Se connecterOn my 18th birthday, my stepmother, Sheila Coleman, teams up with her secret lover, William Lynch, to kill me in cold blood. After that, she carves my femur into a bone sculpture and presents it to my dad as a gift. Dad loves the sculpture to no end. Thanks to Sheila slandering me in the past, he doesn't give a damn about me at all, even after finding out that I've gone missing. In fact, he even declares that he wants to cut off all ties with me. "Don't bring that brat up in front of me from now on! I hope that she dies out there!" But when he finds out that I'm really dead, he goes crazy from remorse.
Voir plus'Dimana ini? Apa yang terjadi?'
Di sebuah ruangan serba putih, seorang wanita terbaring lemah di atas ranjang. Berteman dengan belasan alat medis yang menempel hampir di seluruh tubuhnya. Jarinya bergerak, menyusul jeritan EKG yang berdetak dua kali lebih cepat.Megan White membuka matanya perlahan. Silau! Kata pertama yang bisa dipikirkannya. Setelah matanya beradaptasi dengan cahaya yang masuk, Megan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Meneliti ruangan dan ranjang dimana tubuhnya terbaring.'Rumah sakit?' Tebaknya.Satu nama tempat yang bisa dideskripsikan Megan setelah mengamati dinding yang di dominasi warna putih, tiang infus, peralatan medis yang melekat di tubuhnya dan barang-barang lain yang ada di dalam ruangan.'Apa yang terjadi padaku?' Megan berusaha mengingat kejadian terakhir. Dia terus mencoba mengurut rangkaian kejadian yang menyebabkannya terbaring di atas ranjang ini. Sayangnya gagal, hanya bayangan samar-samar yang muncul, membuat kepalanya berdenyut nyeri.Megan kembali mengerakkan jari-jari tangannya. Hatinya mendesah lega begitu yakin ia bisa mengangkat kedua tangannya. Tapi, mengapa kakinya terasa berat? Sulit untuk digerakkan."Kamu sudah sadar?"Kening Megan mengerut bingung begitu melihat wajah asing yang menyapanya. Pria itu menatapnya datar dan dingin."S-siapa?"Megan mengelus tenggorokannya yang sakit setelah mengeluarkan satu kata dengan nada serak."Minumlah." Pria itu mengangsurkan sedotan dalam gelas berisi air mineral. "Kamu sudah tidur cukup lama, wajar kalau tenggorokanmu kering."Megan menyesap pelan, membiarkan cairan dingin itu membasahi tenggorokannya yang kering. Takut-takut, dia mengarahkan bola matanya untuk menatap pria yang tidak dikenalinya."Siapa kamu?" Ulang Megan begitu melepas sedotan dan merasa tenggorokannya lebih baik.Pria itu menatap Megan tajam. "Riley Charles, suamimu."Kedutan di kening Megan bertambah dua kali lipat. "Suami?" Gumamnya setengah sadar.'Kapan aku menikah?'"Tidak mungkin. Aku tidak mengenalmu," tolak Megan mentah-mentah.Riley mendekati ranjang, menekan remote kecil untuk menaikkan ranjang bagian atas dan membuat tubuh Megan terangkat beberapa centimeter, mencapai posisi nyaman."Hari apa ini? April mop?" Canda Megan.Bersiap untuk tertawa keras seandainya pria yang tidak dikenalnya ini meneriakkan kata 'surprise'."April udah lewat, sekarang Juni," sahut Riley datar."Lalu? Kenapa kamu becanda seperti ini, mengerikan," desis Megan dengan suara parau."Aku tidak becanda.""Mustahil. Aku tidak pernah menikah. Jangan membual cerita aneh," sergah Megan mulai kesal."Kenapa? Aku tidak cukup pantas menjadi suamimu?"Megan meneliti penampilan pria dihadapannya. Tidak ada yang salah, malah terlalu berlebih. Wajah tampan, tubuh atletis, style ala pria metroseksual. Bila orang-orang bertanya, apa yang kurang? Jawabannya, tidak ada. Semuanya perfect."Bukan masalah pantas atau tidak tapi-"Megan terbatuk keras, ia memegangi tenggorokannya yang kembali mengering, membuatnya sulit mengeluarkan suara."Berhentilah berteriak. Kamu hanya membuat tenggorokanmu sakit." Riley kembali mengangkat gelas berisi air ke depan Megan."Mana ponselku?" Alih Megan.Dia membutuhkan benda itu untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin ini hanya mimpi siang bolong akibat begadang setiap malam."Aku tidak tahu, mungkin terbakar saat mobilmu meledak."Megan meletakkan gelas di nakas samping ranjang.'Kecelakaan? Yah, sepertinya itu yang menjadi pusat masalahnya,' batin Megan yakin."Kalau begitu, pinjamkan aku ponselmu.""Siapa yang mau kamu hubungi?" Selidik Riley."Temanku. Mereka pasti tahu apa yang sebenarnya terjadi.""Tidak sekarang," ucap Riley tegas. "Setelah kondisimu pulih total. Aku sendiri yang akan mengantarmu pada mereka.""Apa maksudmu? Kamu mau mengurungku disini?"Riley mendekat, jari-jarinya menyentuh pipi pucat itu. "Ya. Aku akan mengurung mu. Memastikan kamu tidak menginjakkan kaki satu centi pun dari ruangan ini," bisiknya di telinga Megan.Megan melotot, ia beringsut takut, menarik tubuhnya untuk menjauhi pria asing dihadapannya."Apa?!"'Orang ini gila!' Pekik Megan takut dalam hati."Istirahatlah, kita akan membicarakan masalah ini lagi saat kondisimu membaik." Pesan terakhir Riley sebelum berbalik dan keluar.Meninggalkan Megan yang masih terpaku bingung. Menebak-nebak dalam hati, apa yang sebenarnya terjadi dan berapa lama dia tidak sadarkan diri hingga membuat dunia berubah total dalam sekejap.***"Rey, gimana kondisinya?" Buru Allen begitu membuka pintu ruang kerja CEO."Cukup baik," sahut Riley singkat.Riley tak mengindahkan kedatangan Allen Morle, dia tetap bekerja di balik laptop tanpa mengalihkan pandangannya."Rey," usik Allen. "Aku dengar dari dokter, sulit untuk wanita itu kembali berjalan."Riley menghela napas panjang. Ia mengalihkan perhatiannya, menatap Allen. "Tidak permanen, tapi butuh waktu dan usaha yang keras untuk membuatnya bisa berjalan lagi," lanjutnya.Allen mengangguk paham. "Itu alasanmu setuju dengan pernikahan ini dan membawanya pulang ke rumah?""Kamu kasihan padanya?""Tidak," balas Riley cuek.'Ada hal lain yang membuat Riley mengubah keputusannya.'"Lalu? Kenapa kamu tidak menyewa terapis profesional? Wanita itu bisa tetap di rumah sakit," selidik Allen.Mempertanyakan keputusan Riley yang tiba-tiba berubah. Pada awalnya Riley menolak mentah-mentah usul para pengacara untuk menyamarkan kecelakaan yang terjadi dengan menikahi korban tapi sekarang pria itu tiba-tiba saja membawa wanita itu pulang."Lebih baik merawatnya di rumah. Aku tidak ingin masalah ini menyebar luas."Riley melepaskan perhatiannya, meletakkan laptop di atas meja lalu menghampiri dan duduk di sofa yang berhadapan dengan sahabat sekaligus asistennya."Kamu sudah mempersiapkan surat-surat yang dibutuhkan?" Tanyanya memastikan.Allen mengangguk. "Aku sudah mendaftarkan pernikahan dan membuat buku nikah. Mulai hari ini kalian resmi menjadi suami istri."Riley menatap dua buku kecil bersampul hijau dengan tulisan tinta emas.'Ini jalan terbaik bagi semua orang,' batinnya yakin.*****Glosarium :EKG (Elektrokardiograf) = Alat medis yang digunakan untuk mendeteksi denyut dan irama jantung.Dad said, "When you were hurting her, did you ever think this day would come for you too?"William spat out a mouthful of blood and forced himself to stay calm through the pain. "Richard, listen to me. This wasn't my intention. It was all Sheila's idea. She hated Rae for refusing to accept her. I didn't have the heart to do it either. She pushed me into it. You killed her? Good. A vile woman like her deserved to die. Don't worry, I won't say a word. Rae's death breaks my heart too.""How dare you mention Rae?" Dad roared. He grabbed the hammer from the ground and slammed it down again and again, pouring years of pent-up fury into every strike. "You all deserve to die. I want you to repay with your lives!"There were a few muffled pleas, and then silence.William was dead too.Fear of death was real. In the end, they all begged for mercy. If that was fear, then none of them had shown the courage I had.Dad buried William in the backyard as well. Then he carefully cleaned himself
"I was wrong, Richard. I know I was wrong. Please, spare me."Sheila's screams gradually faded as she began to plead quietly, dredging up old grievances in a desperate attempt to survive. It didn't work. Dad's face stayed cold. All she could do was watch as he pulled out a beige scarf and looped it around her neck.For a brief moment, Sheila thrashed violently, then went still. She was dead, but her eyes stayed wide open, even in death.Dad slumped to the floor when he saw she was dead. He stared at his trembling, bloodied hands before bursting into laughter, which grew louder and more exaggerated until tears streamed down his face. Finally, he said, "Rae, I can protect you too.""Lies. I won't believe you, and I don't need your protection. You just feel sorry for me. I don't need your pity or you."Sheila was buried in the backyard, but her left leg bone was removed, polished, and crafted into a flawless bone sculpture.William couldn't reach Sheila and was too afraid to go to
Sheila's expression twisted into something vicious. "I waited so long for that first wife of yours to finally die so you could marry me openly. And what did I get? You dragged along a useless little burden. That damn little bitch was just like her dead mother, rotten to the core. She pointed right at my face and called me a homewrecker every single day."No matter how much I beat her, it never worked. Everyone whispered behind my back, saying I stole my way into this family. Everyone looked down on me. Do you have any idea how badly I wanted to sew her mouth shut?"You even let that little bitch walk all over me. If you couldn't teach her properly, then I did it for you. She was stubborn as hell. Even after being beaten half to death, she never begged once, but she was afraid of dying. Do you know what she said right before she died? She cried and called for her mom. Hahaha. She actually thought her dead mother would come save her."Did I call for Mom? I didn't remember. How could
The scarf had once been something I treasured and kept hidden in my closet. Now it lay on display like a filthy rag, open for anyone to see. The police detected traces of ether and lily petals on it, along with a bit of cream. They concluded that when I was drugged, I had likely been holding flowers and a cake.Dad listened in a daze, barely registering the officers' questions. Then he bolted, almost as if he were fleeing. I followed him all the way to the cemetery. The grounds, which had been battered by a typhoon and torrential rain, had already been cleaned up by the groundskeeper. Mom's smiling face on her headstone looked bright and radiant in the sunlight.Other than me, no one had come to visit Mom in a very long time.Dad found the groundskeeper and frantically tried to describe me, asking if he had seen me in the past few days."Oh, that young lady. I remember her—she used to come by to visit her mom all the time," the groundskeeper said, scrutinizing Dad from head to toe.
I still remembered how Sheila's eager smile twisted into something vicious as she tightened her hands around my neck. She spat, "Weren't you so arrogant? Go on, show me how arrogant you are now. You damn little bitch. I should have killed you when you were a child. You're trash nobody wants, yet you
The officer asked, "Is this your daughter?"His gaze dropped, settling on my empty leg. Dad's face finally changed. His body began to tremble uncontrollably. His hand lifted halfway, then froze in midair, as if he were afraid to touch me. "Where is her leg?""The victim was dismembered after death
Dad threw the sleeping pills he had found onto the table and demanded, "What is this?"Sheila's face went pale. She instinctively defended herself. "You haven't been sleeping well lately, and you've been upset over Raena. I just added a little to your milk so you could rest better.""This wasn't t
Sheila's face flushed red, yet she still forced a smile at Dad and said through clenched teeth, "I hate her. I wish she were dead. So what? Why don't you kill me, then? Richard, the police are still looking for that femur. What do you think will happen if they find it here?"Dad froze. Sheila too












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.