LOGINOn my eighteenth birthday, I met him. The day that was supposed to be my day felt utterly ordinary because of my parents status but fate had other plans . I met the Young Alpha Zayn, He promised to make my birthday memorable and turn my mundane birthday into a night of dreams if I agreed to go with him to his school ball. He kept his promise, The night was filled with memories together but it was short lived when he varnished with no trace leaving me alone in the ball room as a pawn for the other rich kids to play with . Now , Five years later , my destiny was sealed -I am to marry the Alpha of our park, I was going to meet him again after all these years of Admiring and Loving him from afar, He was going to be my husband, it was a dream come true but reality was far from it . Entering his world, I was met with a chilling truth:He turns out to not have a single memory of me except that I was the daughter of the poorest man in the park and the girl he was forced to marry . My marriage with him was a definition of Torment, Harsh reality and his never ending hatred for me , Soon the marriage was over and I was casted aside. I was no longer in love with him but yet my heart was filled with so much hatred for the man that I had loved so much. Years after I left the Marriage, We met again but I was no longer the weak wife he always tampered with and for some reason he no longer had so much hate for me but rather he wanted to remarry.
View More"Naya! Buka pintunya!"
Brak brak brak,"Naya!!"Teriakan berbarengan dengan gedoran pintu saling bersahut-sahutan memekakkan telinga penghuni rumah."Kanaya!!" jeritnya lagi.Sang penghuni rumah yang dipanggil namanya seolah enggan beranjak dari tempatnya, ia masih fokus dengan cat kuku di jemari lentiknya."Ber*ngs*k! Heh, pelakor! Keluar kamu! Atau aku robohkan rumah reotmu ini!" teriaknya lagi sembari kedua tangannya terus menggedor pintunya."Coba saja kalau berani! Jangan cuma bac*t doang digedein!" teriak sang empunya rumah tak kalah sengit."Dasar lo*te! Mana suami aku, HAH!!" umpatnya lagi.Kanaya berdecak kesal, mau tak mau ia menyudahi kegiatannya dan beranjak menuju pintu utama."Apaan sih? Teriak-teriak kayak orang gila tau gak!" cebiknya setelah membuka pintu. Kanaya bersandar sembari bersedekap dada, angkuh."Kamu yang gila! Mana suami aku!" nyolotnya dengan mata melotot.Kanaya memutar bola matanya malas, ia membuka lebar daun pintu."Cari aja sendiri!" ucapnya malas.Suci melangkah kasar menerobos pintu dan menyusup setiap sudut rumah Kanaya, membuka setiap kamar bahkan sampai ke kamar mandi. Dapur dan gudang tak luput dari penyusurannya. Namun, tak ia temukan apa yang ia cari.Kanaya masih bersandar di daun pintu sembari memainkan kuku-kuku yang baru saja ia cat, ia membiarkan Suci mencari apa yang ia cari."Ada gak?" tanyanya angkuh saat melihat Suci kembali keluar dengan bersungut-sungut."Ber*ngs*k kalian berdua! Si*lan!" umpatnya kasar."Kamu sembunyikan di mana? HAH!" Kanaya terkekeh melihat amarah Suci."Yang istrinya siapa? Kok nanya sama yang bukan istrinya!" cibirnya terkekeh membuat Suci kian meradang."Cepat katakan di mana, Bara!" desisnya mencoba mengitimidasi Kanaya. Namun, Kanaya justru kian tertawa terbahak melihat tingkah Suci yang bukan baru pertama kalinya berbuat demikian."Mau tahu Bara di mana?" ejeknya semakin membuat wajah Suci merah padam. Ia menarik sedikit kaos ketat yang dikenakannya di bagian dada, kemudian telunjuk tangan kanannya menunjuk ke dalam kaosnya sembari menatap remeh ke arah Suci. Detik berikutnya ia terpingkal melihat ekspresi Suci yang menurutnya menggelikan."Dasar pel*c*r si*l*n! Berengsek kamu!" hardik Suci sembari melayangkan tangannya hendak menampar Kanaya.Kanaya menatap tajam Suci sebelum tangannya berhasil mendarat di pipinya."Coba saja jika kau berani!" ucap Kanaya dengan tatapan tajam membuat Suci berdecih dan mau tak mau ia kembali menurunkan tangannya kesal."Bara itu suami kamu! Kenapa kau tanyakan dia padaku? Memangnya apa saja kerjamu hingga kau tak tahu di mana suamimu berada?" ucapnya menohok."Dan ya! Kau bilang apa tadi? Aku pel*c*r? Hey, buka matamu! Kau bahkan lebih tahu siapa diriku, karena anak buahmu mengintaiku setiap waktu!" ucapnya sembari mengarahkan telunjuknya tepat di depan wajah Suci.Ucapan Kanaya berhasil membuat Suci menegang, ia tak menyangka bahwa Kanaya mengetahui jika ia mengirim seseorang untuk mengintai setiap pergerakannya. Matanya bergerak ke kanan dan kiri, otaknya berpikir keras untuk mencari pembenaran."Apa maksudmu?" sanggahnya gugup.Kanaya tertawa lebar dan mengibaskan tangannya di depan wajah Suci."Suci, Suci! Kau pikir aku bodoh, HAH!" Kanaya melangkahkan kaki dan menjatuhkan bobotnya di sofa, membiarkan Suci diam mematung di depan pintu."Kenapa kau tak pasang CCTV saja sekalian di setiap sudut rumah ini, hem? Biar kau tahu, betapa hotnya permainanku dengan suamimu!" ucapnya kembali terkekeh.Suci bergeming tak menyela ucapan Kanaya."Kau yang tak becus menjadi istri, tapi kau menyalahkan aku. Berkoar-koar seolah aku merebut suamimu, kau menyalahkanku dan membuat namaku buruk. Kau ini waras apa enggak, sih? Pulanglah dan berkacalah! Dari awal pernikahanmu bukankah semua sudah dijelaskan secara gamblang dan sangat jelas oleh Bara? Kau lupa atau pura-pura lupa, hem?" jelas Kanaya santai tanpa menatap Suci sedikitpun.Suci bergeming, kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya. Tapi sayangnya ia tak bisa melakukan apapun, apalagi menyakiti fisik Kanaya. Pikirannya terlempar jauh pada ingatan 3 tahun yang lalu, dimana saat itu ia mengemis, memohon pada Wartini, ibunda Bara untuk menikahkan Bara padanya.flash back,"Tante, aku mohon ijinkan aku menikah sama Bara. Aku janji tak akan menuntut apapun, Tante!" rengeknya bersimpuh di kaki Wartini.Wartini bergeming, ia bingung harus melakukan apa untuk wanita keras kepala di hadapannya ini."Berdirilah! Saya tak suka dengan rengekan macam begini!" ketus Wartini yang memang tak merestui perjodohan Bara dengan Suci oleh suaminya."Tan-" Wartini mengangkat telapak tangannya tanda supaya Suci diam."Bicaralah dengan putraku, dan apapun yang dia putuskan maka itu juga keputusanku." ucapnya datar dan segera berlalu meninggalkan Suci yang masih bersimpuh di lantai.Bara masih duduk tenang sembari menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dengan menaikkan satu kakinya pada satu kaki yang lainnya. Ia masih menatap datar Suci yang sedari tadi merengek di kaki Ibundanya. Bagi Bara, perjodohan ini adalah beban baginya. Perjodohan ini hanya menguntungkan keluarga Suci yang merupakan pengusaha manufacture besar di tanah air.Sebelum meninggal, Ayah Bara meminta supaya Bara menikahi Suci untuk kepentingan bisnis kedua keluarga itu. Bara menolak karena dia hanya mencintai Kanaya.Wasiat sang Ayah hanya dianggap angin lalu oleh Bara, bahkan ia enggan melanjutkan perusahaan Ayahnya dan memilih membuka usaha yang bertolak belakang dengan latar belakang keluarganya. Aiden Kumbara, kini dikenal sebagai pemilik restoran ternama yang memiliki lebih dari 20 cabang di seluruh tanah air. Sangat berbanding terbalik dengan latar belakang keluarganya yang merupakan pengusaha di bidang manufakture seperti keluarga Suci."Bara, please! Aku gak mau nikah kalau gak sama kamu!" lirihnya pada Bara dengan tatapan memohon.Bara tersenyum miring menatap permohonan Suci."Aku sudah punya kekasih, Suci. Dan aku sangat mencintai dia!" tegas Bara membuat air mata Suci kian deras mengalir."Aku mohon, Bara! Kalau kamu tak menikahiku lebih baik aku mati saja!" ancamnya sembari bangkit berdiri."Silahkan! Justru menguntungkan bagiku. Aku bisa segera menikahi Kanaya tanpa harus tertekan oleh perbuatan Ayahmu!" jawab Bara santai."Bara!" decih Suci tak menyangka jika ancamannya tak berguna."Oke, Bara! Aku akan lakukan apapun yang kamu mau, asal kamu mau menikahiku!" putusnya."Suci, Suci! Sebegitu inginnya kah, kamu menikah denganku?" cibir Bara."Aku tidak mencintaimu, Suci!" tegasnya membuat mata Suci melebar seketika."Bara, oke! Aku tahu itu, aku akan biarkan kamu terus berhubungan dengan Naya sampai kamu bosan! Bahkan kalau kamu mau menikahinya sekalipun aku rela dimadu, asal kamu menikahiku, Bara!" rengeknya mengiba."Pernikahan bukan permainan bagiku! Aku hanya mau Kanaya yang menjadi istriku, satu-satunya!" tegasnya lagi."Tapi, orang tua kita menjodohkan kita, Bara. Bahkan, Ayahmu sebelum meninggal masih kekeh kamu menikahiku!""Perjodohan ini hanya menguntungkan bagimu, tapi tidak bagiku!" Bara sudah mengetahui yang sebenarnya bahwa Suci akan mendapatkan seluruh harta warisan Ayahnya jika menikah dengan Bara. Jika tidak, maka dia dan Ibunya tidak akan mendapat apapun dari Aryo Wijaya, Ayah suci."Lalu apa yang harus aku lakukan supaya perjodohan ini juga menguntungkan untukmu?" tawarnya lagi belum menyerah."Aku tak menerima tawaran apapun, karena tanpa kalian aku bisa berdiri sendiri!" jawab Bara tegas."Apa kamu yakin, Bara? Bagaimana kalau kabar kehamilanku tersebar ke seluruh kolega bisnismu? Apa kamu yakin masih bisa berdiri sendiri dengan nama yang sudah tercemar?" Suci tersenyum miring, membuat Bara meradang."Jangan gila, Suci! Apa kau tak malu mengakui jika ternyata putri seorang pengusaha ternama mengumbar tubuhnya untuk banyak pria?" desis Bara mulai terpancing."Aku dan Papaku punya kuasa, Bara! Aku bisa menghancurkanmu dalam sekali jentikan jari." ucapnya jumawa karena berhasil mengancam Bara. Ya, saat ini Suci memanglah tengah hamil dua bulan. Namun, dirinya sendiri tak yakin jika anak yang ia kandung adalah anak Bara. Karena mereka hanya melakukannya 1 kali dan itupun karena Bara ada di bawah pengaruh alkohol. Dirinya menjebak Bara dengan memasukkan obat perangsang dalam wine yang Bara minum. Hingga Bara berhasil masuk dalam jeratnya.Suci tersenyum miring melihat ekspresi Bara yang mulai terpancing."Jadi, apakah masih mau menolak perjodohan ini, Aiden Kumbara?" tanyanya sinis." Baiklah jika kau memaksa! Aku terima perjodohan ini!" senyum Suci mengembang seiring dengan ucapan Bara."Tapi, dengan syarat!" lanjut Bara yang membuat senyum Suci lenyap sudah."Syarat?" tanya Suci bingung."Iya! Kau tak berhak mengekangku untuk berhubungan dengan Naya seperti yang kamu ucapkan tadi. Dan jika suatu saat aku akan menikahi Naya, maka kau tak boleh menolak apalagi melarang! Paham?" hardik Bara membuat senyum licik terbit di bibir Suci."Baiklah! Aku setuju! Aku akan membiarkanmu tetap berhubungan dengan Naya! Tapi, aku mau pernikahan kita dipercepat jadi minggu ini!" tekan Suci lagi."Terserah!" jawab Bara kemudian melenggang pergi meninggalkan Suci dengan senyum mengembang di wajahnya.flashback off."Kenapa diam? Kau baru ingat perjanjianmu dengan Bara 3 tahun lalu, hem?" ucapan Kanaya berhasil menariknya dari ingatan masa lalu."Si*lan! Bagaimana Naya bisa tahu perjanjian itu? Pasti Bara sudah menceritakan semuanya! Sial!" umpatnya dalam hati."Jadi, disini siapa yang pantas dijuluki sebagai pelakor, hah?" hardik Naya tajam."Bangs*t kamu, Nay!' umpat Suci."Jangan playing victim dong! Kalau mau bersaing yang sehat!" ucap Kanaya sembari terkekeh."Lalu apa maumu, Nay?" tanya Suci geram."Tinggalkan Bara, atau tinggalkan harta Aryo Wijaya!" desisnya tajam membuat Suci menegang seketika. "Bukankah awal pernikahanmu hanya untuk mengambil harta Aryo Wijaya?" lanjut Kanaya lagi."Sebenarnya ada hubungan apa kamu dengan Papa?" geram Suci lagi.Kanaya tertawa sumbang melihat ekspresi Suci."Kau mau tahu ada hubungan apa aku dan Papamu? Eh, maksudku Papa tirimu?" ejek Kanaya membuat Suci benar-benar kelabakan. Selama ini hanya orang-orang kepercayaannya dan Ibunyalah yang tahu jika dia bukan anak kandung Aryo Wijaya, bahkan Bara sekalipun tak mengetahui akan hal ini. "Siapa kamu?" hardik Suci semakin geram."Aku Kanaya, sang upik abu yang kau cap sebagai pelakor dalam rumah tanggamu! Kenapa mendadak amnesia, Sayang!" cibir Kanaya dengan tawa renyah yang semakin membuat Suci kelimpungan."Kau!" hardik Suci menatap tajam Kanaya."Lakukan apa yang ingin kau lakukan! Tapi, aku tak akan tinggal diam lagi, Aulia Suci Wijaya!" balas Kanaya tepat di depan wajah Suci. Melihat ekspresi Kanaya membuat Suci ciut nyali. Ia menghentakkan kakinya kesal dan berlalu pergi meninggalkan rumah Kanaya dengan perasaan kesal bercampur takut.Selepas kepergian Suci, Kanaya menutup pintu kasar. Seketika tubuhnya luruh ke lantai dengan bersandar pada daun pintu. Seiring dengan luruh tubuhnya, air mata mengalir tanpa bisa ia cegah lagi."Maafkan, Naya, Ma! Naya lemah!" lirihnya sembari terisak. Bayang seraut wajah teduh milik Mamanya menari di pelupuk mata. Namun, juga sekaligus membuat amarah dan dendam di hatinya kian mencuat."Ratna, Suci! Kalian harus rasakan apa yang aku dan Mama rasakan!" Lirihnya dengan senyum licik dan tatapan penuh amarah.🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀The day had arrived, my birthday and the grand opening of the hospital. It was surreal seeing my dream come to life in the heart of the pack. From the moment I woke up, the house buzzed with activity. Liv was running around giving orders, my mom was double-checking last-minute details, and Zayn’s mom was in charge of the kitchen, ensuring the food would be nothing short of spectacular. I slipped into a pale blue dress that hugged me perfectly. Zayn had picked it out, and though I teased him about his choices sometimes, this one was flawless. As I stood in front of the mirror, Elian and Aria burst into my room, shouting, *“Happy Birthday, Mommy!”* They each held small bouquets of flowers, their grins lighting up my morning. “Thank you, my loves!” I scooped them into a hug, my heart swelling. They were more excited about today than I was, bouncing on their heels and talking over each other about “surprises.” I kissed their foreheads and shooed them out to finish getting ready. Whe
The soft breeze kissed my skin as I stood on the balcony, gazing out at the bustling preparations below. Everyone was hard at work, ensuring everything was perfect for the hospital’s grand opening, which also happened to be on my birthday. Liv had flown in from the city just a few days ago, and her organizational skills were in full force, balancing between logistics and last-minute details. Zayn’s mom and mine had joined forces, taking charge of decorations and refreshments. It was like watching two generals at work, directing the army of helpers with precision and flair. As much as I trusted them, nerves still fluttered in my stomach. I gripped the railing, my thoughts racing between excitement and anxiety. This hospital was more than a building; it was a culmination of years of dreams, struggles, and hope. I couldn’t afford for anything to go wrong. Suddenly, two strong arms wrapped around my waist, pulling me out of my thoughts. I gasped in surprise as Zayn’s deep laugh filled t
The ride back home was filled with laughter and endless chatter. Aria and Elian could barely contain their excitement as they recounted every detail of their time at Zayn’s house. “Mommy, did you know Daddy has a giant sword in his room?” Aria squealed, bouncing in her seat. “He said it’s for special fights! And oh! Grandma made me dresses—so many dresses! And I got to spin in them like a princess!” Elian, who was usually more reserved, chimed in. “Dad took me to the training grounds. He said I could be Alpha one day.” His chest puffed with pride. “He showed me how to hold a sword, too, but I’m not allowed to practice yet.” I smiled as I listened to them. Relief washed over me. The house that had once felt like a prison to me—cold, isolating, and oppressive—was now a place of joy and belonging for my children. Zayn had changed. Or maybe it was everyone who had changed, seeing him now through the eyes of Elian and Aria, who only saw their father trying to make up for lost time.By t
Zayn’s POvThe sound of little feet pattering on the stone floors echoed through the house as Elian and Aria explored every corner of their new home. I stood at the front door, watching as Aurora crouched to say goodbye to them. Aria clung to her leg for a moment before bounding back toward the maids who were already doting on her with dresses and accessories. Elian, on the other hand, was already eyeing me, a mix of curiosity and excitement in his eyes. Aurora stood and turned to me, a playful smile on her lips. “Good luck, Alpha,” she teased. “They’ve got a lot of energy.” I grinned and leaned in, brushing my lips softly against hers. “I think I’ll manage,” I replied. Her gaze lingered on me for a moment before she whispered, “Have fun.” With that, she stepped away and headed toward the car. As soon as the door closed, Elian came to stand beside me, his little chest puffed out like he was already the man of the house. “What are we doing today, Dad?” he asked, his voice full of d






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore