LOGINBLURB Mira, a poor farm girl, felt she was cursed because of the events that happened in her life after her land, the only property left to her by her late father, was forcefully taken 4 years ago. She’s left with nothing to cater for her sick little sister, and is forced to tend to the horses of the same man who took her land and that made her hate him, with everything in her. Jackson, who ran from the flames of an internet scandal against his company in search of answers and solitude, was instead carried away by Mira’s beauty, charm and confidence, and he decided to change her world while being the ruler of it. What happens when a spark is ignited between them? Mira, who loathed her landlord because he was a constant reminder of her lost property, due to unfairness, and Jackson, who only loved power and control.
View MoreKameswara keluar dari rumah kecilnya kemudian menutup rapat pintu rumahnya. Di sudah berpakaian sangat rapi dan gagah.
"Mau kemana, sepagi ini kau sudah tampak rapi?" tanya Surya Kanta yang keheranan melihat bocah yang baru berumur delapan tahun itu. Surya Kanta adalah tetangga sebelah Kameswara. Dia merasa kasihan karena di usianya yang masih anak-anak, Kameswara sudah sebatang kara. "Hari ini perguruan Sangga Buana menerima murid baru," jawab Kameswara dengan gembira. Sifat bocah ini memang periang, selalu tampak gembira. Hampir tak pernah melihatnya mengeluh atau bersedih. Sehingga banyak orang yang suka. Surya Kanta kerutkan kening mendengar jawaban Kameswara. "Percaya diri sekali bocah ini, padahal dia mempunyai kualitas tulang paling rendah," batinnya. "Mau jadi pendekar, ya?" "Iya, Paman, terpaksa hehehe...!" Kameswara garuk-garuk kepala. "Terpaksa?" Surya Kanta makin mengerenyit keningnya. "Aku selalu ditindas, Paman. Mentang-mentang aku orang lemah," kali ini Kameswara memasang muka murung. Rasa kasihan terhadap anak itu makin bertambah. Memang benar yang dikatakan Kameswara. Dia juga sering melihat anak-anak sebayanya menghina dan menindas Kameswara. Kameswara anak baik. Karena sebatang kara, dia mencari makan dengan cara membantu para tetangga yang membutuhkannya termasuk Surya Kanta. Dia termasuk anak rajin dan pekerja keras. "Ya, sudah, aku doakan semoga kau berhasil!" "Terima kasih, Paman!" Kameswara berlalu dari hadapan Surya Kanta. Dia hendak menuju lereng gunung Cakrabuana yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Di lereng gunung itu tempat berdirinya perguruan Sangga Buana yang kabarnya membuka penerimaan murid baru. Kameswara ingin jadi murid perguruan yang sudah terkenal ti tatar Sunda-Galuh itu. Seperti yang dikatakannya tadi, alasannya karena tidak ingin ditindas lagi. Dia sudah kebal dengan segala hinaan dan caci maki karena kondisi fisiknya yang tidak bisa belajar ilmu silat. "Hei, anak lemah!" "Dasar sampah!" "Tak berguna, mau jadi apa nantinya?" Kalau cuma hinaan dan cacian yang keluar dari mulut, dia tidak menghiraukannya. Dia selalu membalas dengan senyum seolah tidak terjadi apa-apa. Biarkan saja mereka mengoceh. Toh sama saja ocehan itu tidak berguna baginya. Tapi kalau hinaan itu sudah menjurus ke perlakuan atau tindakan buruk dan semena-mena. Itu lain lagi ceritanya. Tidak jarang karena Kameswara selalu cuek atas hinaan yang diterimanya telah menyulut kemarahan orang yang mengejeknya. Akhirnya anak-anak itu melakukan tindakan kekerasan, seperti memukul dan menendang. Tubuh Kameswara yang lemah dalam hal ilmu silat tak mampu menahan serangan itu. Dia hanya pasrah saja ketika tubuhnya dihujani pukulan dan tendangan. Karena hal itulah Kameswara tidak mau diperlakukan seperti itu lagi. Maka, terpaksa dia harus jadi pendekar. Perjalanan menuju gunung Cakrabuana memakan waktu lumayan lama. Bisa sampai setengah hari. Sepanjang jalan Kameswara selalu ceria, menyapa setiap orang baik yang dikenalnya atau tidak. Kadang-kadang dia tidak sungkan-sungkan membantu orang yang kebetulan membutuhkan. Seperti mengatur hewan ternak, membawakan barang seorang kakek yang sudah tidak kuat lagi mengangkat beban. Dan hal baik lainnya. Jika di antara mereka ada yang memberinya imbalan, maka Kameswara menolak pemberian itu dengan sesopan mungkin. Namun, jika ada yang memaksa, maka dia pun terpaksa menerima. "Mau kemana, Kameswara?" "Ke lereng, Ki!" "Oh, hati-hati, Jang!" "Terima kasih, Ki!" Tak terasa karena sepanjang jalan selalu gembira, seolah-olah hendak bertemu dengan orang istimewa. Akhirnya Kameswara sampai di bawah lereng gunung Cakrabuana. Ternyata banyak orang yang hendak naik ke lereng itu. Jumlahnya sampai ratusan. Rata-rata mereka seumuran dengannya, dan diantar oleh orang tua atau kerabatnya. Mereka sangat antusias ingin menjadi murid perguruan Sangga Buana. Begitu juga Kameswara. Dia merasa percaya diri walaupun banyak orang bilang kualitas tulangnya tak kan mampu kalau dia belajar silat. "Mencoba adalah pengalaman," gumamnya menirukan sebuah pepatah. Jalan menuju lereng tampak menanjak. Lama-lama kaki Kameswara terasa pegal. Walaupun sering kerja keras, tapi kalau jalannya nanjak terus, ya, capek juga. Lalu dia menepi ke pinggir jalan. Kameswara melepas lelah dengan menyandar ke sebuah pohon. Orang-orang lain yang melihatnya menertawakan dirinya. "Payah, hahaha...!" "Wah, anak lemah. Jangan mimpi!" "Baru belajar berjalan sudah lempoh!" "Memalukan!" Tapi Kameswara sama sekali tak peduli dengan semua ejekan itu. Dia menunggu sampai tenaganya kembali pulih. Dia minum air yang dibawanya dalam kantong perbekalan. Setiap orang yang lewat dan melihatnya tak henti-hentinya menertawakan Kameswara. Anak ini tetap cuek, sama sekali tidak tersulut emosinya. Setelah menempuh jalan yang menanjak beberapa lamanya, akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Air minum perbekalannya hampir habis. Orang-orang yang hendak mendaftar itu menuju sebuah lapangan besar yang dikelilingi oleh beberapa bangunan yang berdiri megah. Seorang penjaga pintu masuk memberikan Kameswara sebuah lencana tanda antrian. Kebanyakan calon murid semuanya anak seumuran Kameswara. Walau masih ada juga yang lebih tua atau lebih muda, tapi jumlahnya hanya sedikit saja. Cukup lama menunggu, akhirnya giliran Kameswara maju ke tempat seleksi yang pertama. Yaitu pemeriksaan kualitas tulang. Sambil tersenyum ramah, Kameswara menghampiri seorang kakek yang duduk di belakang meja. "Sampurasun, Kek!" "Rampes!" Si kakek yang menjadi petugas pemeriksa kualitas tulang membalas dengan senyum lembut dan berwibawa. Namanya kakek Ranu Baya. "Kek, apa saya bisa jadi murid di sini?" tanya Kameswara antusias sambil terus tersenyum. Terdengar beberapa anak mengejeknya di belakang. "Mari, aku periksa dulu tulangmu, ya, Nak!" Pertama kakek Ranu Baya memandangi Kameswara dari atas ke bawah. Kemudian tangannya meraba dari pundak hingga kaki. Wajah si kakek menunjukkan kesedihan. Tapi Kameswara tetap tersenyum. "Waduh, siapa namamu?" "Kameswara!" "Kameswara, sayang sekali jenis tulangmu tidak mendukung," "Memangnya tulang saya seperti apa, Kek?" Sama sekali Kameswara tidak menunjukan raut muka sedih. "Kamu memiliki jenis tulang Jelata yang tidak akan mampu menjadi seorang pendekar," Seketika terdengar riuh suara mengejek di belakang Kameswara. "Terus harus seperti apa syaratnya?" "Minimal memiliki jenis Tulang Tembaga tingkat tiga," Kameswara manggut-manggut, tidak peduli suara cemoohan di belakang sana. Diam-diam kakek Ranu Baya kagum melihat sikap Kameswara yang tahan terhadap hinaan. "Kapan lagi ada penerimaan murid baru, Kek?" "Dua tahun lagi!" "Kalau begitu baiklah, dua tahun lagi saya datang lagi!" Si kakek tersenyum ramah sebelum Kameswara memberi salam pamit. Ketika anak delapan tahun ini melangkah meninggalkan lapangan, tak henti-hentinya hinaan dan ejekan diarahkan padanya. Tapi dia tetap cuek. Malah sengaja tersenyum terhadap orang yang menghinanya. Ternyata sikapnya itu telah menyulut kemarahan seorang anak yang sering menindasnya. Anak bernama Kupra ini berdiri menghadang jalannya Kameswara. Dua orang teman Kupra tampak berdiri di samping kanan kirinya. "Hei, makhluk lemah! Sudah tak berguna, masih saja bersikap sombong!" Kameswara tetap cuek. Dia malah garuk-garuk kepala membuat Kupra semakin naik darah. Dia maju mendekati Kameswara. "Tidak tahu malu, tidak tahu diri, rasakan ini!" Tinju Kupra melayang menghantam wajah Kameswara. Anak ini langsung tersungkur. Semua anak lain yang melihatnya tak ada satupun yang melerai atau menolong. Kejap berikutnya Kupra bersama dua temannya menendang-nendang Kameswara dalam keadaan meringkuk di tanah. Kameswara berusaha menahan rasa sakit di badannya. Dia tak bisa menjerit karena pukulan dan tendangan bertubi-tubi menghujani tubuhnya. Sampai anak ini tak bisa berkutik lagi. Pada saat itu tiba-tiba datang seseorang menghentikan perbuatan mereka. Seorang lelaki muda berumur dua puluh tujuh tahun. Dia salah satu murid senior perguruan Sangga Buana. "Ada apa ini?" "Dia anak lemah tidak berguna tidak pantas berada di sini!" tuding Kupra ke arah Kameswara. "Apa salah dia?" "Pokoknya dia tidak pantas jadi murid perguruan ini. Hanya akan membuat malu saja!" "Aku tanya apa salah dia?" suara lelaki itu agak keras sambil menatap tajam wajah Kupra. Seketika Kupra jadi kelu merasakan hawa yang menekan dirinya dan juga dua temannya. "Apakah dia menyakitimu, mencuri barangmu?" Mendadak jadi sepi. Orang-orang di sekitar tempat kejadian itu juga tampak terdiam. Murid senior yang bernama Prayoga ini mendekati Kupra yang tampak mengerutkan badan karena takut. "Aku tanya, untuk apa kau ke sini?" "Menjadi murid perguruan, Paman!" "Kenapa ingin jadi murid di sini?" "Ingin jadi pendekar!" "Bagaimana sifat seorang pendekar?" "Membela kebenaran, membasmi kejahatan!" "Apakah dia jahat?" Prayoga menunjuk Kameswara yang masih meringkuk. Kupra terdiam. Prayoga memandang dua teman Kupra lalu bertanya. "Terus apalagi sifat seorang pendekar?" "Menolong dan melindungi yang lemah," Prayoga pelototkan matanya hingga wajahnya tampak menyeramkan bagi Kupra dan kedua temannya. "Katanya dia anak lemah, tapi mengapa kau menganiayanya, bukan menolong atau melindungi? Berarti kalian tidak memiliki sifat pendekar. Kalian sama saja dengan orang jahat yang harus dibasmi!" Tiga anak ini jadi ketakutan setengah mati. ***MIRAFive years later, the summer sun streams through the floor to ceiling windows of the foundation's conference room, casting golden light across the polished table where I sit reviewing grant applications. At fifty, I've learned to appreciate these quiet moments before the chaos of the day begins.My phone buzzes with a text from Nora. *Mom, emergency. Need you at my office. Now.*My heart skips a beat. Emergency. That word still triggers something primal in me after everything we've been through. I grab my purse and head out, telling my assistant I'll be back later.Nora's office is only ten minutes away, in the sleek modern building that houses the tech division of our foundation. She's transformed the place over the past three years, launching initiatives that bring technology education to underprivileged communities, creating scholarships for young women in STEM fields.I take the elevator to the top floor, my mind racing through possibilities. Is she sick? Is Tony hurt? Did s
MIRAIt’s been two years now and I'm standing in the backyard of our mansion, watching Nora laugh with Tony as they dance to music only they can hear.She grew so fast. She used to adore her pink Barbie bag, her pink bike and her signature fresh bread and strawberry jam sandwich.But, she's twenty-one now, glowing like a new born, radiant in her cap and gown, fresh from her computer science graduation ceremony. The twins toddle around the lawn, chasing each other, their pink dresses already grass-stained. Lily has my dark hair and Jackson's sharp features, while Aurora has my eyes and a mischievous smile that gets her into trouble constantly.Nora and Sera, inseparable as always, stand together near the buffet table, talking and laughing. It still amazes me sometimes, the fact that they're sisters, bound by blood they didn't know about for so long. When we finally told Nora the truth about Andrew being her biological father, she'd been shocked at first, then angry, then finally acce
MIRAThe contractions start at 3 am, sharp and insistent, pulling me from sleep with a gasp. Jackson wakes immediately, his hand finding mine in the darkness."Is it time?" he asks, and I can hear the excitement mixed with fear in his voice."It's time," I confirm, breathless as another contraction rolls through me.It’s two weeks early, but the doctors said twins often come early. Jackson is already moving, grabbing the hospital bag we packed two days ago, helping me to my feet, calling ahead to let the medical team know we're coming.The next twelve hours are a blur of pain and pushing, of Jackson's hand gripping mine so tight I think he might break my fingers, of doctors and nurses moving around me with practiced efficiency. And then, finally, the most beautiful sound I've ever heard.Crying of not one baby, but two."It's girls," the doctor announces, placing the first warm, squirming bundle on my chest. "Two healthy girls."I look down at her tiny face, scrunched up and red from
JACKSONI hold Nora tighter, feeling her whole body shake with sobs against my chest. My hands cup the back of her head and that's when I feel it, the texture I'd almost forgotten. Pink streaks in her hair. The highlights she'd gotten for her birthday, the ones she'd been so excited about. The ones the fake Nora got rid of.I pull back slightly to look at her and my heart breaks. She's still wearing her birthday dress, the pale pink one with the delicate lace sleeves that she'd spent weeks picking out. Three months ago she'd looked radiant in it, glowing with happiness as she blew out her candles.Now the dress is dirty, torn at the hem, stained with god knows what. She looks thin, her cheekbones more prominent than they should be, dark circles under her eyes that speak of sleepless nights and fear. Her skin is pale, too pale, like she hasn't seen sunlight in months. Because she hasn't. But she's alive and she's here. And as I examine her more closely, relief floods through me. No
MIRAI never thought peace could feel like this. The mansion smells of fresh paint and sawdust, the riverside breeze carrying the soft hum of life around us. Jackson stands beside me, stripping the sleeves of his shirt as he leans against the railing, and I feel my chest tighten with something I h
MIRAThe terrace is quieter than I expect for a place overlooking Dubai’s glittering skyline. Below me, the city hums like a giant heart, constant, alive, pulsing under the velvet night. I lean against the railing, trying to steady my breath after the emotional intensity of the summit. My speech i
MIRAI never imagine that I’ll be back in the world of dusty archives and forgotten records, but there I am standing in a freezing, underground storage facility with a security badge clipped to my coat and the weight of my father’s ghost pressing against my ribs. At least the library in the mansion
JACKSONThe first sign wasn't the headline. It was the silence. Silence in our bedroom. It stretches between us like a coastline I don't know how to navigate anymore. Silence in the kitchen where Mira used to hum while checking emails on her tablet. Silence in the car when we drop Nora off at scho






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore