The Substitute Bride

The Substitute Bride

last updateLast Updated : 2022-09-05
By:  Jungkook13Completed
Language: English
goodnovel16goodnovel
10
1 rating. 1 review
48Chapters
16.7Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Before anything else could happen, I stood up from squatting in front of him and walked toward my work table. My hands were shaking, but I tried not to show it. "Now you have time to listen to my proposal," I said firmly, trying to sound confident even though my heart was racing. I picked up the document I had placed there earlier—a simple sheet of paper, but one that could change everything. I held it up for him to see. Yes, kidnapping him had been desperate. But what I was about to offer? Even more so. "You just have to sign this marriage contract," I told him. "If we get married, I can claim my inheritance, solve my problem, and then we’ll let you go." He raised an eyebrow, amused. “And what’s in it for me? I don’t gain anything here. Why should I let you manipulate my life like that?” I clenched my fists. "You’re my hostage! Your freedom depends on me. You have no choice but to do what I say!" I snapped, voice rising with frustration. As soon as I said it, regret washed over me. I sounded like a child throwing a tantrum, and I saw it in his eyes—disappointment. Disgust. “I already have a fiancée, Kourtney. We’re getting married soon. I can’t marry you,” he said with finality. Of course I knew. I knew everything about him. I kept tabs on his life not because I wanted to, but because I had to. “I love her,” he continued. “And if I ever get married, it’s going to be with the woman I love. That’s Kim.” I bit my lower lip to stop the trembling. I was humiliated… but worse, I was heartbroken.

View More

Chapter 1

The Substitute Bride

“Ra, yakin aman?” tanya Mika mendadak gugup masuk ke sebuah beach club di Bali.

Biasanya dia rajin ke night club, tapi berbeda. Jika biasanya bersenang-senang, kali ini dia akan mencari mangsa.

“Amanlah,” ujar Rara, teman malam Mika.

“Lo yakin kan, nggak ada yang kenal kita?” sambung Mikha lagi, matanya memedar ke semua arah. Berharap tidak ada yang kenal atau mengenali mereka berdua.

“Lagi ini musim kuliah. Ngapain juga mereka kelayapan sampai ke Bali, kalau kita mah ketahuan ada arah dan tujuan,” kikik rasa merasa geli dengan maksud kedatangan mereka.

“Bagus deh, gue malas ngedrama aja.”

“Lagi lo kaya baru pertama ke tempat beginian.” Rara menggandeng tangan Mikha untuk masuk ke dalam.

Mika menggeleng lirih, “Gue baru pertama kali ke Bali. Udah dimasukin ke tempat beginian, syok gue tuh.”

“Tenang, lo kan yang mau cari mangsa jauh-jauh sampai keluar kota, Mik. Nah ini udah aman nih, jauh dari ibukota,” tawa Rara tanpa beban.

Keduanya masuk ke dalam, mengenakan dress pantai yang terbuka. Tentu mendapat perhatian para lelaki yang mayoritas orang bule mancanegara.

“Njir, ganteng-ganteng banget Mik. Nggak nyesel kan kita kesini,” kikik Rara seraya menggerakkan badan. Sengaja, untuk mengunda pria tampan yang mau mendekat.

“Iya ganteng. Ingat Ra, jangan pesan sembarangan. Kalau mahal, lo bayar pakai uang lo sendiri.”

“Iya gue paham. Makanya ini daritadi gue lagi lihat-lihat kali ada mangsa tokcer yang mau beliin kita minum.”

Keduanya ke Bali dengan membawa uang yang tidak banyak, maklum ada sesuatu yang sedang mereka incar.

“Gue ke toilet bentar ya.” Mika pamit sebentar.

“Mau gue pesenin apa?”

“Yang biasa saja, hati-hati lo!” pesan Mika, karena tahu dunia malam seperti apa. Penuh akan jebak menjebak.

Setelah Rara menganggukkan kepala, Mika pergi ke toilet.

Mikha melangkah cepat menyusuri keramaian beach club di Bali yang dipenuhi tawa riang dan musik berdentum dari panggung terbuka. Lampu warna-warni berkelap-kelip, memantul di gelas-gelas berisi koktail berwarna cerah. Di sekelilingnya, pasangan-pasangan muda asyik berciuman mesra, tangan saling meraba penuh gairah di bawah cahaya remang senja. Mikha hanya bisa menggeleng pelan, bibirnya menyunggingkan senyum sinis yang tak sampai ke mata.

“Hiiih, merinding ini gue sebadan-badan,” gumam Mikha kembali melanjutkan jalannya.

Dia tahu, di balik gemerlap dan kemewahan ini, ada kisah gelap yang harus ia ungkap. Meski di Jakarta juga banyak yang seperti itu di klub malam, namun berbeda dengan Bali yang lebih vul gar.

Tujuannya ke Bali bukan untuk bersenang-senang seperti mereka, melainkan untuk menemukan sandera yang bisa jadi tiket keluar dari jeratan utang dan biaya hidup yang semakin menyesakkan dada.

Di Jakarta terlalu berisiko—terlalu banyak wajah yang dikenalnya, terlalu banyak rahasia yang bisa terbongkar. Bersama Rara, sahabat sekaligus partner dalam perjuangan ini, mereka sengaja memilih Bali sebagai medan operasi, jauh dari hiruk pikuk yang biasa mereka hadapi.

Mikha menatap sekeliling dengan mata tajam, menyerap setiap detail yang mungkin membawa petunjuk. Langkahnya tetap mantap meski hatinya berdebar, tahu betul bahwa di balik kesenangan itu tersimpan bahaya yang mengintai. Toilet sudah dekat, tapi pikirannya masih jauh melayang pada misi yang harus segera ia selesaikan.

Di balik gemerlap pesta ini, ia dan Rara adalah pejuang yang berani mengorbankan segalanya demi harapan baru yang belum pasti.

“Lama banget loe,” ujar Rara ketika bestienya sudah kembali.

“Ngantri gila.”

Keduanya duduk di bangku bar, gelas di meja dengan tatapan mereka melayang kemana-mana. Diikuti gerakan tubuh yang luwes sambil duduk, hei mereka ini juga anak gaul. Tapi baru gaul di Bali saja.

Rara dan Mikha berdiri di pinggir pantai yang ramai, mata mereka melirik-lirik pria-pria yang berlalu-lalang. Beberapa pria, baik bule maupun lokal, dengan senyum ramah mencoba mendekati mereka, menyapa dengan kata-kata manis.

“No, thank’s.” Rara mengibaskan tangan, tanda menolak.

Mikha tersenyum sinis, setelah kepergian pria itu. “Gila ya, susah banget cari duit sampai kaya gini.”

“Jangan ngeluh. Demi apa coba kita begini, ya demi hidup. Hidup ini keras shayyyy.. jadi butuh yang beton-beton buat bertahan hidup.”

“Beton nggak tuh,” timpal Mikha dan keduanya tertawa bersama.

Mikha dan Rara masih berstatus mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta. Hebatnya, mereka kuliah biaya sendiri karena keluarga. Ah sudahlah tidak usah diharapkan. Mikha asli Bandung, sedangkan Rara dari Sumedang.

*

*

Tiga pria bule menghampiri Mikha dan Rara yang masih setia duduk di tempat semula.

“Hai ladies, sendirian?” tanya salah satu dari mereka dengan Bahasa inggris.

Rara dan Mikha yang fasih Bahasa asing meski setengah saja, membalas. Rara ramah, sedangkan Mikha nampak setengah hati. Maklum dari tampang saja sudah terlihat mereka bule yang hanya mau gratisan saja.

“Hai juga..” Rara menyapa.

“Berdua saja, bagaimana kalau kami temani. Sayang sekali gadis secantik kalian tidak ada bodyguard,” canda salah satu dari mereka.

Rara tertawa, Mikha sibuk dengan ponsel. Menolak terang-terangan.

“Boleh saja.. itu bisa dimulai dengan kalian memesankan minuman untuk kamu. Bagaimana?” pinta Rara.

Ketiga pria bule dengan tampang ganteng itu tertawa. Salah satu mendekat, berbicara di telinga Rara. “Bagaimana kalau kita split bill?”

Oh sebuah penawaran yang ogah sekali Rara terima.

Namun Rara menolak dengan tawa manisnya, “Oh honey.. sepertinya kalian bukan tercipta untuk kamu,” ujar Rara, tanda dia menolak.

Pria bule itu masih mencoba mendekat, satu tanga Rara menahan dada bidang itu. “Sorry, kami sedang menunggu seseorang!” penegasan dari Rara jika dia tidak mau mereka mendekat.

Ketiga pria bule itu mendesah, sadar diri jika mereka ditolak. Dengan tertib mereka pergi, kembali ke tempat semula.

“Hufthh.. Sial, malah dapatnya bule kere,” cebik Rara menegak satu gelas lagi.

“Minimal duda nggak apa deh, yang penting kaya. Capek otak gue, Ra.” Mikha menenggak satu minuman berwarna cokelat pekat dari gelas kecilnya.

“Lo kata lo doang. Apa kabarnya gue, Ra.”

“Kan lo cuma butuh buat bayar semesteran sama apartemen. Gue, huft.. biaya rumah sakit nyokap gila-gilaan mahalnya.”

Ada nada lirih dalam ucapan Mikha. Rara berusaha membuat suasanya mencair. “Yah jangan adu nasib dong, Ra. Nasib kita kan sama-sama jelek dalam urusan finansial,” kelakarnya.

“Benar juga ya. Yang ada malah tambah pusing, bukan tambah melek.”

“Nah itu paham.”

"Terus gimana, kita mau berapa lama di sini?" tanya Mikha, pasalnya jika berlama dengan tidak dapat mangsa, yang ada uang mereka habis hanya untuk membeli minuman.

"Coba deh tunggu sampai jam 11 ya. Kalau masih anyep, kita pindah."

"Ah gila, berasa wanita malamnya banget sih. Sampai pindah tempat, Ra."

"Ya elo maunya gimana? Mau kita balik ke hotel dengan siap-sia. Ingat ya, Ra. Kita ke Bali aja, udah mengerahkan tabungan kita. Masa nihil sih," seru Rara semangat.

Mikha menjatuhkan bahunya, "Benar juga sih."

"Nah itu lo paham Mbak Mikha yang bahenol."

Mikha tertawa, “Begini nasib pekerja seni ya nekkk..”

“Seni apaan?”

“Seni menjual tubuh.”

Hahaha..

Keduanya tertawa, lebih mudah menertawakan nasib ketimbang meratapi nasib memang. **

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Favour
Favour
wow it is amazing
2026-01-04 19:31:45
0
0
48 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status