LOGINDuring the holiday, I took my whole family on a trip. Just as we were about to head back, more than ten police cars surrounded us at the guesthouse. The police showed a video. In it, under surveillance cameras, I drove to a forest near a popular tourist town the day before and dumped a corpse. Even more frightening, there was a strange woman sitting in the car. After throwing away the body, the two of us immediately engaged in intimate acts inside the car. Hannah Walker slapped me hard across the face. "No wonder you insisted on going to that tourist town to buy snacks for us—you were using it as an excuse to go on a date! "After doing something so inhumane, you still had the nerve to do such filthy things in the car?" However, yesterday, I had clearly gone to the town alone to buy snacks and returned. There was no such horrifying experience at all. Without another word, the police opened the trunk. When the searchlight swept across it, it was filled with bloodstains from the victim's body. In the corner, they also found the murder weapon with my fingerprints on it. I had no way to defend myself. I fell from being a rocket engineer, a hero in the country's aerospace field, to a death row prisoner. Due to the severity of the case, I was sent to the execution ground in less than a month. My parents and child, who had been on the trip with me, were blocked at the guesthouse by the victim's family and beaten to death. However, even as reality dawned on me, I still did not understand what had happened that day. When I opened my eyes again, I was back at the moment I was about to leave to buy snacks.
View More"Halo, Bastian Dominic, aku adalah ayah kandungmu, Sectio Dominic. Maafkan ayahmu ini karena baru sekarang menghubungimu..."
"Aku dulu meninggalkanmu dan ibumu, karena saat itu aku masih naif dan bodoh. Sekarang, waktuku tidak banyak lagi. Aku tidak pernah menikah dengan seorang perempuan lain dalam hidupku, dan aku tidak memiliki anak lain selain kamu. Jadi, aku memutuskan untuk mewariskan semua aset milikku kepadamu, dan kamu juga akan dipercaya sebagai Presdir dan Komisaris Utama BIG Dom Corp." "Asetku yang berjumlah 2500 triliun, semuanya akan kuwariskan kepadamu!" "Aku sudah menyiapkan seseorang yang akan membantu segala kebutuhanmu. Jika nanti kamu membutuhkan bantuan atau menemui masalah apa pun, kamu bisa menghubungi Charlie. Nomor teleponnya sudah terlampir di sini. Bastian, sampai jumpa di Jerman." Tatapan mata Bastian membeku menyaksikan sosok pria yang berdiri tegak setelah putaran video itu selesai. Dia tiba-tiba merasa sulit bernapas, hingga mulutnya harus megap-megap guna menarik banyak oksigen yang kurang. Dia sedang berada di dapur dan sedang berencana untuk memasak makanan. Tiba-tiba dia menerima surel berisi sebuah video. Dengan didorong rasa penasaran, dia pun menekan surel itu dan memutar video di dalamnya. Namun apa yang baru saja dia tonton?! Seseorang di dalam video itu mengaku sebagai ayah kandungnya, dan dia bilang hendak mewariskan padanya aset sejumlah 2500 triliun?! Entah dia yang sudah gila, atau dunia ini memang gila? Apa semua penipu sekarang akan mengiming-imingi calon korbannya dengan jumlah sebanyak 2500 triliun? Siapa juga orang bodoh yang akan percaya ini! Setelah menenangkan diri, Bastian keluar dari dapur. Dia hendak kembali ke kamarnya untuk mengambil sebuah barang. "Ah..." Begitu Bastian membuka pintu kamar, dia mendengar suara embusan napas samar dari dalam kamar mandi. Seharusnya istrinya lah yang sedang mandi di sana. Namun suara itu ada apa dengan suara itu? Dengan suara riak air yang semakin membesar, suara embusan napas yang lebih terdengar seperti sedang terengah-engah itu juga seakin menguat dan semakin memburu, terdengar begitu menyedihkan. Bastian mendengarnya dengan saksama. Dia tiba-tiba menyadari sesuatu. Napasnya pun ikut memburu, dia tak bisa menahan diri untuk berjalan mendekati pintu kamar mandi. Tiba-tiba, suara itu seperti hendak mencapai puncaknya. Dibarengi dengan desahan panjang, suara itu pun tiba-tiba berhenti. Bastian menghentikan langkahnya, namun dia malah tak sengaja menabrak kursi yang ada di sebelahnya dan menimbulkan suara gaduh. "Siapa itu?" Setelah ragu sejenak, Bastian memberanikan diri untuk menjawab, "Ini aku, maaf, aku tidak tahu kalau kamu sedang mandi ...." "Kapan kamu masuk?!" Suara seorang perempuan yang lembut terdengar. Suaranya begitu dingin, dan terdengar seolah sedang menahan sesuatu yang memalukan agar tidak kentara. "Aku... aku baru saja masuk." Bastian menjawab dengan tergagap. Entah kenapa dia tiba-tiba merasa begitu gugup dan panik. "Cepat keluar!" bentak Alexandra dari balik pintu kaca kamar mandi. Tersungging senyum masam di bibir Bastian sebelum dia menjawab, "Baik." Baru saja dia keluar beberapa langkah, "Tunggu,tunggu sebentar!" Bastian menolehkan kepalanya, kemudian bertanya dengan penuh rasa penasaran, "Ada apa?" "Kamu bantu aku ambilkan pakaian dalamku Bastian melihat ke arah kamar mandi dengan tatapan terkejut. Di balik lapisan pintu kaca, siluet tubuh Alexandra yang indah menawan tercetak samar. Ketika membayangkan istrinya yang tak mengenakan apa-apa, dengan kulit putihnya yang halus, Bastian tak kuasa untuk tidak menelan ludahnya. Telinganya memerah, dengan suara yang kembali tergagap dia menjawab, "Eh, i-iya, tunggu sebentar." Ini adalah pertama kalinya istrinya itu memperbolehkan dia menyentuh barang-barang pribadinya. Hati Bastian dipenuhi dengan perasaan tidak percaya. Dia pun segera melangkah ke depan lemari istrinya dan membukanya. Begitu pintu dibuka, sepotong celana dalam renda hitam terjatuh. Bastian dengan panik memungutnya. Aroma wewangian dari celana dalam itu menguar sampai ke hidungnya. Dia tak kuasa menahan diri untuk tidak menghirup dalam-dalam. Dia melirik ke kamar mandi dengan sedikit rasa bersalah, seolah-olah khawatir aksinya ini akan dipergoki oleh istrinya. Bahan celana dalam itu tipe transparan. Celana dalam itu hanya disatukan dengan beberapa tali hitam yang tipis. Ternyata ... Alexandra yang biasanya terlihat sangat konservatif pakaian dalamnya malah kelewatan seksi begini. Tampaknya jauh di lubuk hati, Alexandra masih tipe orang yang terbuka. Bastian tidak mampu menahan gejolak yang ada di dalam hatinya. Tanpa sadar isi kepalanya mulai membayangkan penampilan seksi istrinya yang sedang mengenakan celana dalam menggoda ini sambil memuaskan dirinya. Tidak, tidak. Bastian masih harus mencari bra! Bastian tiba-tiba kembali ke kesadarannya dan tidak berani menunda-nunda lagi. Istrinya masih menunggu di kamar mandi, dia tidak ingin dimarahi oleh istrinya. Dia melirik sebuah kotak kecil di sisi lemari kemudian membukanya. Begitu dibuka, di dalamnya ada beberapa bra yang tersusun rapi. Hanya ada bra warna hitam dan putih. Dia mengambil bra yang berwarna hitam agar pas satu set dengan celana dalam yang warna hitam. Pakaian dalam ini benar-benar model pakaian dalam yang seksi. Hanya ada dua bagian kain kecil yang berguna menutupi bagian dada. Ukuran dada istrinya sangat-sangat memuaskan. Alexandra tidak perlu menambahkan implan seperti wanita-wanita lain agar dada mereka tampak jauh lebih berisi. "Kamu sedang apa, sih? Cepat sedikit!" Suara Alexandra yang tampak tidak sabar terdengar. "Iya, iya, aku datang!" sahut Bastian panik seraya mengambil langkah cepat ke kamar mandi. Di balik pintu kaca kamar mandi, Bastian mengetuk-ketuk lembut seraya berkata, "Aku sudah membawanya nih, kamu ... kamu buka pintunya dan ambil." Jantung Bastian berdebar menunggu sang istri membuka pintu. Dia merasa ada hasrat yang lama terpendam di bawah sana kini bergejolak. Meskipun dia tahu tidak ada yang bisa dia lakukan, bisa melihat saja setidaknya sudah cukup untuk membuat dirinya puas. Mereka sudah menikah selama tiga tahun. Bastian sama sekali belum pernah menyentuh istrinya. Pernikahan ini hanyalah sebuah transaksi. Bastian tidak lebih dari seorang pria miskin dan seorang yatim. Demi mendapatkan uang untuk merawat ibunya di panti yang sakit, dia dan Alexandra akhirnya mengikat diri di sebuah pernikahan kontrak yang konyol ini. Dia sadar akan siapa dirinya. Meskipun dalam tiga tahun ini sebuah rasa dalam hati untuk istrinya perlahan-lahan berkembang, dia hanya bisa menyembunyikannya di dalam hati. Bastian berusaha bertahan dari anggota keluarga istrinya yang selalu memandang rendah dirinya. Dia tidak pernah melakukan apa pun yang seharusnya tidak dia lakukan. Tetapi baru saja ... Alexandra melakukan itu di dalam kamar mandi Tentu saja, Alexandra juga wanita pada umumnya. Ada kebutuhan batin yang harus dipenuhi. Tetapi kenapa dia berinisiatif meminta Bastian untuk mengambilkan pakaian dalamnya? Apa jangan-jangan hati Alexandra sudah mulai bergejolak? Apa dia belum puas dengan yang tadi? Kenapa dia jadi sosok yang tidak seperti biasanya? Belum lagi dengan pakaian seksi itu ... apa jangan-jangan Alexandra.... ——— Novel ini akan di-update sampai tamat, ya. Jadi, jangan ragu untuk membacanya. Terima kasih!A month later, the police informed me that the case was fully resolved.Adam–driven to despair after being rejected by the woman he idolized– confessed to everything.As it turned out, the moment he learned about our booking at the countryside guesthouse, he began planning the entire crime. He murdered the village doctor in cold blood, dismembered the body, packed it into a suitcase, and placed it in my car.He even hired a salon girl to pose as his lover, feeding her a script to follow. Afterward, he paid her a large sum and sent her out of the province.Now, he was captured.Everything that followed matched my earlier suspicions. The brazen, high-profile disposal of the body was meant to ruin my reputation. The sudden, violent blow he dealt me left me disoriented and defenseless–ensuring I would take the fall while my name was dragged through the dirt.He also admitted that once I was taken away in a police car, he planned to break the lock on the hotel room I booked for my par
Hannah stared at him in disbelief."Adam, have you lost your mind?"You killed the person who saved your life over this?"He let out a twisted laugh, then turned to the woman he loved with a tender expression."Hannah, for you–forget that old man. Even if it were my own parents, I'd do it.As long as it frees you from this misery, I'd do anything."A flicker of disgust crossed Hannah's eyes. She walked over and hooked her arm through mine."You're wrong. Meeting Arthur was the greatest blessing of my life.""He fights on the front lines of scientific research, giving everything for the greater good. And I stay behind, taking care of our home so he can do that.""Yes, I've had my share of hardships. But I understand–this is my way of serving the country too."Her voice turned cold."And you? You graduated as an outstanding student, yet you've turned into a bitter, twisted failure.""Always ready to throw your life away over petty emotions. Ungrateful. Heartless.""Compared t
So it turned out that Adam's obsessive love for Hannah did not fade after graduation–it only grew stronger.Especially five years ago, when he heard that we were expecting a child, the pain became unbearable.Drunk, he drove up to the mountain Hannah loved most and crashed straight into a tree. The car caught fire.An old village doctor pulled him out of the flames, badly burned, and took him home to treat him with painstaking care.When he finally recovered, the clean-cut, handsome look he once had was gone. But at least he looked like an ordinary person again.Years under the harsh highland sun darkened his skin, hiding most of the graft scars.The old doctor knew he was an orphan–and now, with everyone believing him dead in that fire, he had no identity left.Out of kindness, the doctor asked him to stay and help care for his sister, taking the place of his useless nephew.The real Kendrick had long since abandoned the mountains for the cities, unwilling to shoulder any resp
The police officer let out a sigh."Honestly, if it weren't for your past contributions to scientific research–beating international competitors at their own game–I would've already hauled you back for interrogation multiple times."He fixed me with a stern look."This is your last chance. If you still can't prove it, you're coming back with me to confess. Stop wasting public resources."I nodded."Then please go upstairs and retrieve the village doctor's belongings. Test them against Kendrick's DNA. Once the results are out, my innocence will be clear."Adam finally panicked and jumped in."On what grounds are you touching my personal belongings? Just because of her baseless accusations, you want the police to barge into my guesthouse and search it? If word gets out, how am I supposed to run my business?"The officer hesitated."He has a point. Based on what you've said so far, we don't have the authority to search a private residence."I smiled calmly."Fine. Then bring me












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.