The president's house has a lovely wife

The president's house has a lovely wife

last updateHuling Na-update : 2022-06-30
By:  Catriona KellyKumpleto
Language: English
goodnovel12goodnovel
10
3 Mga Ratings. 3 Rebyu
85Mga Kabanata
15.3Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

From a young age, she had to live under the pressure of her stepmother, after her father died of an illness, her stepmother became even more domineering, now because she wants to help her beloved son pay off his debts, he forces her to marrying a man old enough to be his father, what a dream! Such a shameless request, Grainne would honestly rather die. But she did not expect, this time Joyce was really cruel, locking her up for two days and two nights without releasing her, nor giving her any food or drink. When she could escape, she wanted to meet her lover - Brian to run away together but discovered he had an affair, too bitter she spent the night out with a strange man and the unexpected. she was pregnant with that man again, the famous cold, dark president - Carwyn

view more

Kabanata 1

Chapter 1: "What is up?"

Pria itu mengenakan jubah agung berwarna emas terang. Perawakannya tegap, tatapannya dingin. Berdiri di tengah aula, dia tampak seperti pohon pinus di tengah salju, berwibawa sekaligus asing.

"Gantari," ucapnya dengan suara berat. "Apa kamu keberatan dengan keputusanku ini?"

Gantari bergegas berdiri dan memberi hormat. "Saya tidak keberatan. Keputusan Yang Mulia mengangkat Kakak sebagai permaisuri adalah tindakan yang bijaksana. Saya ... tidak keberatan sama sekali."

Javas mengerutkan kening menatap wajah tenang itu.

Pria itu mengira ketenangan Gantari beberapa hari ini hanyalah taktik agar dia datang membujuk Gantari secara langsung. Begitu dia datang dan bertanya, wanita itu pasti akan menangis, merasa terintimidasi, lalu mengamuk.

Setelah itu, dia tinggal memberikan beberapa hadiah dan berkata dengan tegas, "Hari saat aku menikahimu, aku sudah bilang bahwa hatiku hanya milik Garwita. Aku bisa memberimu kemewahan dan kekayaan, tapi tidak dengan cinta. Posisi permaisuri hanya untuk wanita yang kucintai."

Dengan ketegasan dan kemurahan hati seperti itu, masalah ini harusnya selesai.

Namun, wanita ini ternyata benar-benar tidak peduli. Padahal, sikap berserah diri seperti ini sangat bagus. Tidak menimbulkan masalah dan menandakan Gantari benar-benar menanamkan ucapannya dulu ke dalam hati tanpa berani berharap lebih.

Akan tetapi, melihat sikap acuh tak acuh itu, dada Javas justru terasa sesak.

"Yang Mulia, Hamba membawa barang-barangnya," ucap Kepala Kasim Istana, Darya Bagawanta. Dia melangkah masuk memimpin rombongan pelayan yang membawa kotak-kotak berbalut sutra.

Kotak itu dibuka, memperlihatkan bulu rubah salju kualitas terbaik, putih bersih tanpa noda sedikit pun.

Bulu ini didapatkan Javas saat berburu beberapa hari lalu. Awalnya, dia berniat memberikannya kepada Gantari sebagai kompensasi.

Namun, melihat sikap Gantari saat ini, dia mendadak bingung harus berkata apa.

Sudahlah.

Berikan saja hadiahnya, lalu pergi.

Baru saja dia hendak berbicara, Gantari sudah mendahuluinya.

"Bulu-bulu ini indah sekali." Gantari menatap bulu rubah salju itu dengan tatapan kagum, tetapi tanpa binar kejutan. "Ini hasil buruan Yang Mulia beberapa hari lalu, ‘kan? Apa Yang Mulia membawanya ke sini agar saya menjahitkan bulu-bulu ini menjadi jubah hangat untuk Kakak?"

Rasa tidak nyaman di dada Javas makin menjadi-jadi. "Kenapa kamu nggak berpikir ... kalau ini hadiah dariku langsung untukmu?"

Gantari bergegas berlutut dengan cemas. "Ampuni saya Yang Mulia, saya tidak berani punya rasa percaya diri seperti itu. Yang Mulia pernah berkata bahwa cinta Anda hanya milik Kakak. Usaha keras Anda berburu rubah salju yang langka ini pasti demi Kakak. Saya ... tidak berani sembarangan menebak keinginan Anda."

Darya hendak meluruskan. "Yang Mulia Selir Agung, sebenarnya ini sengaja dibuat oleh ...."

"Darya," potong Javas dengan suara tajam.

Darya seketika bungkam.

Javas menatap Gantari yang berlutut di lantai. Api amarah tanpa sebab di dadanya, berkobar makin hebat.

"Kalau begitu," ucapnya dingin. "Selesaikan dalam waktu satu hari. Udara belakangan ini makin dingin, dan permaisuri memiliki tubuh yang lemah. Dia tidak boleh kedinginan."

"Saya siap menjalankan perintah," jawab Gantari sambil menunduk.

Melihat kepatuhan itu, amarah Javas makin meluap. Dia mengibaskan lengannya, berbalik, lalu melangkah dengan lebar meninggalkan Istana Ayodya.

Gantari bangkit berdiri. Dia menatap punggung pria itu dengan sedikit kebingungan, tetapi dengan cepat kembali tenang. Dia memanggil pelayannya, Tisna. "Ambilkan jarum dan benang."

"Baik, Yang Mulia."

Setelah Tisna membawakan peralatan jahit, Gantari duduk di samping jendela dan mulai menjahit jubah hangat tersebut. Cahaya matahari menerobos masuk, jatuh di atas jari lentiknya. Jari itu bergerak lincah dan mahir menuntun benang.

"Yang Mulia," panggil Tisna pelan. "Apakah Anda ... benar-benar tidak sedih?"

Gerakan tangan Gantari terhenti sejenak. Dia tersenyum tipis. Senyuman yang sangat samar, tetapi secantik es yang baru mencair. Sebuah keindahan yang memikat hati.

"Sedih?" bisik Gantari. "Untuk apa sedih?"

Lima hari lagi, obat mati suri di dalam tubuhnya akan bekerja. Dia akan bisa meninggalkan istana ini dan bebas dari Javas sepenuhnya. Dia akan pergi ke Wilayah Dundra untuk menemui pria yang benar-benar dicintainya.

Gantari dan Garwita adalah saudara seayah dari kediaman perdana menteri. Namun, Gantari adalah anak dari selir. Karena fisiknya yang lemah sejak kecil, dia dikirim ke Wilayah Dundra untuk dibesarkan oleh neneknya.

Di Wilayah Dundra, dia bertemu dengan Jiwan Laksana. Jiwan adalah putra dari Gubernur Wilayah Dundra, seorang pemuda yang lembut dan sangat berbakat. Mereka tumbuh bersama, membaca buku, menikmati bunga, dan memandangi gerimis Wilayah Dundra bersama-sama.

Pemuda itu pernah menggenggam tangannya dan berjanji, "Gantari, setelah kamu berumur lima belas tahun dan melewati pesta kedewasaan, aku akan menikahimu."

Pipi Gantari merona merah saat itu. "Baiklah."

Namun, tepat di hari usianya genap lima belas tahun, saat Keluarga Laksana bersiap melamar, ayahnya mendadak mengutus orang untuk membawanya pulang ke ibu kota. Dia dipaksa menikah dengan Pangeran Ketiga, Javas.

Sebab saat itu sedang terjadi perebutan takhta di antara sembilan pangeran. Kaisar menganugerahkan putri dari pejabat tinggi kepada setiap pangeran sebagai istri sah. Dan yang dijodohkan dengan Javas adalah putri dari Kediaman Perdana Menteri.

Javas menyukai kakak perempuan Gantari, Garwita. Namun, dia tahu betapa berbahayanya situasi saat itu. Menikahi Garwita sama saja menyeret wanita itu ke dalam bahaya. Jadi, ketika mengetahui ada adik Garwita yang juga anak selir, yang dibesarkan di Wilayah Dundra, dia meminta Gantari.

Gantari menolak. Namun, ayahnya mengancam menggunakan nyawa Jiwan. "Kalau kamu menolak menikah, aku akan membuat seluruh Keluarga Laksana dihukum mati!"

Pada akhirnya, ayahnya berjanji, "Setelah Pangeran Ketiga naik takhta, aku akan memberimu obat mati suri. Saat kamu 'meninggal', kamu bisa meninggalkan istana dan menemui Jiwan."

Gantari menyetujuinya. Dia pun menikah dengan Javas.

Setelah menikah, kehidupan memang penuh bahaya. Pembunuhan, racun, dan jebakan. Gantari terluka berkali-kali dan keracunan berulang kali. Namun, dia tidak pernah mengeluh. Dia mengurus rumah tangga pangeran dengan rapi dan menjadi pendukung yang sempurna.

Ketika Javas terluka dan membutuhkan obat langka, dia mempertaruhkan nyawa untuk mencari obatnya. Ketika Javas dijebak oleh musuh politiknya, Gantari melindunginya menahan sabetan pedang.

Entah sejak kapan, rumor mulai beredar di kediaman pangeran, bahwa Istri Pangeran Ketiga sangat mencintai suaminya.

Gantari tidak repot-repot menjelaskan. Dia hanya ingin berjuang sekuat tenaga membantu Javas naik takhta agar dia sendiri bisa segera menemui Jiwan.

Kini, semuanya telah berakhir. Javas telah menjadi kaisar. Garwita telah diangkat menjadi permaisuri. Dan dua hari lalu, dia sudah meminum obat mati suri itu.

Obat itu membutuhkan waktu tujuh hari untuk bereaksi penuh.

Sekarang, tersisa lima hari lagi.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Rebyu

Rakiat Cardozo
Rakiat Cardozo
The story line is good, bit grammar is very much needed
2023-02-26 00:52:11
3
0
Ferline Sugianto
Ferline Sugianto
The story line was nice.. but a lot of grammar error.. keep it up......
2022-12-13 18:06:56
3
0
Self-love
Self-love
Keep it... You are doing great already
2022-06-13 21:48:02
2
1
85 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status