Se connecterMy boyfriend, Sam Gibson, had a childhood best friend named Tina Lincoln. She was a star medical student. On the day Sam and I were supposed to get our marriage license, Tina took one look at the tight top I was wearing and flat-out claimed I had been sleeping around for years. She pointed at my chest with obvious disgust. “If men hadn’t been all over you, there’s no way your breasts would be this big.” Sam believed her completely. He started cursing at me, calling me a slut who had sleep with anyone, and refused to go through with the marriage license. I tried over and over to explain, but Tina just sneered at me. “People may be more open-minded these days, but that doesn’t mean you can sell your body and make your chest that big.” She used me as some kind of “example,” started a livestream to lecture people online, and exposed all my personal information. After that, strangers kept sending me disgusting, harassing messages, asking how much I charged for a night. Some even followed me and tried to force themselves on me. I begged her to clear things up for me, but she just shrugged and said, “If you never did that kind of thing, why would people be asking you?” In the end, I was assaulted and killed. And she went on to become a nationally famous influencer doctor, gaining fame and money at the same time. When I opened my eyes again, I was back on the day I was supposed to get my marriage license with Sam.
Voir plusLayar ponsel menjadi pusat perhatiannya saat ini, setelah lelah pandangannya beralih keluar jendela kereta menampilkan pemukiman warga yang terlewati. Tak fokus dan tak pasti karena jalannya yang cepat membuat apa yang dilihat tak begitu jelas. Mata Elena beralih pada seseorang yang ada di depannya. Pasangan suami istri dengan seorang anak laki-laki yang berada di gendongan sang ayah. Menenangkan si anak yang menangis akibat rewel ingin tidur tapi merasa tak nyaman karena berada di perjalanan.
Perjalanan menuju sebuah kota besar memang memakan waktu beberapa jam, tak sampai setengah hari hanya 4 sampai 5 jam. Tujuan Elena datang adalah untuk memenuhi tawaran yang datang kepadanya. Tawaran pekerjaan dari sebuah butik ternama. Awalnya Elena tak percaya. Apakah ini hanya sebuah bunga tidur? tapi ketika ia cubit lengannya sakit sangat terasa. Jadi aku tidak bermimpi bukan? Saat itu sebuah pesan di akun i*******m keduanya muncul.
Meisieboutique_
Selamat pagi, saya sangat tertarik dengan desain-desain yang anda tampilkan mempunyai keunikan tersendiri. Maukah menjadi desainer di butik Meisie. Saya sangat
membutuhkan orang seperti anda.
Setelah membaca pesan itu, rasa senang langsung menerpa. Bahkan Elena meloncat kegirangan dan membuat Naura yaitu Mama Elena mengerutkan kening heran. Setelah mempertimbangkan dan mengecek semuanya. Ia menerima penawaran tersebut. Pihak butik, memberikannya alamat dan nomor telepon.
Menjadi seorang desainer adalah salah satu impian Elena. Menciptakan sebuah karya dan dikenal banyak orang. Ah sangat menyenangkan. Elena berharap ini bukanlah hanya sebuah ekspektasi.
"Permisi, saya ingin bertemu dengan Nyonya Mei. Apakah Nyonya Mei ada?" sapa Elena pada seorang pelayan butik.
"Maaf dengan siapa?"
"Elena Honora."
"Baik Nona. Silahkan duduk. Permisi saya akan panggilkan beliau," ucap gadis yang terlihat lebih muda darinya itu berlalu setelah Elena mengangguk dan memberikan senyum manisnya.
Elena mengedarkan pandangannya, butik ini sangat mewah, modern, dan juga memiliki sofa yang sangat nyaman, benarkah dirinya akan bergabung di sini. Menjadi salah satu karyawan? Ah senang sekali. Rasa syukur terus dipanjatkan Elena pada sang maha kuasa.
Beberapa menit kemudian, seorang wanita paruh baya dengan paras yang sangat cantik dan memiliki tubuh yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek.
"Selamat datang Nona Elena," sapa seseorang yang berjalan menghampirinya.
Elena bangkit dari duduknya lalu mengulurkan tangan untuk bersalaman. "Apa kabar Nyonya Mei, panggil saya Elena saja."
Mei menerima uluran tangan Elena dengan hangat. "Hai Elena, jangan bicara formal dengan saya, santai saja," ucap Mei seraya terkekeh. Elena mengangguk karena ia pun tak begitu nyaman ketika berbicara formal.
"Saya suka sekali desain-desain yang kamu posting di i*******m, ada yang sudah pakai semua desain kamu itu?"
"Ada, sebagian nyonya."
"Baguslah, apa semua desain kamu posting di i*******m?"
"Tidak semua, ada beberapa yang saya hanya simpan di buku saya. Ini nyonya," Elena menyodorkan sebuah buku berisi gambar-gambar desainnya. Mei melihat-lihat semua gambar desain Elena yang belum pernah dilihat orang lain sebelumnya.
Elenapun menandatangani kontrak kerjasama antara dirinya dan butik Meisie. Masa percobaan selama satu tahun. Jika cocok, kerjasama bisa berlanjut sesuai kesepakatan. Mei memberitahu Elena ruangan kerjanya dan ruangan kerja Elena, dan memperkenalkan staf lain padanya.
"Oh ya, kamu sudah punya tempat tinggal?"
"Belum Nyonya, kemarin malam saya menginap di hotel belum sempat mencari tempat tinggal. Rencana hari ini saya akan mencarinya," tutur Elena yang sedang melihat-lihat koleksi butik Meisie bersama Mei.
"Kalau mau, ada satu apartemen milik keponakan saya. Dia tak memakainya dan pernah menawarkannya pada anak saya secara cuma-cuma. Tapi dikarenakan anak saya sudah memiliki tempat tinggal dan keluarga dan juga memiliki apartemen pribadi. Untuk itu dia tidak menggunakannya. Kalau mau kamu boleh tinggal di sana. Nanti saya bilang sama dia."
"Aduh nyonya tidak perlu, saya bisa mencari kosan sekitar sini." Mei menggeleng dan tersenyum.
"Tidak perlu sungkan Elena, adanya kamu sangat berpengaruh besar bagi butik saya. Apartemennya pun tak terlalu jauh ko, dia pasti tidak keberatan. Lagian dia tidak tinggal disana."
"Saya tidak tahu harus bagaimana, Nyonya Mei sangat baik. Terima kasih banyak nyonya."
"Iya sayang, kamu boleh bekerja mulai besok." Elena mengangguk, ia belum meninggalkan butik karena masih membicarakan soal apartemen yang Mei tawarkan.
Setelah mengobrol lewat ponsel bersama seseorang, Mei memberikan Elena alamat dan kata sandi apartemen tersebut. Elena terus mengucapkan terima kasih. Ia sangat bersyukur karena dipertemukan dengan orang-orang baik di kota besar yang membingungkan ini.
***
Elena tiba di kawasan apartemen mewah, ia terperangah. Salahkah ini? Elena akan tinggal di kawasan mewah seperti ini. Apa dirinya cocok? Sudah beberapa kali ia tanyakan pada sopir taksi tentang kebenaran tempat sesuai alamat yang Mei berikan padanya dan kalimat 'iya benar' menjadi jawaban dari pertanyaan Elena.
Kekaguman terus bertambah ketika Elena memasuki apartemen, matanya menyapu bersih setiap sudut apartemen. Elena menarik kopernya dengan mata yang masih memancarkan kekaguman dengan mulut menganga. Apakah dirinya berlebihan dalam menanggapi hal ini. Biarlah, karena memang ia sangat menyukai tempat tinggal milik sepupu Nyonya Mei. Siapa nama pemilik yang sebenarnya, ia harus mengucapkan terima kasih atau bahkan ia harus memberikan hadiah?
Sore ini Elena habiskan dengan membereskan semua barang yang ia bawa, dan beristirahat. Besok adalah hari pertama ia bekerja, Elena tak boleh sampai telat.
***
Makan malam ini sungguh sangat membosankan. Dua keluarga yang melakukan acara makan bersama, dengan tujuan yang sudah Alva ketahui. Alva Melviano anak pertama dari pasangan Roy seorang pengusaha, dan Rosie seorang desainer ternama Indonesia.
Suasana hati Alva semakin buruk karena seorang gadis yang berada di depannya saat ini. Audy Queena seorang model internasional yang dijodohkan oleh sang mama padanya. Alva bangkit dari duduknya, membuat alasan hanya karena ingin segera pergi dari tempat itu.
"Maaf saya izin ke toilet," ucapnya lalu berjalan meninggalkan mereka yang asik dengan pembicaraan masing-masing.
Setelah keluar dari area ruang makan, Alva segera melangkah pergi keluar rumah, mengendarai mobilnya. Ia ingin mencari tempat yang lebih menyenangkan ketimbang harus terus ikut paksaan dari Rossi untuk mengikuti makan malam dengan adanya tujuan terselubung.
***
Elena telah menyerahkan beberapa rancangannya pada Mei, setelah disetujui, pembuatan pakaian akan segera diproses. Kini Elena duduk santai seraya memainkan jarinya di atas layar ponsel miliknya. Selain merancang, ia pun mengerjakan hal lainnya. Seperti mencocokan setiap bagian ketika adanya pemotretan, melayani para pengunjung menjelaskan setiap koleksi yang ada disana. Jadi pekerjaannya bukan hanya sekedar merancang semata dan itu membuat Ellena tidak bosan.
Seperti hari ketiga Elena bekerja, ada pemotretan di butik Rosie yang ada di samping butik Meisie. Mei juga ikut melihat kesana dan mengajak Elena. Butik Meisie lebih fokus pada busana casual, sedangkan Butik Rosie yang pemiliknya merupakan kakak kandung dari Nyonya Mei merupakan butik gaun pengantin dan busana pesta.
Seorang fotografer sedang bekerja sama dengan pihak butik untuk mengikuti sebuah ajang fashion photography dimana hal itu bisa menguntungkan keduanya. Ajang tersebut tak hanya melihat hasil karya bidang fotografinya saja tetapi juga busana yang dikenakan dan yang akan dipamerkan.
Andres seorang fashion photographer sedang sibuk menelpon seseorang. Ia terlihat panik. Rupanya model perempuan yang sudah membuat janji dengannya belum juga datang.
"Andres, apa kamu sudah menghubunginya lagi?" Mei menghampiri Andres yang sibuk berbicara dengan asistennya.
"Sudah, baru saja ada kabar bahwa dia mengalami kecelakaan pagi ini. Beberapa model yang sering aku ajak untuk proyek lagi pada sibuk. Sedangkan aku hanya punya waktu hari ini saja, besok aku harus pergi ke china. Ini memang ajang besar tapi aku sangat sibuk dan hanya mempunyai waktu hari ini saja untuk pemotretan," ucap sang Fotografer bernama Andres itu seraya memijat kepalanya mungkin sudah pusing harus bagaimana.
"Terus Alva, apakah dia sudah datang?"
"Tuan muda baru saja tiba, dia sedang mengganti pakaiannya. Ah dia terlihat senang di tengah kepusingan," tutur Andres seraya terkekeh begitu juga dengan Mei. Elena yang sedari tadi mendengarkan mengernyit heran. Kenapa Andres dan Mei malah tertawa ketika membicarakan tuan muda. Siapa itu tuan muda?
"Dia belum juga berubah, setiap diminta untuk menjadi model pasangan ia memang sangat malas apalagi setelah pemotretan model wanita pasti selalu agresif terhadapnya," ucap Mei. Oh karena itu, kini Elena paham.
"Hai Nona, rasanya aku baru melihatmu?" Kini Andres mengalihkan perhatiannya pada Elena yang sedari tadi berada di samping Mei.
"Oh ini, desainer baru butikku. Perkenalkan namanya Elena Honora." Elena mengulurkan tangannya seraya tersenyum.
"Elena."
"Andres," kata Andres yang juga memperkenalkan diri.
Setelah bersalaman Andres memperhatikan Elena dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu senyumnya terbit. Elena yang melihat itu beringsut tak nyaman.
"Nona, apa kamu ingin membantuku?" tanya Andres.
"Jika saya bisa, saya akan membantu anda tuan," ucap Elena seraya tersenyum.
"Jadilah modelku.” Mata Elena membulat, lalu berusaha menetralkan ekspresi wajahnya.
"Haha anda bercanda tuan." Memang bagaimana bisa dirinya menjadi model. Elena sangat menyadari tubuhnya tak pantas untuk menjadi model, ia memiliki tinggi yang tidak memenuhi syarat seorang model. Tubuhnya memang tidak gemuk dan juga tidak kurus, tapi sepertinya juga tidak cocok.
"Bentuk tubuhnya bagus dan menurutku sangat cocok jika menjadi model. Apa dia punya akun i*******m?" bisik Andres pada Mei. Mei ikut memperhatikan tubuh Elena, benar juga kenapa dia baru menyadarinya.
Mei membuka akun i*******m dan melihat akun milik Elena dan memberikannya pada Andres. Andres puas setelah melihat foto-foto milik Elena.
"Ya dia sangat cocok. Bantu aku membujuknya," bisik Andres pada Mei.
"Tenanglah serahkan saja padaku."
Mei menghampiri Elena yang sedari tadi memandangi dirinya dan Andres dengan keheranan. Ia Pun membujuk Elena agar menyetujui permintaan Andres. Semua alasan yang Elena lontarkan untuk menolak ditimpali oleh Mei, sampai Elena tak bisa membalikan ucapan Mei lagi. Rupanya Mei sangat ahli dalam bujuk membujuk.
"Tapi kalo hasilnya tidak memuaskan bagaimana?"
"Tidak. Tidak akan," ucap Mei yang meyakinkan Elena lalu menarik tangan Elena menuju ruang ganti pakaian, menyiapkan Elena untuk mengikuti pemotretan.
***
Tangan Alva terus bermain di atas tab, dengan lincah ia menggerakan jarinya tak membiarkan setiap piringan dalam sebuah game itu lolos dari jangkauannya. Earphone yang sedari tadi bertengger di indra pendengarnya membuat Alva semakin intens dan lebih tangkap mengikuti alunan musik yang terdengar. Musik yang sudah sangat ia hafal ritme bahkan lirik yang sudah ada diluar kepala memudahkan Alva untuk berakhir menjadi pemenang.
"Alva ayo kita mulai." suara Andres menggema di ruangan tersebut. Alva tak mengindahkan panggilan itu karena yang ia dengar hanyalah irama lagu yang berasal dari benda kecil yang menguasai pendengarnya.
Andre yang sudah hafal betul apa yang sedang dikerjakan seorang Alva setiap waktu istirahat atau waktu kosong ketika sedang bekerja langsung menghampiri dan menarik melepaskan salah satu benda kecil itu dari telinga Alva.
“Aish,” gerutu Alva yang merasa terganggu. Tindakan Andres berhasil membuat Alva menoleh.
“Maaf tuan muda, saatnya kita mulai bekerja,” ucap Andres dengan nada suara penuh hormat. Sikap yang cukup Alva tak suka karena menurutnya itu cukup berlebihan.
"Loh bukannya dia gak datang?" Alva mulai mematikan tab masih dengan posisi duduk santainya.
"Sudah ada yang menggantikannya," ucap Andres.
Alva menghembuskan nafasnya kasar, menjadi seorang model adalah profesinya saat ini. Berawal dari pertemuan tak sengaja ketika dirinya masih duduk di bangku kuliah. Seorang fotografer profesional ini begitu saja menemuinya ketika Alva menghadiri acara yang sedang diadakan oleh butik sang ibu. Penawaran itu Andres lakukan tepat di depan Rosie dan tak dapat dipungkiri raut wajah senang itu terpancar dari wajah ibunya ketika mendengar anaknya ditawari sebagai model salah satu majalah bergengsi membuat Alva enggan untuk menolak. Sejak saat itu, profesinyalah yang menyelematkan ia dari perspektif sang ibu terhadapnya.
Sebuah perspektif yang cukup mengganggunya. Adanya perbandingan antara Alva dengan adiknya yang bernama Felicia. Ketidaksetaraan rasa dan sikap yang dilakukan Rosie terhadap kedua anaknya dan adanya kekangan yang mengharuskan seorang Alva menjadi seseorang yang Rosie inginkan.
Alva mulai bangkit dari duduknya memasuki ruang pemotretan. Kedatangannya mengundang perhatian semua orang yang ada di sana. Alva mengenakan tuksedo berwarna hitam, salah satu koleksi Rosie boutique.
Alva berjalan menghampiri Andres, matanya menoleh ke arah seseorang yang sedang duduk menggunakan Ball Gown. Mei juga berada disana.
"Hai Al, kamu sudah siap?" Andres yang mengetahui kedatangannya langsung menepuk pelan bahu Ava. Alva mengangguk mengiyakan.
"Perkenalkan ini Elena Honora, untung saja Mei punya desainer cantik ini jadi kita bisa meneruskan pekerjaan kita hari ini."
Desainer? Perasaan baru melihatnya.
***
Without a moment’s hesitation, I posted the security footage online, along with more than a dozen restored intimate photos.The second the footage and photos hit the internet, they blew up.At first, some people still refused to believe it. They insisted I had edited everything and said I was jealous of Tina’s success, so I was trying to ruin her on purpose.But as more and more people came forward to confirm that the video was real, public opinion started to shift. One man even came forward under his real name and admitted he was one of the men Tina had been seeing.As the scandal kept growing, more and more people started speaking out online. Even the police statement from earlier became powerful proof. Tina’s reputation went into free fall.People dug up all kinds of dirt on her. Even her hotel hookups and abortions were exposed one after another.And just as I had guessed, that pregnancy report had indeed belonged to Tina. She had simply used my name on it.A lot of people c
Sam used his status as the so-called victim to build a huge following online.He and Tina were even praised by countless people as the perfect couple. A lot of commenters said the two of them were the reason they still believed in love.As for me, every time I went outside, I was met with hostility from other women and hit with one cruel remark after another.I was even fired from my job because they said my reputation had become too damaging. They refused to pay me the wages they still owed me.Not even my parents, who lived far away in my hometown, were spared.People dug up every detail about my family. Some even tracked my parents down, harassed them in person, and threw spoiled eggs at them.Our relatives blamed them for raising a shameless daughter and pressured them to cut ties with me.Even the neighbors banded together and demanded that my parents move out of the neighborhood. They said they refused to live next to a family with no morals.Once I had gathered enough ev
Tina used me as her star example during the livestream, flashing high-definition private photos of me across the screen. Mixed in were even a few intimate bedroom photos of me and Sam.The moment I saw those pictures, it felt like my whole heart dropped into ice. Nausea surged up from my stomach so violently that I couldn’t hold it back.I threw up on the spot. Only then did the crushing pressure in my chest ease a little.Those photos had only ever existed on Sam’s phone. And now Tina was putting them on public display without the slightest hesitation.Using my pictures, she started lecturing viewers on all the so-called ways to tell whether their girlfriend was still a virgin.She even pointed at my chest and said, “Any woman built like this has definitely been around.”The livestream comments instantly filled with disgusting remarks from male viewers. Countless people picked apart my body, and even Tina joined in.Some people in the comments cursed me out, asking if I was so
Out of the corner of my eye, I caught a glimpse of the inside of Tina’s raised arm. A faint butterfly tattoo peeked through.That was when I finally remembered.Sam had designed that butterfly tattoo especially for Tina. His initials were even hidden in the wings.Keeping my expression calm, I casually asked Sam whether the original tattoo design could have been leaked. When he flatly said no, a bold thought began to take shape in my mind.What if the woman in those photos wasn’t me at all?What if it was Tina?I zoomed in on the photos again and again, studying every small detail. The longer I looked, the more certain I became. All at once, everything that hadn’t made sense before suddenly clicked into place.If the woman in those photos was Tina, then it made perfect sense that she had that thick stack of hotel receipts.I pointed to the bit of tattoo showing in one of the photos and pretended to study it more closely.“Tina, I’m pretty sure you have that same tattoo too. It
Keeping my face cold, I pulled out a photo of me with my mother and held it up for everyone to see, asking Tina if she even knew what genetics were.The moment she saw the picture, she acted like her professional authority had been insulted. Flushed with anger, she snapped at me, “And how do we k
Tina stared at me in disbelief. She stumbled back two steps, then threw herself into Sam’s arms and burst into tears.He comforted her softly, but when he looked at me, his eyes were full of disgust.Turning around, Tina let tears stream down her face. “Xena, I wanted to keep this secret for you.
Later, I was raped and left dead on the side of the road, with no one even bothering to claim my body.Meanwhile, Tina became a nationally famous influencer doctor. She got everything she wanted: fame, money, Sam, and a picture-perfect family with both a son and a daughter.“Xena Spencer, you slut
“Sam, I had no idea you were so into fondling boobs. Just look at what you’ve done to Xena.”Hearing Tina Lincoln joke with Sam Gibson in that half-teasing tone, I dug my nails into my palms until tiny beads of blood rose to the surface.In my last life, I had deliberately worn a fitted top becaus












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
commentaires