Short
The Day We Got Our Marriage License, His Childhood Friend Claimed I’d Been Sleeping Around for Years

The Day We Got Our Marriage License, His Childhood Friend Claimed I’d Been Sleeping Around for Years

โดย:  Perfect Timingจบแล้ว
ภาษา: English
goodnovel4goodnovel
11บท
3.6Kviews
อ่าน
เพิ่มลงในห้องสมุด

แชร์:  

รายงาน
ภาพรวม
แค็ตตาล็อก
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป

My boyfriend, Sam Gibson, had a childhood best friend named Tina Lincoln. She was a star medical student. On the day Sam and I were supposed to get our marriage license, Tina took one look at the tight top I was wearing and flat-out claimed I had been sleeping around for years. She pointed at my chest with obvious disgust. “If men hadn’t been all over you, there’s no way your breasts would be this big.” Sam believed her completely. He started cursing at me, calling me a slut who had sleep with anyone, and refused to go through with the marriage license. I tried over and over to explain, but Tina just sneered at me. “People may be more open-minded these days, but that doesn’t mean you can sell your body and make your chest that big.” She used me as some kind of “example,” started a livestream to lecture people online, and exposed all my personal information. After that, strangers kept sending me disgusting, harassing messages, asking how much I charged for a night. Some even followed me and tried to force themselves on me. I begged her to clear things up for me, but she just shrugged and said, “If you never did that kind of thing, why would people be asking you?” In the end, I was assaulted and killed. And she went on to become a nationally famous influencer doctor, gaining fame and money at the same time. When I opened my eyes again, I was back on the day I was supposed to get my marriage license with Sam.

ดูเพิ่มเติม

บทที่ 1

Chapter 1

Irama sepatu skets terdengar berdecit dengan lantai keramik saat sesosok gadis berlari kecil menyusuri lorong kampus di lantai 3. Jam kuliah yang bergeser memaksa Zeni untuk pandai mengatur waktu antara kuliah dengan kegiatan organisasi di kampus.

Sepuluh menit telah dimulai perkuliahan dengan bapak Catur, saat Zeni mengetuk pintu kelas dan meminta ijin masuk serta memposisikan duduknya di tempat yang kosong.

"Aku telat hehe...., ini sudah slide keberapa?" Bisik Zeni pada Nia dengan fokus melihat layar proyektor.

"Slide ke 8, untungnya kamu telat di kelas pak Catur, coba telat di kelas dosen killer, pasti seru," kelakar Nia sambil mencatat beberapa informasi penting dari pak catur.

Perkuliahan siang ini memaksa mataku agar tetap on 100%, namun sayangnya daya tahan tubuhku tidak mendukung. Perlahan dengan pasti kelopak mataku mulai menutup sempurna diikuti reflek kepala yang menunduk dengan posisi duduk manis. Sungguh rasa kantuk yang menyerang laksana terbius ke buaian alam mimpi.

Cubitan dilenganku membuyarkan alam bawah sadar, untuk kembali ke dunia nyata.

"Terima kasih Nia, untung tidak ketahuan, lumayan aku bisa merehatkan badan sebentar," sembari merapikan jilbab.

"Iya .... cubitan kecil tidak apa-apa, dari pada ketahuan tidur. Kamu tidur kemalaman?"

"Aku semalam mengerjakan tugas Budgeting, nanti ada perkuliahan jam 3, biasa versi SKS (sistem kebut semalam) untuk pengerjaan tugas," kelakar Zeni dengan melihat jam dilayar ponselnya.

"Kamu nanti mau masuk kelas Budgeting atau bolos... kan ada jatah 3 kali absensi?" senyum Nia melihat Zeni yang masih mengantuk

"Masuk kelas dong, kelas mengulang, masa bolos!" cecar Zeni sambil mencari sosok Rian

"Aneh, tadi selepas rapat dia bergegas keluar ruangan, aku kira terus masuk kelas ternyata dia absen," gumam Zeni yang tidak menemukan keberadaan Rian.

Tanpa kami sadari gerak gerik dan percakapan kami tak lepas dari sorot tajam pandangan pak Catur.

"Saya pernah menjadi mahasiswa dan aktif juga dibeberapa organisasi, namun saya tetap memprioritaskan kuliah dan berusaha menjadi mahasiswa yang disiplin dengan membagi waktu sebaik mungkin," tekan pak catur diakhir perkuliahan ini dengan sorot mata tajam.

Deg... Zeni terkejut mendengar perkataan pak Catur, berarti sejak tadi gerak -gerik Zeni di awasi pak Catur,"gumam Zeni dengan tersenyum kecut.

Musholla yang terletak di dekat gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) menjadi penuh sesak saat waktu sholat ashar tiba. Terlihat aktivitas mahasiswa yang masih berjibaku dengan kegiatannya, mengingat minggu-minggu ini adalah persiapan terakhir dalam agenda persiapan orientasi mahasiswa baru. Setiap hari rapat digelar di kepanitian orientasi tingkat fakultas dan jurusan, bahkan ada mahasiswa yang merangkap menjadi kepanitian di fakultas dan jurusan. Hiruk pikuk aktivitas tersebut, menjadi tanda hidupnya mahasiswa dalam dinamika kehidupan kampus yang penuh warna. Dimana tiap mahasiswa yang beradu argument akan kukuh mempertahankan pendapatnya supaya dapat diterima dan di akui. Ritmi kehidupan kampus yang menuntut kreatifitas dan berpikir kritis menumbuhkan sosok pribadi yang unggul dengan mengedepankan pola pikir logis yang mengusung prinsip idealisme.

Selepas sholat ashar Zeni bergegas melangkah kakinya menuju kelas Budgeting.

"Beruntung on time tiba di kelas Budgeting," gumam Zeni dengan helaan nafas lega sembari mencari kursi yang kosong untuk ditempati.

Komting mulai mengumpulkan tugas perkuliahan, setiap mahasiswa dengan sigap menyerahkan tugasnya masing-masing. Diskusipun dimulai selepas tugas terkumpul. Materi diskusi seputar proyeksi penjualan pada perusahaan dagang.

Fokus Zeni mulai buyar saat sesi akhir diskusi mengingat jam menunjukkan pukul 17.00 dengan kondisi cuaca hujan lebat. Kelaspun tetap berlanjut walaupun sudah melewati jamnya.

Tepat pukul 17.30 perkuliahan selesai dengan hujan yang masih setia mengguyur kampus ini. Sembari menunggu hujan reda Zeni duduk di gazebo sambil mengecek surat yang akan didistribusikan besok. Terkejut saat melihat ada selembar surat dengan KOP kepanitiaan orientasi Fakultas.

"Gawat ... Kenapa surat ini bisa terdapat di mapku ya? pikir Zeni sambil mengingat rapat tadi siang.

Saat rapat kepanitiaan orientasi jurusan Zeni duduk bersebelahan dengan Rita. Banyak mahasiswa yang merangkap kepanitian orientasi jurusan dan fakultas termasuk Rita . Kami sama dibagian humas dalam kepanitian orientasi jurusan. "Pantesan tadi Rita salah memberikan surat ini, harusnya surat yang ber-KOP orientasi jurusan," gumam Zeni

"Aku harus bersegera menyerahkan surat ini ke sekretariat BEM," pikir Zeni

Terlihat sosok Rian yang berjalan menuju Gedung PKM, tanpa pikir panjang bergegas Zeni berlari kecil menghampiri Rian tanpa menghiraukan rintik hujan.

"Rian, aku boleh minta tolong membawa surat ini ke sekretariatan BEM," ucap Zeni sambil menyodorkan surat yang dibungkus map plastik.

Dahi Rian berkerut mendengar perkataan Zeni, sambil melihat map plastik.

"Buang saja surat itu, sudah tidak penting?"

"Apa maksud kamu?" Zeni heran mendengar jawaban Rian

"Siang tadi, Surat itu sudah didistribusikan ke Dekan," sungut Rian sembari melangkahkan kakinya menuju gedung PKM

"Berarti surat ini untuk arsip saja?" tanya Zeni, mengikuti langkah Rian

"Kamu tahu, semua panitia orientasi Fakultas mencari keberadaan surat tersebut?" ucap Rian menghentikan langkahnya

"Aku baru tahu selepas kelas Budgeting, suratnya tertukar dan berada didalam mapku?" jelas Zeni

"Itu urusan kamu, Ketua panitia mencari kambing hitam atas hilangnya surat tersebut. Semua panitia terkena dampaknya atas ketidakprofesional dan terlambatnya deadline distribusi surat!" tegur Rian

"Hai Rian, nanti selepas maghrib ada rapat orientasi Fakultas di sekretariat BEM?" ucap Frans menghampiri Zeni dan Rian

"Ada rapat dadakan?" selidik Rian

"Efek tadi siang, ketua panitia terus evaluasi kerja kepanitiaan. Kayaknya masih sewot? cecar Frans

"Urusannya sudah selesai Zeni, sebentar lagi Maghrib, kamu cepat pulang ke kos?" tawar Rian

Semenjak tadi Frans agak curiga melihat interaksi keduanya, apalagi terlihat wajah Zeni yang khawatir.

"Memang ada apa Rian, kamu masih emosi gara-gara tadi disudutkan sama Roy untuk mencari surat yang hilang?" Frans menatap curiga

"Maksudnya apa Frans, ada masalah Rian dan Roy?" tanya Zeni

"Kamu tahu, tadi siang Rian mencari keberadaan Rita, sampai akhirnya Rian sendiri turun tangan membuat surat baru dan mendistribusikannya sendiri." Jelas Frans

Terkejut Zeni mendengar penuturan Frans.

"Sudah, aku tidak apa-apa, lekas pulang?" tekan Rian

"Kamu mau pulang sekarang? Jam segini sudah tidak ada angkot, kalau sendirian mending cari tebengan?" saran Frans

"Kamu diantar Rita saja pulangnya, pakai motorku," ucap Rian sembari menyerahkan kunci motor ke Zeni.

"Terima kasih, maaf sudah merepotkan." jawab Zeni dengan sungkan menerima kunci dari Rian.

Bergegas Frans dan Rian pergi ke gedung PKM untuk mempersiapkan rapat.

Bola mata Zeni berkeliling mencari sosok Rita, terlihat Rita sedang duduk di gazebo. Bergegas Zeni pergi menghampiri Rita.

"Rita, tadi ada masalah ya? Terkait surat yang hilang?" tanya Zeni dalam perjalanan.

"Kamu sudah tahu dari Rian?" selidik Rita dengan fokus mengendarai motor

"Frans yang cerita, sepertinya emosi mereka belum surut?" cecar Zeni sembari memberi isyarat untuk berhenti.

"Aku yang salah, teledor memberi suara kepadamu? Sebaiknya cek terlebih dahulu surat yang aku kasih ke kamu, tugasku rangkap kepanitiaan jadi suratnya juga tercampur." jawab Rita dengan datar.

"Terima kasih sudah mau mengantarkanku, mau mampir sebentar?" tawar Zeni sembari turun dari motor

"Lain kali Zeni, sebentar lagi ada rapat" jawab Rita dengan tersenyum.

Rita melajukan motornya menuju kampus. "Aku benar-benar tak habis pikir, mengapa rencanaku bisa gagal. Apa keistimewaan Zeni? Mahasiswa biasa malah cenderung udik dan kuno. Kenapa Rian malah terus membantunya?" sungut Rita dengan kesal.

แสดง
บทถัดไป
ดาวน์โหลด

บทล่าสุด

บทอื่นๆ

ถึงผู้อ่าน

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

ความคิดเห็น

Yuukina
Yuukina
Well...no! too much dramas and a pathetic regret in the end...
2026-04-08 06:58:05
1
0
nibbon
nibbon
There is only one chapter where everything is corrected and “justice” is served. The rest is just torturing the FL again. It makes it so pointless to read
2026-07-25 06:17:48
0
0
11
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status