LOGINI'm a special kind of courier. Instead of packages, I transport beautiful women. I drop them off at designated locations and pick them up afterward. Each round trip earns me a thousand dollars. Never in my wildest dreams did I imagine that my crush would climb into my car one day. What's more, she'd brought my sister along, saying they wanted to make some quick money together.
View MoreSari duduk termenung di ruang tunggu rumah sakit. Matanya menatap pintu masuk ruang Instalasi Gawat Darurat. Dua jam yang lalu ia mendapat telepon dari polisi. “Suami Ibu mengalami kecelakaan tunggal di tol Cipali. Kondisinya dalam keadaan kritis. Kami akan membawa suami Ibu ke rumah sakit umum di kota Bandung.”
Dua puluh menit yang lalu mobil ambulans yang membawa Taufik sudah sampai di rumah sakit yang dituju. Namun, Sari belum diperbolehkan melihat keadaan Taufik. Perawat rumah sakit menyuruhnya menunggu di ruang tunggu. Hingga sekarang belum ada perawat yang keluar memanggilnya.
Sari menghela napas panjang lalu menoleh ke samping. Tak jauh dari tempat ia duduk ada seorang laki-laki berpakaian rapih. Wajahnya terlihat gelisah sambil sesekali menghela napas panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar.
“Keluarga Nena Kurniasih.” Terdengar suara seorang suster memanggil keluarga pasien.
“Ya.” Laki-laki itu langsung berdiri dari tempat duduk lalu menghampiri suster yang sedang berdiri di depan IGD. Suster itu menyuruh laki-laki itu mengikutinya masuk ke IGD.
Sari kembali menghela napas panjang, kapan ia akan dipanggil perawat? Padahal mobil ambulas yang membawa Taufik datangnya bersamaan dengan ambulans yang membawa keluarga laki-laki itu. Ia dan laki-laki itu sama-sama disuruh menunggu di ruang tunggu IGD. Namun, laki-laki itu lebih dahulu dipanggil oleh perawat.
Sari menundukan kepala lalu memainkan cincin nikah yang melingkar di jari manis. “Keluarga Taufik Solihin.” Terdengar suara perawat memanggil nama suami Sari.
Sari langsung mengangkat wajahnya, “Ya.” Ia bangun dari tempat duduk lalu menghampiri perawat itu. “Ibu ikuti saya.” Perawat itu masuk ke dalam ruang IGD, Sari ikut masuk ke ruang IGD.
Perawat itu membawanya masuk ke sebuah ruangan. Di dalam ruangan itu banyak pasien laki-laki yang terbaring di atas tempat tidur. Perawat itu berhenti di tempat tidur yang paling ujung. Di dekat tempat tidur pasien ada dokter dan polisi yang sedang berbicara.
Perawat mengatakan sesuatu kepada dokter, dokter dan polisi menoleh ke Sari. “Keluarga Pak Taufik?” tanya dokter Idam.
“Iya, Dok. Saya istrinya,” jawab Sari.
“Silahkan, Bu.” Dokter Idam dan polisi yang bernama David memberi Sari ruang agar Sari bisa melihat keadaan Taufik. Sari mendekati tempat tidur. Ia melihat suaminya berbaring di atas tempat tidur dengan tidak sadarkan diri. Ada beberapa luka di wajah dan tubuh suaminya. Di sebelah kanan tempat tidur ada monitor ICU yang memantau kondisi vital suaminya. Sedangkan di tangan kiri ada selang infus yang menempel.
Sari mengusap kepala suaminya dengan lembut. Air matanya menggenang di pelupuk matanya, ia sedih melihat keadaan suaminya. Seminggu yang lalu suaminya pamit hendak pergi dinas luar ke Kuningan. Sebenarnya Sari ingin ikut suaminya, tetapi suaminya melarang. Ia menyuruh Sari menunggu di rumah. Sekarang suaminya pulang dalam keadaan kritis.
Sari mengangkat wajahnya, ia menoleh ke dokter Idam yang sedang berbincang dengan David. “Bagaimana dengan keadaan suami saya, Dok?” tanya Sari dengan suara parau. Ia menahan diri agar tidak menangis meraung-raung di ruangan ini.
“Suami Ibu sedang kedaaan kritis, kami akan melakukan observasi. Suami Ibu akan dirawat di ruang ICU,” jawab dokter Idam.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki masuk ke ruangan. Langkah kaki itu berhenti di dekar tempat tidur Taufik. “Bang, suami korban ingin berbicara dengan Abang.”
Sari mengangkat kepala, ia melihat seorang polisi bernama Arifin menghampiri David. Di sebelahnya ada laki-laki yang tadi duduk bersamanya di ruang tunggu IGD. Sari mengacuhkan kedatangan Arifin dan laki-laki itu, perhatiannya kembali ke suaminya. “Pak, saya ingin tahu penyebab kecelakaan yang menimpa istri saya dan siapa yang mengemudikan mobil? Sebab istri saya pergi bersama teman-teman wanitanya bukan bersama dengan laki-laki.” Ucapan laki-laki itu terdengar jelas di telinga Sari.
David menjawab,“Kami sedang menyelidiki, Pak. Kami belum tahu pasti penyebab kecelakaan yang menimpa istri Bapak. Yang jelas ketika kecelakaan terjadi istri Bapak kami ketemukan di dalam mobil Bapak ini.”
“Apakah dia pengemudi mobil yang ditumpangi oleh istri saya?” tanya laki-laki itu. Sari terkejut mendengarnya.
“Iya, Pak,” David.
Sari tambah terkejut mendengar jawaban David. Ia mengangkat wajahnya lalu memandang ke arah David. “Ada apa, Pak?” tanya Sari sambil melirik ke laki-laki itu. Laki-laki itu menoleh ke Sari lalu menarik salah satu sudut bibirnya, ia seperti sedang mencemooh Sari.
“Nanti Ibu akan kami beritahu setelah penyelidikan kecelakaan ini selesai,” jawab David. Setelah itu laki-laki itu dan Arifin meninggalkan ruangan.
.
.
Beberapa hari kemudian Sari datang ke Polda Jawa Barat. Ia diminta datang untuk mendengarkan keterangan dari polisi mengenai hasil penyelidikan kecelakaan yang menimpa mobil suaminya. Sekarang ia berada di dalam ruangan di gedung direktorat lalu lintas. Di hadapannya sudah ada AKBP David, polisi yang menangani kasus kecelakaan suaminya.
Namun, ketika ia datang David tidak langsung membacakan hasil penyelidikan. “Tunggu sebentar, Bu. Kita masih menunggu keluarga korban yang lain,” ujar David sambil membereskan dokumen yang berada di hadapannya.
Sari mengerut kening lalu menatap wajah David. “Bukankah suami saya mengalami kecelakaan tunggal? Mengapa ada korban yang lain?”
William smiled coldly. "She wouldn't dare. Anyone who betrays me or breaks my rules meets a bad end. Remember Anne Davidson? She broke my rules, now she's buried in the concrete out back. Lindsey's arrest is just temporary, but if she talks, she'll be keeping Anne company!"My eyes flickered, and hiding a smile, I asked, "My sister, Brenda Johnson - when are you planning to make your move?"Will froze, then studied me with narrowed eyes.I stood in the doorway, meeting his gaze.After a moment, William laughed - a chilling sound."Troy, I underestimated you. You know everything, don't you?"He rose from his chair and walked toward me step by step.Despite having a plan, I felt nervous facing him.What if he attacked me right here?Fortunately, he stopped a few steps away."When did you find out?" he asked.I swallowed hard. "Yesterday. Lindsey told me."William’s eyes flashed. "Lindsey?" His face turned vicious."Useless bitch!"He spat, then fixed his eyes on mine. "Sinc
I hung up, a cold smirk playing on my lips.Oh, Lindsey. This is what you get for helping Will target my sister! For looking down on me!The thought of getting revenge on Lindsey was exhilarating.Wait - I had to be there to see this!I changed clothes and rushed to the Milda Hotel.The police response was quick. When I arrived, I watched them leading away Lindsey, May, and - surprisingly - three men in handcuffs.Three men? I thought there was only one.Then it clicked. The other two must have been waiting for me.If I'd followed Lindsey's script and burst into Room 502, they would've jumped me for sure.Watching the police cars drive away, I rubbed my chin thoughtfully.Lindsey was dealt with, but Will remained a problem.Until William was behind bars too, my sister wouldn't be safe.Plus, his operation had ruined countless young women's lives. Most weren't there by choice - William had forced them into it.I'd looked the other way before because of the money, but I coul
Just then, Lindsey picked up her phone and made a call.Moments later, my phone vibrated again.I moved back to the hallway, muffling the phone."Hello?""Troy? Quick - come to Room 502 at the Milda Hotel! I just saw someone drag your sister inside!""Oh no! They've spotted me! Hurry!"Lindsey screamed in panic before hanging up.When I tried calling back, her phone was off.Listening to the automated message, I couldn't help but smile.If I hadn't overheard their conversation earlier, I would've rushed over to save my "sister." Now I just laughed bitterly.I glanced at Room 502 one last time before leaving.I drove back to River View and called my sister.She came down quickly. Seeing her safe and sound, I felt relieved."Everything okay, Sis?" I asked carefully.She looked puzzled. "Why wouldn't it be?"I shook my head, motioned her into the car, and drove to our parents' house.Mom and Dad were thrilled to see us, cooking up a feast.We stayed until evening.Lind
I stared numbly at the trio inside, my eyes burning red when I saw what appeared to be my sister kneeling before the man.Just as I was about to burst in, my phone vibrated.I reached for it, ready to decline the call, but froze when I saw the caller ID."Sis"My sister was calling me?I stood there confused, looking between my vibrating phone and the scene unfolding in the room. Something clicked, and I moved to the hallway, covering my phone."Sis?" I answered quietly."Troy, I'm done here. Have you left yet? If not, come pick me up - let's go home together."Her words made my forehead wrinkle in confusion.What was going on?She was clearly in Room 502 with Lindsey and that man...So how was she calling me about going home together?Could that woman in the room not be my sister?"Troy? Are you listening?" my sister called out while I was lost in thought.I snapped back to reality. "Yeah, I'm still here. Where are you?""Just leaving the office. I need to stop by my pl
I stared blankly as Lindsey disappeared from view. Instead of leaving, I waited outside River View.But soon, William called.My heart sank - Lindsey must have snitched."Will," I answered.William immediately exploded, “What's wrong with you, Troy! Are you trying to get yourself fired? You want
Lindsey Morgan was the prettiest girl at Riverside University and my sister's best friend. With her slim figure, perfect curves, and a face that could stop traffic, she had stolen my heart the moment I first saw her.But for some reason, she'd always been cold towards me, and eventually, my feeli


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.