The Dark Wolf At My Service : His Nemesis

The Dark Wolf At My Service : His Nemesis

last updateHuling Na-update : 2024-01-15
By:  MarvyOngoing
Language: English
goodnovel16goodnovel
10
1 Rating. 1 Rebyu
43Mga Kabanata
2.3Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Synopsis

Rielle, a popular web-novel writer, got caught up in a scandal that ruined her life and everything she ever worked for. Jumping down the towel was all she thought about as she walked down the street leading to the tall building. What gain would it be if she dies and allow her enemies live to enjoy staring at her down beneath the ground? She shunned ending her life and decided to move on but then, seeing the created image of her female lead character displayed on the screen, she felt so jealous of her perfect life. Her character got everything she ever wanted. A perfect life, a perfect world, a position that commands power, her perfect mate, and a powerful villain obsessed with her. Such a perfect, pathetic life! Rielle thought in disgust. She did the unthinkable........ She ended her perfect female lead character. Killing her for no reason. The next morning when she opened her eyes, she was in her own web-novel world and was brought in by the villain. He vowed to be her protector if only she does one thing. "You killed my lover Keisha, and now, you are going to bring her back, or I kill you." he declared, staring at her menacingly. She shivered at the sight of his eyes and knew at that moment that he is the DARK WOLF. The villain of her novel. Not the kind of protector who threatens her, she wanted. But then, she was ready to make him be at her service when she calls. Is danger and destruction lurking with her in her novel world and her with the villain? How far would he go to protect her when everyone would want to take her?

view more

Kabanata 1

Chapter one

Setelah kecelakaan itu, pacarku, Farel Anggara, hilang ingatan.

Kabar baiknya adalah itu tidak benar. Kabar buruknya, Farel sengaja melakukannya.

"Ziana Syardan, aku sudah lupa semua hal tentang kita. Hal-hal yang bisa dilupakan, berarti semua itu nggak penting."

"Apa kamu mengerti?"

Farel duduk tegak di ranjang rumah sakit. Fitur wajahnya tampan, tetapi tatapan matanya penuh dengan ketidaksabaran.

Seolah takut penjelasannya kurang jelas, sehingga Ziana akan terus mengganggunya.

Angin berembus masuk ke dalam kamar, membelai wajah pucat Ziana dan menyengat setiap sarafnya.

"Ya. Aku mengerti," jawab wanita itu dengan sangat tenang.

Ziana Syardan sangat tenang, karena dia tahu Farel sedang bersandiwara.

Lima belas menit yang lalu.

Begitu Ziana siuman, dokter memberitahunya bahwa Farel terluka parah dan menderita amnesia.

Tanpa memedulikan tubuhnya yang lemah, dia bergegas menuju kamar rawat pria itu.

Namun, setibanya di depan pintu, Ziana melihat Farel, yang seharusnya terluka parah, sedang bersandar santai di ambang jendela.

Sambil merokok, pria itu menelepon seseorang.

Suaranya terdengar begitu lembut dan penuh kasih, sesuatu yang belum pernah Ziana dengar sebelumnya.

"Masih berani pergi kencan buta? Kalau nggak begitu, mana mungkin aku akan mengumumkan hubungan dengan Ziana untuk membuatmu cemburu?"

"Aku salah, oke?"

Seorang wanita merajuk di seberang telepon, suaranya terdengar sangat menggoda.

Jakun Farel naik-turun, dia bertanya dengan suara rendah dan serak, "Begitu saja?"

"Malam ini terserah kamu mau apa ...."

Suara wanita itu merendah, semakin ambigu.

Sisanya tidak terdengar lagi oleh Ziana.

Namun, dari tatapan mata Farel yang membara, Ziana tidak perlu menebak lagi untuk mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan.

Tiba-tiba suara wanita itu meninggi saat berkata, "Tuan Farel, bagaimana dengan Ziana? Aku nggak mau jadi selingkuhan. Kalau sampai tersebar, bagaimana aku harus menghadapi orang-orang nantinya?"

Farel menjentikkan abu rokoknya dengan acuh tak acuh, matanya penuh tatapan percaya diri.

"Tenang saja, aku sudah menyuruh dokter memalsukan rekam medis amnesiaku. Selama aku nggak mengakui hubunganku dengannya, siapa yang akan percaya pada Ziana?"

Wanita itu terdiam sejenak, sepertinya masih belum puas.

"Bagaimana kalau dia terus menempel padamu? Kalau aku jadi dia, aku juga pasti nggak akan rela melepaskanmu."

"Aku nggak akan memberinya kesempatan untuk menggangguku."

Farel tersenyum, seolah dialah penguasa dalam permainan ini.

Ziana bersandar di dinding, kedua tangannya mengepal erat hingga ujung kuku menancap ke telapak tangannya. Namun, dia tidak merasakan sakit sedikit pun.

Dalam benaknya, kilasan ingatan berkelebat.

Ziana dan Farel adalah teman masa kecil.

Karena Keluarga Anggara tidak menyukainya, mereka terpaksa menjalani hubungan rahasia selama empat tahun.

Semalam, Farel akhirnya setuju untuk berterus terang kepada Keluarga Anggara tentang hubungan mereka.

Namun, dalam perjalanan menuju kediaman Keluarga Anggara hari ini, mereka mengalami kecelakaan.

Mereka berdua terluka dan pingsan.

Ziana tidak menyangka, pengakuan yang dia nantikan selama empat tahun hanya alat bagi Farel untuk memicu kecemburuan wanita lain.

Pria itu sudah lama mencintai orang lain.

Pantas saja saat mengemudi tadi, Farel tidak fokus menyetir dan terus-menerus melihat ponselnya.

Saat Ziana mengingatkannya, pria itu hanya berdalih sedang menunggu pesan pekerjaan.

Ternyata, dia sedang menunggu pesan cemburu dari wanita itu.

Lamunan Ziana terputus oleh suara langkah kaki dokter. Dia berpura-pura baru sampai dan masuk ke kamar bersama dokter.

Saat itu, Farel sudah berbaring kembali di ranjang.

Pria itu bahkan tidak melirik Ziana, sibuk memerankan drama amnesianya di depan dokter.

Akhirnya, dia mengusir Ziana dengan nada dingin, "Kalau sudah mengerti, pergi sana."

Ziana merasa ingin bertepuk tangan untuk akting Farel.

Demi menendang Ziana keluar dari hidupnya, Tuan Muda Kedua Keluarga Anggara itu benar-benar mengerahkan segalanya.

Beberapa kali Ziana ingin bicara, tetapi rasa pahit menyumbat tenggorokannya. Pada akhirnya, yang terpancar di wajahnya hanyalah rasa malu.

Benar-benar memalukan.

Selama empat tahun berpacaran, cintanya pada Farel begitu dalam.

Pria itu tahu, teman-teman mereka pun tahu.

Tanpa menuntut status, dia merawat pria itu seperti seorang pelayan.

Asal pria itu marah, Ziana akan membujuknya hingga tenang meski harus mengorbankan waktu tidurnya.

Seluruh dunianya adalah Farel.

Namun sekarang, pria itu menggunakan cara yang begitu ekstrem untuk memaksanya menyerah.

Haha.

Sungguh ironis.

Ziana merasa mati rasa sekaligus sadar sepenuhnya. Dia hanya mengangguk dan berkata, "Oke, aku pergi."

Turuti saja kemauannya.

Cinta yang didapat dengan mengemis memang tidak akan bertahan lama.

Dia juga sudah lelah.

Ziana menundukkan kepala dan keluar dari ruangan.

Farel melirik punggung Ziana, alisnya sedikit terangkat. Dia tidak menyangka wanita itu akan menerimanya dengan begitu mudah.

Dia segera memanggil asistennya.

"Suruh seseorang mengawasi Ziana. Jangan sampai sekarang dia berlagak tegar, tapi sebentar lagi berbalik memohon padaku agar ingatanku pulih. Ada banyak orang di rumah sakit, nggak enak kalau sampai dilihat orang."

Sambil mengatakan hal itu, Farel mengerutkan kening, seolah sudah bisa membayangkan adegan Ziana mengemis padanya.

Asistennya mengangguk, lalu berbalik pergi.

....

Ziana lupa bagaimana dia kembali ke kamar rawatnya sendiri.

Dia duduk termangu di tepi ranjang, seperti anak kecil yang ditelantarkan.

Matanya terasa panas, tetapi air matanya tidak kunjung jatuh.

Perasaan cinta selama empat tahun, tidak mungkin dilepaskan seketika.

Akhirnya, dia merebahkan diri di ranjang dengan lelah. Tangannya menyentuh ponsel di samping tubuhnya.

Tekstur retakan yang kasar, membuat hatinya seakan melompat keluar.

Saat kecelakaan, ponsel itu ada di dalam tasnya dan tidak terbentur sama sekali.

Bagaimana mungkin ada retakan seperti itu?

Seolah menyadari sesuatu, Ziana mengambil ponsel itu dengan tangan gemetar.

Ponsel itu memiliki bekas tekanan yang jelas. Layarnya hancur berkeping-keping dan sama sekali tidak bisa dinyalakan.

Bukti cinta antara dirinya dan Farel di dalam ponsel itu, pasti sudah lenyap.

Siapa pelakunya, Ziana sudah bisa menebak.

Demi mencegahnya mengganggu, Farel benar-benar mempertimbangkan segalanya dengan matang.

Ziana tertawa getir. Dia melihat gambar di case ponselnya, karakter kartun yang digambar berdasarkan dirinya dan Farel.

Kebahagiaan saat itu nyata, tetapi kekejaman saat ini juga nyata.

Dia juga tidak ingin hal sudah tidak diinginkan pria itu.

Tak!

Ziana membuang ponsel itu ke tempat sampah, lalu memanggil perawat untuk mengurus kepulangan.

Saat hendak pergi, perawat memanggilnya sambil menunjuk tumpukan barang di sudut kamar.

"Nona Ziana, ini masih ada barang-barang Anda. Anda nggak mau membawanya?"

Ziana menoleh sejenak. Itu semua adalah hadiah yang dia siapkan untuk kunjungan ke Keluarga Anggara.

Dia boleh membuang Farel, tapi hadiah itu tetap harus dibawa pulang.

Lagi pula, itu semua dibeli dengan uangnya. Dijual di aplikasi barang bekas pun masih bisa menghasilkan uang.

Dia memilah barang-barang yang bisa dijual. Sisa makanan ringan yang tidak bisa dijual, dia berikan kepada para perawat di sana.

"Untuk kalian saja, silakan kalian makan. Terima kasih atas bantuannya."

Setelah itu, dia meninggalkan rumah sakit.

....

Setelah Ziana pergi, Farel sempat tidur sejenak.

Saat terbangun, dia melihat semangkuk bubur dari Kedai Selera Rasa di atas nakas.

Pria itu memijat pangkal hidungnya dan mendecakkan lidah.

Dia sudah menduga, menyingkirkan 'benalu' seperti Ziana tidak akan semudah itu.

Ziana tidak bosan melakukan taktik pura-pura tenang, padahal diam-diam mencoba mengambil hati seperti ini. Namun, dia yang bosan.

Farel bangkit, lalu berkata, "Bubur ini ...." Buang.

"Tuan Farel, Anda sudah bangun? Mau makan bubur? Biar saya ambilkan sendoknya, saya sengaja menyuruh orang membelinya secepat mungkin."

Asistennya menyodorkan sendok dengan penuh semangat.

Farel mengernyit. "Kamu yang beli?"

"Benar, saya yang beli." Asisten itu tersadar, lalu menambahkan, "Dokter bilang, Nona Ziana langsung keluar dari rumah sakit setelah kembali ke kamar. Sepertinya, dia sudah menerima kenyataan bahwa Anda amnesia dan putus dengannya."

Farel memakan bubur itu dengan tenang, lalu mencibir.

"Menerima? Ziana bukan orang seperti itu. Kalau dia tipe yang mudah menerima kenyataan, aku nggak akan menggunakan cara ini untuk memaksanya putus. Mungkin dia melihat ponselnya sudah kurusak, jadi dia merasa malu dan hanya bisa marah."

"Lalu, apa saya masih perlu menyuruh orang mengawasi Nona Ziana?" tanya asisten itu.

"Nggak perlu. Sebentar lagi, dia pasti akan datang mencariku dengan membawa berbagai alasan. Urus kepulanganku sekarang."

"Baik."

....

Ziana tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan menuju vila milik Farel.

Jika ingin berakhir, maka harus berakhir dengan bersih.

Berdiri di depan pintu, dia menekan bel.

Selama empat tahun berhubungan, dia telah datang ke vila ini ratusan kali dan memasak untuk pria itu ratusan kali pula.

Meski setiap kali Farel akan merangkulnya sambil berbisik, "Ziana, saat kita menikah nanti, aku pasti akan menjadi pria paling bahagia di dunia!"

Namun, pria yang berjanji akan menikahinya itu, tidak pernah memberinya kunci vila ini.

Bahkan ketika kunci pintu diganti dengan sistem sidik jari, semua pelayan sudah didaftarkan, tetapi dia tetap diperlakukan seperti orang asing.

Tak lama kemudian, Bibi Winda membukakan pintu.

"Nona Silvia, apa sidik jarinya nggak terbaca lagi ...?"

Nona Silvia?

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

"The Dark Wolf At My Service: His Nemesis" by Marvy is an engaging and spellbinding novel that many readers have praised. The story revolves around Rielle, a writer embroiled in a public scandal when she kills off the favorite character of her large fan base. Rielle and the Dark Wolf are the two main characters in this book. Both are shrouded in mystery and captivate the readers with their unpredictability. "The Dark Wolf At My Service: His Nemesis" is a must-read for anyone who craves stories with complex characters and exhilarating plotlines that keep the reader on edge.

Rebyu

Vicky
Vicky
WOW, I must say, this book is giving. A fantasy world. A writer going into her own story really gives a different vibe.
2023-09-12 16:43:46
0
0
43 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status