LOGINRejecting the Alpha is not heard of, nor is it known. When Storm is the only white wolf in the whole wolf pack and stands out for her white hair and gray eyes. When Chase sets his eyes on her and makes an advance at her, Storm turns him down and leaves Chase shocked, which leads him to want her even more. Storm is dead set, and so is Chase. Will he be able to have her or will she remain a mystery? [READ AT YOUR OWN RISK!!
View MoreMalam itu Lucas jatuh berlutut di samping ranjang sembari menggenggam tangan dingin seseorang. Ia menangis meraung memanggil pemilik tangan tersebut. Mencoba memintanya untuk bangun. Namun, seberapa keras Lucas memanggilnya dia tidak akan terbangun. Lucas menyadari itu tapi dia menolak untuk menerimanya.
"Maafkan aku yang datang terlambat, Ibu. Seharusnya aku datang lebih cepat dan membawamu pergi dari sini. Maafkan aku yang terlalu lama meninggalkanmu sendiri disini." Lucas meletakkan tangan tersebut di pipinya, merasakan dinginnya tangan itu. Air matanya tak berhenti mengalir, bahkan wajahnya yang terlihat lelah semakin memelas membuat orang yang melihat jadi kasihan. Isak Lucas pun membuat orang sekitarnya semakin sulit untuk menahan tangis.Di tengah suasana yang pilu tersebut terdengar langkah kaki seseorang yang datang mendekat secara tergesa. Para pelayan yang berada di sana segera menyingkir memberikan jalan.Lucas pun berbalik menatap pemilik langkah kaki tersebut. Sejujurnya tanpa menoleh pun ia tahu siapa yang datang. Ia enggan untuk membiarkan matanya menatap orang tersebut tapi emosi membakar hatinya. Paru-parunya kian terasa sesak menekan, memaksa untuk mengeluarkan sesuatu guna meredakannya.Matanya menajam menatap lelaki paruh baya yang wajahnya mirip dengannya itu dan emosinya pun semakin meluap tak tertahankan. Lucas bangun seraya melangkah cepat. Lalu, kedua tangannya meraih kerah lelaki tersebut. Teriakannya membuat dua orang laki-laki berseragam ksatria serta pelayan maju untuk menghalangi. Akan tetapi, pria dalam genggamannya itu lantas mengangkat tangannya menghalau menghalau orang-orang. Membiarkan Lucas berbuat sesuka hati padanya."Mau apa kau disini? Kau ingin memastikan ibuku telah benar-benat mati! Kau puas sekarang melihat mayatnya? Pergi kau! Kehadiranmu tidak dibutuhkan Yang Mulia! Lebih baik kau pergi dan uruslah gundik dan anak sialanmu itu!" murka Lucas pada orang di depannya.Lelaki tersebut hanya diam tak menunjukkan emosi apa pun terhadap amukan Lucas. Bahkan ia tak mengeluh sakit ketika tak secara sengaja kuku Lucas mencakar lehernya saat meraih kerah tadi.Dua orang laki-laki yang berada di dekat mereka menatap dengan sedih. Dulu tuan mereka ini begitu akur dan hangat. Setiap saat selalu terdapat potret mereka yang bercanda tawa hingga membuat para pelayan dan ksatria ikut bahagia. Namun kejadian beberapa tahun lalu benar-benar menghancurkan semua. Potret keluarga yang harmonis tersebut hancur seketika. Dimulai dengan pengkhianatan sang tuan besar hingga keguguran yang dialami oleh nyonyanya membuat mereka semakin jauh dari kata untuk kembali.Marie sang pelayan utama Nyonya atau ibu Lucas menangis terisak mengingat memori kelam tersebut. Ia menoleh sejenak pada tubuh dingin nyonyanya lalu menatap Lucas. Lalu, mengajak sang tuan muda segera memakamkan majikannya secepatnya."Tuan muda sebaiknya kita lekas menyiapkan peristirahatan untuk nyonya. Lebih baik kita gunakan waktu ini untuk menghabiskan waktu bersama nyonya. Jangan biarkan tenaga anda terkuras untuk mengurusi hal-hal yang tidak pantas," desis Marie pada sang tuan besar.Dulu Marie selalu diam menahan diri karena ia takut membuat kesalahan yang akan membuat nyonyanya diposisi yang semakin sulit. Namun kini ia sudah tidak perlu melakukan itu.Perkataan Marie tadi membuat suasana semakin mencekam. Namun, Marie tak perduli. Entah hukuman apa yang menantinya karena berani menyindir sang tuan besar Duke Peter Wynne Chester. Saat ini yang ia pedulikan hanyalah majikannya, sang nyonya Duchess Annastasia Leonardo yang kini telah tiada. Hatinya remuk menatap wajah dingin majikannya tersebut.Bagaimana bisa nyonyanya yang telah ia rawat sedari kecil, tetapi berakhir seperti ini? Meninggal dalam keadaan sakit dan kesepian.Lucas pun mendorong Peter yang sedari tadi hanya diam dengan tatapan kosong pada ranjang istrinya. Lucas tidak perduli apabila ayahnya itu merasakan penyesalan terhadap sang ibu. Baguslah jika ia menyesal, biarkan dia hidup dengan penyesalan yang dibawanya hingga akhir hayat. Saat ini ia hanya ingin secepatnya memberikan peristirahatan yang terbaik untuk ibunya lalu meninggalkan semua yang berhubungan dengan Peter Wynne Chester.*****Lucas berdiri menatap gundukan tanah di depannya. Dalam gundukan tersebut tersimpan peti ibunya di sana. Ia berdiri sendiri ditemani Marie yang tak berhenti terisak, sedangkan Lucas merasa tak sanggup untuk menangis lagi. Ia merasa air matanya telah mengering."Tuan muda apa yang akan anda lakukan selanjutnya? Apakah anda akan tetap pergi dari sini? Bolehkah saya mengikuti anda pergi?" Marie menatap punggung anak nyonyanya tersebut. Punggung tegap itu kini terlihat rapuh membuat Marie meringis sedih."Bibi Marie aku akan tetap pergi. Jika bibi ingin ikut aku tak mempermasalahkannya. Aku sudah menyiapkan tempat tinggal di wilayah selatan. Kita akan berangkat besok pagi.""Baiklah saya akan segera bergegas menyiapkan keperluan perjalanan kita."Marie melangkah cepat seolah-olah dikejar walaupun tidak ada yang mengejar. Marie hanya merasa ingin segera lari meninggalkan tempat ini lalu menunaikan tugasnya untuk menjaga dan merawat tuan mudanya.Sementara itu sepuluh menit setelah kepergian Marie, Lucas berbalik melangkah untuk beristirahat. Ia lelah. Dirinya bergegas pulang usai pengumuman perang telah berakhir dengan kemenangan. Ia memacu kudanya selama hampir sepuluh hari untuk segera kembali menemui ibunya dan membawanya pergi ke tempat yang telah ia persiapkan. Namun, sayang sekali ia kembali menemui tubuh ibunya di ranjang kamar tanpa nyawa.Lucas berbaring meringkuk dengan tangan menggenggam sapu tangan. Terdapat sulaman namanya yang dibuat oleh sang ibu. Ia merasakan kedamaian ketika merasakan sapu tangan tersebut. Kemudian, teringat ketika ibunya mengikatkan itu pada lengannya. Sapu tangan ini adalah hadiah terakhir dari ibunya sebelum ia pergi menuju medan perang. Kini lelah yang menderanya semakin terasa. Lucas pun terlelap.*****Suara petir menyambar membuat Lucas kaget dan terbangun. Ia menoleh menatap jendela kamarnya, terlihat di luar cahaya petir menyambar disertai hujan deras. Lucas turun dari ranjang meraih teko air. Ia butuh minum karena tenggorokannya terasa kering dan sakit.Terdengar bunyi sesuatu yang terjatuh. Tiba-tiba Lucas jatuh terguling dari ranjang. Ia terbengong ketika mendapati ranjang kamar yang terasa lebih tinggi dari biasanya. Dan semakin terkejut kala melihat tangannya menjadi kecil. Kemudian, ia meraba tubuhnya yang terasa berbeda.Ia pun sontak berlari menuju cermin besar di pojok kamarnya. Dengan bantuan cahaya dari petir yang menyambar Lucas mendapati bayangan dirinya pada cermin. Sosok mungil dengan balutan gaun tidur. Nampak juga raut wajah Lucas yang kebingungan. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka."Lucas!" teriakan seseorang memanggil memenuhi ruang kamar Lucas.Lucas pun menoleh mendengar teriakan seseorang yang sangat ia kenali itu. Tubuhnya mematung memandangi wanita yang kini berlari menghampirinya. Tanpa sadar air mata meluruh membasahi pipi mungilnya mendapati sosok wanita itu memeluknya."Ibu ....""Iya, sayang ..., kamu takut ya ada suara petir? Tenang ada ibu disini," bujuk lembut wanita tersebut.Merasakan pelukan hangat ibunya seketika itu juga Lucas menangis meraung keras. Tangan mungilnya menggapai memeluk sang ibu semakin erat."Ibu, jangan pergi ...." Raungnya sesenggukan membuat Anna ---ibunya--- mengangkat untuk menggendong dan menepuk punggungnya lembut."Ssshhh ..., iya sayang, ibu disini jangan takut. Ibu tidak kemana-mana," ucap Anna yang mencoba untuk menenangkan putranya itu.Sementara Lucas tetap menangis dan memeluk semakin erat. Hingga tidak sadar tertidur dalam pelukan ibunya.Tonight Chase been wanting to take her to the cave, and when they went there, it was so beautiful, there were red roses everywhere.She turned to Chase and jumped into his arms, “What do I owe all of this?”He kissed her and pulled back. He took out a ring, “This is a promise ring, I love you and only you.”Storm could not believe her ears, “You love me?”“I love you more than you will ever know.”She watched him put on the ring and could not believe that the one thing she had always waited for would happen.“I love you too, Chase, I know that you know that already.”“How can I not?”That night at the cave, the lovemaking was very different, the need, the desperation, the fact that they knew how they felt about each other.This was all magical, and I loved the feel of him in every way. Storm and Chase lay in his bed the following night.She could not help but look at the ring that he had given her. Now that she knew that he loved her, nothing could break them apart.Today, Chase had d
The following week, Chase had not left her sight, even for a minute; he was attentive and left no room to argue.“I don’t want to go to your meeting.”“You’re coming with me, Storm.”“Fine, but I’m not getting in, I will be waiting for you outside the boardroom.”“No, I need you to be next to me.”“You can see me from the boardroom, so why must I be inside?”“We have gone through this already.”“This is ridiculous, Chase. How long do you think I can leave like this?”“When we catch them, and you’re not in danger.”“What if that does not happen anytime soon?”“Then there is no choice left but for you to be next to me.”“You’re ridiculous now.”“I’m ridiculous for being paranoid that the one person I care about the most might be snatched away from me.”Storm sighed; he seemed to be really worried for her. “I get it, Chase, I truly do, but I miss my friends too; this is not how I want to live.”“I know, but please, give me some time.”“Fine, I will.”“Really?”“Well, if you ask me like t
“You’re bleeding. What happened to you?”“Are Paige and Meghan fine?”“They’re okay, someone is tending to them.”She felt her energy seep out; what had kept her standing was her adrenaline. Storm felt Chase pick her up gently.She curled into his arms; he was so warm and felt very safe. Her body trembled,“You’re okay, I have you.”When they got to his place, he sat her down and seemed to be fuming. He took the first aid kit, and started to clean her wounds; he did not say a word.“Are you mad at me Chase?”“I’m not, I’m mad at myself.”“Don’t be, it’s not like we saw any of this coming.”“Still, what if they had done more to you?”“I don’t think they will kill me.”“What do you mean by that?”“I spoke to them.”“Spoke?”“Yes……………….”“What did those fuckers say?”“That they need me to breed.”“Breed?”“They want me to have sex so that they can have a lineage of white wolves.”She could see the rage in his eyes, “Do they want to rape you?”“No, they said they would give me time to fal
Storm, Meghan, and Paige started to head back to Chase’s place. There was a weird wind, and Storm wondered if she was the only one who felt it.She couldn’t hold it in any longer and turned to her friends.“Do you guys feel that?”“I thought I was the only one,” Paige replied.“I did not want to freak us out, but yes,” Meghan replied, looking around.“Let’s get to Chase, and we will walk you back.”“That would be great. Let’s speed up.” Meghan replied.They began to pick up their pace.Storm let out a scream when she got hit but did not know from where. Meghan and Paige tried to run up to her, but they were struck, too, and she was afraid that they would kill them.“If you come with us with no trouble, your friends won’t get hurt.”Storm nodded frantically, tears spilled; she would do anything to save her friends. She wouldn’t be able to forgive herself if something happened to them because of her.“Will they wake up?”“Of course, we don’t want them but you.”“You promise?”“We never
Storm woke up and she was wrapped in his arms, she remembered that they had come here, the sun was out and she shook Chase.“Chase, Chase…………….”He groaned as he opened his eyes. “What time is it??”“11:05”“Shit.”He got up,“Is everything okay?”“No, I’m running late.” He replied hastily.“Go, we
Storm lay awake. Chase’s head was on her stomach and held her so tightly, and she played with his hair as he slept.Everything had been wild, the way Chase’s father lost his temper; she felt sad that Chase found it normal to be treated like that.Her throat closed at the thought of him getting beat
“GET UP!”Storm was panicked, it was Chase’s father and they stood up, ‘“YOU DON’T WALK AWAY FROM ME!”His father lunged at him, Chase was knocked to the ground and she could see that he was winded, his father came at him again and hit him.Chase was not trying to fight back but instead, he was ta
Storm was nervous, Chase’s father could be here on any given day, and that made her all the more sick.She was nervous to the point that she felt like vomiting, apparently, Kelsey would also be talking to him and at times she would come to rub it in her face with a facade in front of Chase.Today w






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.