Se connecterMy mom gets buzzed at the family dinner and insists on burning my admission letter. She says, "You're a guy, and yet you can't get into Horvard University! What makes you think you can study at any university now? You might as well quit studying altogether!" I try to stop her from doing so, only for my dad to stop me instead. "It's just a stupid scrap of paper. Don't put a damper on your mom's mood, now. Can't you just retake the college admission exam?" Just like that, my fruit of labor gets burned to ashes. When I'm studying for the exam again, Mom keeps inviting people home for drinks. All I do is utter one complaint, and I get beaten to death by her drinking buddies. When I open my eyes again, I've returned to the night of the family dinner. This time, I've swapped out my admission letter to the IOU her boss has told her to safeguard. Go ahead and burn it. Two years later, I'll be sure to visit you at your grave, Mom.
Voir plus"Ed, apa kau keluargaku?"
"Bukan, Lily.""Lalu, dimana keluargaku?"Merasa telah salah berucap, pria yang dipanggil Ed itu menghentikan kegiatannya."Kenapa kau diam, Ed? Rambutku masih basah," rengek sang gadis yang berusia tujuh tahun itu dengan mendongakkan kepala.Mata bulatnya menatap penasaran laki-laki dewasa yang duduk di belakangnya.Lihatlah, betapa menggemaskannya gadis ini?"Maaf, Tuan Putri Lily. Hamba akan melanjutkannya."Edhie kembali mengeringkan rambut bocah yang bernama Lily itu dengan handuk."Kenapa kau tiba-tiba bertanya soal keluargamu?"Edhie tentu saja sudah bersiap jika sewaktu-waktu gadis itu mempertanyakan keluarga. Hanya saja, bukankah ini terlalu cepat?"Temanku mengataiku anak pungut. Padahal aku hanya bercerita bahwa aku tidak serumah dengan ayah dan ibuku," celoteh gadis itu dengan bibir yang mengerucut.Ada rasa nyeri di sudut hati Edhie. Apa anak itu tidak dididik dengan benar oleh orang tuanya? Hingga berani mengatai gadis kecil kesayangannya ini?"Disini tidak ada orang yang kupanggil ayah dan ibu," lanjutnya lagi."Oh, sayang. Kau bisa memanggilku paman. Seperti paman Jovan dan paman Joe. Setidaknya kamu memiliki banyak paman yang menyayangimu, bukan?""Bukankah kau sendiri yang tidak suka dipanggil paman? Kau menyuruhku memanggilmu Edhie."Ah! Edhie sempat lupa. Sejak gadis itu mulai bisa berbicara, pria itu mengajarinya untuk memanggilnya Edhie. Sampai saat gadis itu tumbuh seperti sekarang, Edhie tidak pernah mengajarinya untuk memanggilnya paman.Tentu saja dengan alasan, ia tidak ingin terlihat tua. Konyol, bukan?"Hm, mulai sekarang kau boleh memanggilku paman.""Aku tidak mau, Ed. Aku lebih suka memanggilmu Edhie.""Baiklah, terserah kau saja.""Lalu, dimana keluargaku, Ed?" tanya sang gadis lagi."Semua orang yang berada disini adalah keluargamu, Lily. Meskipun tidak ada ikatan darah," jawab Edhie tenang dengan masih melakukan kegiatannya."Apa itu ikatan darah?"Ck! Yang benar saja Edhie. Kenapa kamu menggunakan bahasa yang rumit untuk menjelaskan hal yang sederhana di hadapan bocah berusia tujuh tahun itu?"Nanti kamu akan mengerti sendiri. Intinya kita semua adalah keluarga, Lily. Jika temanmu masih mengataimu, aku akan mendatangi orang tuanya dan menyuruh mereka untuk mengajari anaknya sopan santun.""Kau hebat, Ed! Kau seperti pahlawan!""Benar, bukan?"Edhie kemudian mengangkat anak itu tinggi-tinggi lalu mendudukkannya di kedua pundaknya.Pria berusia dua puluh satu tahun itu berlarian kesana kemari sambil menggendong Lily yang tertawa sangat lepas.Tanpa Edhie sadari, penjelasan yang rumit darinya benar-benar menjadi bumerang untuknya di kemudian hari.***"Ed, jika kita keluarga tanpa ikatan darah, berarti kita adalah sepasang suami-isteri?" Bocah yang berusia tujuh tahun itu sekarang sudah menjelma menjadi gadis belia berusia empat belas tahun.Sontak saja, pertanyaan darinya membuat sang lawan bicara mendadak menelan makanannya bulat-bulat tanpa dikunyah secara benar. Nyaris saja membuat pria itu tersedak."Pertanyaan konyol macam apa itu, Lily?" Edhie berucap setelah menenggak segelas air mineral sampai tandas lalu mengusap bibirnya dengan tissue."Temanku yang mengatakannya.""Temanmu selalu bermasalah, Lily. Sudah saatnya kau mengganti pertemananmu."Akan tetapi, sang gadis hanya acuh tak acuh sambil melahap sarapan paginya. Niat gadis itu memang hanya untuk menggoda Edhie.Lily tidak bodoh, ia tahu jika Edhie sudah merawatnya dari kecil. Ia bahkan tidak tahu dimana keberadaan orang tuanya. Edhie bisa saja menceritakannya, hanya saja Lily terlalu takut untuk menerima kemungkinan terburuk.Bisa jadi, orang tuanya telah membuangnya, bukan?Tapi, jika benar demikian, bukankah pria di hadapannya saat ini adalah malaikat penolongnya?"Aku harus berangkat sekarang, Ed.""Baiklah, semoga harimu menyenangkan bocah kecil."Lily menatap tajam pria itu. "Aku sudah empat belas tahun, Ed. Sudah bukan bocah kecil lagi. Ayo, Paman!" Gadis itu berlalu pergi bersama Jovan, pria yang ditunjuk sebagai pengawal pribadi Lily oleh Edhie."Gadis itu sudah tumbuh besar, Joe."Pria dengan setelan hitam yang berdiri di belakang Edhie menjawab, "Benar, Bos. Waktu berlalu begitu cepat.""Apa sebaiknya aku segera mengatakan kebenarannya?""Apa Anda yakin?""Aku hanya takut dia mendengarnya dari orang lain."Joe sang kepala pengawal sekaligus asisten pribadi Edhie mengangguk mengerti. Ia tahu, sang Bos pasti sudah memikirkannya baik-baik untuk hal ini. Tugasnya hanyalah tetap menemani apapun yang akan terjadi nantinya.Di sisi lain, Lily yang sedang duduk di jok penumpang belakang menuju ke sekolahnya, mengernyitkan kening ketika menerima sebuah pesan dari nomor asing.Biasanya Lily akan mengabaikannya karena kebanyakan pesan tersebut berisi spam.Akan tetapi, kali ini berbeda, pesan yang terbaca dari notifikasi mengambang tersebut berisi,[Aku tahu kebenaran tentang keluargamu.]Lily menggigiti kuku jarinya, ia merasa penasaran. Hanya saja, otaknya masih cukup waras untuk percaya begitu saja.Bagaimana jika orang ini hanya sekedar penipu? Mengingat sekarang banyak sekali penipuan melalu pesan singkat seperti ini."Ada apa, Nona?" Jovan yang sedang menyetir menyadari gelagat Lily yang tidak biasa dari kaca spion depan."Tidak, Paman. Hanya pesan spam," elak Lily lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.Sesampainya di sekolah, Lily berpamitan kepada Jovan lalu bergegas memasuki gerbang sekolah. Baru saja kakinya menginjakkan gedung utama kelas, lengannya tiba-tiba di tarik seseorang dan membawanya ke belakang gedung sekolah yang cukup sepi."Hei!" teriak Lily seraya melepaskan lengannya dari sang pria.Ya, pelaku yang menarik Lily adalah seorang pria berkacamata. Ia mengenakan seragam yang sama dengannya, hanya saja Lily merasa tidak mengenali pria tersebut."Kenapa kamu tidak membalas pesanku?" tanya pria itu.Dalam sekejap, jantung Lily berdegup ketika di tatap oleh sorot mata tajam seorang pria dari dekat seperti ini. Sebelumnya tidak ada yang pernah seberani itu mendekatinya, kecuali Edhie.Ah! Beruntung Jovan tidak melihat peristiwa ini. Jika sampai Jovan tahu, pria di hadapan Lily saat ini pasti akan berakhir terbaring di brankar rumah sakit.Tunggu! Apa katanya tadi?"Pesan?" Lily menaikkan sebelah alisnya."Hm. Aku mengirimimu pesan tadi pagi.""Pesan apa? Kita bahkan tidak saling mengenal untuk bertukar pesan," sergah Lily."Meskipun kamu tidak mengenalku, aku sangat mengenalimu, Lily."Lily semakin tidak percaya dibuatnya, gadis itu memutar bola matanya jengah. Edhie selalu memperingati dirinya untuk berhati-hati terhadap pria asing.Dan sekarang ada seorang pria yang mengaku sangat mengenalinya? Astaga!Gadis itu beranjak pergi begitu saja meninggalkan sang pria."Aku tahu kebenaran tentang keluargamu," ujar pria itu yang berhasil membuat Lily bergeming.Lily menghembuskan napas perlahan, tanpa berbalik, gadis itu kembali melanjutkan perjalanannya menuju kelas.Bukan saatnya percaya kepada orang asing."Elliot! Namaku Elliot! Simpan nomorku! Jika terjadi sesuatu, hubungi aku!" teriak sang pria yang bernama Elliot sebelum Lily benar-benar pergi.I could clearly hear loud crashing noises from the other end of the line, as if someone was smashing things.I knew Mr. Jarrell wasn't smashing things, but Mom.As he continued, he cursed, "Unbelievable. How did I even get someone like you to help out in the first place?"Mr. Jarrell laughed out in sheer disbelief.It turned out that when Mom was asking him for some thugs, she'd told him she found a solution to get the money back.Curious, Mr. Jarrell asked, "What kind of solution is that? Is it something shady?"Mom broke into a smile. "Not shady at all! It's money from the government. It doesn't get more legit than that!"She then confidently explained her plan.First, she'd bring some thugs over to Aunt Tiffany's house and beat us until we gave in. Then, she'd threaten us. Finally, she'd abduct us to the Department of Education and force us to sign the contract.Mr. Jarrell was rendered silent.He couldn't believe Mom was actually suggesting to threaten and abduct us to th
I was perplexed when I heard it was someone from the State Department of Education.Aunt Tiffany opened the door and told them I was Shannon's son.An official in a suit immediately stepped forward, greeting me warmly.He explained that because I came from a low-income family and had been admitted to a top-tier university, I qualified for a special state-funded scholarship worth about 30 thousand dollars.The official said all I needed to do was sign the paperwork, and the money would be deposited into the designated bank account within a couple of weeks.I had never heard anything about it before.And when I took a closer look at the contract, the designated bank account belonged to Dad.It was easy to figure out what had happened. Mom and Dad had kept this news from me so they could pocket the scholarship.But this money belonged to me.They didn't want me to go to university, but they wanted the scholarship that came with it.The audacity was almost impressive.As such, I
The next day, Aunt Tiffany insisted on going home with me to grab my ID and my essentials after she was discharged.We were both bracing ourselves for a confrontation, but my parents were not even home.Our neighbor, Ms. Lewis, was surprised to see me coming home. "Your parents got beaten up that badly and you're completely fine?"The old apartment building had terrible soundproofing. Everyone could hear what was going on around the area.I briefly explained what had happened. Her eyes immediately lit up, eager for gossip.Apparently, Mr. Jarrell had shown up at my door last night, asking for the IOUs.Mom was her usual self when she opened the door. Two bottles of bourbon were already set on the table. "Oh, you're here, Mr. Jarrell? The IOUs aren't going anywhere. Let's have a drink first. We can play a few rounds of cards while we talk."She tried to cover her guilt with hospitality and expensive liquor.Mr. Jarrell chuckled. "Alright. Looks like you're still so good at welco
Aunt Tiffany froze, her phone still raised in her hand. Her mind had gone blank from the sheer flood of information.Unhurried, I took the phone from her. "Hello, Ms. Shannon Walker. To what do I owe the pleasure?"Mom's temper blew instantly. "You've got some nerve asking that! Where are the IOUs I left in the room? Why are they gone?"I played dumb. "What? I don't know what you're talking about. My brain isn't built to understand IOUs. What even are those?"Mom was so furious that she was rendered speechless. I could practically hear her grinding her teeth even through the phone.She was clearly at her wits' end.Mom yelled, "Cut the act, you brat! I know I left them beside your stupid admission letter. If you didn't take them, who did? "You useless fool! Do you have any idea how important those are? Do you think it's funny? Keep messing around and I'll have your dad break your legs!"She was shouting so loudly I had to pull my phone away from my ear.I replied, "I understa
Mom was a notorious madwoman at the card table. Her favorite pastime was going off the rails whenever she got worked up while gambling.During our family dinner, Mom's older sister, Tiffany Walker, praised me for being diligent and well-behaved. She said that I was bound to have a promising future
Aunt Tiffany was gravely injured. Not only did she sustain a mild concussion, but the back of her head even needed several stitches.I stayed by her bedside all night in the hospital, never sleeping a wink. Meanwhile, Mom, who was responsible for this, slept soundly at home.She didn't call until
At that, Aunt Tiffany's mind went blank."What are you even saying, Jason? That's your own son! He worked hard for the three years he's in high school, all just for that admission letter!" The veins on the back of her hand pulsed as she spoke, clearly furious.But Dad was unmoved. "But Shannon's u












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.