LOGINMy fiancé had a thing for girls who were tiny, pale, and fragile-looking. A month before our wedding, he demanded that I slim down to 80 pounds. So, I starved myself, counted every calorie, and spent my days at the gym. Alas, the harder I tried to lose weight, the heavier I got. … Meanwhile, the girl I'd been supporting stuffed herself with burgers, milkshakes, and late-night takeout every day. Yet, she kept getting thinner. On our wedding day, my fiancé became disgusted the second he laid eyes on me and promptly decided that I was too fat to be his bride. Then, he dumped me and replaced me with the scholarship girl right there at the altar. Not long after, the rapid weight gain wrecked my health. One complication led to another. As I lay on my deathbed, she finally came to gloat. "You idiot," she cooed at me mockingly. "I linked you to a weight-swap system. It doesn't matter how hard you diet because the weight loss always goes to me." Then, everything went black. … When I opened my eyes again, I had returned to the time before the wedding. As my eyes focused, I saw the same girl standing in front of me, nagging me to lose weight. I smiled, but scoffed internally. 'If you want to be skinny that badly, fine. However, I'll make sure you end up weighing five pounds this time around, ashes and all.'
View More“Minum ini dulu sebelum kita ke atas.”
Sore itu Vicco membawa Tamara ke sebuah hotel untuk bertemu dengan klien penting.
Katanya pada Tamara, kliennya itu merupakan pasangan paruh baya yang bersedia memberikan dukungan pada kampanyenya nanti, jika dia merasa Vicco merupakan pribadi yang hangat dan dapat dipercaya.
Saat ini Vicco sedang melebarkan sayapnya di dunia politik. Dalam sembilan bulan ke depan, Vicco akan mengikuti pemilihan pemimpin distrik sebagai wakil gubernur.
Jika berhasil dia bahkan akan menjadi wakil gubernur termuda.
Untuk itu dia membutuhkan penyokong dana yang sangat besar dan Tuan Kozlov adalah salah satunya.
Namun, dia perlu membuat dirinya memiliki citra diri seperti yang diharapkan Pasangan Kozlov.
Maka dari itu, Vicco meminta Tamara untuk mendampinginya di pertemuan sore ini.
Sebagai kekasih yang sangat mensupport kesuksesan satu sama lain, Tamara tentu saja bersedia.
Saat ini mereka sudah tiba di parkiran hotel dan Vicco menyodorkannya sebotol jus stroberi kesukaannya.
“Trims, Vic, kapan kamu membuat jus stroberi ini?” ucap Tamara sembari menyambut sebotol jus yang masih terlihat dingin dan segar, tanpa curiga sedikit pun.
Di benaknya sudah terbayang kelezatan minuman itu, terlebih lagi sore ini udara sangat kering dan panas.
“Segar?” tanya Vicco yang melihat Tamara meminum jus stroberi buatannya itu dengan tawa puas dalam hati.
Tamara hanya minum beberapa teguk saja, tapi Vicco tahu itu sudah lebih dari cukup.
Obat perangsang yang dituangnya di minuman itu memiliki efek yang kuat. Hanya minum setengah saja, Tamara takkan bisa menahan ledakan libido dalam dirinya.
Di hadapannya, Tamara mengangguk dengan senyum lebar. Kesegaran minuman tadi dianggapnya sebagai perhatian dan kasih sayang Vicco padanya.
“Ayo kita ke atas. Jangan biarkan pasangan Kozlov menunggu kita terlalu lama,” kata Vicco lagi sambil turun.
Pria 24 tahun itu juga membukakan pintu untuk Tamara dan bersama-sama mereka memasuki hotel.
Tiba di atas, Vicco tiba-tiba merogoh saku celana dan bajunya seperti kehilangan sesuatu.
“Sial! Ponselku ketinggalan di mobil. Kamu duluan saja ke kamar 1919, aku akan kembali ke mobil dulu untuk mengambil ponsel,” kata Vicco lagi seraya mendorong lembut tubuh Tamara agar melangkah lagi menuju kamar yang mereka tuju.
“Aku rasa, lebih baik aku ikut ke mobil juga, setelah itu baru kita naik sama-sama,” tolak Tamara yang enggan bertemu dengan rekan bisnis Vicco sendirian.
Biar bagaimana pun dia hadir hanya sebagai pendamping Vicco.
Tapi pria itu menolak.
“Jangan! Pasangan Kozlov selalu datang lebih cepat dan mereka tidak suka kalau partner bisnis mereka datang terlambat.
Ini sudah tinggal dua menit lagi menuju waktu perjanjian kita. Jadi lebih baik kamu duluan ke sana, ya. Lagipula kalau aku sendirian yang turun ke basement, aku bisa berlari dan lebih cepat kembali ke sini. Ayolah, Tamara, help me this time.”
Melihat raut memohon dari Vicco juga karena alasan yang dikemukakan pria itu masuk akal, Tamara pun menurutinya.
“Ingat 1919. Ketuk pelan tiga kali karena mereka pasti sudah menunggu di dalam kamar. Setelah itu sapalah mereka dengan hormat. Oke, Baby?”
Tamara mengangguk dan Vicco gegas memasuki lift.
Tamara pun melangkah dan tiba di depan pintu kamar 1919.
Dia memastikan dua kali bahwa dia tidak salah kamar dan tangannya mulai terangkat untuk mengetuk pintu tiga kali seperti yang Vicco jelaskan tadi.
Terdengar bunyi 'ceklek' tanda pintu dibuka. Tapi tidak ada siapa-siapa di balik pintu dan kamar ternyata dalam keadaan gelap.
Sedikit ragu Tamara melangkah masuk.
Tangannya mencari-cari saklar, tapi sialnya pintu kamar itu menutup perlahan dengan sendirinya.
Ceklek!
Entah mengapa jantung Tamara nyaris melompat dari rongganya.
Kedua tangannya semakin buru-buru meraba dinding mencari saklar untuk menyalakan lampu.
Di saat yang sama, penciumannya menangkap aroma cendana yang mahal bercampur musk yang maskulin. Jika memang pasangan Kozlov belum tiba, kenapa ada aroma maskulin di ruangan ini?
Tamara kembali mencari-cari saklar lampu berharap bisa segera melihat seisi ruangan ini.
Namun tiba-tiba saja sebuah tangan yang keras dan kokoh menangkap pinggangnya dan menarik tubuhnya dengan cepat.
“Argh!” Tamara berteriak terkejut tapi di detik yang sama tubuhnya sudah terhempas ke atas tempat tidur.
Meskipun gelap, Tamara bisa mengetahui ada seseorang -seorang pria- yang mengukungnya di atas ranjang.
Pria itu tidak mengenakan baju. Kulitnya terasa hangat dan dada serta lengannya terasa keras. Pria itu seperti beton tebal yang kokoh. Tenaga Tamara saat mendorongnya bukanlah apa-apa.
“Sia- siapa kamu?” tanya Tamara dengan deru jantung tak karuan. Adrenalinnya meningkat cepat.
Apakah Tn. Kozlov? Jika iya, kenapa pria itu menindihnya di tempat tidur? Lalu di mana Ny. Kozlov? Dan kenapa juga Tn. Kozlov tidak bertubuh lembek seperti seorang paruh baya?
“Kau tidak tahu siapa aku?” Suara yang berat yang terdengar berbahaya keluar dari bibir yang berada tepat di atas wajahnya itu.
Tamara sontak merinding. Bulu kuduknya meremang.
“Ap- apakah Anda ... Tn. Kozlov?” Tamara berusaha keras mengucapkan nama itu.
Pria itu terdengar mendengus kecil sebelum menjawabnya, “Ya! Itu nama belakangku.”
“La- lalu Anda mau apa?” tanya Tamara lagi yang mulai merasakan jari Tn. Kozlov merayapi pelipisnya hingga menjalar ke pipi sedangkan deru napas pria itu menerpa-nerpa wajahnya.
“Kau masih bertanya apa mauku?” tanya pria itu lagi seperti desissan ular mematikan.
“Aku rasa kekasihmu itu tidak memberitahumu bahwa dia sudah menumbalkanmu padaku sebagai ganti dukungan yang akan dia dapatkan saat kampanye nanti, huh?”
Apa? Menumbalkannya?
Glek! Tamara menelan ludahnya dengan susah payah.
“Menumbalkanku bagaimana?” tanyanya lagi seakan dia salah mendengar.
Suara berat itu kembali bergema, “Ya, menjadikanmu sebagai tumbal! Kau tidak salah dengar! Dia ingin aku mensuport-nya selama masa kampanye agar dia bisa menang di pemilihan nanti.
Tapi karena dia tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar dukunganku, dia pun memberikanmu sebagai gantinya!” ucap Tn. Kozlov lagi dengan nada cuek, seraya menurunkan rayapan jarinya menuju leher Tamara.
Gadis itu semakin gugup dan berusaha menepis tangan Tn. Kozlov.
Di sisi lain, Tamara juga takut pada Tn. Kozlov karena aura pria itu yang kuat dan mendominasi.
Dia takut membuat Tn. Kozlov marah. Sedangkan dia masih ingin tahu lebih banyak akan kebusukan Vicco.
“Tapi kenapa Tuan bersedia hanya karena mendapatkan seorang gadis? Dengan uangmu, Tuan bisa membeli gadis manapun daripada repot-repot menerima pemberian Vicco seraya harus mesupport Vicco lagi.”
Suara Tamara kini sudah mulai bergetar.
Terdengar kekehan sinis suara Tn. Kozlov. “Tidak perlu mempertanyakannya! Ini hanyalah bisnis. Aku mendapatkan apa yang aku butuhkan, begitu pun dia. Hanya hubungan timbal balik!” desis Tn. Kozlov lagi.
“La- lalu bagaimana denganku?” tanya Tamara lagi.
Tn. Kozlov diam sejenak dan mengambil waktu untuk mengamati wajah Tamara dalam keremangan kamar. Lewat tatapan dinginnya jari itu turun merayapi belahan dadanya, membuat sekujur kulit Tamara bagai disetrum listrik ringan. Jari itu akhirnya mengunci pinggang Tamara.
“Kamu? Aku hanya ingin menikmatimu malam ini. Setelah itu, kamu bebas.
Vicco menumbalkanmu padaku karena katanya kamu masih perawan. Aku ingin mencoba bagaimana rasanya perawan,” sahut Tn. Kozlov seiring bibirnya mulai membekap bibir Tamara dan langsung melumatnya dengan rakus.
“Hmmpt! Hmmpt!” teriak Tamara sambil berusaha mendorong tubuh Tn. Kozlov, tapi suara itu tertelan lumatan Tn. Kozlov, dan tenaganya pun tak mampu menggeser seinchi pun dari tubuh pria itu.
Ketika tangan besar dan kuat Tn. Kozlov mulai mengunci pergelangan tangan Tamara di atas kepalanya, lalu sebelah tangannya menjelajah tubuh Tamara, tubuh gadis itu pun mulai panas.
Degup jantungnya meningkat drastis. Deru napasnya memberat. Dan akhirnya kewanitaannya berdenyut-denyut bagai meronta ingin agar Tn. Kozlov segera menyentuh tubuhnya.
Di parkiran mobil, Vicco mengamati jarum jam di pergelangan tangannya. Dia tersenyum sinis membayangkan saat ini pastilah obat perangsang yang dituang ke jus stroberi tadi sudah bekerja pada tubuh Tamara.
After Damian was done taking his anger out on her, he dumped Talia on the side of the road like trash. A passerby eventually brought her to the hospital. Unfortunately, she couldn't afford the bills, so she called me for help. Her voice was so weak I could barely hear her through the phone. Still, that didn't stop me from hanging up on her and coldly telling the hospital I didn't know anyone by that name. I later learned that she had run out of options and had chosen to take online loans. The collection calls and threatening texts hounded her day and night until her life turned into a living nightmare. Nonetheless, none of that had anything to do with me anymore. After Damian lost his job, he returned to his hometown with a tail between his legs and never made a comeback. People there talked about him behind his back until he became the local clown. Sadly, his departure meant that Talia turned her leeching efforts to me. She would appear outside my house every few day
Damian lunged forward and grabbed my arm just as I turned to leave. I had thrown that ring with all my strength, so there was now a gash on his forehead, causing blood to stream down past his eyebrow. He didn't try to wipe it away. Instead, he just gripped my arm more tightly and yelled, "Elise, you can't leave! This is my wedding day. What am I supposed to do if you walk out on me? What man doesn't look at other women? Men used to have wives and mistresses all the time. "So, why is it a problem that I looked a little? Besides, you're fat and an orphan who has no family to support her! Who else is going to help once you have kids? Don't be so ungrateful!" He was nearly shouting like a lunatic toward the end, his face contorting in panic and rage. I laughed at his face. "Damian, be serious. Who's the one who has actually lost their marbles here? God, your shamelessness just knows no bounds, huh?" I yanked my arm free before immediately calling over one of the hotel staff a
Talia's grayish face flushed an ugly purple the second she heard my voice. When she realized I hadn't blown up the way she'd expected, her whole face twisted as she screeched, "Elise! What did you do to me? This isn't how it was supposed to happen!" Then, she lunged at me with her nails out, trying to claw at my face like some wild animal. I caught her wrist and pinned it back without much effort. She was so painfully thin now that she barely had any strength left, so fighting her off was easier than dealing with a child throwing a tantrum. I leaned in close and spoke quietly into her ear. "What did I do? Funny you should ask. You know exactly what you did. Nothing stolen stays with you forever. Sooner or later, it gets taken back." Her eyes flew open. "You know about the—" She cut herself off so fast it was almost funny. Then, she switched to a pitiful expression just as quickly. Her eyes filled with tears as she looked over at Damian, as if she were the victim in all
The carved wooden doors to the hall slowly opened, and a figure stumbled inside. A wave of shocked gasps rippled through the crowd. She barely looked human anymore. She was all skin and bones, wrapped in a bridesmaid dress that hung from her narrow frame. The bright red fabric, meant to show off her figure, now looked eerie on her. It was as if it had been thrown over a skeleton. She looked so fragile that it felt like a hard gust of wind would blow her away. Talia's fingernails dug into the wall as she dragged herself forward, her knuckles pale from the strain. She looked so weak that she seemed ready to collapse at any second. Every step she took looked and felt shaky. Her heels scraped across the floor with a harsh, grating sound. Everyone could see how her knees were trembling so badly that it looked like they might give out beneath her. The dress that was supposed to hug her curves now hung loose and empty on her body. Her cheeks had sunken in so deeply that they l
Truth be told, I was already back to a perfectly normal weight of 110 pounds. I wasn't fat at all. However, I could do no right in Damian's eyes. He'd always find some new excuse to humiliate me no matter what I looked like. His parents weren't any better. They were standing to the side as they
Talia tilted her head and smiled. "Don't you agree, Damian?" Damian had always been shallow. He'd barely given Talia a second glance in the past. Yet, the way he spoke to her softened now that she'd slimmed down and started looking prettier. "Exactly," he replied, giving her an approving once-
I let her pull me along as I sneered at her inwardly. 'How could I have never noticed her jealousy before? I can't believe how blind I was.' I pulled my hand free and explained, "I already hired a private nutritionist and signed up for Pilates classes as well. I'm working on both my diet and my fi
My fiance, Damian Hale, looked me over with open contempt, his voice dripping with scorn. "Look at you. Your double chin is practically hanging down to your chest. You look like a disgusting pig. Yet, you still think you're worthy of becoming my bride?" He paused, his tone turning even colder. "












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.