MasukOn the night of her fifth wedding anniversary, Elena Moretti expects love. Instead, she receives divorce papers from her cold, calculating husband Dante Russo, the heir to a powerful mafia family. He accuses her of conspiring against him—information planted by her cunning stepsister, Viviana. Shattered, Elena discovers Dante and Viviana were having an affair. When she confronts Viviana, she’s shoved from a balcony. Her death is ruled a suicide, leaving her honor stained and her story unfinished. But fate isn’t done with Elena. She awakens two years later in the body of Sierra De Luca, a feared mafia princess who’s just emerged from a mysterious coma. With her new identity and Sierra’s influence, Elena plots her return—not to reclaim Dante’s love, but to burn down everything he and Viviana hold dear. Now armed with power, what could possibly stand in the way of her revenge against those that hurt her? Is it rekindled love?
Lihat lebih banyakAula hotel berbintang itu tampak seperti hamparan salju yang beku. Kilatan lampu kristal di langit-langit memantul pada dekorasi serba putih yang megah, namun bagiku, keindahan ini tak lebih dari sekadar penjara.
Tanganku gemetar saat mencoba merapikan anak rambut di balik cadar tipis. Aku bisa merasakan ratusan pasang mata menatapku—beberapa dengan kekaguman, namun lebih banyak dengan tatapan mencemooh yang tak disembunyikan. "Jangan berani-berani mempermalukan aku hari ini, Gia," desis Bibi Lastri, tepat di telingaku. Aku tersentak, menoleh pelan. Bibiku itu tersenyum lebar ke arah para tamu, namun jarinya mencubit lenganku dengan keras di balik lipatan gaun pengantin. "Ingat, hutang judiku lunas karena kau laku dijual pada keluarga Dirgantara," bisiknya lagi, suaranya ringan namun setajam pisau "Berdirilah yang tegak. Kau itu pajangan mahal sekarang. Jangan sampai cacatmu merusak harga jualmu!" Aku hanya bisa menelan ludah yang terasa pahit. Lidahku kelu, bukan karena aku gugup, tapi karena takdir memang merampas suaraku sejak lama. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang berpacu liar di balik dada yang sesak. Langkahku terasa berat saat berjalan menyusuri karpet merah menuju altar. Di sana, seorang pria berdiri dengan angkuh. Arkan Dirgantara. CEO yang dijuluki pria "mati rasa" itu bahkan tidak menoleh saat aku sampai di sampingnya. Wajahnya seperti pahatan batu es—tampan, namun tanpa nyawa. "Kita bisa mulai sekarang? Aku tidak punya banyak waktu untuk pertunjukan ini," tanya Arkan dingin. Suaranya berat dan tidak sabar. Pendeta yang berdiri di depan kami tampak sedikit terkejut. "Ah, ya. Tentu, Tuan Arkan." Selama pembacaan janji suci, Arkan mengucapkannya seperti sedang membacakan laporan tahunan perusahaan. Tanpa jeda, tanpa emosi. Saat tiba giliranku, aku hanya bisa memberikan anggukan kecil dan menandatangani dokumen wasiat yang mengikat hidupku padanya. "Sekarang, silakan Tuan Arkan mencium pengantin Anda," ucap Pendeta dengan senyum canggung. Arkan berbalik ke arahku. Untuk pertama kalinya, mata elangnya menatapku lurus. Tajam dan menghunus. Ia mendekatkan wajahnya, membuatku refleks menahan napas. Namun, alih-alih sebuah ciuman, ia hanya menempelkan bibirnya di keningku dengan gerakan sekilas. "Jangan berharap ada cinta dalam drama ini, Gadis Bunga," bisiknya begitu rendah sehingga hanya aku yang bisa menangkap getaran suaranya. Hatiku mencelos. Aku hanya bisa menatap punggungnya saat ia berbalik menyapa para kolega bisnisnya, meninggalkan aku berdiri sendirian di altar sebagai pengantin yang terabaikan. Resepsi itu berlangsung berjam-jam. Kakiku sudah nyaris lumpuh di balik sepatu hak tinggi yang menyiksa, namun penderitaan sesungguhnya baru dimulai saat seorang wanita paruh baya dengan riasan tebal mendekat ke arah kami. Sandra, ibu mertuaku. "Jadi, ini 'pajangan' baru yang dipilih kakekmu, Arkan?" sindir wanita itu. Arkan menyesap sampanyenya tanpa ekspresi. "Wasiat Kakek sudah terpenuhi, Ma. Itu yang paling penting sekarang." Sandra berputar mengelilingiku, menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan jijik. "Kakekmu pasti sudah pikun. Apa tidak ada wanita normal di kota ini sampai dia harus menyeret gadis bisu ke rumah Dirgantara?" Aku memejamkan mata, tanganku meremas kain gaun pengantin dengan kuat. "Dia tidak bisa bicara, Ma. Itu keuntungan. Dia tidak akan banyak mengeluh saat aku pulang terlambat," sahut Arkan datar. "Kau pikir Mama peduli dia bicara atau tidak?" Sandra mendengus. "Yang Mama peduli adalah rahimnya. Apa kau pikir gadis cacat ini bisa memberikan pewaris yang sempurna bagi keluarga kita?" Aku tersentak, kepalaku mendongak menatapnya. Mataku mulai memanas. "Jangan menatapku seperti itu!" bentak Sandra. "Kau pikir dengan wajah memelas itu kau bisa lari dari tanggung jawabmu? Di rumah ini, kau tidak punya suara, dan kau juga tidak punya hak untuk bersedih." Aku hanya bisa menunduk. Isyarat tanganku tidak akan berguna di sini. Mereka tidak mau mengerti, mereka hanya ingin menindas. "Sudahlah, Ma. Resepsi ini membosankan," potong Arkan. Ia menatapku sekilas. "Ayo. Kita pulang ke neraka yang baru." Mansion keluarga Dirgantara jauh lebih besar dari toko bunga kecilku, namun suasananya jauh lebih mencekam. Begitu pintu kamar utama tertutup, Arkan langsung melepas dasinya dengan kasar dan melemparkannya ke lantai. "Kenapa kau masih berdiri di sana? Cepat ganti bajumu," tanyanya tanpa menoleh. Aku mengambil ponselku, lalu mengetik dengan jari gemetar: Aku harus tidur di mana? Arkan merampas ponsel dari tanganku. Ia tertawa sinis. "Kau pikir aku akan berbagi ranjang denganmu? Tidurlah di sofa atau di mana saja kau mau, asal jangan di sampingku." Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Aku meraih lengannya, mencoba memberanikan diri untuk berkomunikasi. "Lepas!" bentak Arkan, menepis tanganku dengan kasar. "Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu itu!" Aku terhuyung ke belakang, menabrak lemari kaca. Dadaku sesak. Isakan tanpa suara keluar dari tenggorokanku. "Dengar, Gia," Arkan melangkah mendekat, mengintimidasi. "Aku menikahimu hanya karena wasiat Kakek agar aku tidak kehilangan hak waris. Kau tidak lebih dari pajangab. Diamlah seperti biasanya, dan mungkin kau akan bertahan hidup." "Jangan menangis. Air matamu itu palsu, persis seperti pernikahan ini," tambahnya sambil membanting pintu balkon hingga suara kaca bergetar. Aku jatuh terduduk di atas karpet. Malam pertama yang seharusnya indah, justru menjadi awal dari kehancuran. Tiba-tiba, pintu kamar diketuk dengan sangat keras. "Arkan! Buka! Mama tahu kalian ada di dalam!" suara Sandra berteriak. Arkan masuk kembali dari balkon dan membuka pintu. Sandra menyeruak masuk dengan wajah penuh amarah. Ia langsung menuju ke arahku dan menjambak rambutku, memaksaku berdiri. "Bangun kau, Gadis Penipu!" "Ma! Hentikan!" teriak Arkan, namun ia tidak melangkah untuk membantuku. "Diam kau, Arkan! Mama baru saja mendapat kabar bahwa gadis ini menyembunyikan sesuatu," Sandra melemparkan sebuah amplop cokelat ke wajahku. "Apa ini? Catatan medis dari panti asuhan? Dia bukan hanya bisu, Arkan! Dia cacat mental!" Aku menggeleng kuat-kuat. Tanganku bergerak liar melakukan isyarat: Tidak! Itu tidak benar! Aku normal! "Lihat! Lihat gerakan tangannya yang aneh itu!" Sandra menunjukku dengan jijik. "Dia gila! Buang dia sekarang juga, Arkan!" Arkan mengambil dokumen itu dan membacanya perlahan. Suasana menjadi sunyi senyap. "Keluar, Ma," ucap Arkan lirih. "Apa? Arkan, kau dengar Mama—" "KELUAR!" bentak Arkan dengan suara yang menggelegar. Setelah Sandra pergi, Arkan meremas dokumen itu hingga hancur. Ia mencengkeram rahangku dengan satu tangan, memaksaku menatap matanya yang memerah. "Jadi, selain bisu, kau juga menyimpan banyak kegilaan?" bisiknya tajam. "Katakan padaku, apalagi yang kau sembunyikan di balik wajah polosmu ini?" Aku hanya bisa menggeleng, air mataku jatuh mengenai tangannya. "Jangan pernah berpikir kau bisa mempermainkanku," Arkan menghempaskan rahangku dengan kasar. "Besok, penderitaanmu yang sesungguhnya baru akan dimulai."Chapter 10: Are you ready to face him again?SierraI woke up to the morning sunlight filtering softly through the tall windows of my bedroom, Sierra’s bedroom that was now mine, well, apparently because I was in her body. The light from the window stretched across the floor until it reached the edge of my bed. The warmth brushed against my face causing me to squint as I forced my eyes fully open.I had barely slept. The heaviness behind my eyes made that painfully obvious. Every time I tried to drift off during the night, my mind dragged me back to the same thought.The thought of Dante, the thought of what I was about to do today.I slowly pushed the covers aside and sat up. The silk sheets rustled softly as my feet touched the floor. For a moment I simply sat there, at the edge of my bed, collecting myself, forcing my breathing into something steady.My hair had completely escaped the bonnet I wore to bed. The dark strands had spilled messily across my shoulders and down my back.
Chapter 9: "Don't let your mask slip."The night air felt cool against my skin as I stood on the balcony, staring out into the darkness the way someone might stare into a mirror, quiet, uncertain, and full of questions I didn’t want answers to.The wind brushed past me in soft, restless waves, teasing the loose strands of my hair and carrying the scent of the garden below. It danced around me gently, as if trying to calm the storm brewing in my chest. I lifted the glass of wine to my lips, Dante’s favourite wine, the same I had ordered at the party, and let the taste linger there longer than necessary.I shouldn’t have been thinking about him.But I was. Or maybe I should, and it should be how to destroy him.I hadn’t expected the effect he would have on me at the party. One look from him and the carefully built walls I had spent the past six months constructing had trembled—just a little, but enough for me to notice. His eyes had locked with mine, and for a heartbeat, I had forgotte
Chapter 8: Haunting thoughts.Dante's POV I stood by the window again.It had become a habit I never consciously formed, yet one I never broke. The city stretched beneath me, endless streets, fading headlights, the slow pulse of the night. But none of it settled the restlessness twisting inside my chest. I lifted the glass of wine to my lips, the same vintage Sierra had been drinking at the party. My favourite. For a split second, just for a fleeting one, I had thought she reminded me of Elena. Hell, she could have been Elena. I let out a bitter laughter.My fingers tightened around the stem of the glass.It had been two years.Two whole years, and the nights had not grown any easier.I turned away from the window and walked toward my desk. The drawer resisted at first—as if even it wanted to keep the past buried, but it slid open with a low scrape. I reached inside and pulled out the small photograph I could never bring myself to destroy.Elena and I, standing on the balcony of the
Chapter 7: The little heiress Viviana's POV The drive home was painfully quiet. Raw anger from the event still lingered somewhere within.Dante was sitted beside me in the car, staring out the window the whole time, his eyes stayed locked on nothing, his mind clearly far away. I kept my gaze on the dark road, but every few seconds, my eyes slid toward him. He didn’t blink much. He just kept his head straight ahead. This wasn't a good sign. He was thinking about her.I didn’t need anyone to tell me that.My jaw tightened. The last time I had seen Dante have this reaction over a woman was two years ago. Elena, she has been taken out of the way.The scene from the ballroom kept playing in my mind like a broken film reel. The moment Sierra De Luca walked into that ballroom, Dante’s attention snapped to her like a magnet. I saw it right away, I noticed The way his eyes widened a little. The way he froze. I didn't know what it was, big something definitely flickered.Then he sneakily lef
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.