LOGINThe tale of a widow's harrowing journey through grief and peril into the cold remnants of a dead world. Damon Sharpe had in part found victory, he believed, in his battle to unearth a truth obscured by time. By autumn, he was dead, leaving to his wife Anne a house of unfulfilled wishes, remnants, and the key to the enigma of his obsession, the Mourner’s Cradle. A journey through grief and peril delivers Anne Sharpe from her home in St. Charles to the faraway skeletons of a long-dead civilization where she will find the desperate answers she seeks…or die trying. ©️ Crystal Lake Publishing
View MoreMata Salwa memaksakan diri untuk membuka tatkala merasakan sesuatu yang lembab dan basah menyapu ujung dadanya. Permukaan tubuhnya terasa mengigil, seolah-olah tiada kain yang melindungi tubuh kurus dari hawa dingin ruangan ber-AC itu. Dia terkesiap di saat matanya terbuka sempurna, lalu bersiap membuka mulut untuk berteriak. Akan tetapi, suaranya tertahan karena sebuah tangan kekar tiba-tiba membungkam mulutnya.
"Tugasmu belum selesai, Kucing Mungil!" ucap seorang lelaki yang telah mengganggu tidur lelap Salwa. Dia melepas bungkamannya setelah dirasa perempuan itu sedikit tenang.
"Tuan, ...." Belum selesai sebuah kalimat terucap, tetapi lelaki itu sudah memerangkap tubuh Salwa, menindih dengan memosisikan tubuh mungil itu di bawahnya. Dia menundukkan wajah, menempelkan ujung hidungnya ke ujung hidung Salwa.
"Aku tidak suka jika melakukan itu dengan wanita yang sedang tertidur. Kau harus tetap sadar ketika aku menginginkannya lagi."
"Tapi, ...." Dia ingin menyela, mengungkapkan ketidaksetujuannya, tetapi mulut itu telah dibungkam dengan ciuman ganas yang terasa kasar dan menyakitkan.
Rasa benci, jijik, malu, terhina, dan sakit melingkupi hati Salwa. Dia ingin berteriak, melawan sikap seenaknya lelaki itu, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain "menyerah".
***
Koowloon, Hong Kong.
Mobil sport jenis Lamborghini Veneno dengan warna hitam metalic itu melaju gesit, membelah keramain jalan raya di salah satu kota besar di Hong Kong. Lekuk body mobil itu terlihat begitu exotic di bagian tertentu, terlihat elegan juga mewah menambah kesan mahal dari segi harga dan kualitas.
Lelaki itu menggulung lengan kemejanya sebatas siku. Pandangannya lurus ke depan terfokus ke jalanan, dengan kacamata hitam bertengger di hidung mancung yang selalu terlihat tampan dan menawan.
"Kalian di mana?" ucapnya kepada seseorang berada nan jauh di sana yang kini sedang terhubung dengan lelaki itu melalui Smartphone keluaran terbaru versi limited edition.
Dia menyematkan earpiece di telinga, sementara tangannya sedang fokus mengendara agar segera sampai ke tempat tujuan.
"Bodoh! Benar-benar tidak berguna!" Umpatan kesal keluar dari mulut lelaki itu sembari memukul gagang setir mobil.
Kilat kemarahan tercetak jelas dari sorot matanya, gerahamnya pun mengeras bersamaan kening yang berkerut dalam. "Bunuh saja dia! Aku sudah tidak peduli dengan nyawa yang tak berguna itu."
Panggilan berakhir dengan hasil yang tidak memuaskan. Lelaki itu menambah laju kendaraannya, menerobos kepadatan jalan raya kota Kowloon.
Hampir tiga puluh menit berlalu, mobil mewah itu akhirnya berhenti tepat di sebuah lahan kosong dengan bangunan tua yang tampak menyeramkan. Tanaman rambat liar terlihat menghiasi bangunan itu, menjalar hingga ke atap, hampir menutupi permukaannya.
Lelaki itu turun tanpa ragu, menapakkan kaki jenjang yang beralas sepatu berkilat-kilat, melangkah ringan tanpa beban seolah-olah apa yang akan dia hadapi saat ini merupakan mainan tak berharga dan patut untuk segera dimusnahkan keberadaannya.
Dia berjalan melewati lorong gelap bangunan tua itu seorang diri. Begitu gelap, hingga dia harus mengaktifkan kacamata sensornya yang bisa melihat dalam gulita untuk bisa mengamati keadaan sekitar.
Layaknya seorang petinggi, saat dia datang, semua orang yang berpakaian sama yaitu setelan formal serba hitam, kacamata hitam dengan earpiece tersemat di telinga yang menghubungkan antara satu orang dengan yang lain segera menepi memberi jalan, membiarkan seseorang bernasib sial, yang kini sedang mengerang kesakitan akibat pukulan-pukulan yang telah diterima untuk bertemu dengan takdir sesungguhnya.
Derap langkah sepatunya berdentum, menggema melingkupi ruangan itu, hingga ketika kakinya sudah sangat dekat dengan seonggok tubuh, hampir menyentuh kepala lelaki malang yang sedang meringkuk di lantai, dia berhenti.
Satu kaki ditekuk ke belakang dengan kaki yang lain terlipat sebagai tumpuan. Dia memosisikan tangan kanan di atas lututnya yang ditekuk, sedangkan tangan kirinya menarik paksa rambut si lelaki malang hingga kepala itu tergiring menengadah.
"Siapa yang menyuruhmu!"
Bukan jawaban yang keluar dari bibir lelaki malang itu, melainkan sebuah senyuman mengejek yang sengaja ditujukan kepada seseorang yang telah menyiksanya. Dia mencoba memantik kemarahan sang singa, yang kini tampak mulai tidak sabar untuk melenyapkannya. Ya, dia adalah satu-satunya petunjuk yang masih tersisa setelah beberapa rekannya telah mati terbunuh.
"Ambilkan air!"
Sebuah perintah terdengar penuh ketegasan, dan dengan cepat seseorang telah datang seraya membawa sebuah wadah berisi air.
Lelaki itu mengambil alih wadah itu, menyiramkannya secara kasar ke wajah lelaki malang yang sedang meringkuk kesakitan. Sepatunya menginjak dada manusia yang tak berdaya itu dengan kejam. Dia membungkukkan tubuh, menunduk, lalu menatap tajam ke arah lelaki itu.
"Kau tahu bukan, siapa aku?" Dia tersenyum sinis, menambah daya tekan kakinya di atas dada lelaki malang itu. "Cari anak istrinya! Siksa mereka agar dia mau membuka mulut!"
Lelaki malang itu tercengang, tidak menyangka dengan ucapan yang terlontar dari bibir pria jahat itu. Dia lupa siapa yang sedang dihadapinya, sosok iblis yang tak berperikemanusiaan juga tak memiliki empati serta belas kasihan. Pikirannya seketika berkecamuk, saling beradu pendapat dan berakhir dengan sebuah jawaban, kematian.
Sungguh kematian lebih baik baginya daripada harus menyaksikan istri dan anaknya disiksa oleh lelaki bengis itu. Jika dia bersuara, seseorang yang telah menyuruhnya akan berbuat sama dengan keluarganya. Dua manusia kejam yang berdiri mengelilingi kehidupannya membuat lelaki malang itu tak sanggup untuk memilih, hingga sebuah keputusan sulit harus ditempuhnya.
Lelaki malang itu menjulurkan lidah semampu yang dia bisa, menggigitnya dengan kuat hingga darah segar menetes sedikit demi sedikit dan ....
Ya, kematian seperti keinginannya telah terwujud dan disaksikan langsung oleh lelaki kejam yang berdiri di atasnya, Sean Arthur.
"Singkirkan mayat yang tak berguna ini!" Dia berteriak kesal, menahan amarah yang bergemuruh di dada. Bahkan, tawanan rela memilih mati daripada harus membuka mulutnya untuk memberikan sebuah jawaban.
Sean Arthur melangkahi jenazah itu begitu saja, seolah-olah tubuh yang baru saja mengakhiri kehidupan di depan matanya tidak memiliki harga sama sekali.
***
Bertolak belakang dengan kehidupan seorang Sean Arthur. Di tempat yang berbeda, di salah satu sudut kota di Indonesia, tampaklah seorang gadis baru saja keluar dari pagar sekolahnya. Senyum mengembang terlihat jelas di wajah gadis berkerudung putih itu. Dengan semangat dia berlari sembari mencangklong tas sekolah di bahunya. Ijazah dengan nilai terbaik sudah berada di tangan kanannya. Dia ingin menunjukkan kepada orang tuanya bahwa nilai terbaik sudah berhasil ia dapatkan. Bukan hanya itu, tawaran beasiswa dari salah satu perusahaan terkemuka untuk melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi juga telah berhasil dia raih.
Sungguh hari ini adalah hari keberuntungan bagi gadis itu, Salwa Humaira.
Mengabaikan peluh di dahi, Salwa Humaira yang baru saja menerima piagam kelulusan dari sekolah menengah atas berlari memasuki pelataran rumahnya. Rumah berbahan dasar bambu yang dianyam sebagai dinding, beralas semen yang tampak tidak rata permukaannya, dan bilah bambu yang dirakit sedemikian rupa untuk dijadikan ranjang tidur yang terletak di sudut teras rumahnya.
Salwa menghentikan langkah, ketika kakinya telah sampai di depan pintu rumah. Dia mengatur napas sejenak, sebelum pada akhirnya memasuki rumah itu yang tak terlihat terbuka pintu depannya.
"Assalamu'alaikum," ucap Salwa memberi salam. Tiada jawaban yang terdengar dari dalam rumah. Dia terus melangkah, masuk ke dalam rumah yang terlihat sunyi, sangat berbeda dengan biasanya.
Sayup-sayup terdengar panggilan dari luar rumah, membuat Salwa segera meletakkan tas dan ijazah yang sedari tadi dia genggam. Dia buru-buru keluar tanpa sempat berganti pakaian.
"Salwa, Salwa!"
Gadis itu terus melangkah, hingga terhenti di depan pintu. Pandangannya bersirobok dengan seorang wanita berbadan tambun yang terlihat tak sabar ingin menyampaikan sesuatu.
"Bapakmu ... masuk rumah sakit." Wanita itu berbicara tanpa menunggu Salwa menanyainya.
Salwa ternganga, terkejut akan kabar yang baru saja dia terima. Patutlah tak ada seorang pun yang berada di rumahnya, karena mereka semua sedang sibuk di rumah sakit.
"Tante Ayi, bisakah mengantarkan saya ke sana? Saya ... tidak memiliki uang untuk pergi," pinta Salwa dengan ragu.
Kehidupannya memang sulit. Dia lebih banyak jalan kaki atau menumpang teman yang kebetulan searah dengannya jika akan berangkat atau pulang sekolah. Sepeda roda dua satu-satunya digunakan oleh kedua adik laki-laki Salwa yang masih mengenyam pendidikan sekolah menengah pertama. Ya, Salwa adalah anak sulung dari empat bersaudara, hal itu membuatnya harus lebih banyak mengalah untuk kepentingan adik-adiknya daripada kepentingannya sendiri.
Tante Ayi mengangguk menyetujui. Dia sangat tahu bagaimana kondisi keluarga Salwa sehingga dia memilih untuk mengantarkan Salwa ke rumah sakit di mana bapaknya sedang dirawat.
"Tunggu sebentar, Tan! Saya akan berganti pakaian."
Salwa segera masuk kembali ke dalam rumahnya, bersiap diri untuk segera berganti pakaian. Tidak menunggu lama, gadis itu telah siap dengan pakaian rumahan juga kerudung instan yang dipakai alakadarnya, tak lupa juga tas punggung yang entah apa isinya.
Dia berlari kecil ke luar rumah agar Tante Ayi tidak terlalu lama menunggu kedatangannya. Dia mengangguk kemudian, menutup rapat pintu rumah, lalu mengikuti Tante Ayi pergi.
Hati Salwa begitu gelisah memikirkan apa yang baru saja terjadi. Bapaknya sedang sakit, sementara ibunya pasti harus bekerja lebih untuk mencukupi segala kebutuhan keluarga. Apakah dia akan tega jika memutuskan untuk melanjutkan kuliah di tengah perekonomian keluarga yang sedang terpuruk?
Dia adalah anak sulung, dan di sana ada tiga orang Adik yang harus ditanggung kebutuhan juga pendidikannya. Bukankah sudah sepatutnya Salwa harus membantu kehidupan keluarga, meringankan beban sang Ibu agar tidak terlalu berat memikul masalah keluarga. Lantas, bagaimana dengan mimpi-mimpinya? Bagaimana dengan beasiswa yang berhasil diraihnya?
Salwa termenung di atas jok motor Tante Ayi yang sedang membawanya ke rumah sakit. Pikirannya saling bertentangan, beradu, mencari jalan keluar atas apa yang sedang menimpa keluarganya.
Antara melanjutkan kuliah atau mencari pekerjaan. Antara mengejar mimpi atau meringankan beban keluarga. Salwa harus bisa memilih di antara keduanya. Merelakan mimpi yang sudah hampir dia raih, atau merelakan mimpi itu pergi setelah perjuangan berat yang dia lakukan selama ini untuk mendapatkannya. Ya, keputusan itu harus diambil dengan segera oleh Salwa, karena hanya dia seorang yang bisa diandalkan dalam keluarganya untuk saat ini.
TRAGEDYIAt the frontdesk of the King’s Motel, Mike Williams read a newspaper, absorbing further second-hand details of the quake’s impact along with all of the latest sports updates. The maid came in to work as usual but shrank away from cleaning one of the rooms. The guest there had screamed at her like a lunatic, she claimed.Annoyed, Mike dropped the newspaper and stood up. Since the maid couldn’t be bothered to do her job today, it fell on his shoulders.He snatched the maid’s cart from her and wheeled it to the room. The door stood slightly open, he noticed. He knocked. No one answered.“Anybody in there?” he called. He allowed five seconds for a response before he pushed the red door wide open and walked in.The room was vacant. The comforter lay halfway off the bed. The sheets were wrinkled.The clock radio on the bedside nightstand blared the news. He almost switched it off, but decided not to bother. At least it gave him something to listen to while he took his
MINUTE OF TRUTHIThe ground steadied across St. Charles. Mike Williams still sat in the storage room behind the front counter of the King’s Motel, watching continued coverage of the earthquake’s effects.“Authorities have reported that the River Bridge has been closed due to the earthquake’s destruction,” the reporter said. “All around St. Charles, especially downtown, we continue to receive reports of damages. While many people around the city are working to pick up the pieces, a few have questioned the possibility of an aftershock. We’ll have more on this later. We will also be on the scene with officers at the River Bridge for a full report on the additional difficulties this catastrophe could mean for the residents of St. Charles in the days and months ahead. Please stay tuned to this channel for further updates as they develop.”Around the River Bridge, blue lights whirled. Police guarded the River Bridge and turned away traffic as it arrived. Below, on both sides of the rive
HOUR OF DESTRUCTIONIAnne stumbled outof her motel room. The sickness lurched in her again with another sudden bout of dizziness. Coupled with the unsteady ground, it almost staggered her.The vibrations in the ground were no delusions. They were as real as the cold feeling that gripped her inside.Why the ground shook, she couldn’t begin to guess. Of the rest, Anne suspected, she was dying.That exhausting climb into the mountains, the loss suffered, and her experience in the pit had not been altogether in vain. The secret of that place was inside her, changing her. She had merely failed to realize it until now.Many of the motel’s other customers stood outside. The vibrations beneath their feet and the rattling of mirrors, windows, and anything that wasn’t bolted down had driven them out. Undistracted by the shouts and excited conversations all around, Anne stumbled away from the King’s Motel.Her feet reached the hard street. She followed the long, dark stretch but cou
DOWNTOWNIOn an outeredge of St. Charles, just before the downtown area thinned toward the outskirts, the flickering neon sign of the King’s Motel burned against the night. For Anne, cheap rooms were the motel’s prime selling point. She had almost two hundred dollars in cash left.The mustached man behind the counter, whose name tag read Mike, pretended not to see her at first. She stood waiting for almost a minute before he raised his head to regard her for an expressionless moment.“Can I help you?” he asked.“I need a room,” she said.“How many nights?”“One. For now.”“Eight dollars.”Anne lowered the green pack onto the floor and crouched to open it. She sorted through it until she came up with seven crumpled dollar bills, which she tossed onto the counter along with a handful of change. Mike blew audibly through his nostrils. He took the money and slid a key onto the counter.“Room 26,” Mike said, and turned his attention elsewhere.Anne took the key and exited
GHOST OF THE PASTIShe came alonefrom the mountains. Thin, frail, and ashen, she appeared the ghost of a woman.The people of the small countryside village watched her as they had before. They didn’t recognize her from the previous occasion. She spoke little, only dropping a few items in trade f
INTO WHITEIRuben opened hiseyes. He thought he might have heard something. A heavy sleep weighed on him. He struggled feebly to hold it at bay.Who was there? Was it Anne?He drew a slow breath. He waited for Anne to come into view. She never did.Maybe he had only been hearing things, deceiving
INTO DARKNESSIAnne flung herarms out to grab anything she could, but found nothing in the open darkness. She screamed. There was nothing else she could do. When she hit the ground, she would die a quick death at best, or else she would break both of her legs and suffer until she perished.She t
THE MOUNTAIN MYSTERYIAnne didn’t thinkshe would ever get used to the soreness. Her body wasn’t used to this. Regardless, she forced herself out of the makeshift shelter. Ruben didn’t stir. She put a hand on his shoulder and gave it an easy, but firm, shove.“Ruben, wake up,” she said. “We have
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.