LOGINAn employee blasted me on TikTok, accusing me of not approving her wedding leave. Ainsley Castillo ranted, "Our marriage rates are low; birth rates are low. It's all because of toxic capitalists like you! You won't even approve my wedding leave. In your eyes, am I just a workhorse? Not even a person? I believed your nonsense about building an all-women company and a women-friendly workplace. Now your true bloodsucking capitalist face is showing!" The video blew up instantly, and countless young people empathized with her hardcore. They piled on online, cursing me, even doxxing me and sending razor blades. As the boss, I went live and confronted her head-on. "Sorry, but I can't approve her wedding leave. She can quit and go through labor arbitration, or sue me, but her wedding leave is out of the question." The live stream exploded in views that day. Among the supporters for her, some claimed to be lawyers, offering to sue me pro bono. But Ainsley looked troubled. "I just want my wedding leave. I never thought about quitting, let alone suing her."
View MoreRambut pendekku masih basah, handuk pun belum berganti piyama saat dering ponselku terus menerus mengalunkan lagu All of Me. Berulang. Tampang pria berkemeja putih dengan rambut cepak berwarna hitam pekat terpampang di layarnya.
"Udah sampai, Bang?" tanyaku sambil menyisir.
Suara lembutnya menyambutku ceria.
"Sudah, Sayang. Baru aja. Ini masih antre bagasi," jawabnya dengan semangat.
Laki-laki itu memang sangat pengertian.
"Kangen."
"Besok Abang ke sana, jam makan siang."
Kalau sudah mendengar janji itu, hatiku langsung berdebar-debar. Terbayang akan wajah tampannya yang selalu membuaiku dengan senyum. Kata-kata lembutnya yang menenangkan. Semua itu benar-benar membuat hatiku luluh. Tidak ada bagian di dalamnya yang aman dari virus cintanya. Semuanya terjangkit.
"Oke."
"Emuach!"
Selalu seperti itu. Kadang, telingaku terasa memanas, bahkan bulu roma di tubuh ini berdiri seketika. Merinding. Bukan, itu bukan horor.
Keromantisannya yang membuatku merinding.
Otak ini selalu menjadi penuh akan dirinya.
"Nakal!" teriakku sambil menggigit bibir.
Dadaku sungguh tidak kuat menahan laju jantung yang seolah-olah mendadak liar. Liar karena mendengar suaranya yang basah. Dia benar-benar seperti candu bagiku.
Di ranjang kamar ini, aku terduduk masih dengan handuk putih sebatas dada sampai paha. Memandang lurus ke arah cermin besar di ruangan itu. Memainkan imaji yang semakin liar.
"Tapi suka, 'kan?" ledek suara itu lagi.
"Nggak... salah lagi!" Tawa kami berderai. Bahkan, sudut mataku meleleh.
"I love you... I miss you... all day long, Honey."
"I miss you too, Abang. Aku sungguh-sungguh merindukanmu. Rindu... setengah mati." Hening. Ada kehampaan yang tiba-tiba menjeda.
Aku seperti ditampar dengan keras oleh kenyataan. Dengan sepenuh kesadaran, aku menyerahkan hati dan jiwaku kepadanya. Akan tetapi, ada saat-saat aku mulai ragu akan cintanya. Cinta yang bahkan hampir setiap hari diucapkannya. Setiap beberapa jam.
Kehampaan itu menyeruak bukan tanpa alasan. Kami berhubungan sudah cukup lama. Akan tetapi, tidak pernah sekali pun kami seperti pasangan lain. Kami hanya menikmati kebersamaan di area tempat tinggal. Kadang di tempatnya, lebih sering di indekosku.
Menjadi anak rantau, kami sama-sama menyewa tempat tinggal. Bedanya, aku menyewa satu kamar indekos dengan fasilitas lengkap, sedangkan dia menyewa apartemen milik rekan bisnisnya. Apartemen tipe studio yang lumayan untuk dirinya yang simpel.
Ah, ya, kami kenal dalam sebuah pameran. Bukan, maksudku bukan pameran seni. Kami bahkan sama-sama buta akan seni.
"Jangan berlebihan seperti itu," katanya.
Astaga, bahkan aku seperti terkejut mendengarnya.
Tidak berlebihan katanya? Mana bisa aku tidak begitu berlebihan kalau dia sendiri membuat hal itu terjadi? Sungguh aneh.
"Abang memang pantas diberi lebih, kok."
Ada tawa di seberang sana. Tawa singkat yang disusul suara lain. Seperti suara benda beradu dengan lantai. Sekali, dua kali.
Mungkin dia sudah menemukan bagasinya.
"Udah dulu, ya, Sayang. Aku mau ke taksi." Sepertinya percakapan ini baru saja dimulai, tetapi ternyata harus terhenti.
Ya sudah, berhubung dia juga sepertinya repot, akhirnya aku mengiakan.
"Aku pergi sama teman-teman, ya, Sayang."
Aku pamit pergi ke kondangan bawahan.
Dia mengiakan. Dia cukup kenal dengan teman-teman dekatku dan juga beberapa bawahan. Di memang hangat ke semua orang.
***
"May, kamu Maya? Mayasari? Inget aku?"
"Hai, ini...." Sumpah aku kurang paham dia siapa. Ada bayangan wajah itu di masa lalu, tetapi samar.
Dia bergaun hitam dengan bahu putihnya yang terekspos sempurna membuat mata wanita lain melirik iri. Tak terkecuali denganku. Aku sangat ingin memiliki kulit seindah itu. Mulus, putih, dan bercahaya.
"Aku Lily. Masa lupa? Yang dulu pernah satu tim pas masih di Origlame."
Astaga!
"Ya, ampun, Bu! Mohon maaf, otak saya lemot. Maklum memori hampir penuh."
Ada tawa terdengar. Tawa seorang wanita yang meski terlihat anggun, tetapi tidak sungkan melebarkan mulut. Tawa dua orang yang akrab.
Kami berpelukan. Cium pipi kanan dan kiri. Saling memuji penampilan. Khas perempuan. Setelah itu, dia mengajakku ke sudut, tempat photo booth berada. Kami berfoto dengan dua pose berbeda.
"Btw, kita nggak beda jauh umumnya. Jangan panggil aku 'Bu'. Tua banget, astagaaa!"
"Ha ha ha, iya, maaf. Terus panggil apa?" tanyaku sungkan. Tidak enak jika salah lagi. Jadi, aku lebih baik bertanya langsung.
"Panggil Lily boleh, Jeng, boleh. Apa aja." Dia kali ini menyeretku ke kerumunan orang yang berbaris di tepi karpet merah.
"Panggil Cici, boleh?" tanyaku ragu.
Aku takut dia menganggapku rasis.
"Boleh," jawabnya sambil tersenyum.
"Oke, aku panggil Cici aja mulai sekarang."
Kami mengobrol lagi. Banyak. Dari tempat tinggal, perkejaan, sampai pasangan.
Aku bercerita tentang Lukman tentu saja.
Tidak, tidak semuanya kuceritakan.
Aku bukan tipe yang suka bercerita ke sembarang orang. Apalagi orang itu termasuk bukan teman dekat. Kepada teman dekat pun, aku menyaring.
Lampu ruangan itu mendadak mati.
Bukan, bukan pemadaman listrik dari pusat, melainkan acara malam itu akan segera dilakukan. Musik di sisi lain ruangan itu mulai diputar. Menggema.
"Eh, teman-teman kamu di mana tadi, May?"
Astaga, aku juga lupa tadi ke sini sama mereka. Mungkin sekarang mereka juga sudah lupa bahwa aku datang bersama mereka. Ini semua gara-gara wanita sipit di sampingku.
Dalam gelap, aku menoleh kanan-kiri.
"Mungkin di sebelah sana, Ci. Biar aja. Nanti juga ketemu lagi, kok, pasti." Aku masih berusaha menebar pandangan dalam gelap.
"Eh, sorry aku ke arah dekat pintu masuk dulu, ya. Suamiku terlambat. Dia barusan WA. Semoga nanti kita ketemu lagi."
"Iya, Ci. Nggak apa-apa. Silakan." Aku menyunggingkan senyum. Berharap perempuan itu melihatnya. Walau aku tidak yakin.
"Bye!"
***
"Bu, ngeliatin apa, sih? Kayak orang lihat setan, deh. Bu!" Atikah, salah satu bawahan yang cukup dekat denganku, mengoceh.
"Ah, eh, nggak, kok. Cuma lagi sedikit pusing." Siapa itu, kok, perawakannya mirip?
"Ya udah pulang duluan aja, yuk!" Dia mengajakku untuk meninggalkan acara. Padahal kepalaku sama sekali tidak pusing.
"Nggak usah. Nanti aja tunggu acara kelar." Aku hanya penasaran dengan sosok laki-laki yang baru saja pergi menuju toilet.
"Serius?"
"Ya."
Aku kembali menunggu sosok itu terlihat.
Akan tetapi, teman-temanku yang lain datang dengan beraneka makanan.
Piring mereka diisi penuh. Nasi, sayur, ayam, daging, semuanya. Aku geleng-geleng.
"Makan dulu, May! Keburu kehabisan." Sesama rekan kepala toko di Techno Grup, berisik menyuruhku mengambil makanan.
Mau tidak mau aku pergi juga.
Saat tanganku hampir menyentuh piring, sebuah suara menghentikannya.
"Ah, baik, Pak. Nanti saya cek ulang barangnya." Aku menoleh ke sumber suara.
Seorang laki-laki berkemeja putih tampak berada di belakang punggungku.
"May, ketemu lagi kita. Mau makan apa?" Ci Lily tersenyum semringah. Dia benar-benar cantik sempurna.
Aku yang tadi sedang mengawasi pria misterius, langsung mengalihkan perhatian.
After the storm, the company's reputation bounced back stronger.Our "sticking to the rules" style became a golden sign, attracting those who shared our values."I applied after seeing that wedding stream. Ma'am, your actions were awesome!" said a newly-joined programmer.The better news? Victoria and Chloe returned after it all settled."Paige, we still wanna work with you," Victoria said emotionally on rehire day.I nodded with a smile. "Welcome home."Chloe scratched her head. "I'm sorry for ever doubting you, Ms. Russell.""It's all in the past," I said smoothly. "Look forward.""This is our home," Victoria added.The team reunited, and everyone fired up."Let's have dinner together, my treat," I announced.The office erupted in cheers.I reflected on my management style, realizing that rules needed firmness and communication needed transparency. For that drive, I pushed for clearer policy postings and added employee care channels.At the all-hands, I declared, "We don
Pushed to the brink, people would turn or warp. Ainsley chose the latter.Unable to pay the huge compensation, she became a pariah whom everyone despised, but instead of reflecting on her mistakes, she blamed me for all her woes.She believed I ruined her life, and her mind grew twisted.A few months later, rumors about me popped online again, claiming that I had abused my power and capital to blacklist others. They were the same old counts from those alt accounts.Before I could respond, the netizens saw it through.[Ainsley Castillo? Still at it?][Proof? Just talk?][Believe a deadbeat? Hilarious.]The posts got reported and deleted fast before any waves could be made. When her effort online failed, she resorted to real-life harassment.She found the company's new address. "I wanna see Paige Russell! Get her here now!"She tried barging into the office, but the receptionists and security blocked her. "Sorry, no appointment, no entry.""Move! This is between me and her!" s
The day after the wedding fiasco, the company's legal team and Victoria's lawyers filed lawsuits simultaneously.Online opinion flipped one-sided. Ainsley's exploits became the net's new punchline.The evidence was solid and complete, so the court moved fast.A month later, the verdict came. The court ruled Ainsley guilty of malicious defamation, fabricating facts, inciting cyberbullying, and severely damaging my company and my reputation. She must post a pinned apology on all major social platforms' homepages for 30 straight days.And she was asked to compensate for my losses and mental damages to Victoria and others, totaling 1.8 million dollars, which she couldn't pay.To make things worse, the wedding planner, the hotel, and the sponsor's penalties piled up—another huge sum.Soon, for failing to comply, she got listed as a deadbeat, restricted from luxury spending, riding planes or trains, and borrowing loans.Donovan had ghosted her since the next day of the wedding. Word w
Donovan stared at the screenshots for a full half-minute. Then he slowly turned to Ainsley, his expression a despairing calm.He took off his boutonniere and tossed it on the ground. He grabbed the mic and croaked, "Ainsley, you make me sick!"He faced the guests and the live camera, announcing, "I declare this wedding canceled. I'll reserve the right to pursue Ainsley Castillo for her deceptive actions."He walked offstage without looking back. Ainsley let out a piercing wail. "Donovan, come back!" She tried to chase after him, but the guards stopped her. She shouted desperately, "Let me go! Donovan, wait!"Donovan's parents stood up from their seats, cursing at Ainsley's parents. "What kind of daughter did you raise? A total liar! You all aimed to scam our money! Give it back!"Ainsley's mother rushed up, grabbing the hair of Donovan's mother. "Nonsense! Your son is useless! Can't even protect my daughter!"Ainsley's father roared, "You'll get nothing back! You've ruined my d


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.