Share

Bab 2

Penulis: Richy
Saat aku keluar dari kamar mandi, mata Erika langsung tertuju pada bagian bawah tubuhku, tatapannya dipenuhi hasrat.

Apa mungkin dia juga punya pikiran yang sama denganku?

Tepat saat itu, badai di luar semakin mengamuk dan listrik mendadak padam. Ruangan seketika menjadi gelap gulita.

Putriku berteriak ketakutan dan langsung menghambur ke pelukanku.

Gumpalan empuk di dadanya menempel erat di dadaku, rasanya sangat kenyal dan lembut.

Bahkan bagian bawahnya menempel pada perut bawahku, membuatku merinding.

Namun, dia adalah putriku sendiri, aku tidak boleh punya pikiran kotor.

Aku segera mendorongnya menjauh dan menyalakan lampu senter dari ponsel.

Di bawah cahaya remang-remang, aku terkejut melihat bahwa orang yang barusan memelukku adalah Erika!

Dia menatapku dengan wajah memelas yang mengundang rasa iba.

Ternyata dia yang tadi menerjang ke pelukanku. Kepalaku terasa berdenyut, seluruh saraf di tubuhku seolah gatal oleh gairah.

Dia berkata dengan nada manja, "Paman, aku takut sekali!"

Belum sempat aku menenangkan diri, kulihat putriku meringkuk di sofa sambil gemetar.

Aku berkata pada mereka berdua, "Kalian cepat masuk ke kamar, berbaring saja di tempat tidur. Semua akan baik-baik saja."

Dengan kawalanku, mereka berdua kembali ke kamar dan masuk ke dalam selimut.

Aku pun kembali ke kamarku. Namun, otakku dipenuhi oleh bayangan Erika dan sensasi kelembutan tadi.

Aku tidak bisa tidur.

Tengah malam, aku mendengar suara rintihan naik-turun dari arah kamar mandi.

Suara itu terdengar sangat menggoda.

Aku berjalan berjinjit menuju ke sana.

Pintu kamar mandi sedikit terbuka, membiarkan cahaya redup keluar.

Saat aku mengintip, kulihat Erika duduk di atas kloset dengan kaki terbuka lebar. Ternyata dugaanku benar, dia tidak memakai dalaman di balik baju tidurnya.

Sungguh pemandangan yang luar biasa untuk gadis berumur delapan belas tahun!

Yang lebih mengejutkan, dia memegang pakaian dalamku dan menghirup aromanya dengan rakus.

Dari sudut pandangku, semuanya terlihat sangat jelas.

Dia memasukkan satu tangan ke bawah sana dan mulai menggerakkannya dengan liar.

Pemandangan ini hampir membuat hidungku mimisan.

Bukankah ini namanya memancingku untuk berbuat dosa?

Haruskah aku masuk dan membantunya menyelesaikannya?

Saat aku sedang bimbang, tiba-tiba suara putriku terdengar dari kamar tidur.

"Erika! Kamu belum selesai di toilet? Cepat kembali, aku takut!"

Erika segera meletakkan pakaian dalamku dan merapikan bajunya.

"Ya! Sebentar lagi selesai."

Dia berdiri dan berjalan ke arah pintu.

Karena takut ketahuan, aku segera menarik diri dan kembali ke kamar dengan langkah ringan.

Berbaring di tempat tidur, jantungku berdegup kencang.

Aku tidak menyangka, di usiaku yang empat puluh tahun ini, ada gadis remaja berumur delapan belas tahun yang menghirup pakaian dalamku.

Memikirkan kehidupan penuh nikmat di depan mata, hatiku terasa sangat manis.

Keesokan paginya saat fajar menyingsing, aku sudah bangun untuk memasak sarapan.

Di luar rumah, badai masih mengamuk. Persediaan logistik di rumah mulai menipis, jadi kami harus berhemat.

Saat makan, Erika duduk tepat di hadapanku.

Tiba-tiba, dia menjulurkan satu kakinya dan menggesekkan kakinya ke betisku dengan lembut.

Aku tersentak kaget dan refleks melirik putriku. Dia sedang asyik makan dan sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi di bawah meja.

Aku mulai rileks dan menikmati kelembutan jari kaki Erika.

Betisku terasa sangat geli karena ulahnya.

Sambil menyuap nasi, dia mencuri pandang ke arahku dengan senyum penuh arti.

Aku hanya bisa tersenyum canggung.

Tepat pada saat itu, sumpitnya tiba-tiba jatuh ke lantai. Dia membungkuk di bawah meja untuk mengambilnya.

Kupikir dia akan segera duduk kembali, jadi aku terus makan.

Namun tiba-tiba, Erika memeluk kakiku dan mulai menjilat betisku dengan lidahnya!

Dia terus menjilat dari betis hingga ke paha, berhenti di pangkal paha, dan memutar-mutarkan lidahnya di sana.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Topan Melanda, Sahabat Putriku Menginap di Rumahku   Bab 7

    Setiap tetes keringat dan cairan di sela jari kakinya tertangkap oleh indra perasaku, merangsang saraf-sarafku. Setelah meronta sebentar, Erika berhenti dan membiarkan kakinya tetap di sana untuk kumainkan sesuka hati. Aku menjulurkan lidah, meluncur dari tumit ke jari kaki, lalu kembali lagi. Setiap inci kulit di telapak kakinya sudah kucicipi.Wajah Erika memerah, dia memejamkan mata sambil mendesah nikmat. "Paman ahli sekali menjilat, rasanya geli-geli nikmat, sangat enak!"Dalam hubungan, kebahagiaan terbesar adalah saat kedua belah pihak bisa merasakan kesenangan yang sama. Mendengar ucapan Erika, aku pun merasa sangat senang. Aku mengangkat kakinya yang lain dan menjilat bersih sisa keringat di sana.Erika tampak sangat menikmati momen ini. Dia bercanda dengan berkata, "Paman, mulai sekarang kakiku nggak perlu dicuci lagi, biar Paman saja yang mencucinya."Tanpa terasa malam kembali tiba. Kami sempat bingung mau makan apa. Putriku, setelah seharian bersedih, tampaknya mula

  • Topan Melanda, Sahabat Putriku Menginap di Rumahku   Bab 6

    Stoking itu sebenarnya aku beli diam-diam. Setiap kali aku merindukan belaian wanita, aku akan mengeluarkannya dan sekadar merabanya. Tak kusangka, stoking itu justru ditemukan oleh Erika. Memikirkan hal itu, gairahku tiba-tiba bangkit kembali."Erika, bagaimana kalau kamu pakai stoking itu untuk Paman?"Erika langsung kegirangan mendengarnya. "Paman suka stoking, ya? Oke, aku pakai untuk Paman, tapi Paman harus memuaskanku dengan benar nanti."Aku mengangguk sambil tersenyum. Erika memegang stoking itu, mencari bagian ujung jari kaki. Kemudian dia mengangkat kaki kanannya, meluruskan punggung kakinya, dan memasukkan ujung jarinya ke dalam lubang stoking. Stoking hitam itu seketika mengikuti bentuk kakinya. Kaki kecil itu terlihat sangat menggoda.Dia menariknya melewati betis hingga ke pinggang, lalu melakukan hal yang sama pada kaki kirinya. Mengenakan stoking membuatnya terlihat sangat seksi. Dia berdiri dan berputar di hadapanku. "Sudah aku pakai. Bagaimana, cantik nggak?""

  • Topan Melanda, Sahabat Putriku Menginap di Rumahku   Bab 5

    Erika duduk di samping putriku, memegang tangannya dan berkata, "Aku dan Paman nggak melanggar hukum, juga nggak melanggar moral. Kami berdua melakukannya atas dasar suka sama suka.""Apa kamu tega melihat ayahmu menderita? Dia nggak punya istri dan sudah lama menahan dirinya.""Apa kamu lebih suka dia pergi ke tempat prostitusi? Itu malah jauh lebih buruk, ‘kan?""Kebetulan aku juga punya keinginan, dan kami berdua saling tertarik pada satu sama lain."Mendengar ucapan Erika, putriku akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya semakin memerah, dan dengan nada menuntut dia bertanya, "Lalu, setelah ini aku harus memanggilmu apa? Temanku, atau ibu?"Ternyata di sinilah letak ganjalan di hatinya, dia sulit menerima kenyataan ini secara sosial. Ketika Erika menjawab, "Kami ‘kan belum menikah, kita tetap teman baik." Aku segera menarik Erika keluar dari kamar.Aku berkata pada putriku, "Tenangkan dirimu dulu."Setelah aku dan Erika kembali ke kamar, dia mengerucutkan bibirnya dan mengomel deng

  • Topan Melanda, Sahabat Putriku Menginap di Rumahku   Bab 4

    Tangan Erika menggenggam bagian pangkalnya, lalu dia membuka mulut dan mengulum bagian ujungnya. Lidahnya terus bermain tanpa henti. Dia benar-benar ahli, isapannya terasa sangat nikmat. Aku mau tak mau mendesah pelan dan bertanya karena penasaran."Erika, kenapa kamu bisa sehebat ini? Belajar dari siapa sampai bisa begini?"Erika melepaskannya perlahan, menatapku dengan sorot mata yang menggoda. "Kalau sedang sendirian di rumah, aku suka menonton film luar negeri. Aku belajar dari orang-orang di film itu." Setelah bicara, dia melanjutkan kembali kegiatannya.Hasratnya semakin membara, dan tak lama kemudian tubuhnya terasa panas dan lemas. Dia melepaskan baju tidurnya. Di balik baju tidur itu, benar saja, dia tidak memakai apa-apa. Melihat tubuh yang sempurna ini, binatang buas di dalam diriku seketika bangkit. Aku langsung menerjangnya di atas tempat tidur, menindihnya, dan dengan rakus menikmati keindahan tubuhnya."Aromamu sungguh harum, Erika."Wajah Erika memerah, matanya

  • Topan Melanda, Sahabat Putriku Menginap di Rumahku   Bab 3

    Sensasi nikmat yang luar biasa mulai merangsangku secara gila-gilaan. Seluruh tulangku terasa gemetar dan aku tidak bisa duduk diam. Pori-poriku seolah meledak, aku hanya bisa menegang kuat-kuat agar putriku tidak menyadari keanehan ini.Erika tidak berhenti, malah mulai menarik celanaku. Karena aku memakai celana pendek yang longgar, dia dengan mudah menurunkannya. "Senjata" besarku pun langsung melompat keluar. Putriku masih asyik makan di sampingku, perasaan ini sungguh sangat memalukan sekaligus mendebarkan. Aku mencoba mendorong Erika untuk menjauhkannya, tetapi dia justru semakin kuat mencengkeram milikku!Tangannya sangat lembut, membuat pembuluh darah di sekujur tubuhku terasa mendidih. Dia bahkan mulai menggerakkan tangannya naik-turun. Seketika, stimulasi yang sangat kuat membungkusku, sel-sel tubuhku rasanya meledak. Sudah bertahun-tahun aku tidak menyentuh wanita, dan tiba-tiba digenggam oleh seorang gadis muda.Sensasi itu langsung membuatku pening. Sumpit di tang

  • Topan Melanda, Sahabat Putriku Menginap di Rumahku   Bab 2

    Saat aku keluar dari kamar mandi, mata Erika langsung tertuju pada bagian bawah tubuhku, tatapannya dipenuhi hasrat. Apa mungkin dia juga punya pikiran yang sama denganku?Tepat saat itu, badai di luar semakin mengamuk dan listrik mendadak padam. Ruangan seketika menjadi gelap gulita. Putriku berteriak ketakutan dan langsung menghambur ke pelukanku. Gumpalan empuk di dadanya menempel erat di dadaku, rasanya sangat kenyal dan lembut. Bahkan bagian bawahnya menempel pada perut bawahku, membuatku merinding. Namun, dia adalah putriku sendiri, aku tidak boleh punya pikiran kotor.Aku segera mendorongnya menjauh dan menyalakan lampu senter dari ponsel. Di bawah cahaya remang-remang, aku terkejut melihat bahwa orang yang barusan memelukku adalah Erika! Dia menatapku dengan wajah memelas yang mengundang rasa iba. Ternyata dia yang tadi menerjang ke pelukanku. Kepalaku terasa berdenyut, seluruh saraf di tubuhku seolah gatal oleh gairah.Dia berkata dengan nada manja, "Paman, aku takut s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status