LOGINI was getting married—but I didn't tell my parents. It was my fifth wedding. The last four? Total disasters, thanks to them. Every time, they claimed something was "wrong" with the wedding car and somehow scared the guy off. First was my college boyfriend. We were solid—four years strong. My parents pushed for marriage... then ditched the idea on the big day because his car wasn't "fancy" enough. Second groom? My boss. He pulled up in a shiny new car they actually approved—until they didn't. Yanked me right out. Third time, they set me up with someone themselves. The guy brought ten cars to play it safe. Didn't matter. They shut it down before I even stepped outside. Fourth time? Same story. I kept wondering—what was so cursed about these cars? Why push me to get married, only to destroy it every single time? This year, I was trying again. Wedding number five. This time, I was pregnant—with the son of the country's richest man. I didn't tell my parents. Thought I'd finally outsmarted them. But just as I was about to get in the car... I saw them sprinting toward me.
View MoreDi kamar yang sunyi dan remang, kehangatan malam terasa menekan, membungkus mereka dalam suasana yang berat dan penuh ketegangan. Aroma parfum lembut bercampur dengan keringat, menciptakan hawa yang hampir menyesakkan. Tirai setengah terbuka membiarkan sinar bulan samar menerobos masuk, menyoroti seprai yang kusut di atas tempat tidur, yang kini menjadi saksi pergulatan fisik dan emosional di antara mereka.
Tubuh Anya bergetar halus di bawah Valdi, mengikuti irama yang telah berlangsung terlalu lama. Matanya terpejam rapat, dan air mata mulai menggenang di sudut matanya, meskipun bibirnya terkatup rapat. Setiap gerakan Valdi terasa seperti beban yang semakin berat, mendorongnya ke titik di mana ia tak sanggup lagi bertahan. Anya mulai menggelengkan kepalanya perlahan, seolah menolak kenyataan yang tak bisa ia hindari.
"Cukup, Valdi... cukup..." bisiknya, suaranya terdengar serak dan penuh dengan keputusasaan.
Valdi yang berada di ambang puncak kenikmatan, hampir tidak mendengar bisikan Anya di tengah-tengah derasnya sensasi yang meluap dalam dirinya. Namun, gerakan kepala Anya yang menggeleng perlahan menarik perhatiannya. Dia melihat Anya dengan pipi yang sudah basah oleh air mata, kepalanya masih bergerak, seolah memohon agar semuanya berhenti.
Anya menggigit bibirnya untuk menahan isakan yang tak bisa lagi dia bendung. Kedua tangannya mengangkat sedikit, seolah ingin mendorong Valdi menjauh, namun kekuatan itu dengan cepat memudar dalam kelelahan yang mendalam.
"Tolong... cukup," suaranya kini lebih jelas, namun masih diwarnai isak yang tertahan.
Namun, Valdi terlalu tenggelam dalam hasratnya untuk sepenuhnya menyadari kehancuran yang dia sebabkan. Detik-detik terakhir itu terasa seperti keabadian bagi Anya, yang hanya bisa menunggu, dengan perasaan pasrah, sampai semua ini berakhir.
Setelah dua jam bercinta, Valdi mencapai puncaknya dengan erangan yang menggema di seluruh ruangan. Tubuhnya menggigil dalam kenikmatan yang meluap, sementara di bawahnya, Anya terbaring dengan tubuh yang lelah, bergerak tanpa semangat mengikuti irama yang telah terlalu lama menuntutnya. Air mata jatuh perlahan dari sudut matanya, membasahi pipinya yang dingin.
Setiap sentuhan Valdi terasa seperti beban yang tak tertanggungkan, dan setiap desahan adalah pengingat akan jarak yang semakin lebar di antara mereka. Anya berusaha memenuhi kewajibannya sebagai istri, namun hatinya menjerit dalam diam, terperangkap dalam lingkaran yang tak kunjung usai. Tangisnya tak bersuara, hanya air mata yang membasahi bantal, menciptakan pola keputusasaan yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang merasa terjebak.
Setelahnya, Valdi merebahkan diri di samping Anya, menghela napas panjang saat tubuhnya mulai rileks di atas kasur. Tapi Anya, dengan hati yang berat, segera berguling menjauh, memunggungi Valdi, membiarkan air matanya jatuh tanpa henti.
"Aku nggak bisa lagi, Valdi," suaranya pecah dalam keheningan, menyuarakan beban yang lebih berat daripada sekadar kata-kata.
Valdi menoleh, meski dalam hatinya dia sudah tahu.
"Maksudmu...?" tanyanya dengan suara yang lebih lelah daripada bingung.
Anya menghela napas panjang, suaranya terdengar getir dan penuh kelelahan.
"Ini bukan pertama kalinya kita bicara soal ini. Aku sudah coba, Valdi. Aku benar-benar sudah berusaha. Tapi aku nggak bisa lagi. Setiap malam rasanya seperti siksaan, bukan cinta."
Dia menoleh, menatap Valdi dengan mata yang sembap dan penuh luka.
"Aku udah capek. Bukan cuma tubuhku yang nggak sanggup lagi, tapi juga hatiku. Aku mau cerai."
Valdi terdiam, kata-kata Anya menembus sisa-sisa pertahanannya yang sudah lemah. Dia tahu keinginannya yang tinggi sering kali tak bisa dikendalikan, dan Anya selalu mengeluh tak mampu mengimbanginya. Tapi dia tak pernah membayangkan bahwa itu akan menghancurkan pernikahan mereka.
"Maaf, Anya. Aku tahu ini berat... Aku tahu aku minta terlalu banyak..."
Anya menutup matanya, menahan lebih banyak air mata yang ingin tumpah.
"Aku butuh keluar dari ini, Valdi. Aku nggak bisa terus merasa seperti ini, terjebak dalam sesuatu yang nggak lagi membuatku bahagia. Ini harus berakhir."
Valdi terdiam, rasa sakit mengiris hatinya saat menyadari bahwa ia mungkin akan kehilangan wanita yang pernah menjadi cinta sejatinya. Di tengah keheningan yang mencekam, Valdi menyadari bahwa apa pun yang terjadi selanjutnya, hidup mereka tidak akan pernah sama lagi.
****
Valdi duduk di kursi tunggu rumah sakit, tangannya memijit pelipis yang berdenyut. Pikiran dan perasaannya masih berkecamuk, dibayangi proses perceraian yang baru saja berakhir. Valdi tidak menyangka di usianya yang baru menginjak 32 tahun dirinya sudah menjadi seorang duda.
Sejak Anya meninggalkannya, rumah terasa kosong, dan kenangan yang pernah manis kini menjadi pahit. Namun, hari ini, pikirannya harus terfokus pada Ibu Retno—pembantu yang telah menjadi bagian dari hidupnya selama lebih dari dua puluh tahun.
Ibu Retno, yang selalu setia melayani keluarga Valdi, kini terbaring di rumah sakit, kondisinya semakin memburuk akibat COVID-19. Valdi merasa ada beban tambahan di hatinya, seolah-olah kehilangan orang yang setia mendampinginya hampir sepanjang hidup. Pikirannya masih terpecah antara rasa bersalah dan kesepian yang menggerogoti sejak perceraian, ketika sosok yang tak terduga menarik perhatiannya.
Langkah-langkah ringan mendekat, dan Valdi menoleh, melihat seorang wanita paruh baya yang tampaknya kerabat Ibu Retno, diikuti oleh seorang gadis muda. Saat pandangannya bertemu dengan gadis itu, jantung Valdi seolah berhenti sejenak. Gadis itu adalah Mayang, anak Ibu Retno, yang sekarang sudah berusia 18 tahun.
Valdi teringat saat pertama kali bertemu Mayang, seorang gadis kecil berusia 12 tahun yang pemalu dan pendiam. Tapi kini, di depannya berdiri seorang wanita muda yang telah tumbuh menjadi sangat menawan. Wajah Mayang cantik, dengan mata besar yang berkilauan, dan tubuhnya telah berkembang menjadi bentuk yang menggoda. Namun, yang paling mencolok adalah kesan lugunya yang luar biasa. Meski penampilannya telah matang, kepolosan itu masih terpancar jelas dari cara dia menunduk malu-malu dan senyum tipis yang muncul di bibirnya.
"Selamat sore, Om Valdi," sapanya dengan suara lembut, nyaris berbisik. Senyum yang dulu terkesan kekanak-kanakan kini lebih halus, namun tetap menyimpan kehangatan dan kepolosan yang sama.
Valdi menatap Mayang, senyum manis dan polosnya seolah-olah tak menyadari badai yang sedang berkecamuk dalam diri Valdi. Dalam pikirannya, Valdi merasakan pergulatan yang semakin intens—dorongan liar yang tak bisa dia redam, hasrat yang semakin sulit untuk dikendalikan.
Dia begitu dekat... begitu polos... pikir Valdi, merasakan adrenalin memacu lebih cepat dalam nadinya. Aku tahu ini salah, tapi kenapa aku tidak bisa berhenti membayangkannya?
Valdi menelan ludah, matanya tak bisa lepas dari sosok Mayang. Setiap gerakan gadis itu, setiap senyum kecil yang dia berikan, seolah-olah menarik Valdi lebih dalam ke dalam jurang keinginan yang tidak seharusnya.
Dia adalah milikku, dia harus menjadi milikku... pikirnya, hampir tak percaya dengan dorongan yang kini mendominasi pikirannya.
Bagaimana caranya? benaknya terus berputar, mencari cara,
Bagaimana aku bisa mendapatkan dia tanpa dia menyadari niatku?
I was bawling as I dragged him into the ER.Leroy, what were you thinking?Why would you do that for me...?After a full day of surgeries and no sleep, he pulled through—barely. But he didn't wake up.My parents showed up, holding me while they cried."That kid... Leroy was too selfless...""Dad, Mom... your hair..." I blinked. Their grays were gone. Jet black. "Your bodies...?"They exhaled like they'd been holding it forever. "It's over. The curse. Leroy must've read that note in our diary.""What did it say?"I had to know."The curse could only break if someone chose to die for the other. Your dad and I kept dodging the Reaper because we would've done it, no question.""He couldn't take us, so he went after your sister... then you.""Gigi was our biggest regret. We couldn't let it happen again. But we were scared—scared no guy would ever be willing. They all bailed the second we stirred up drama. How could we trust any of them would actually die for you?"They weren't
"Grim Reaper..."Leroy looked stunned.I pointed to the same weird symbol in all three photos. "Look. It's on the dam platform, the mountain trail sign, even a rock from the quake site. Same exact mark. That's the Reaper's."His eyes went wide. "The helicopter I brought...""Yeah. That too. Same mark." I exhaled. "He's after me now. Picked my wedding day to end it. That's why the car was marked."My parents knew. They saw it coming. That's why they lost it and tried to shut everything down.""Then why'd they push you to get married too?"I paused. "Because if I never do, the Reaper'll just find another way. My parents didn't know how, so they kept letting me try. Used their foresight to dodge fate each time. But the curse bounced back—to them. That's why they're sick now."Leroy pulled me in. "So that's why you wanted the divorce? You're scared I'll get caught in it too?"I gave a bitter smile. "They spent their whole lives protecting me. I can't keep letting them. But I'm not
"Then your sister...""Gigi was stubborn. Even after calling them out, she still took the exam. Right after? Car crash. They couldn't save her."My parents never stopped blaming themselves.I was eight. None of it made sense—how a test could kill her. Why our parents were so desperate to stop her. Just like they are with my weddings.Leroy's voice was quiet. "You think they stopped her for the same reason they ruined our wedding today?"He was finally getting it.I nodded. "If I'm right—yeah. Same reason."I grabbed the diary from the tin. "This... This is their love story."I flipped it open.Their love? Simple. What they lived through? Anything but.They were high school sweethearts—sixteen and inseparable.A year in, they got caught in a massive flood. Everyone else on that trip died. Only they made it.The next year, avalanche. They barely escaped.Third year? Earthquake. Trapped underground, clinging to each other—until a rescue crew somehow found them instantly.Aft
We never signed the papers—he just wouldn't let go.But the wedding? Still off.Leroy said he'd wait. Said whenever I was ready, he'd be there.Till then, he was on a mission to cure whatever was killing my parents.When I left the hospital, they were waiting.They looked older than ever. Just talking left them winded. "Hannah, we only ever wanted what's best for you..."I didn't fight it. Just smiled. "I know. I'll divorce Leroy."Their faces shifted."But I don't wanna lose you either." I dropped the medical files in their hands. "Why not just tell me? I could've handled it.""It's just cancer," they said, brushing my head. "Getting sick happens at our age."Their eyes shimmered with regret. "We just don't know if we'll live long enough to see you happy."They didn't get it.I tried again. "You beat something awful once. I've got that same fire. Let me fight this with you."Their eyes shot open. "You... You know?"I nodded. "All of it."Dad started to say something—but
By the time I got to the hospital, I was already at risk of losing the baby.The surgery worked. The baby was fine.When I came to, Leroy was right there, gripping my hand. His face was still a mess—bruised, untouched—but he never let go.I opened my mouth to speak, but he beat me to it. "Your pa
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews