FAZER LOGINFound in the marooned ruins of Chavand was a book ripped and torn. Its yellowed pages eaten up and coiled. Forgotten and unheard about was this book until it came to light. His legends lived on, his tales of valour prevailed. His glory seemed enternal and he was worshiped and adored. But his heart remained shrouded in a cloak of mystery. His emotions, his turmoils went unnoticed in an attempt to make him great. Seen as someone who was invincible and immortal, the Rana changes your perspective from his greatness to his soft heart. Written across the pages during his last moments, he wrote his own life. Where bards would be at a loss and poets were simply lost in his glory and valor, the Rana is said to be the only one who could write about himself.
Ver maisJovanka adalah seorang gadis berusia 20 tahun, yang hidup di kontrakan sempit dan harus banting tulang untuk biaya pengobatan adik nya yang sakit-sakitan.
Hari ini adalah hari tersial bagi Jovanka karna dirinya dipecat dari pekerjaannya. Dan pihak rumah sakit pun tak bisa memberikan keringanan baginya. "Dokter, saya mohon jangan hentikan pengobatan adik saya. Jangan lakukan itu Dokter, saya berjanji akan segera melunasinya." Mohon Jovanka dengan menangkup kedua tangan nya di dada. "Maafkan saya Nona, ini semua sudah jadi kebijakan Rumah Sakit. Kami tak bisa memberikan keringanan lagi." Ujar Dokter berusia sekitar 40 tahunan itu sedikit menunduk . "Bagaimana dengan adikku," Lirih Jovanka dengan kepala menunduk . Rasanya ia tak dapat melakukan apa-apa lagi, sudah banyak yang ia kerjakan untuk mendapatkan biaya pengobatan adik nya. Tapi nyatanya tak akan bisa menutupi biaya pengobatan adik nya. Adik nya yang mengidap kanker otak selalu bolak balik Rumah sakit. Sementara kedua orang tua mereka sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Dan beberapa hari lalu saat ia pulang ke kontrakan setelah bekerja, ia mendapati adiknya dalam keadaan tak sadarkan diri. Gadis itu terpaksa membawa kembali adiknya kerumah sakit dan hanya Jovanka lah yang menanggung biaya kehidupan dan juga pengobatan adiknya itu. Bibir wanita itu bergetar hingga tak lama kemudian terdengar suara Isak tangis. Tubuh nya merosot ke bawah dan menenggelamkan wajahnya di kedua paha. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menghampiri nya dan memberikan sebuah kartu nama. Jovanka tak langsung mengambil kartu nama itu karena masih dilanda kebingungan. "Kami dari Yayasan yang bekerja sama dengan Rumah sakit, terkait masalah anda kami akan memberikan bantuan dana. Anda bisa temui pemimpin kami lebih dulu Nona." Ujar Pria berpakaian rapi dengan ramah. "Anda bukan sedang bercanda kan Tuan? ini benar kan?" Sangkinkan senang nya Jovanka sampai memegang kedua tangan Pria itu. "Ya Nona." Jawab Pria itu dengan tegas dan langsung melepaskan genggaman tangan Jovanka. "Kapan saya akan menemui Pemimpin anda?" Tanya Jovanka dengan raut wajah penasaran. Sungguh ini adalah kabar baik bagi dirinya yang sedang putus asa memikirkan biaya pengobatan adiknya. Terlebih adiknya hanya sampai besok pagi saja boleh tinggal disana, setelah itu harus meninggalkan rumah sakit lantaran ia tak dapat membayar tagihannya. "Silahkan ikuti saya, Nona." Ujar Pria tersebut dan berjalan lebih dulu mengarahkan jalan pada Jovanka. Jovanka melangkah hingga memasuki salah satu ruangan, yang pastinya bukan ruang rawat. Di dalam sana seorang pria paruh baya dengan seorang pria yang berdiri di depan pintu. "Silahkan duduk, Nona." Ucap Pria itu. "Perkenalkan, nama saya David." Jovanka yang tadinya sudah sangat percaya diri berubah menjadi sedikit takut. Terlebih raut wajah orang yang ada di dalam sana sungguh menakutkan baginya. "Jangan khawatir, Nona. Saya disini hanya ingin menawarkan kerjasama dengan Anda." Jovanka mengerjapkan matanya, merasa bingung dengan keadaan saat ini. Bukankah tadi dia mendapat tawaran dari salah satu Yayasan, lalu mengapa menjadi kerja sama? Bahkan dirinya tak memiliki apapun untuk di kembangkan. "Tapi saya tidak punya apa-apa, Tuan." Ucap Jovanka pelan menatap sebentar ke arah David lalu kembali menundukkan kepalanya. Mendengar ucapan gadis dihadapan nya itu tak ayal membuat pria itu terkekeh. "Saya tak menginginkan apapun kecuali dirimu."Tubuh Jovanka menegang mendengar ucapan Pria paruh baya di hadapan nya ini.
"Bukan untuk saya, tapi untuk putra saya." Lanjut David dengan cepat. "Putra?" Beo Jovanka. "Saya ingin memberi penawaran. Kau menikah dengan putraku dan seluruh biaya pengobatan dan kehidupan adikmu akan kupenuhi." Ucap David dengan Tegas. Kedua mata Jovanka tampak berkaca-kaca, dirinya sangat membutuhkan uang. Bukan untuk kesenangan tapi hanya untuk kelangsungan hidup adiknya. Ia tak ingin jika keluarga satu-satu nya yang ia miliki pergi meninggalkan nya. Namun haruskah ia menerima tawaran pria paruh baya yang di hadapan nya ini. "Ron, berikan kontrak kerjasamanya," Seorang pria yang menjadi tangan kanan David pun mendekat dan memberikan lembaran kertas di hadapan Jovanka. "Silahkan kau baca terlebih dulu, Jika ada yang tak berkenan di hati mu silahkan di tolak." Ujar David. Dirinya tak akan membuat poin-poin yang kiranya tak masuk akal. Karena yang ia ingin kan hanya orang yang akan merawat putra nya. Namun jika takdir cinta datang di antara keduanya, dirinya pun tak akan melarang hal tersebut. Pastinya pun dia sudah mencari tahu tentang kehidupan Jovanka sebelum membuat penawaran ini. Jovanka membaca satu persatu kata yang ada di sana, tak ingin melewatkan satu hal apapun. karna tak ingin mendapatkan masalah dikemudian hari lantaran kontrak kerjasama itu. "Tapi adik saya akan tetap mendapatkan perobatan kan Tuan?" Tanya Jovanka memastikan. "Ya, setelah kau tanda tangan kontrak ini. Adik mu akan kembali mendapatkan pengobatan nya dan jauh lebih baik dari sebelumnya. Dan begitu kau menikah dengan putra ku, kau akan mendapatkan tempat tinggal yang nanti nya akan ditinggali adik mu." Ujar David panjang lebar. Tanpa memikirkan dan menunda-nunda lagi. Jovanka membubuhi kertas tersebut dengan tanda tangan nya. Tentu saja David mengulas senyum bahagia melihat nya. Bukan menganggap gadis ini bodoh, tapi ia merasa kagum dengan keberanian gadis ini dalam mengambil tindakan. "Ron, pindakah ruang rawat adik nya ketempat yang lebih baik dan berikan pengobatan terbaik." Perintah David pada tangan kanan nya dengan tegas. Lalu, David kembali kepada Jovanka. "Tiga hari lagi kalian akan menikah, di Gereja milik keluarga kami. Tak perlu memikirkan hal apapun, karna semuanya akan kami penuhi" Ujar David tersenyum tipis."I'll leave now Raoji," smiled Kunwar Pratap joining his palms. "I'm extremely grateful for everything you'll have done.""But...why are you leaving so soon? Weren't you supposed to go next month?" Asked a concerned Rani Hansabai."Maasisa...I actually have a lot of work left to do. So...it's best I leave. Khamma ghani." He greeted and left.Just then Ajabde entered the palace premises with Saubhgyavati and looked at Kunwar Pratap who was ready to leave.His eyes were fixed on her in an expectancy that she'd stop him; but Ajabde simply smiled and joined her palms saying, "Khamma ghani. I hope you have a safe journey."He gaped at her aghast thinking, will you not stop me? Did you only want me here for the fair? Is that it? "Dadabhai..." called Kunwar Shakti who had come along with Rawat Chundawat into the palace. "Let's leave tomorrow.""No bhai
Ajabde sat with a beaten look across her face. Over the past few weeks she had tried to follow the plan that she and Kunwar Shakti had so gaily made; but it all fell flat as soon as the man who arrived from Chittor killed himself with lead even before he could get arrested.The whole matter came in front of Rao Ram Rakha and Kunwar Pratap who rigorously chastised her. Kunwar Pratap was furious that despite his order, Ajabde had secretly gone ahead with the investigation.Rao Ram Rakha was enraged that his daughter didn't find it important to tell him anything. She was confined to her room till the Bijolia fair began.The rest of the preparations were successfully completed by the three princes of Bijolia along with Kunwar Pratap's friends under his vigilance.Ajabde was still sulking in anger. She was irritated with Kunwar Pratap's stupidity and annoyed that her father himself refused to listen.
Ajabde stared at the dead body until she heard footsteps from behind her. Turning around she saw Kunwar Shakti, who looked visibly enraged.He looked at her for a moment and then began checking the dead body for a clue of any sort. Ajabde simply watched him without a single expression on her face.Finally Kunwar Shakti pulled out a scroll and glanced at Ajabde who's eyes finally narrowed looking at the letter."Let's go before someone comes here." Suggested Ajabde and led the way.Exiting the investigation bureau, the two went into her room.Opening the scroll Kunwar Shakti's eyes nearly fell out of his sockets."What is it?" she asked him and he simply handed the letter to her."The work should be completed." She read aloud in discombobulation and then looked at the bottom of the letter. "This is inner palace emblem right?" She asked looking up at him.
"Before Jaivanta and her son comes back, I have to do something." Grunted Rani Dheerbai clenching her jaws.Rana Udai Singh had already dispatched a formal letter asking the queen to return. At the end of the day, it was his character and reputation at stake.People had begun gossiping about the fallout between the maharani and the Rana of Mewar. Rumors spread that all of this was Dheerbai's doing.But the third wife of Rana Udai Singh, just didn't seem to bother; neither was the rana showing any interest in such baseless allegations against his favourite wife. After all, this wasn't the first time where people were speaking ill of his favourite queen."What are you going to do then?" asked the ten year old Kunwar Jagmal."Let me think," she muttered and then glanced at her son saying, "why don't you meet your daajiraj?"The ten year old shrugged and went away. Kunwar Jagmal was Rana Udai Singh's favourite son. Born o
"I'll kill him myself!" exclaimed Shams Khan, the moment he heard that Kunwar Pratap was in Kashi."Not now Shams, not now." Replied his brother Shamsher Khan with a wicked grin on his face. "Let's lure him and then trap him.""What do you plan to do?" asked Shams Khan i
"I see..." mumbled Aachraya Raghavendra nodding his head sceptically. Something like this is quite expected from Kunwar Pratap. I would be surprised if he wouldn't decide to take sanyas. Thought the guru."How do I convince him out of this?" asked Maharani Jaivantabai sounding desper
"RANIMAA....RANIMAA..." Called out Kunwar Shakti dashing into Rani Sajjabai's room. "Pack your bags.""What?" she asked in confusion as she got off the bed after putting Vikram to sleep. "Kunwar Shakti, what are you talking about?""Maa, before you are kicked out by that brainless k
"What's that!" She exclaimed as she picked up the old parchments lying on the floor.She flipped the pages, some were torn, some crumpled and the wordings obscure.






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
avaliações