LOGINAlthough I was the second child in the family, my mother loved me the most. When Dad bought my sister a new dress, she stayed up late knitting a sweater for me. When Grandma took my younger brother out for burgers, she baked me a homemade sponge cake. Until the New Year’s Eve dinner. Dad placed the big chicken drumstick onto my sister’s plate. Grandma immediately stuffed the other one into my brother’s. My mother hurriedly picked the chicken wing from her plate and placed it onto mine, smiling as she said, “I saved this especially for you.” The relatives laughed and teased, “Your family really has a clear division of love. Everyone spoils a different child. What a loving family.” The next second, I suddenly flipped the table. Under everyone’s stunned gaze, I grabbed that chicken wing and shoved it straight into my mother’s mouth.
View More"Selamat pagi, Pak Amar. Saya ingin mengabarkan bahwasanya persidangan baru saja selesai. Anda sudah resmi bercerai. Selamat.."
Amar menerima telpon dari pengacara perceraiannya. Dia baru saja terbangun dari tidur. "Ya Tuhan.. sudah jam 10," Amar melirik jam yang ada di dinding kamarnya. Dia lalu menaruh ponselnya kembali ke atas nakas. "Persidangan? Bercerai?" Amar yang belum sadar secara penuh mencoba mengingat-ngingat semuanya. "Astagaa!! Hari ini adalah harinya!!" Hari ini adalah hari perceraian Amar dan Raina setelah menjalani biduk rumah tangga yang baru menginjak 6 bulan. Amar bertekad bulat untuk menceraikan Raina. Tak perlu mediasi. Cukup sidang satu kali saja dan tak ada pembagian harta gono gini. Raina tak berhak atas harta yang Amar miliki. Amar juga sudah mengutus pengacara perceraiannya untuk mengurus semuanya sehingga dia tidak perlu repot untuk hadir. Dia sudah muak dengan pernikahan ini!! Setelah ingatannya terkumpul sempurna, sontak Amar menoleh ke arah samping. Kosong. Sudah tak ada lagi wanita itu berbaring disana. Dia lalu menuju kamar mandi berharap wanita itu masih berada disana. Tapi, kosong. Amar lalu keluar menuju keluar kamarnya, menyelusuri ruang tamu, ruang keluarga dan berakhir di dapur tempat wanita itu biasanya menyepikan diri. Tapi raganya pun tak terlihat. Amar kembali mencoba mencari ke halaman belakang, mungkin saja wanita itu sedang menjemur pakaian. Tapi hanya ada mbok Darti, asisten rumah tangganya yang sedang disana. Dia lalu berlari ke halaman depan, berharap wanita itu sedang menyiram tanaman yang dirawatnya dengan sepenuh hati. Tapi, bunga-bunga tersebut tampaknya kering karena mulai dilumat sinar mentari. Amar terduduk di sofanya dengan lesu. Kemanapun dia berkeliling di rumah besarnya ini, wanita itu tak ditemukan. "Jadi, dia benar-benar sudah pergi..." ucap Amar lemah. Dia lalu mengacak-acak rambutnya dan berakhir mengusap wajah tampannya. Ingatannya kembali pada kejadian tadi malam... *** "Sepertinya kau sangat bahagia," ketus Amar mengejutkan Raina yang sedang mengelap gelas dan piring di meja makan. Padahal gelas dan piring itu sudah bersih. Tapi, Raina sangat suka mencuci dan mengelapnya kembali. Raina menatap suaminya itu dengan tatapan kosong. Enggan menjawab. "Aku sangat bahagia karena besok hari perceraian kita. Aku bisa bebas dari cengkramanmu!" Tak ada jawaban. Hening. Seperti biasa, Raina tak pernah menanggapi gerutuan Amar. Amar yang kesal dengan sikap Raina yang mengacuhkannya menjadi naik pitam. "Kau pasti juga merasa bahagia! Karena setelah ini kau akan kembali ke lelaki itu, kan?? Lelaki selingkuhanmu!!!" Geram Amar kepada Raina. Raina menaruh gelas yang baru dilapnya di atas meja dengan cukup keras lalu memandang Amar sekilas. Tapi, dia tak mau berdebat. Raina lebih memilih menyusun gelas yang sudah dibersihkannya itu di tatakan. Tak tahan dengan kesombongan Raina. Amar menarik tangan istrinya itu dengan kasar sampai gelas tersebut jatuh dari tangan Raina. Amar tak perduli gelas itu pecah atau tidak. Dia tetap menarik Raina dan menguncinya di dalam kamar. Kamar yang seharusnya menjadi kamar mereka tapi sayangnya Amar tak pernah mengizinkan Raina untuk masuk kedalamnya. Dengan kasar, Amar mendorong Raina sesampainya mereka di kamar itu. "Katakan padaku, Raina!! Apa kau senang sekarang??!!!!" Ucap Amar dingin. Dia kembali mengambil Raina yang hampir terdorong jatuh dan mencengkram lengannya dengan kasar. Raina menahan sakit karena cengkraman kuat dari Amar. Tapi dia tetap tak bersuara. "Kau pasti sangat bahagia karena besok kau akan bebas, kan??" Dinginnya suara Amar mengoyak-ngoyakkan hati Raina. Dengan kasar Amar mencengkram kembali lengan Raina dan menghempaskannya begitu saja ke sudut tempat tidur. Kepala Raina hampir saja terbentur dengan sudut tempat tidur yang lancip itu. "Wanita murahan!!!!" Hardik Amar. "Harusnya dari awal aku sudah menceraikanmu!! Ah tidak! Seharusnya kita memang tidak perlu menikah!! Kau telah menghancurkan hidupku, Rainaa!!!!" Air mata mulai jatuh dari pelupuk mata wanita malang itu. Dia lalu bangkit dan memandang suaminya. "Cukup, mas.. tolong jangan menghinaku lagi! Besok kita akan berpisah.. aku ingin berpisah dengan baik-baik..," lirih Raina. Amar terkekeh sinis. "Baik-baik?? Bagaimana kita bisa berpisah baik-baik sedangkan kau bukan wanita yang baik!!" Raina menatap sedih suaminya itu. "Katakan padaku, Raina?? Sudah berapa kali kau melayani lelaki itu? Sudah berapa kali kau menyerahkan tubuhmu pada lelaki itu??? Kau memang jalang!!" "Astaghfirullah..." Raina terpekik sedih. "Cukup, mas! Aku mohon jangan hina aku lagi!! Aku sudah tidak sanggup!" Pinta Raina. Amar menggeleng dengan tatapan dinginnya. "Kau memang sudah hina di mataku, Raina!!" "Terserah apa katamu, mas..," jawab Raina yang batinnya sudah lelah. "Apa yang aku katakan kamu pasti tidak akan percaya..," Raina lalu pergi melewati Amar namun lengan wanita itu kembali di tahan dan tubuhnya di hempaskan begitu saja di atas tempat tidur. Amar lalu menelungkup di atas tubuh wanita yang masih menjadi istri sahnya itu. Kedua tangannya mencengkram tangan Raina. "Aku sangat membencimu, Raina!!" Amar menatap tajam Raina.. dengan amarah bercampur rasa jijik yang luar biasa. Raina meronta untuk dilepaskan tapi tangannya di cengkram dengan kuat. "Lepaskan aku, mas!! Kamu menyakitiku..," pinta Raina memelas. Air mata kembali mengalir di wajahnya.. ikut membasahi hijab biru muda yang sedang dipakainya. "Aku menyakitimu??" Tanya Amar sambil mengernyitkan dahinya. "Kau yang menyakitiku, Raina!!! Sekarang coba ceritakan! Apakah kau menikmati saat berhubungan dengan lelaki itu??!! Kau kejam sekali padaku, Raina!! Apa kurangnya aku untukmu!!!" Hardik Amar tepat di depan wajah Raina. Raina terperangah melihat kemarahan suaminya. Ia ingin membantah, tapi ia tau semua tidak akan gunanya. Amar tak akan mempercayainya. "Dan malam ini.. malam terakhir kita.. aku ingin mengambil apa yang harusnya menjadi hakku!!" Ucap Amar dingin. Raina terkejut dengan ucapan suaminya. Amar ingin mengambil haknya dari Raina. Tepat di malam perpisahan mereka. "Jangan, mas.." pinta Raina menahan tangis sambil mencegah Amar merobek bajunya. Amar mendesis dingin. "Kenapa? Kau lebih suka disentuh oleh selingkuhanmu itu dibanding aku?!" Amar menepis tangan Raina dengan kasar. Dia mengambil haknya dengan kejam. Setiap Raina meronta untuk melawan, Amar akan memukulinya. Tidak ada kelembutan. Raina menangis tersedu-sedu karena perlakuan yang ia dapatkan. Ia tak menyangka malam pertama melayani suaminya menjadi seperti ini. Amar begitu kasar padanya. Entah berapa ratus kali cacian dilontarkan pada wanita itu. Dia merasa sudah diperkosa oleh suaminya sendiri, walaupun di pertengahan ia merasa Amar mulai melunak kepadanya. Raina lalu memiringkan tubuhnya ketika semua selesai. Ia menutup matanya sambil menangis dengan lirih.. badannya terasa remuk. Entah luka seperti apa lagi yang muncul ditubuhnya. Rasanya tamparan Amar waktu itu masih ada bekasnya. Dan dia yakin, tubuhnya saat ini pasti banyak lebam. Karena barusan Amar menyiksanya seperti seekor binatang. Raina menutup matanya dengan rapat.. berharap waktu cepat berjalan.. agar ia bisa terpisah dari lelaki ini.. Lelaki yang dulu sangat mencintainya, tapi kini berubah menjadi monster yang mengerikan karena kesalahan yang tak pernah Raina lakukan.. #BersambungAt last, I could finally have a good night’s sleep.The next morning, when Linda came to check on me as we had arranged, she found that I had already stopped breathing peacefully.My body was curled up, but my expression was unusually calm, as if I had simply fallen asleep.Linda’s cries echoed through the entire building.The news of my death fell like a massive stone into still water, sending the final—and most devastating—ripples through a family that had only just been shattered.When the lawyer read my will and the final letter I had left behind, every relative present broke down in tears.After my mother saw my will and that letter with her own eyes, her mind collapsed completely.Sometimes she went into wild fits, smashing everything in the house while screaming, “The chicken wings were poisoned!” and “The sponge cake was expired!”Other times she became eerily quiet, sitting in a corner clutching the only childhood photo where I had been smiling happily, murmuring to herself:“
Those tears and apologies, born so late and forced out under overwhelming pressure, had long since lost any meaning for me.“It’s all in the past.”After saying those three words calmly, I hung up the phone.The sunlight outside was still bright, the streets still busy with passing cars, but my world existed beyond them now.I knew the end was close.I struggled to my feet and contacted the lawyer and notary I had consulted earlier, formally drafting my will.The money left from the sixteen thousand dollars, along with the small savings I had earned from my part-time jobs, would all be donated after my death to a nonprofit organization dedicated to youth mental health and family support.In the appendix of the will, I wrote a single sentence:“May every child be treated with kindness, and never have to lick their wounds alone in the dark.”Perhaps that was the final, faint echo my short and bitter life could leave behind.With trembling hands, I also wrote a long letter.There was no s
Every word felt weak and meaningless.Even my sister and brother, rarely, had sent messages asking how I was.I looked at the little red notifications blinking on my phone, but inside me there was only a still, lifeless lake; nothing stirred the slightest ripple.I silently muted the group chat and then deleted the conversation altogether.Their pain and sudden awakening were lessons they had learned far too late. They had nothing to do with me anymore.I no longer hated them, but I could never forgive them either.The best state was forgetting, completely cutting each other out of our lives.Linda and my uncle were the only ones who still came by regularly.Linda would always arrive with red-rimmed eyes, carrying containers of chicken or fish soup she had simmered for hours, forcing a smile as she said,“Emily, try some. I made it fresh just for you.”My uncle would bring seasonal fruit, or quietly slip an envelope of cash into my hand, his voice rough as he said, “Kid, don’t try to s
“Dad will give it all back to you. Everything. The money you earned from your jobs, the cash gifts you received—I won’t keep a single dollar. “My house, my car, my savings… all of it will go toward your treatment. I’m just begging you. Please give me a chance to make this right.”He collapsed forward on the floor, his shoulders shaking violently, as if his entire spine had been ripped out in an instant.I didn’t move, and I didn’t speak. I only looked at him coldly.This repentance—late, forced out under pressure—was so cheap it made me sick.In the end, including three years of my wages and the cash gifts they had taken, I got a total of sixteen thousand dollars back.I moved out of that suffocating house and rented a small apartment near the university.My father tried to find me afterward. He seemed to have aged twenty years overnight. His temples had turned completely white, dark circles hung under his eyes, and the straight back he once carried had grown hunched.He blocked the












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.