The Mafia ex wife's revenge

The Mafia ex wife's revenge

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-10
Oleh:  Ada's penOngoing
Bahasa: English
goodnovel16goodnovel
Belum ada penilaian
10Bab
1.9KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

On the night of her fifth wedding anniversary, Elena Moretti expects love. Instead, she receives divorce papers from her cold, calculating husband Dante Russo, the heir to a powerful mafia family. He accuses her of conspiring against him—information planted by her cunning stepsister, Viviana. Shattered, Elena discovers Dante and Viviana were having an affair. When she confronts Viviana, she’s shoved from a balcony. Her death is ruled a suicide, leaving her honor stained and her story unfinished. But fate isn’t done with Elena. She awakens two years later in the body of Sierra De Luca, a feared mafia princess who’s just emerged from a mysterious coma. With her new identity and Sierra’s influence, Elena plots her return—not to reclaim Dante’s love, but to burn down everything he and Viviana hold dear. Now armed with power, what could possibly stand in the way of her revenge against those that hurt her? Is it rekindled love?

Lihat lebih banyak

Bab 1

chapter 1: I fell to my death.

Aula hotel berbintang itu tampak seperti hamparan salju yang beku. Kilatan lampu kristal di langit-langit memantul pada dekorasi serba putih yang megah, namun bagiku, keindahan ini tak lebih dari sekadar penjara.

Tanganku gemetar saat mencoba merapikan anak rambut di balik cadar tipis. Aku bisa merasakan ratusan pasang mata menatapku—beberapa dengan kekaguman, namun lebih banyak dengan tatapan mencemooh yang tak disembunyikan.

"Jangan berani-berani mempermalukan aku hari ini, Gia," desis Bibi Lastri, tepat di telingaku.

Aku tersentak, menoleh pelan. Bibiku itu tersenyum lebar ke arah para tamu, namun jarinya mencubit lenganku dengan keras di balik lipatan gaun pengantin.

"Ingat, hutang judiku lunas karena kau laku dijual pada keluarga Dirgantara," bisiknya lagi, suaranya ringan namun setajam pisau "Berdirilah yang tegak. Kau itu pajangan mahal sekarang. Jangan sampai cacatmu merusak harga jualmu!"

Aku hanya bisa menelan ludah yang terasa pahit. Lidahku kelu, bukan karena aku gugup, tapi karena takdir memang merampas suaraku sejak lama. Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang berpacu liar di balik dada yang sesak.

Langkahku terasa berat saat berjalan menyusuri karpet merah menuju altar. Di sana, seorang pria berdiri dengan angkuh. Arkan Dirgantara. CEO yang dijuluki pria "mati rasa" itu bahkan tidak menoleh saat aku sampai di sampingnya. Wajahnya seperti pahatan batu es—tampan, namun tanpa nyawa.

"Kita bisa mulai sekarang? Aku tidak punya banyak waktu untuk pertunjukan ini," tanya Arkan dingin. Suaranya berat dan tidak sabar.

Pendeta yang berdiri di depan kami tampak sedikit terkejut. "Ah, ya. Tentu, Tuan Arkan."

Selama pembacaan janji suci, Arkan mengucapkannya seperti sedang membacakan laporan tahunan perusahaan. Tanpa jeda, tanpa emosi. Saat tiba giliranku, aku hanya bisa memberikan anggukan kecil dan menandatangani dokumen wasiat yang mengikat hidupku padanya.

"Sekarang, silakan Tuan Arkan mencium pengantin Anda," ucap Pendeta dengan senyum canggung.

Arkan berbalik ke arahku. Untuk pertama kalinya, mata elangnya menatapku lurus. Tajam dan menghunus. Ia mendekatkan wajahnya, membuatku refleks menahan napas. Namun, alih-alih sebuah ciuman, ia hanya menempelkan bibirnya di keningku dengan gerakan sekilas.

"Jangan berharap ada cinta dalam drama ini, Gadis Bunga," bisiknya begitu rendah sehingga hanya aku yang bisa menangkap getaran suaranya.

Hatiku mencelos. Aku hanya bisa menatap punggungnya saat ia berbalik menyapa para kolega bisnisnya, meninggalkan aku berdiri sendirian di altar sebagai pengantin yang terabaikan.

Resepsi itu berlangsung berjam-jam. Kakiku sudah nyaris lumpuh di balik sepatu hak tinggi yang menyiksa, namun penderitaan sesungguhnya baru dimulai saat seorang wanita paruh baya dengan riasan tebal mendekat ke arah kami. Sandra, ibu mertuaku.

"Jadi, ini 'pajangan' baru yang dipilih kakekmu, Arkan?" sindir wanita itu.

Arkan menyesap sampanyenya tanpa ekspresi. "Wasiat Kakek sudah terpenuhi, Ma. Itu yang paling penting sekarang."

Sandra berputar mengelilingiku, menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan jijik. "Kakekmu pasti sudah pikun. Apa tidak ada wanita normal di kota ini sampai dia harus menyeret gadis bisu ke rumah Dirgantara?"

Aku memejamkan mata, tanganku meremas kain gaun pengantin dengan kuat.

"Dia tidak bisa bicara, Ma. Itu keuntungan. Dia tidak akan banyak mengeluh saat aku pulang terlambat," sahut Arkan datar.

"Kau pikir Mama peduli dia bicara atau tidak?" Sandra mendengus. "Yang Mama peduli adalah rahimnya. Apa kau pikir gadis cacat ini bisa memberikan pewaris yang sempurna bagi keluarga kita?"

Aku tersentak, kepalaku mendongak menatapnya. Mataku mulai memanas.

"Jangan menatapku seperti itu!" bentak Sandra. "Kau pikir dengan wajah memelas itu kau bisa lari dari tanggung jawabmu? Di rumah ini, kau tidak punya suara, dan kau juga tidak punya hak untuk bersedih."

Aku hanya bisa menunduk. Isyarat tanganku tidak akan berguna di sini. Mereka tidak mau mengerti, mereka hanya ingin menindas.

"Sudahlah, Ma. Resepsi ini membosankan," potong Arkan. Ia menatapku sekilas. "Ayo. Kita pulang ke neraka yang baru."

Mansion keluarga Dirgantara jauh lebih besar dari toko bunga kecilku, namun suasananya jauh lebih mencekam. Begitu pintu kamar utama tertutup, Arkan langsung melepas dasinya dengan kasar dan melemparkannya ke lantai.

"Kenapa kau masih berdiri di sana? Cepat ganti bajumu," tanyanya tanpa menoleh.

Aku mengambil ponselku, lalu mengetik dengan jari gemetar: Aku harus tidur di mana?

Arkan merampas ponsel dari tanganku. Ia tertawa sinis. "Kau pikir aku akan berbagi ranjang denganmu? Tidurlah di sofa atau di mana saja kau mau, asal jangan di sampingku."

Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Aku meraih lengannya, mencoba memberanikan diri untuk berkomunikasi.

"Lepas!" bentak Arkan, menepis tanganku dengan kasar. "Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotormu itu!"

Aku terhuyung ke belakang, menabrak lemari kaca. Dadaku sesak. Isakan tanpa suara keluar dari tenggorokanku.

"Dengar, Gia," Arkan melangkah mendekat, mengintimidasi. "Aku menikahimu hanya karena wasiat Kakek agar aku tidak kehilangan hak waris. Kau tidak lebih dari pajangab. Diamlah seperti biasanya, dan mungkin kau akan bertahan hidup."

"Jangan menangis. Air matamu itu palsu, persis seperti pernikahan ini," tambahnya sambil membanting pintu balkon hingga suara kaca bergetar.

Aku jatuh terduduk di atas karpet. Malam pertama yang seharusnya indah, justru menjadi awal dari kehancuran. Tiba-tiba, pintu kamar diketuk dengan sangat keras.

"Arkan! Buka! Mama tahu kalian ada di dalam!" suara Sandra berteriak.

Arkan masuk kembali dari balkon dan membuka pintu. Sandra menyeruak masuk dengan wajah penuh amarah. Ia langsung menuju ke arahku dan menjambak rambutku, memaksaku berdiri.

"Bangun kau, Gadis Penipu!"

"Ma! Hentikan!" teriak Arkan, namun ia tidak melangkah untuk membantuku.

"Diam kau, Arkan! Mama baru saja mendapat kabar bahwa gadis ini menyembunyikan sesuatu," Sandra melemparkan sebuah amplop cokelat ke wajahku. "Apa ini? Catatan medis dari panti asuhan? Dia bukan hanya bisu, Arkan! Dia cacat mental!"

Aku menggeleng kuat-kuat. Tanganku bergerak liar melakukan isyarat: Tidak! Itu tidak benar! Aku normal!

"Lihat! Lihat gerakan tangannya yang aneh itu!" Sandra menunjukku dengan jijik. "Dia gila! Buang dia sekarang juga, Arkan!"

Arkan mengambil dokumen itu dan membacanya perlahan. Suasana menjadi sunyi senyap.

"Keluar, Ma," ucap Arkan lirih.

"Apa? Arkan, kau dengar Mama—"

"KELUAR!" bentak Arkan dengan suara yang menggelegar.

Setelah Sandra pergi, Arkan meremas dokumen itu hingga hancur. Ia mencengkeram rahangku dengan satu tangan, memaksaku menatap matanya yang memerah.

"Jadi, selain bisu, kau juga menyimpan banyak kegilaan?" bisiknya tajam. "Katakan padaku, apalagi yang kau sembunyikan di balik wajah polosmu ini?"

Aku hanya bisa menggeleng, air mataku jatuh mengenai tangannya.

"Jangan pernah berpikir kau bisa mempermainkanku," Arkan menghempaskan rahangku dengan kasar. "Besok, penderitaanmu yang sesungguhnya baru akan dimulai."

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Tidak ada komentar
10 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status