로그인Skyler Cress is ordinary. Bland, routinely boring and poor, Sky has a hard time believing life would get any better than the rut she's in. But when a handsome stranger asks her on a date, things go awry. All of a sudden, there are people after Sky and she's been told that she holds some ancient power that everyone is after. Before she can wrap her head around everything, Sky has to abandon her mundane life to go into hiding before someone figures out who she is. There, she's met with challenges of arranged marriages, a world of magic and trying to learn self discipline so she can save the world one day... All while trying not to get too close to anyone because she knows she'll have to leave eventually. With having to contend with a doppelganger from an alternate universe and trying to figure out her feelings, Sky is in for a Rollercoaster of a time - especially when she can't tell what's real anymore.
더 보기Cahaya remang-remang memenuhi ruangan. Seorang gadis yang tersadar dari pingsannya perlahan membuka mata. Selena, yang tengah terikat di sebuah kursi kayu mengerjapkan matanya untuk memfokuskan pandangannya yang buram. Dan wajahnya perlahan terangkat untuk mengenali tempat yang dia rasa asing.
“Kau bangun, Selena?”Suara berat pria membuat Selena yang masih lemas menolehkan kepalanya perlahan ke arah pria itu. Dan menemukan wujudnya yang sedang menikmati secangkir kopi. Selena mendesis pelan, merasakan sekujur tubuhnya pegal. Dia mengedarkan pandangannya lagi ke ruangan itu.“Di mana ini?” tanyanya dengan suara yang lemah, nyaris tak terdengar sama sekali.“Di ruang interogasi yang ada di mansion milikku. Maaf cahayanya remang, karena aku menyukai cahaya yang tidak terlalu terang untuk orang-orang sepertimu.”Selena mendesis pelan dan menegakkan bahunya. Dia terlihat sangat pucat dan terlihat tak sehat saat itu. Belum lagi, tempat ini kelihatannya tak dijangkau matahari sama sekali hingga suhunya dingin karena lembab.“Kau siapa? Kenapa kau menculikku?” Selena bersusah payah bertanya.“Aku Damian, salam kenal.” Pria itu terkekeh pelan, memainkan sedikit jawabannya.“Aku tidak punya uang, dan tidak akan ada yang menebusku. Kau menculik gadis yang salah,” ucap Selena sambil bersandar ke kursi itu dengan lemas, kepalanya terasa berat dan pusing.“Tidak juga. Aku menculik orang yang tepat.” Damian menggeleng pelan dan memperhatikan Selena yang begitu lemah, dipandangnya dengan jijik dan menyedihkan.Selena mengernyitkan dahinya, tak mengerti apa yang dibicarakan Damian. Dia sungguh tak punya uang dalam jumlah besar untuk menebus dirinya sendiri. Dan tak ada juga orang yang akan menebus dirinya. Dia tak punya keluarga, dan pacarnya pergi meninggalkannya begitu saja.Dia gadis sebatang kara yang berjuang untuk bertahan hidup sendirian. Dan sekarang dirinya malah diculik oleh orang tak dikenal secara tiba-tiba. Mungkin untuk diperbudak atau diperjualbelikan. Karena melihat bagaimana pria ini tampaknya bukan orang baik-baik.“Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Selena seraya menatapnya, nafasnya terdengar agak berat.“Aku ingin menawanmu untuk memancing keberadaan pacarmu itu,” jawab Damian.“Pacar? Maksudmu Axel? Ah, dia sudah bukan pacarku. Dia tak akan tertarik dengan apa yang aku lakukan, di mana aku, sedang apa, kondisiku bagaimana, semuanya,” balas Selena.“Oh, ya?” Damian menarik ujung bibirnya, dia tak mempercayai apa yang dikatakan Selena.Selena memejamkan mata sejenak. Lehernya terasa sakit, kepalanya pusing tujuh keliling dan badannya juga rasanya sakit-sakit. Damian bangkit dari duduknya dan mendekati Selena. Suara langkahnya tegas dan menggema di ruangan yang tertutup itu.Disentuhnya garis rahang Selena dan dia mengangkat wajah Selena hingga bisa menatapnya. Dan dia mengeluarkan handphone dari sakunya, mengambil gambar Selena yang menengadah ke arahnya. Dia mengabaikan apa yang dikatakan Selena sebelumnya, mengenai pacar atau mantan pacarnya.“Kau sudah mendapatkan briefing untuk ini? Untuk saling menjauh, untuk menjaga dirimu, untuk menutupi kelemahan yang ada di dalam dirinya. Kau... merupakan kelemahannya.”Damian tersenyum dan menaruh handphonenya lagi di sakunya. Setelah memotret wajah Selena, wajah yang ada di genggamannya dihempas begitu ringannya. Selena menoleh ke arah lain karenanya. Selena mengangkat wajahnya lagi dan menatap Damian.“Apa maksudmu? Kenapa aku kelemahannya? Lalu, kenapa kau mengincar aku karena Axel?” Selena mengerutkan dahinya.“Axel mengambil tanpa izin sesuatu dariku. Dan aku melakukan hal yang sama. Untuk itulah, aku ingin Axel melakukan pertukaran atas apa yang masing-masing dari kami ambil. Cukup adil, kan? Kalau kau bertanya kenapa kau kelemahan Axel, karena kau orang yang disayanginya,” jawab Damian.“Kuberitahu, ya. Aku bukan lagi orang yang disayanginya, dan itu sangat tidak mungkin. Aku dan dia sudah tidak ada hubungan apa pun. Jadi percuma saja kau menculikku untuk pertukaran apalah itu. Dia tidak akan tertarik,” sangkal Selena.Selena menyangkalnya, dia sedikit kesal karena baru saja putus dengan pacarnya itu beberapa hari, dia harus terlibat dengan orang lain karena hubungan masa lalu. Apa lagi, pria yang ada di hadapannya ini bukan orang sembarangan jika melakukan penculikan. Ditambah alasan penculikan yang dia lakukan, dia melakukan ini atas dasar sesuatu, berarti dia punya tujuan.“Jangan berusaha membodohi aku!” tekan Damian dengan suaranya yang agak rendah.“Aku tidak berbohong. Sungguh. Usahamu menculikku hanya untuk menarik perhatian mantanku, kan? Aku sudah tidak ada lagi hubungan dengannya. Ini membuatku membencinya, kenapa aku jadi harus terlibat sesuatu yang bahkan aku tidak tahu apa?!” cerocos Selena geram.Damian menarik salah satu ujung bibirnya. Matanya menggelap seiring Selena mengutarakan kalimat, karena yang dia lihat adalah kebohongan.“Aku tidak pernah salah, gadis!” kata Damian dengan menekan kalimatnya.“Oh, ya? Maka kali ini kau salah, akui itu!” balas Selena meninggikan suaranya. “Lepaskan aku sekarang! Aku tidak lagi berhubungan dengannya, sialan! Dia—”Tanpa mendengarkannya lagi, Damian segera mengulurkan tangannya ke leher Selena, membuat Selena menengadah dan merasa tekanan yang menyakiti tenggorokannya. Rasanya sakit dan menyiksa. Tangan Damian menekan, menimbulkan saluran pernafasannya juga tertutup.“Khh... khh...” Suara mengorok keluar dari mulut Selena.Sial, apa yang sebenarnya Axel curi?! Kenapa aku harus menanggung ini?Damian dengan tenangnya mengeluarkan handphonenya lagi dengan tangan yang lain. Dan dia lagi-lagi memotret Selena yang berada di ambang kematiannya jika Damian terus menutup trakeanya, mengakibatkan pasokan oksigen ke paru-paru berkurang. Ini akan menyebabkan kematian dalam waktu dekat.Setelah puas dengan hasil fotonya, Damian menarik tangannya menjauh dan tersenyum minat Selena yang langsung terbatuk. Batuknya terdengar kering dan juga sangat menyakitkan. Nafasnya langsung terengah-engah, meraup rakus oksigen yang ada di sekitarnya.“Sudah menarik nafasnya? Udara terlalu berharga untuk makhluk lemah sepertimu.” Damian terkekeh seraya membungkukkan badannya untuk menatap Selena.Selena menatapnya balik dengan wajahnya yang terlihat marah. Dia lagi-lagi terbatuk. Tenggorokannya jadi terasa sangat tidak nyaman sekarang. Dia butuh air.“Aku... Aku butuh air,” ucapnya dengan susah payah.“Ah, air?” Damian berjalan menjauh, dan mengambil segelas air.Dia kembali dan menyodorkannya pada Selena. Selena mendekatkan bibirnya pada gelas, dia ingin meraihnya, tangannya yang terikat tak bisa berguna seperti biasanya.“Kau tidak boleh minum seperti bagaimana aku minum.” Damian lantas menuangkan air dalam gelas itu di atas kepala Selena, menuangkannya sedikit untuk menunjukkan bagaimana dia akan memberinya air minum.Selena melebarkan matanya, kepalanya terasa basah sekarang. Tatapan Selena menatap Damian dengan gelap. Karena tak suka dengan tatapan Selena, Damian segera meraih rahangnya untuk membuat Selena menengadahkan kepala.“Kau tidak ingin minum? Lakukan seperti apa yang aku katakan!” titah Damian.Selena lantas membuka mulutnya, dia membutuhkan air itu. Dan Damian menuangkannya dengan seringai di bibirnya. Selena berusaha minum, dia menatapi gelas itu, berusaha memperhatikan kapan airnya akan habis. Dan begitu tetes terakhir masuk ke mulutnya, Selena menutup mulutnya.Damian tertawa puas melihat air yang membasahi baju Selena juga.Dan tanpa diduga, Selena menyemburkan air yang ada di mulutnya, air yang sengaja dia sisakan untuk disemburkan pada Damian.Of all the people that could've found me, it had to be him. The car guard, passersby, the police, the homeless. Nope. It was him. I groaned."Urg, not you.""Nice to see you too- again." Cass stared down at me."Don't you have anything else to do other than pick on innocent young girls?" he said to the two men.Innocent young girls?"Innocent? Her?" huffed the hand man, echoing Cass' words and my thoughts. He spat and laughed cruelly."She's a pain in the ass, that one," the other man grumbled."Tell me about it," Cass said. I rolled my eyes."Well I'm glad that you're acquainted enough to carry out a conversation with my potential kidnappers, but I'd like to call the police right now.""Hold on,” Cass said. He stepped forward. So did hand man. He seemed to have recovered from the pepper spray but his eyes were now blood red. Ha! That's what you get for messing with Skylar Cress.The hand man lunged forward
We were already crouching. Now he got down on his knees and started to crawl. I did the same. He signed for me to stop."Wait," he mouthed. "Not yet."He looked like he was thinking, forming a plan. One of us had to and I'm not pointing fingers, but he did get us here. Cass picked up the biggest stone he could find and threw it as far as he could at a black Ferrari. It shattered the windshield but the noise of the glass being thrashed was drowned by the sound of the car alarm. This guy was mad."What the hell?" The noise was deafening."Now!" he said and knee ran towards the blue Toyota. Behind it there was an end to the parking lot. He waited for me to catch up then let me in on the next step of the plan."Run!"I didn't need telling twice. We got up and raced through the night. Some of the men had spotted us. Cass was trying to fight them off- successfully. I decided I didn't want to stick around and find out if more were coming. Bec
I got back to my seat and instantly his face lit up. Oh no."Are you okay?" he asked."Yeah," I replied. My self pep talk must have been longer than I thought. Do it, I chastised. Get it over with."Cass, I-""Sky, I'm-"We both spoke at the same time. This made us laugh. "You go first," I said."Sky, I'm having a really good time.""You are?" I tried to mask my shock but the words were already out. Damn. I couldn't read his expression."I mean, yeah, sure. Me too." Another gulp of water. Don't be a coward."Cass...""Yes?""Well, you see, the thing is..."He waited for me to continue. Do it!"I- I forgot to feed my cat. Yeah, that's it... Tabby. He must be starving. I can't sit here and enjoy a wholesome meal while a cat, who's like family to me, might die of starvation. I have to go." I hated cats. Especially Tabby and his trash invading my apartment. He was no exception cat."But you
"Hey," I said happily."Hey," he replied calmly."Cool car. Where'd you get it from?" I stared at the black sleek exterior in awe."Borrowed it from a friend," he smiled. "Told him it was a special occasion."I got in and we were on our way. I noticed he was dressed in smart casual and gave myself a figurative pat on the back for the dressing choice. His car smelled of fresh pine which was a pleasant change from the salty smell that my house was subjugated to. The interior was sophisticated and smooth."You have generous friends," I marveled. "I'm not sure I'd let this beast out of my sight if I owned it." Which is impossible to even think I'd ever own something like this. I had gotten my driver's license just after I turned 18. I remember saving for months at my part time (now full time) job for the lessons and the final test. Passed it with flying colours. The next step was to start saving for a car, but then I had to leave the orphanage and all th
A few days later I woke up to the sound of someone wrapping on my door. I blinked a couple times, shaking off that moment of bliss when you wake up and can't remember a thing about anything. Then it all came back and I sighed. The person banged the door again. Monday mornings were hard enough wit
Carson was the best kid that ever existed . He lived nearby and I tutored him in science. He wasn't even in high school yet but his parents wanted him to be ‘above the rest.’ Overbearing fools. Ruining a perfectly good boy’s life. The poor child never got to see the light of day
God, I wish I was Moira. She would have broken the person's bones in places they didn't know they had them. In fact, she would have probably sensed someone sneak up behind her and caught them first. But instead of having super sharp senses like Moira, I got so shocked that I dropped my keys. The
The sound of a passing hooter startled me awake. My groggy eyes adjusted to the brightness in the bus and my hand hurt. I realised that I was tightly clutching something and my palm was inflamed with the shape of it. My ring. Returning it to my finger, I looked at my tattered wrist watch. I'd onl
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.