MasukFound in the marooned ruins of Chavand was a book ripped and torn. Its yellowed pages eaten up and coiled. Forgotten and unheard about was this book until it came to light. His legends lived on, his tales of valour prevailed. His glory seemed enternal and he was worshiped and adored. But his heart remained shrouded in a cloak of mystery. His emotions, his turmoils went unnoticed in an attempt to make him great. Seen as someone who was invincible and immortal, the Rana changes your perspective from his greatness to his soft heart. Written across the pages during his last moments, he wrote his own life. Where bards would be at a loss and poets were simply lost in his glory and valor, the Rana is said to be the only one who could write about himself.
Lihat lebih banyak“Akh!” Suara wanita dalam gelap.
Wanita itu langsung melingkarkan tangannya pada leher sang CEO. Saat ini, sedang siaran langsung dari seorang CEO yang dirumorkan penyuka sesama jenis, tapi siaran ini bukan untuk klarifikasi masalah orientasi seksualnya. Lampu ruangan itu mati, tapi kamera profesional terus menyala dan sedang disimak seluruh penjuru negeri, bahkan tak sedikit dari luar negeri. Hanya sekian detik saja. Begitu kembali menyala, semua pasang mata tercengang. Seorang wanita cantik kini berada di atas pangkuan Alan dan memeluknya dengan degupan jantung cepat. Hanya dalam hitungan menit, grafik pemirsa di monitor menembus angka jutaan dan menempatkan siaran langsung itu di posisi pertama trending topic. “Pak, saya–” Dia mendorong dada pria itu ingin lepas, tapi gagal. “Diam. Aku tidak mau wajahmu diketahui publik.” Alan menekan bahu Ellena, memastikan wajah sekretarisnya itu tersembunyi. Sedang dia masih menatap kamera dengan wajah datar dan tenangnya. Sedang Ellena duduk tegang dengan wajah yang disembunyikan dalam ceruk leher atasannya. Dia pun tak tahu kenapa tiba-tiba ada dalam pangkuan Alan. ‘Siapa yang tadi mendorongku?’ batin Ellena. Dia mengingat saat kejadian tiba-tiba ruangan gelap. Ada yang mendorongnya hingga berakhir di atas pangkuan CEO-nya. Tak ada waktu memikirkan itu, yang harus dia pikirkan bagaimana caranya tidak ceroboh saat ini. Jangan sampai menuai masalah yang lebih besar lagi, kalau dia membuat kesalahan. ‘Akhh!’ pekik batinnya sambil menekan rahang. Wanita itu menahan nyeri hebat di kepalanya. Berharap jangan kambuh saat ini. ‘Kenapa aku sampai lupa minum obat?’ Lensa kamera masih menyala. Awalnya, siaran langsung itu digunakan untuk klarifikasi soal produk terbaru perusahaan yang mengalami masalah ketika sampai di tangan konsumen. Akan tetapi, sekarang malah menyiarkan adegan intim seorang CEO yang dirumorkan penyuka sesama jenis ini. Di sisi ruang, tim lain memantau pergerakan grafik pemirsa yang terus melonjak. Mereka tak berani memberi instruksi apa pun pada CEO mereka, meski adegan itu begitu kontroversi. “Pak Alan, posisi ini hanya akan memperburuk situasi.” Ellena kembali mencoba melepaskan diri dari dekapan Alan. Di luar dugaan. Alan malah mengubah posisi, memutar tubuh Ellena dan merebahkannya pada sofa panjang. Tubuh pria itu lantas condong, dengan lengan menutupi wajah Ellena. Dada Ellena tersentak kaget. Tangannya yang gemetar mencengkram sisi jas Alan, dan cepat memalingkan wajahnya dari lensa kamera. ‘Apa ini? Dia benar-benar gila!’ pekik batinnya. “Diam dan kita teruskan permainan ini!” bisik Alan tajam. Dahinya berkerut saat melihat wajah sekretarisnya yang sedikit pucat. Mata wanita itu melebar tegang. Sungguh dia tak sanggup menahan nyeri hebat di kepalanya lebih lama lagi. “Jangan seperti ini, Pak. Lepaskan. Saya tidak mau kalau—” “Siapa yang menyuruhmu? Sengaja melemparkan diri ke pangkuanku saat siaran langsung?” bisik Alan, sorot matanya tajam. Ellena menatap sorot mata tajam itu, hingga manik mata mereka saling beradu tatap sangat dalam. “Saya tidak paham dengan pertanyaan Anda. Tadi saya–” “MATIKAN!” Teriakkan seorang pria tua menggelegar di tengah ruang. Sorot mata sang Kakek itu begitu murka. Detik itu juga, siaran langsung dihentikan. Alan dan Ellena menoleh cepat. Masih dalam posisi itu, dan seketika ada besitan senyum miring tipis di satu ujung bibir Alan. Dalam pikirannya, sang kakeknya yang kejam atau salah satu keluarga Adhinata-lah yang berulah kali ini. “Ada komisaris, Pak.” Ellena ingin beranjak, tapi Alan malah menahan. Entah apa yang dipikirkan pria itu. Di sana, sosok Kakek Alan sedang berdiri dengan wajah merah. Di sampingnya ada keluarga besar Adhinata yang tampak kaget dan menatap jijik. “Alan! Apa yang kamu lakukan di tengah siaran langsung?! Mau menghancurkan perusahaan ini?!” teriak sang Kakek dengan wajah merah padam. Sedang keluarga lain saling melempar sorot mata tajam, dengan guliran mata tajam pada Alan dan Ellena. Sepertinya mereka kaget, kenapa yang bersama Alan malah sekretaris itu. Alan tidak langsung bangkit. Dia menatap mata Ellena selama tiga detik dengan senyum miring. “Bukannya sudah jelas? Aku sedang sibuk bermain.” Lalu, pelan beranjak sambil merapikan jasnya. Alisnya terangkat saat menatap sang Kakek dan keluarganya, tak lupa disertai senyum miring tipis. Disusul Ellena. Dia cepat-cepat merapikan penampilannya dan berusaha berdiri tegap. Namun, wanita itu malah memegang kepala menahan nyeri, berdirinya pun tak bisa stabil. Sang Kakek malah langsung berbalik pergi. “Temui kakek bersama wanita itu!” Ellena mengatup matanya sebentar mengumpulkan sisa kekuatan, lalu sorot mata tajamnya memindai wajah-wajah karyawan yang ada di ruangan itu. Tak ada yang bergelagat aneh. 'Aku harus cari tahu siapa orang itu kalau mau mengembalikan nama baikku. Setelah ini, mereka pasti akan mengira aku murahan,' batinnya. Sedang Alan membuang napas, lalu tatapan tajamnya jatuh pada Eric, asistennya yang baru saja datang dengan napas memburu dan wajah panik. "Maaf, Pak." Eric langsung merapat. Dia membisikkan sesuatu, "Tadi saya sedang mengamankan seorang gay yang akan digunakan mereka saat siaran langsung. Tapi saya benar-benar tidak tahu kalau mereka malah menyerang pakai cara lain." Tanpa menjawab, Alan berbalik dan menyambar tangan Ellena, membawa ke ruangannya. Kini, Ellena berdiri di depan pria berwajah dingin tanpa ekspresi itu. “Hey!” Alan memegang bahu Ellena yang hampir roboh. Matanya tajam menelisik wajah pucat dan keringat di dahi wanita itu. “Saya tidak apa-apa, Pak.” Dia berusaha bertahan, tangannya terkepal kuat di bawah. Pria itu menangkap ada yang aneh dengan sekretarisnya, tapi bukan urusannya. Lalu, Alan menarik napas dalam-dalam. “Menikahlah denganku. Kamu sudah lihat kekacauan itu, kan?” Ha? Ellena menatap tegang wajah pria itu. Dia hanya ingin bahagia di sisa umurnya, tidak ada pikiran ingin menikah. “Me … nikah, Pak?”"I'll leave now Raoji," smiled Kunwar Pratap joining his palms. "I'm extremely grateful for everything you'll have done.""But...why are you leaving so soon? Weren't you supposed to go next month?" Asked a concerned Rani Hansabai."Maasisa...I actually have a lot of work left to do. So...it's best I leave. Khamma ghani." He greeted and left.Just then Ajabde entered the palace premises with Saubhgyavati and looked at Kunwar Pratap who was ready to leave.His eyes were fixed on her in an expectancy that she'd stop him; but Ajabde simply smiled and joined her palms saying, "Khamma ghani. I hope you have a safe journey."He gaped at her aghast thinking, will you not stop me? Did you only want me here for the fair? Is that it? "Dadabhai..." called Kunwar Shakti who had come along with Rawat Chundawat into the palace. "Let's leave tomorrow.""No bhai
Ajabde sat with a beaten look across her face. Over the past few weeks she had tried to follow the plan that she and Kunwar Shakti had so gaily made; but it all fell flat as soon as the man who arrived from Chittor killed himself with lead even before he could get arrested.The whole matter came in front of Rao Ram Rakha and Kunwar Pratap who rigorously chastised her. Kunwar Pratap was furious that despite his order, Ajabde had secretly gone ahead with the investigation.Rao Ram Rakha was enraged that his daughter didn't find it important to tell him anything. She was confined to her room till the Bijolia fair began.The rest of the preparations were successfully completed by the three princes of Bijolia along with Kunwar Pratap's friends under his vigilance.Ajabde was still sulking in anger. She was irritated with Kunwar Pratap's stupidity and annoyed that her father himself refused to listen.
Ajabde stared at the dead body until she heard footsteps from behind her. Turning around she saw Kunwar Shakti, who looked visibly enraged.He looked at her for a moment and then began checking the dead body for a clue of any sort. Ajabde simply watched him without a single expression on her face.Finally Kunwar Shakti pulled out a scroll and glanced at Ajabde who's eyes finally narrowed looking at the letter."Let's go before someone comes here." Suggested Ajabde and led the way.Exiting the investigation bureau, the two went into her room.Opening the scroll Kunwar Shakti's eyes nearly fell out of his sockets."What is it?" she asked him and he simply handed the letter to her."The work should be completed." She read aloud in discombobulation and then looked at the bottom of the letter. "This is inner palace emblem right?" She asked looking up at him.
"Before Jaivanta and her son comes back, I have to do something." Grunted Rani Dheerbai clenching her jaws.Rana Udai Singh had already dispatched a formal letter asking the queen to return. At the end of the day, it was his character and reputation at stake.People had begun gossiping about the fallout between the maharani and the Rana of Mewar. Rumors spread that all of this was Dheerbai's doing.But the third wife of Rana Udai Singh, just didn't seem to bother; neither was the rana showing any interest in such baseless allegations against his favourite wife. After all, this wasn't the first time where people were speaking ill of his favourite queen."What are you going to do then?" asked the ten year old Kunwar Jagmal."Let me think," she muttered and then glanced at her son saying, "why don't you meet your daajiraj?"The ten year old shrugged and went away. Kunwar Jagmal was Rana Udai Singh's favourite son. Born o
"I'll kill him myself!" exclaimed Shams Khan, the moment he heard that Kunwar Pratap was in Kashi."Not now Shams, not now." Replied his brother Shamsher Khan with a wicked grin on his face. "Let's lure him and then trap him.""What do you plan to do?" asked Shams Khan i
"I see..." mumbled Aachraya Raghavendra nodding his head sceptically. Something like this is quite expected from Kunwar Pratap. I would be surprised if he wouldn't decide to take sanyas. Thought the guru."How do I convince him out of this?" asked Maharani Jaivantabai sounding desper
"RANIMAA....RANIMAA..." Called out Kunwar Shakti dashing into Rani Sajjabai's room. "Pack your bags.""What?" she asked in confusion as she got off the bed after putting Vikram to sleep. "Kunwar Shakti, what are you talking about?""Maa, before you are kicked out by that brainless k
"Take care." Pleaded an anxious Hansabai hugging her daughter and Saubhgyavati. "Don't skip your meals, don't mess around if there are problems, don't...""Maasa," smiled Ajabde gently holding her mother's hands. "Don't worry about us. Take care of yourself and daata."Touchin
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan