LOGINThree years ago, Capo Marco Rossi received an order from the Godfather. He was to leave and expand the Family territory. Before he left, he issued me a command the way someone would fasten a collar onto a pet. "Until I return, you will remain at the Godfather's estate. Remember your identity. Keep your legs closed." He gripped my chin, his voice carrying that kind of condescending gentleness that felt almost like charity. "When I come back, I'll give you a proper status." For my younger brother's medical expenses, I had no choice but to obey. Three years later, he returned with the wealth he seized from the West Coast Gambino Family, and there was a woman by his side. In front of the rose bushes at the Godfather's estate, he looked down at me from above, as if inspecting a dust-covered old possession. "Mia Moretti is carrying my child. I must take responsibility as a father. You've always been sensible. Endure this for now. Continue being my mistress." I lowered my head, my hand lightly stroking my still-flat abdomen. "Is that so?" I raised my head, a provocative smile on my face. "I have no objection. If the Godfather says it's acceptable, then it's acceptable."
View MoreBab 1. Salah Sebut Nama
“Itu masa lalu, lupakanlah!”
Samar Alisya mendengar suara Deva saat berjalan menuju kamar. Wanita tiga puluh tiga tahun itu baru saja selesai mengontrol ketiga anaknya. Tasya, Rena dan si bungsu Adante telah tidur lelap. Deva tengah berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. Sedikitpun tak ada prasangka buruk dengan siapa sang suami tengah berbincang. Sebagai direktur utama, Deva pasti sibuk dengan urusan bisnis. Begitu Alisya menduga.
“Iya, aku juga sebenarnya sukar melupakan malam itu. Apalagi akhir-akhir ini sudah mulai timbul rasa jenuh. Dia mulai membosankan. Tapi bagaimana lagi, harus tetap dijalani, kan?” lanjut Deva lagi.
Alisya tercekat. Langkahnya terhenti di ambang pintu kamar. Siapa maksud Deva yang mulai membosankan? Dengan siapa sebenarnya dia berbincang. Untuk pertama kalinya, Alisya merasakan kejanggalan. Wanita itu menajamkan pendengaran.
“Jujur, aku sebenarnya tidak bisa melupakan malam itu. Udah hampir sebelas tahun, tapi rasanya tetap berkesan hingga sekarang. Apalagi aku tak pernah merasakan sensasi seperti itu di pernikahanku ini. Mau bagaimana lagi, dia memang bekas istri orang, kan?” sambung Deva tak menyadari kehadiran Alisya.
“Mas?” sergah Alisya tersentak kaget.
“Eh, Sayang!” Deva tak kalah kaget.
“Mas lagi ngomongin apa dan dengan siapa?” tanya Alisya menghampri Deva yang tengah bersandar di bagian kepala ranjang. Mata teduhnya membulat sempurna.
“Baik, Pak! Jadi, langsung Bapak order saja melalui manager pemasaran besok! Yakinlah, produk kita asli, bukan barang bekas, hehehe …. Sudah, ya, Pak! Selamat malam!” Deva mengakhiri percakapan di telepon.
“Tadi itu ada client, dia ragu kalau sarung tangan buatan pabrik kita katanya bekas pakai yang didaur ulang,” lanjut Deva sambil membuka aplikasi hijau.
Alisya terpana. Ternyata Deva tengah membicarakan bisnis dengan salah seorang client. Wanita itu mencoba mengingat apa yang baru saja dia dengar. Salah dengarkah dia? Ya, mungkin hanya salah dengar. Deva tak mungkin macam-macam. Alisya menghibur hati yang sempat bimbang.
“Anak-anak sudah tidur?” tanya Deva tanpa mengalihkan tatapan dari layar ponsel. Jemarinya sibuk mengetik di aplikasi W******p.
“Sudah, Mas belum tidur?” tanya Alisya lembut sembari ikut duduk tepat di sampingnya. Segera Deva menjauhkan ponsel, itu membuat Alisya tak bisa melihat tampilan di layar.
Kembali Alisya tersentak. Kenapa suaminya bersikap aneh sekarang? Tak biasanya Deva merahasiakan sesuatu darinya, meski itu hanya sebuah chat. Sempat Alisya melihat ada pesan yang masuk. Entah dari siapa. Mungkin salah seorang client. Kembali dia berprasangka positif.
“Aku masih sibuk, Sayang! Ada client yang gagal nego dengan manager pemasaran kita. Aku harus menengahinya. Kamu tidur saja duluan!” titah Deva dengan ekspresi serius.
“Harus malam ini, ya? Emmm, baiklah, aku duluan, ya! Good night, Sayang!” ucap Alisya patuh.
“Em!” sahut Deva singkat.
Hanya ‘em?’ Alisya menunggu lanjutannya. Aneh, biasanya Deva akan menghadiahinya kecupan saat mengucap kata selamat malam. Kenapa malam ini tidak? Mungkin dia sangat sibuk. Begitu fokus dengan chat-nya. Lagi-lagi Alisya berprasangka baik.
Wanita itu lalu membaringkan tubuh. Lelah setelah beraktivitas seharian, membuatnya segera terlelap.
*
Entah berapa lama sudah Alisya tertidur. Wanita itu terjaga saat merasakan ada sentuhan di tubuhnya.
“Sayang, kamu masih capek, ya?” Itu suara Deva. Terdengar agak serak seperti menahan hasrat. “Kamu sudah tidur beberapa jam, Sayang. Udah tidak capek, kan?” Bibir Deva mulai menempel di telinga istrinya.
Alisya berusaha mengahalau kantuk. Sentuhan di daun telinga adalah isyarat. Embusan napas dari mulut Deva kian memburu, menerpa hangat tengkuk dan leher. Seketika kantukpun sirna.
Deva mulai mengecup lembut kening Alisya. Menyusuri seluruh wajah dan berlabuh di bibir ranumnya. Tangan kekar Deva mulai merayap di area sensitif Alisya. Sebenarnya Alisya ingin menolak, tetapi hati kecil tak ingin menyakiti perasaan pasangannya.
Lelah di sekujur tubuh setelah beraktivitas seharian belum juga hilang sepenuhnya, tetapi Alisya tetap harus menjalankan kewajibannya. Kewajiban memenuhi kebutuhan batin sang suami. Tanpa mengeluh, Alisya membalas, menunaikan tugas sebagaimana harusnya.
“Sayang ….” Deva memanggil lirih. Mata elangnya terpejam, dahi kekar itu mulai basah. Peluh membanjir di seluruh tubuh.
Alisya tak menyahut. Mata indahnya ikut terpejam. Menjalankan kewajiban dengan penuh rasa cinta. Benar yang dia pikirkan tadi sebelum tidur. Bahwa semua baik-baik saja. Deva hanya sedang sibuk dengan bisnisnya. Hingga lupa mengecup kening wanitanya saat ucap selamat malam seperti biasa.
Ini tahun kelima mereka menjalankan biduk rumah tangga. Keduanya berusaha menjaga sakralnya pernikahan yang telah mereka bangun bersama. Alisya dan Deva mengarungi samudra pernikahan dengan begitu indah. Tak pernah ada air mata, apalagi tangisan duka. Mengayuh bersama, menuju pulau cinta. Riak-riak gelombang adalah pelengkap semata. Bagai bumbu penyedap, penambah gurih romansanya.
Semua berjalan dengan ritme penuh cinta. Atas nama cinta, bahagia itu mereka reguk bersama. Tasya dan Rena juga baik-baik saja. Kedua saudara tiri itu mereka didik dengan ajaran yang begitu mulia. Tak ada perbedaan atas keduanya. Cinta dan kasih sayang mereka curahkan tanpa jeda.
Hingga cinta itu berbuah. Sang Pencipta menganugerahi mereka Adante, anak laki-laki yang sangat Deva damba. Sang mertua menyambut dengan penuh suka cita. Penerus garis keturunan telah dipersembahkan oleh Alisya. Seorang bayi tampan, sehat, dan cerdas.
“Kamu sudah, Sayang?” bisik Deva begitu lembut di telinga Alisya. Peluh menetes dari dada pria itu, membasahi leher dan dada wanitanya.
“Hem,” gumam Alisya terhanyut dalam kenikmatan.
“Baik, kita akhiri bareng-bareng, ya!”
“Em!” sahut Alisya bersiap mengimbangi permintaan Deva.
“Terima kasih, Sonya! Kau memang luar biasa!” ucap Deva tak sadar saat mengakhirinya.
Alisya tersentak. Salah sebutkah Deva? Selama ini, hal yang menjadi keistimewaan Deva di mata Alisya adalah rasa cinta. Deva mencintainya lebih dari segalanya. Namun, kenapa hari ini Deva salah sebut nama?
Aroma sisa percintaan masih menguar, tubuh keduanya masih basah oleh peluh. Sebuah lengkungan bahkan masih terbentuk di sudut bibir Deva. Senyum kepuasan setelah mereguk nikmat asmara. Namun, kenapa ungkapan terima kasih yang terucap dari bibir pria itu bukan untuk Alisya? Kenapa malah untuk Sonya?
“Mas, kamu bilang siapa tadi?” tanya Alisya dengan suara serak dan bergetar.
“Em, aku? Aku bilang apa, Sayang?” Deva tersentak, membuka kelopak mata yang tadi terpejam. Wajah berpeluh itu memucat seketika.
“Kamu sebut nama Sonya, Mas,” ulang Alisya dengan tatapan bingung.
“Sonya, hehehe … kamu ngelantur!” Deva tertawa kecil, menyembunyikan kegelisahan yang tiba-tiba menyerang.
“Sepertinya aku tidak salah dengar. Mas Deva sebut nama Sonya! Mas bilang, terima kasih, Sonya! Kau memang luar biasa! seperti itu, Mas!” sergah Alisya masih dengan suara parau.
“Tidak, Sya! Sudahlah, jangan cari masalah, dong! Baru saja kita reguk bahagia yang begitu sempurna, tolong jangan rusak suasana ini karena cemburu buta, ok!”
“Tapi, Mas! Kamu beneran salah sebut nama!”
“Alisya!” Deva meninggikan suara.
*****
Under the cover of night, Marco was escorted back to the main estate.The final tribunal was ready. Don Vincenzo Rosato sat behind the massive redwood desk, his expression calm as still water.Lorenzo, the Family's Consigliere and attorney, stood to the side with his hands clasped, his gaze cold.This time, I was no longer a spectator. I stood beside Don Vincenzo, almost level with him.Marco lifted his head with difficulty, a final flicker of hope flashing in his eyes. He struggled, not to look at Don Vincenzo but at me. His voice was hoarse as he begged."Lucia… Lucia… for the sake of what we once had… I know I was wrong… tell them to release me… I swear I'll disappear. I'll go far away…"Fear filled his voice. Every word trembled.I shook my head slowly, my tone flat and without emotion. "Marco, forgiveness is God's mercy."I paused, and with each word, closed the final chapter between us. "And I am only responsible for sending you to God."The last of Marco's illusions sha
Inside the cold confinement room, a desperate Marco made his decision. He would betray the Family.From a hidden layer in the sole of his shoe, he dug out a miniature communicator and contacted the head of the Falcone Family. He traded the Family's core secrets in exchange for his right hand.The Falcone Family was ecstatic over such a gift and agreed to the deal immediately.At midnight, the Falcone Family launched an attack on the estate.Marco accepted the dagger they handed him. Clean and efficient, he slit the throats of two guards. With the blood of the Vincenzo Family, he declared his loyalty to the Falcones.Marco's betrayal plunged the entire Family into unprecedented chaos.Like sharks that had caught the scent of blood, the Falcone Family struck everywhere under Marco's guidance. The armory on the east side of the city was blown up. The underground casino in the west was bathed in blood.In a single night, the Family suffered devastating losses, and after orchestratin
One week later, the Godfather returned. Don Vincenzo Rosato had cut short his trip to Mexico.A black Maserati glided silently into the estate, like a massive whale slipping into the deep sea. It was silent, yet powerful enough to make the entire ocean tremble.I stood by the window of the second-floor study, watching the car come to a stop in front of the main house.Lorenzo personally stepped forward to open the door for him.A figure emerged. He wore a simple black cashmere overcoat over a perfectly tailored dark suit. His hair was combed back without a single strand out of place. Time had carved authority into his face, not age.He was Don Vincenzo Rosato, master of this Family and my lover.A few hours later, the summons for judgment was issued.Marco was escorted to the door of Don Vincenzo's study. His beard was unshaven. His white shirt was wrinkled like a crumpled rag. His body trembled like an old dog waiting to be shot by its master.The oak doors of the study were s
I lay quietly in the hospital bed, my eyes fixed straight on the ceiling.Nurses came in at scheduled intervals to change my IV bags and take my temperature. Their movements were gentle, but they never said a single unnecessary word.Time lost all meaning inside this room.Day. Night. Day.I lay there like a doll without a soul, breathing, watching, existing.A few days later, a nurse entered carrying a large bouquet of black roses. The color looked like coagulated blood. Tucked inside the flowers was a check. The amount written on it was enough for an ordinary family to spend recklessly for a lifetime.In the memo line was Marco's flamboyant signature, along with the words he had written himself."I'm sorry."He was still the same, believing money and cheap gestures could buy everything. He thought they could smooth over everything.I looked at the bouquet without the slightest change in expression."Throw it away," I said to the nurse, my voice soft but clear. "Together wit
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.