LOGINThey bullied her… till she died. Adeline had life rough as a kid. The people who were supposed to be family treated her like trash, like she didn’t exist . Now they managed to get rid of her, or so they think … She is in a form they will never recognize planning her just revenge. The only problem being that the mate of the woman she is pretending to be is starting to suspect her. And he is not a nice guy .
View MoreNamanya Bara Aditya. Usianya dua puluh satu tahun. Ia seorang mahasiswa di salah satu universitas negeri terkenal di Jakarta. Ia adalah seorang mahasiswa perantauan yang datang dari pulau seberang. Secara umum, Bara tergolong pemuda yang memiliki ketampanan di atas rata-rata dengan postur yang tinggi kekar. Hanya saja, ia bukan seorang mahasiswa yang berasal dari keluarga berada. Untuk menambah uang saku dan keperluan kuliahnya, ia juga menawarkan jasanya sebagai seorang massage therapist. Tukang pijat. Tentang keahliannya itu ia ceritakan juga pada Tante Liana, ibu kosnya, suatu saat ketika ia membayar uang bulanan kosnya. “Jika suatu saat Tante atau Om butuh tukang pijit, bisa panggil saya saja. Jangan khawatir, Tante, untuk Tante dan Om aku akan pasang tarif keluarga yang sangat ramah tamah dan berbudi bahasa,” seloroh Bara, mempromosikan profesi sambilannya. Tante Liana pun dibuat tertawa oleh rangkaian kalimat Bara yang terakhir yang mirip potongan lirik sebuah lagu dangdut itu, lalu bertanya, “Beneran kamu bisa mijit, Bar? Kamu belajar dari mana mijetnya?” Saat itu suami Tante Liana, Om Hendra Wijaya, sedang tidak ada di rumah. Suami Tante Liana seorang dosen di beberapa perguruan tinggi swasta, dan juga seorang bisnismen. Tapi Bara tidak tahu Om Hendra itu bisnis apa. “Kebetulan kakek saya dari ibu saya seorang ahli pijat dan urut di kampung, Tan. Jadi keahlian saya ini diturunkan dari beliau.” “Oh begitu? Jadi kamu sudah banyak menerima panggilan untuk memijat, dong?” “Ya lumayan, Tan, tapi belum sering. Kan saya belum lama untuk membuka jasa pijet panggilan ini. Setelah kondisi keuangan keluarga saya tidak seperti dulu lagi setelah usaha orang tua saya bangkrut, jadi terpaksa saya mulai membuka saja jasa massase panggilan.” “Oh begitu? Maaf, memangnya usaha orang tuanya Dik Bara apa di kampung?” “Toko kimia, Tan. Setelah toko-toko kimia lain yang jauh lebih besar dan lengkap berdiri di sana sini, toko ayah saya yang kecil ya jadi kelindas dengan sendirinya.” “Hm ya, ya. Baik, Dik Bara, jika nanti atau besok suami Tante butuh untuk dipijit, Tante pasti akan menggunakan tenaga kamu.” “Baik, Tan. Terima kasih, sebelumnya.” “Iya, Dik Bara, sama-sama.” Tempat kos Bara adalah jejeran beberapa kos yang menyerupai kamar-kamar tempelan karena dinding belakang kos-kos itu langsung menggunakan tembok pagar bumi rumah induk yang berdiri doi tengahnya. Rumah utamanya ditempati oleh sang pemilik kos, yaitu pasangan suami-istri yang bernama Om Hendra Wijaya dan Tante Liana. Sedangkan yang kos di tempat itu hanya buat mahasiswa dan mahasiswi. Kos-kosan yang berada di samping barat khusus untuk cewek, mahasiswi. Sementara yang di sebelah timur khusus cowok. Di sebelah timur itulah kosnya Bara. Pekarangan rumah utama dan bagian depan kedua baris kos itu dikonblok dan dihiasi oleh berbagai tanaman, sehingga terlihat sangat rapi, asri, anggun, dan sejuk. Ada juga beberapa pohon jambu bol dan jambu Taiwan di pekarangan yang cukup luas itu. Suatu hari, saat pulang dari kampus, Bara bertemu dengan Tante Liana yang sedang menyapu ringan beranda depan rumahnya. Bara memang suka mematikan mesin sepeda motornya saat di luar pintu agar rumah dan mendorongnya masuk. Sesaat ia berhenti dan tertegun melihat wanita yang sudah berusia empat puluhan tahun itu. Wanita itu masih memiliki pesona yang sangat kuat. Beliau masih terlihat sangat cantik dengan kulitnya yang putih bersih dan masih kencang. Ketika tiba-tiba wanita itu menoleh dan melihat ke arahnya, Bara hendak menarik wajahnya, namun terlambat. Ia pun terpaksa tersenyum dan mengangguk pelan sambil menyapa, “Tante …?” “Baru pulang dari kampus, Dik Bara? Atau dari tempat pelanggan untuk mijet?” “Dua-duanya, Tan. Dari kampus trus meluncur ke rumah pelanggan.” “Oh gitu?” ucap Tante Liana seolah-olah kepada sapu di tangannya. Wanita itu sepertinya sengaja membiarkan Bara untuk menikmati keindahan tubuhnya. Karena saat itu ia memang mengenakan baju kaos hitam dan celana hitam ketat pendek ketat sehingga sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih dan mulut. Beliau memiliki sepasang kaki yang besar dan padat namun sangat indah. Biasanya, jika keluar rumah, beliau suka mengenakan hijab sar’i dan gamis atau abaya. “Iya, Tan. Apakah Tante sudah cerita sama Om kalau saya bisa mijet?” Tante Liana memandang ke arah anak kosnya yang paling ganteng sendiri itu, tersenyum, dan menjawab, “Belum sempat, Bar. Besok kalau beliau pulang, akan Tante kasih tahu.” “Syiplah, Tan. Ya sudah, kalau begitu saya masuk dulu.” “Iya, Dik Bara, monggo …” Bara hendak mendorong sepeda motornya, namun tiba-tiba wanita itu memintanya untuk menunggu dulu sembari melangkah masuk ke dalam rumahnya. Oh My God! Jantung Bara berdegup kencang dengan mata yang agak terbuka lebar. Saat itu ia disuguhkan oleh sebuah pemandangan yang sangat indah. B*kong wanita itu benar-benar indah. Bulat dan cukup besar dan menantang. Makin indah lagi ketika wanita itu sedang melangkah. Namun ia segera membuang wajahnya ke arah lain ketika melihat bayangan wanita itu kembali melangkah keluar. “Ini, Dik Bara ….” Tante Liana menyodorkan sebuah plastik hitam yang berisi sesuatu. Bara memasang standar sepeda motornya lalu melangkah ke dekat wanita itu. “Apa ini, Tan?” tanyanya sembari mengambil tas plastik itu dari tangan wanita itu. “Itu bakso. Tadi Tante pesan beberapa porsi. Itu bakso super di toko bakso di tengah kota sana. Tadi Tante simpan di pemanas.” “Wah, terima kasih banyak nih, Tan. Ya sudah kalau begitu saya ke kamar dulu.” Saat itu, dua kamar kos yang ada di kedua sampingnya sedang tidak ada penghuninya. Penghuninya sedang melakukan KKN, dan satu lagi sedang pulkam. Namanya Ari dan Hendri. Bara beda kampus dengan keduanya. Namun mereka akrab. Sementara dua kos yang sebelah barat dihuni oleh cewek-cewek. Mereka kuliah di fakultas kedokteran gigi. Jadi, di kos sebelah timur itu hanya ada dia sendiri saat itu. Tiba di kamar kos Bara mengambil mangkok, sendok, dan garpu lalu menuangkan bakso yang diwadahi plastik putih itu. Satu plastik berisi pentolan bakso yang sudah setengah diiris dengan beberapa irisan. Sementara pada plastik yang satu berisi mie, bihun, dan tahu goreng. Selanjutnya bakso semangkuk itu diletakkannya di atas meja belajar. Ia ingin makan bakso sembari membuka YouTube di layar ponselnya. Ketika ia duduk di kursi menghadap meja belajarnya, ia bisa melihat keluar melalui kaca jendela di sampingnya. Kaca itu hanya bisa melihat ke luar, tapi orang luar tidak bisa melihat ke dalam jika lampu kamar tidak dihidupkan.
The jeering from the crowd incites fear in me as I see the disgusted gazes of my pack members. These were the same people who gently referred to me as princess. Now they throw their waste at me, some getting tomatoes in my eye and squashing an egg on my head.But still, I don’t give them the satisfaction of wavering, if crying. Although my eyes feel itchy, I blink it away and kneel ramrod straight.I’m at the pack hall which is also the basketball court for the high school students. The pack hall is the place where all important decisions regarding the pack are helmed and everyone is supposed to be in attendance.One of the elder stands up, he adjusts his cane and holds his hand to quiet the crowd. The boss reduce to a silent echo, leaving the only noise to be the elder’s tapping cane.“ I am fully aware we know why we are gathered here this evening” he starts and his voice booms across the still hall. “ But for clarification purpose, we are here to try this pup here for the murder of
When I opened my eyes again, the hospital light blinded my eyes for a moment. I blinked rapidly, my eyes darting around the white washed room. I would have bolted up, but my body stubbornly remained on the bed and from my vantage, it wasn’t looking pretty overall. The white bandages wrapped around my arms and legs blended in with the white décor and the room was quiet. Questions filled my mind , eagerly pressing on my skull waiting for an answer. The most pressing being if my parents survived, if everything had just been a very very horrible dream.The glass panelled door pulled sideways, startling me from my thoughts and my uncle walked in. He was clad in black overalls, and he had a grim look on his face. It was quite sobering because ever since I knew him, which was since I was born, he always had a grin lining his face. But this person.. This man, who looked like my uncle, walked like him. But it wasn’t him, this was merely a Shadow of him and it is all my fault.“ Uncle Jerome” I
Alpha Cain’s face didn’t flinch, he sipped his cup of warm water and dropped it on his table. Then nudged his wife a bit, a small smile on his face. But I had clearly seen in his eyes an annoyed glint.“ Let’s not pull the children’s legs too much, now dear. Shall we?” he said to his wife, all glimpse of annoyance flitted out and only a loving affectionate look lining his face. I blinked, then blinked once again. I was fully certain by the second time I had misunderstood. Luna Jamie grinned softly, hands raised up in mock surrender.“ I am kidding, before you guys start planning my death. I just said to pull your legs” she teased. Dad stood up pushing his chair back with his movement then saluted Alpha Cain.“ If you will excuse me” he started gesturing to me and taking hold of my hand in his. “ I’ve got an inpatient daughter’s birthday to celebrate so..”Alpha Cain nodded motioning with hands that we were dismissed. Then he smiled apologetically at me,“ Sorry for keeping your father
He walked ahead of me his footsteps seeming to be increasing with every step. He didn’t bother to turn back to check if I was behind him or not. Well so much for wanting to try not to be rude since this was not my house. But I’ve been here a couple of times, everyone in the pack has been. So I know my way around here easily, but it would have been polite to be led by the owner. But that’s right, this was Aaron we were talking about. He didn’t do polite.Sighing deeply I slammed the door shut behind me, it creaked nosily before making a resounding noise as I quickened my steps to match Aaron’s.“ Can you walk like a normal person?” I heave out tiredly holding my aching ribs as he is about to turn into another hallway. Again. Seriously, the guy could win a contest for speed walking. He pauses at the wall, hands in his pocket.“ I don’t do slow poke” he mocked at me making my eyes almost widen. For one moment, I thought he had been teasing along with me. Which was impossible. Because the
Adeline’s pov“ You know what, I’m out of here” I say turning away and quite enjoying the shocked look that passed both Mom’s and Cecilia’s face. If they want to be their own cute mother’s and daughter’s moment, who was I to stop them?“ Adeline, calm down. There is no need to be worked up” Auntie
Adeline’s povWhat the heck was Cecilia trying to prove by doing this, I wondered despondently as I backed away gingerly from the approaching trio.She smiled at me , waving her hands forward and I all I could see was the evil glint in her eyes and the smirk curling her lips. My heart pounded errat
Adeline’s povI tried not to cry again. This was something my tear ducts were used to, it was almost a routine to watch it dry up and so I sucked in the tears and thought happy thoughts. Thoughts that comprised of the good old earlier days.Looking back to the sequence of events which brought me to






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.