Juki mengerti. Pemuda itu hampir saja mengatakan sesuatu yan
"Ba-baik, Tante!" jawab Juki. Nadine sendiri juga bingung. Sungguh, wanita itu nampak gusar seolah ia juga sangat gugup."Ya ampun, bisa kah aku melakukannya? Aku takut sekali. Hah, kalau saja Oma nggak maksain aku buat punya anak. Aku nggak bakalan ngelakuin hal gila kayak ini. Apalagi sama cowok
“Diafff kamfu!” teriak Nadine lagi. Kali ini Juki berusaha untuk tidak tertawa meskipun ia ingin sekali tertawa mendengar jawaban wanita itu. Konyol, ini sangat konyol. Bagaimana nanti jika dirinya jadi hidup serumah dengan wanita itu, pasti hari-harinya dipenuhi dengan kegilaan. “Iya, iya, maafk
"Aduhhh, susah amat nusuknya, alot bener nih daging sampai pegel tangan!" Juki menggerutu saat ia sedang menusuk daging kambing yang teksturnya cukup keras. Seperti biasa Juki selalu membuat puluhan tusuk daging sapi dan kambing untuk dagangannya sebagai tukang sate. Namun tiba-tiba... "Daripada







