Short
The Other Daughter's Miracle Pregnancy

The Other Daughter's Miracle Pregnancy

By:  Perfect TimingCompleted
Language: English
goodnovel4goodnovel
9Chapters
411views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

After my wealthy biological parents found me and brought me home, the vicious family drama I had imagined never happened. Both the fake heiress and I entered arranged marriages. However, after getting married, I, who was perfectly healthy, struggled to get pregnant for a long time. Meanwhile, Angela Miller, who had been diagnosed with a cold womb condition, quickly gave birth to a daughter with her husband, who suffered from low sperm count. Outside the delivery room, the private doctor mistook me for the fake heiress and comforted me gently. "Everyone has their own fate. Your sister has a good constitution for pregnancy, but that doesn't mean you have no hope." Forcing a smile, I explained who I really was. The doctor stared at me in disbelief. "Then why haven't you gotten pregnant yet...?" His words cut deeply into me, and I thought maybe I simply had not worked hard enough while trying to conceive. After returning home, I desperately adjusted my diet and managed my figure. I even accepted Angela's recommendation and went to the hospital for IVF treatment. The moment I came off the operating table, my back aching so badly I could barely straighten up, I received a message. Angela, whose first pregnancy had already been considered a medical miracle, was pregnant with a second child again.

View More

Chapter 1

Chapter 1

Saat masih kuliah semester enam, aku baru saja mendapatkan SIM. Kebetulan libur hari buruh, jadi aku mengajak dua teman dekatku untuk pergi berlibur.

Keduanya gadis yang cantik, namanya Tina dan Mona.

Mereka berdua sangat antusias, bahkan Tina sampai mengajak ibunya untuk ikut bersama.

Awalnya, aku merasa agak malas karena ada orang tua yang ikut. Tapi, begitu menyetir sampai ke bawah apartemen Tina untuk menjemputnya, rasa malas di hatiku langsung sirna.

Ibu Tina terlihat sangat muda, wajahnya awet muda seperti masih berusia tiga puluhan. Fitur wajahnya proposional, kulitnya putih bersih dan kalau berdiri di samping Tina, mereka berdua terlihat seperti kakak adik.

Dia tak terlalu tinggi, kurang dari 160 cm, membuatnya terlihat mungil dan menggemaskan. Dia mengenakan atasan rajut longgar dan rok span, menonjolkan lekuk tubuhnya yang sangat memikat.

Aku segera turun dari mobi dan menyapanya, “Halo, tante!”

Ibu Tina tersenyum manis, “Kamu Paul, ya? Aku sering dengar Tina menceritakanmu. Wah, aslinya tampan sekali!”

Tina menyenggol lengan ibunya pelan dengan wajah yang merona, “Ibu!”

Barang bawaan kedua gadis itu sangat banyak, sampai-sampai bagasi mobil penuh. Sebagian barang bahkan harus diletak di kursi belakang. Setelah semuanya dimasukkan, mobil itu hanya pas-pasan untuk diduduki dua orang.

Awalnya aku menyetir dengan tenang. Tapi, karena satu dan lain hal, aku malah berakhir dipindahkan ke kursi belakang dan terpaksa berdesakan dengan Ibu Tina.

Mobilku dasarnya memang kecil, ditambah lagi kursi belakang penuh dengan barang bawaan. Aku terpaksa duduk miring dengan sebelah bokong mengganjal di dekat pintu, berguncang-guncang sepanjang perjalanan menuju Gunung Merpat.

Sejujurnya, meski bokongku terasa pegal dan tak nyaman, jauh di dalam lubuk hatiku ada rasa senang yang tersembunyi. Ibu Tina duduk tepat di sampingku, tubuhnya yang lembut bersandar pada tubuhku dan aroma tubuhnya yang harum membuat hatiku terasa berdesir seperti digelitiki semut.

Tubuhnya yang lembut sesekali bergesekan dengan lenganku. Seiring dengan guncangan mobil, tubuh Ibu Tina ikut bergoyang, membuat posisinya terlihat seolah-olah tak bisa duduk tenang akibat doronganku.

Perlahan-lahan, area di antara selangkanganku mulai bereaksi akibat gesekan itu. Bahkan dari balik celana pun, siluetnya yang menegang sudah mulai tercetak jelas.

Saat mobil mendadak berguncang, wanita itu reflek bertumpu pada area di sampingnya dan tangannya tepat memegang bagian tubuhku yang sedang menegang keras itu.

Tangannya terasa sangat lembut. Begitu menyadari apa yang baru saja disentuh, dia langsung menarik tangannya seperti tersengat listrik.

Namun setelah tersadar, dia tampak agak bimbang sambil menggesek-gesek jarinya. Matanya yang malu-malu melirik ke mana-mana, hingga akhirnya tak tahan untuk kembali melirik ke tempat yang baru saja dia sentuh tadi.

Tatapan Ibu Tina padaku terasa agak bergairah, membuatku yang dasarnya sudah menahan panas menjadi semakin bergairah.

Tangannya lembut sekali.

Aku jadi penasaran apakah seluruh tubuhnya juga selembut itu, terutama bagian yang tampak bergoyang menonjol setiap kali mobil berguncang….

Pikiranku melayang ke mana-mana dan respon bagian bawahku sangat jujur. Saat kami tiba di area istirahat, bentuknya sudah benar-benar tak bisa disembunyikan lagi.

Wanita itu menatapku dengan pandangan yang linglung, wajahnya memerah seperti hampir terbakar.

Sadar bahwa bagaimanapun juga dirinya adalah orang tua temanku, akhirnya aku langsung turun begitu mobil tiba di area istirahat. Aku berjalan secepat mungkin ke kamar mandi untuk menuntaskan kebutuhan biologisku.

Saat bermain dengan asetku, bayangan wanita yang berguncang di dalam mobil tadi terus terngiang-ngiang di kepalaku. Tubuhnya yang lembut, kulitnya yang halus, tubuhnya yang terus menempel erat ke tubuhku setiap kali mobi berguncang, serta wajahnya yang merona dan berkeringat….

Mengingat itu semua, aku mendesah pelan. Aku bergerak seolah-olah sedang menyodok wanita dalam halusinasiku itu, membiarkan benda milikku mencapai puncak kenikmatan di dalam kehangatan tubuhnya.

Aku bersandar di dinding sambil terengah-engah. Saat mendongak, aku seperti melihat bayangan wanita itu, seolah-olah dia benar-benar sedang mengintipku dari suatu tempat.

Tanpa berpikir panjang, aku segera merapikan pakaianku dan kembali berkumpul dengan yang lain.

Kedua gadis itu tampak kesal karena tidak sabar menunggu, tapi Ibu Tina hanya bersandar di dekat mobil dengan wajah linglung. Begitu melihatku, dia langsung memalingkan wajahnya, sementara pipinya tampak merona.

Jangan-jangan… tadi bukan halusinasi?

Belum sempat aku mencernanya, Tina sudah mulai mengeluh, “Kok lama sekali? Dasar lambat!”

Aku pun asal membuat alasan, bagaimanapun posisiku duduk di mobil tadi sangat tidak nyaman.

Mendengar itu, mereka merasa agak tidak enak hati, tapi juga bingung harus melakukan apa. Untuk sesaat, mereka hanya saling pandang.

“Hmm… aku punya ide, tapi nggak tahu bisa atau nggak!” ujar Mona tiba-tiba menimpali dari samping.

“Cepat bilang!” desak Tina.

“Bagaimana kalau Paul memangku tante saja di belakang? Tubuh tante juga cukup mungil, jadi pasti ruangannya bakal terasa lebih luas, ‘kan?”

Tina bergantian menatapku dan ibunya, lalu berkata padaku, “Kamu coba dulu!”

Wajah wanita bertubuh mungil itu merona merah. Dia menatapku dengan malu-malu, tapi akhirnya tidak mengatakan kata penolakan sama sekali.

Setelah aku duduk, dia perlahan-lahan menggeser tubuhnya mendekat. Pantatnya yang lembut sempat ragu-ragu sejenak di depanku, hingga akhirnya dia memantapkan hati dan duduk di pangkuanku.

Seketika, seluruh tubuhku bergetar. Asetku yang baru saja dituntaskan tadi samar-samar mulai menunjukkan tanda-tanda akan bangkit lagi.

Tebakanku tidak salah, tubuhnya memang sangat lembut dan mungil, bahkan satu lenganku saja sudah cukup untuk memeluknya dengan erat.

Mobil kembali melaju dan tante pun mulai berguncang naik turun di atas pangkuanku.

Demi menenangkan pikiranku yang kacau, aku memejamkan mata dan memutuskan untuk mengabaikan rangsangan fisik tersebut dan mencoba tidur.

Dalam kondisi setengah sadar, aku bermimpi sedang bercinta dengan Tina. Tubuh yang lembut menempel erat padaku dan jarak di antara kami hanya terhalang oleh selembar kain tipis.

Dia yang tampak tidak puas terus bergerak menyodokku, membuatku akhirnya tak bisa menahan diri lagi dan mulai balas menyodok area sensitifnya yang lembut dari balik pakaian….

Padahal realitanya, tante yang sedang duduk di pangkuanku, menoleh ke belakang melihatku dengan kaget. Wajahnya merona dan dia mencoba menggeser sedikit posisi duduknya.

Namun, pergeseran itu malah berakibat fatal. Benda yang tadinya tertekan di bawah pantatnya langsung berdiri menegang! Benda milikku langsung menekan keras ke arah pantatnya, membuat wanita itu panik hingga berkeringat dingin. Dia melirik dan melihatku tampak masih tertidur. Akhirnya, sambil berpura-pura merapikan roknya, dia menjulurkan tangan dan langsung menggenggam benda milikku, berniat untuk menekannya ke bawah!

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status