Share

Bab 80 Ini bukan mimpi?

Penulis: Jackie Boyz
last update Tanggal publikasi: 2026-04-18 09:56:37

Ketika hendak masuk ke dalam kereta dia berhenti sejenak untuk menghapus air mata di pipinya.

Anan melihatnya dari jendela lantai atas toko, hatinya terasa sakit luar biasa. Anan menyentuh dadanya dan merasa sesak ketika melihat kereta Lusiana pergi.

“Aku rasa, aku sungguh telah jatuh cinta ....”

Tidak lama setelah itu dia turun dan melihat pengawal berjaga di luar pintu.

“Pangeran, apakah saya masih ditugaskan untuk menjaga Putri?”

“Ya, pergilah, jangan sampai sesua
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 97 Tamat

    Lusiana masih tidak percaya dirinya telah kembali. Dia pikir semua yang dilaluinya selama ini hanyalah mimpi belaka. Lusiana bangun dari posisinya lalu duduk di tepi ranjang. Bibi Lu melihat Lusiana sudah bangun, dia merasa bersyukur karena pikirnya Lusiana tidak akan pernah bangun dari tidur panjangnya.Awalnya kecelakaan di acara karpet merah, melihat Lusiana pingsan semua orang mengira Lusiana memiliki penyakit jantung bawaan. Ternyata ada seseorang yang berniat mencelakainya. Obat di dalam kelopak bunga mawar hanya menyebabkan delusi tapi kondisi Lusiana seketika memburuk dan malah menyebabkan gangguan pernafasan. Lusiana bisa kehilangan nyawanya jika tidak segera ditolong.Beberapa menit kemudian perawat dan dokter datang untuk memeriksa kondisinya. Semua peralatan medis sudah dilepas dari tubuhnya. Lusiana menatap Bibi Lu yang kini sedang menata barang-barang untuk kembali pulang ke rumah.“Bibi, selama aku sakit apakah ada orang datang?”Bibi Lu mengerutkan keningnya lalu meng

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 96 Aku kembali

    Lusiana mengatupkan kedua matanya perlahan, dia kehilangan kesadarannya.Beberapa saat kemudian dia melihat seseorang tanpa ragu terjun ke dalam air dan membawanya keluar.Lusiana membuka matanya dan melihat dengan samar orang tersebut hanya mengangkat tubuhnya dari dalam air lalu pergi meninggalkannya.Berikutnya Sisil merawatnya di kediaman. Lusiana bangun dan menatap Sisil yang sejak tadi berada di samping untuk menunggunya terjaga.Pelayan dari istana dalam juga melihat Lusiana sudah sadarkan diri, pelayan tersebut segera melaporkannya pada Raja Yudistira.“Si-sisil?”“Ya, Yang-mulia! Syukurlah Anda sudah terjaga! Bagaimana perasaan Anda?”Lusiana meraba tengkuknya, dia juga menyentuh kedua lengannya sendiri. “Ra-racun dingin di tubuhku sepertinya sudah hilang,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Saat kamu menjagaku di sini apakah ada orang yang datang menjenguk?”“Ya, ketika di kolam mandi sebenarnya Pangeran Anan datang, aku melihat baju beliau basah kuyup tapi beliau tidak mengata

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 95 Kolam beracun

    “Pokoknya aku tidak akan pernah membiarkanmu jatuh ke tangan Paman! Paman Anan hanya sedikit kurang waras, dia sama sepertimu! Kalian sama-sama gila!” Lusiana menyipitkan mata lalu berjalan mendekati meja, dia mengambil pisau pipih kecil. Mata pisau mengilat memantulkan cahaya. Andi menutupi matanya dengan lengan bajunya. Dia mendengar Lusiana berkata sambil berjalan mendekatinya.“Oh, kamu tidak ingin pergi? Lain kali jika kamu masih berani datang ke sini, bukan hanya tendangan yang aku berikan, tapi aku akan memotong senjatamu itu sampai ke pangkal!” ancamnya seraya membungkuk di depan Andi.Andi beringsut mundur menjauh.“Wa-wanita gila! Lusiana, kamu kerasukan iblis! Bagaimana mungkin seorang putri raja berbicara tidak sopan seperti preman! Rena benar, kamu sudah sakit jiwa! Aaaaaaa! Wanita gila!” Andi berusaha bangun dengan sekuat tenaga lalu berlari keluar dan tidak berani menoleh ke belakang.Lusiana menatapnya sambil te

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 94 Berusaha menyentuhnya

    Lusiana melihat betapa emosinya Rena menghadapi Andi saat ini, dia teringat dengan masa lalu Putri Lusiana. Dulu Lusiana tidak pernah berani menyuarakan isi hatinya dan hanya menerima semua keputusan yang dibuat untuknya. Entah adil atau tidak adil, Lusiana akan tetap menyetujuinya. Dia melihat Lusiana yang tubuhnya dia tempati saat ini, di masa lalu wanita itu hanya sibuk memenuhi mulutnya dengan bakpao dibandingkan ribut dengan orang lain. Menurutnya menikmati makanan lebih baik daripada bertengkar. Asal perutnya terasa kenyang dia tidak akan pernah merasa sakit hati lagi. Putri Lusiana memenuhi mulutnya dengan makanan tapi kedua matanya terus meneteskan air mata.Lusiana termenung dalam lamunannya sendiri. Tanpa sadar air matanya menetes di kedua pipinya. Lusiana yang malang! Mana mungkin hatimu yang hancur bisa sembuh cukup dengan memenuhi perut dengan makanan? Dasar pembohong, kenapa terus menipu dirimu sendiri?Lusiana menyeka air mata di

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 93 Hanya kebetulan

    Perjamuan hari ini berjalan dengan lancar meski pada awalnya sempat ada keributan karena rencana jahat Rena dan Selir Seyan. Pandangan Lusiana segera beralih ke arah lain. Lusiana menatap ke arah Rena dan Andi, pasangan itu berdiri melepas kepergian para tamu. Lusiana merasa tidak perlu lagi berada di sana, dia sudah datang di acara hari ini, baginya itu sudah cukup. Andi yang sejak tadi berada di samping Rena tiba-tiba mengalihkan perhatiannya ke arah Lusiana yang sedang berjalan meninggalkan lokasi.“Adik Rena, perutku tiba-tiba mulas, aku pergi ke kamar mandi dulu! Lagi pula acaranya juga sudah selesai!” pamitnya.Rena mengerutkan keningnya, dia langsung memegangi lengan Andi. Kamu ingin menipuku? Bukankah kamu pergi terburu-buru karena melihat Lusiana? Apa kamu kira aku tidak tahu kalau Lusiana baru saja melangkah meninggalkan pintu? Andi, jangan harap aku akan membiarkan kamu kembali dekat dengan Lusiana!“Kakak Andi, kenapa tergesa-gesa? Mampirlah dulu ke kediamanku, lagi p

  • Transformasi Sang Tuan Putri    Bab 92 Duri kecil

    “Ya, karena kamu mirip dengan Andi si bodoh itu! Eh, seharusnya kamu mengucapkan terima kasih padaku! Kamu bisa mendapatkan wanita lain selain Putri Lusiana, dia bukan tipe wanita yang akan tunduk padamu! Tidak masalah jika kamu mengaguminya dari jauh ....”“Oh, benarkah? Aku melihatnya sangat patuh di dekat Kakak senior! Kenapa aku tidak bisa menjadi temannya jika dia bisa berteman dengan Kakak senior?” Zihan berdiri dari kursinya lalu pergi dan bergabung di meja Lusiana. Tidak disangkanya, baru saja dia ingin duduk di sana, beberapa pangeran lain segera datang dan ikut menyapa Lusiana sehingga dia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk bicara. “Putri Lusiana, bagaimana kesehatanmu?”“Putri Lusiana, apa kabarmu?”“Putri, apakah Anda baik-baik saja?”Tidak hanya pangeran, putri pejabat dari wilayah lain juga ikut mencuri perhatian. Mereka tahu Lusiana sangat pandai dalam berbisnis dan selalu memiliki ide cemerlang, mengika

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status