LOGINLife is hard, but for Delaney Waters, it’s especially harder. From the moment she was born, she was excluded due to the fact that she was born under a black moon, one of the worst moons in werewolf lore. Even Delaney’s mother treats her like everyone else; coldly. On her eighteenth birthday, everything changes unexpectedly for her because she finds her mate and he is none other than Alec Castell, the son of the Alpha. This discovery leads them both down a path from which there is no return, and Delaney, as always, gets the rough end of the stick. A terrible event ruins Delaney’s life indefinitely, turning her into someone callous and bitter, and with a thirst to get back at the world that treated her so cruelly and unfairly. Her quest for vengeance leads to discoveries that shatter her foundations and make her question her entire existence, turning everything she thought she knew about herself on its head. Will she succeed in overcoming her badly-written fate or will the past repeat itself once more?
View More"Kamu... sangat cantik," bisik Arka di telinga Nia, membuatnya menggelinjang. Arka mulai menciumi leher Nia yang jenjang. Bibirnya menelusuri setiap inci kulit lembut itu, merasakan denyut nadi Nia yang semakin kencang.
Nia mendesah lebih keras kali ini. "Arka...hhmmhh…. kita tidak seharusnya..."
"Tapi kita menginginkannya," balas Arka, terus menelusuri lehernya.
Tangannya mulai meraba punggung Nia, kemudian bergerak ke depan. Jari-jarinya mulai mendekati dada Nia yang ranum, membayangkan bagaimana rasanya menyentuh bagian yang selama ini hanya bisa dia pandangi dari jauh.
Nia mendesah lagi, tapi kali ini ada nada panik dalam suaranya. "Aaaahhhh…..Tunggu..."
*
TING TONG. TING TONG.
Suara bel pintu yang nyaring dan berulang memecah konsentrasi Arka. Kepalanya yang sedang pusing menatap layar laptop, dipenuhi baris-baris kode HTML yang tak kunjung membentuk website yang sempurna, terangkat dengan geram.
"Siapa ini?" gumamnya kesal, suaranya parau. Jam di sudut layar menunjukkan pukul 09.10 pagi. Bukan waktu yang biasa untuk tamu.
TING TONG.
Bel itu berbunyi untuk ketiga kalinya, lebih panjang dan lebih nekat, seolah menantangnya untuk tidak membukakan pintu.
Dengan mengeluh, Arka mendorong tubuhnya dari kursi. Dia mengenakan kaos oblong lusuh dan celana training yang sudah pudar, seragamnya selama berbulan-bulan bekerja dari rumah. Ruang kerjanya yang sebenarnya adalah sudut ruang tamu berantakan dengan tumpukan kertas dan cangkir kopi yang sudah kering.
Dia membuka pintu dengan gerakan kasar, siap melontarkan kata-kata tak ramah. Namun, semua kata itu tertahan di kerongkongannya.
Berdiri di balik pintu adalah seorang perempuan muda.
"Selamat pagi, Pak," ucap perempuan itu dengan suara merdu namun penuh hormat, disertai sedikit anggukan kepala.
Arka hanya bisa menatap. Perempuan itu mengenakan seragam sederhana: kemeja putih lengan pendek dan rok hitam polos hingga sedikit di atas lutut. Di tangannya, ada sebuah tas kain sederhana dan sebuah map biru. Rambutnya yang coklat bergelombang diikat rapi ke belakang, menampilkan wajahnya yang oval dengan mata besar berwarna coklat tua. Kulitnya yang eksotis tampak halus dan sehat, diterpa sinar matahari pagi.
Tapi yang membuat Arka terpana bukanlah kerapiannya. Itu adalah keseluruhan fisiknya. Lehernya yang jenjang menjulur dari kerah baju yang rapi. Kemeja putihnya, meski sederhana, tidak bisa menyembunyikan bentuk payudaranya yang bulat dan ranum. Pinggangnya ramping, kontras dengan pinggulnya yang berlekuk seksi, dibalut rok hitam yang pas di badan. Tubuhnya adalah perpaduan sempurna antara keanggunan dan daya tarik fisik yang primitif.
Arka sadar dirinya terdiam terlalu lama. "I-ya. Selamat pagi," balasnya akhirnya, berusaha mengembalikan suaranya yang tiba-tiba serak.
"Maaf mengganggu, Pak. Saya Nia. Dari Yayasan Pekerja ART Tunas Mandiri," ujar perempuan itu, memperkenalkan diri dengan sopan. Matanya yang jernih menatap Arka, tidak berkedip, seakan menilai pria di hadapannya. "Saya dijadwalkan untuk bertemu Ibu Clara dan Bapak hari ini."
Nia. Namanya sederhana, tapi terasa anehnya di telinga Arka. Lalu, seperti tersambar petir, ingatannya kembali. Percakapan singkat dengan Clara seminggu lalu.
"Aku sudah hubungi yayasan ART. Mereka akan kirim calon pembantu minggu depan. Kamu yang terima saja, ya? Aku sibuk."
Cara Clara berbicara, tanpa meminta pendapatnya, masih terngiang menyakitkan. Tapi di depan matanya sekarang adalah jawaban dari "ya"-nya yang setengah hati itu.
"Oh," ucap Arka, setelah mengingat ucapan Clara. Ia mencoba terdengar normal. "Nia. Iya, Ibu Clara bilang. Tapi... dia sudah berangkat kerja."
Ekspresi Nia sedikit berubah, tapi hanya sedetik. "Saya mengerti. Biasanya, wawancara dilakukan bersama calon majikan. Tapi mungkin Ibu sangat sibuk."
Arka merasa sedikit tersindir, entah mengapa. "Dia manager. Waktunya sangat terbatas," jawabnya, dan dia bisa mendengar nada defensif dalam suaranya sendiri.
"Tentu saja, Pak. Saya paham," jawab Nia dengan cepat, seolah menangkap kekakuan itu. "Kalau begitu, mungkin saya bisa kembali lain waktu?"
Arka melihatnya akan pergi, dan sebuah pikiran aneh melintas. Clara akan marah jika urusan pembantu ini molor lagi. Dan... dia tidak ingin perempuan ini pergi. Belum.
"Tidak perlu," ujarnya, mungkin terlalu cepat. Dia membuka pintu lebih lebar. "Silakan masuk. Kita... kita bisa bicara sebentar."
Nia tampak ragu sejenak, matanya mengamati Arka dan ruangan di belakangnya. "Baiklah, Pak. Terima kasih."
Dia melangkah masuk, sepatu flat-nya nyaris tidak bersuara di lantai marmer yang dingin. Aroma sabun mandi yang sederhana dan segar terbawa bersamanya, menciptakan kontras yang mencolok dengan aroma kopi dan kesendirian yang biasa menyelimuti rumah itu.
Arka menutup pintu, tiba-tiba sangat sadar akan kekacauan ruang tamunya. Dia buru-buru merapikan beberapa kertas dan mengambil cangkir kopi dari meja sofa.
"Maaf, keadaan agak... berantakan," ucapnya, merasa perlu berkomentar.
"Tidak apa-apa, Pak. Rumah besar seperti ini memang butuh perhatian ekstra," balas Nia dengan diplomatis. Dia tetap berdiri tegak, tasnya masih erat dipegang.
"Silakan duduk," kata Arka, menunjuk ke sofa.
"Terima kasih, Pak." Nia duduk di tepi sofa, punggungnya lurus, sikapnya sempurna. Dia meletakkan tasnya di lantai dan map biru di pangkuannya. "Ini surat perkenalan dan rekomendasi dari yayasan."
Arka mengambil map itu. Tangannya hampir bersentuhan dengan jari Nia, dan sebuah sensasi listrik singkat menyengatnya. Dia membuka map itu dengan cepat, pura-pura membaca dokumen di dalamnya. Sebenarnya, matanya hanya melayang di atas tulisan, tidak menangkap satu kata pun. Pikirannya dipenuhi oleh siluet tubuh perempuan di depannya.
"Dari dokumen ini, kelihatannya... baik," ujarnya, menutup map itu. Dia duduk di kursi di seberang Nia, merasa perlu menjaga jarak. "Jadi, kamu... Nia. Umur 23 tahun?"
"Betul, Pak. Saya lulusan SMA, dan sudah mengikuti pelatihan dari yayasan."
"Kenapa memilih bekerja sebagai ART?" tanya Arka, mencoba terdengar seperti seorang majikan yang melakukan wawancara.
Nia menundukkan pandangannya sebentar. "Saya harus menghidupi diri sendiri, Pak. Dan ibu saya. Ini adalah pekerjaan yang halal dan terhormat."
Arka mengangguk, tiba-tiba merasa seperti pria brengsek yang menanyai hidupnya. "Tentu. Tentu saja." Ia berdehem. "Ibu Clara yang akan menentukan tugas-tugasmu nanti. Tapi umumnya, semua pekerjaan rumah tangga: membersihkan, mencuci, menyetrika, memasak."
"Saya siap, Pak. Saya cepat belajar."
"Kamu akan tinggal di sini. Ada kamar pembantu di belakang, dekat dapur."
"Saya mengerti."
Diam yang canggung pun jatuh. Arka tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia hanya bisa memandangi Nia, mencatat setiap detail. Cara cahaya dari jendela menyentuh pipinya yang halus. Cara bibirnya yang alami terbentuk sempurna. Cara rok hitam itu menekankan pahanya yang ramping.
Nia tampak sadar akan pandangan Arka. Dia sedikit gelisah, merapikan ujung roknya. “Lalu bagaimana, Pak?”
Arka tersentak. Dia berdiri, tiba-tiba merasa ruangan ini terlalu sempit. "Maukah kamu... melihat kamarmu dulu? Sebelum memutuskan."
Itu adalah tawaran aneh. Dia sudah seperti mencoba menjual kamar itu, bukan mewawancarai calon pembantu.
"Tentu, Pak. Terima kasih," jawab Nia, tetap sopan.
Arka memandunya melewati koridor menuju kamar di belakang rumah. Dia membuka pintu kamar kecil itu. Kamarnya bersih, ada tempat tidur tunggal, lemari, dan sebuah jendela kecil.
"Ini kamar mandi dalam," ujarnya, menunjuk ke sebuah pintu.
Nia melangkah masuk, matanya menyapu ruangan. "Bagus sekali, Pak. Lebih dari cukup untuk saya." Dia berbalik dan tersenyum pada Arka untuk pertama kalinya.
Senyuman itu seperti sinar matahari di tengah awan. Itu mengubah seluruh wajahnya, membuatnya semakin memesona. Arka merasa dadanya sesak.
"Baik. Kalau... kalau kamu setuju, kamu bisa kembali lagi nanti sore,” ucap Arka, tergagap.
AlecI wake up suddenly, in the middle of the night. It’s another one of those nightmares that make my fucking ankle burn like shit. I sit up, reaching for it in hopes that it’ll remember to stop hurting, and that’s when I realize that Delaney isn’t in bed beside me like she has been for the past seven years. “Delaney?” I say loudly. “Here,” I hear her say. She’s standing near the balcony, which I only realize now is open. The curtains are billowing in the wind, covering her from view. I get out of bed, and limp to where she’s standing. She turns to look at me, and fuck, my heart stops beating for a moment. She’s never not stolen my breath from me. Snatched it right out of my lungs. “What’s wrong, baby?” I ask her as I approach her. “Just thinking,” she says as she turns to face me. She places her hands on either side of me, and I inch closer to her and kiss her lips. “I didn’t mean to wake you,” she says. “No, it wasn’t you, it was my foot,” I explain briefly. I then pay clos
DelaneyAlec comes up behind me, his arms circling my waist. It startles me because I was so deep in my thoughts that I completely forgot that he was somewhere behind me. All I can think about is the election that will start in about twenty minutes. We’ll be late if we don’t leave the house now. “You okay?” he asks while placing a tender kiss along my jawline. I find it in me to smile at him. “Never been better.”“It’s finally happening,” he claims as he steps back. I turn around to face him, and he hops back on his one good foot to circle my waist with his arms again. “I hope that’s not sadness I see in your eyes.”“No, I’m just thinking,” I admit. The memories claw at the edges of my mind as Alec’s arms tighten around my waist. His warmth anchors me in the present, but it’s not enough to silence the ghosts of the past. Faces flash before my eyes—people we lost, friends who sacrificed everything, moments drenched in pain and blood.But here we are. The war is over. We won.It doe
Alec Delaney. No. Pain courses through me, thick and intent to kill. She shouldn’t be here. When I realized she wasn’t in the car that came speeding down the road, I was relieved. But now she’s here, with the few other rebels who came here to save me. I don’t know what is going on. “Ah,” the sick fuck next to me says. He has his eyes on Delaney. On my girl. And the gleam in his eyes is twisted. “Miss Renner. You’ve finally joined us. I thought you’d never come.”At the sound of the man’s voice, her face completely transforms. She appears fierce. Ready. A warrior. My heart swells with pride, then shrinks with fear in the same beat. “You’ll unhand him,” she says, stepping into the role of a rebel leader swiftly. Seamlessly. “Or, we’re going to rain bullets down on you. On all of you.”The man laughs, and the crowd gasps. I stare at her face, and pray to the goddess that she won’t die here, right before my eyes. That’ll kill me faster than the silver will. “How typical of rebe
Delaney I drive around in circles, and nothing springs to mind. I don't find Alec, nor do I figure out what to do. I even drive all the way to our pack, and nothing. I think it's ridiculous for me to assume that I'd find information on him so quickly. Who would tell me? How would I just know? I guess what made me run so fast was the need to get away from Pollux. The fact that he'd hated on me for so long simply because I hadn't recognized him as my mate means a lot. He was always toxic and problematic, but at least I didn't fall for his schemes. I have this distinct feeling that tonight, everything is about to change. Thinking about Alec makes me cry. If it weren't for Pollux, he would've been safe. He doesn't deserve whatever will happen to him. He's a good person and all he ever tried to do was help us. I feel so responsible. Now, I don't know where to find the others or why they even left the camp to begin with, and I have no clue where to find Alec.I've never felt so lost
DelaneyI hear Paola say my name. “Delaney?”I turn to look at her over my shoulder, and see her in Cade’s arms. I’m outside, getting some fresh air, and I’m standing right next to a metallic garden table with the polished green paint. He sets her down on one of the matching chairs, and then retreats.
Alec“Alpha Alec,” one of my Gammas says right as he enters my office. “Here’s the list of the casualties you requested. Also, the newly appointed Alphas have accepted your meeting request for this afternoon.”“Thank you, Jason,” I tell him before taking the envelope from his hand. My whole body hurts
AlecWhen I look up, my vision is completely blurry, and there’s a mess all around me, but that’s not the first thing that I notice. Carla.She’s lying beneath me, and she’s unconscious. There’s also blood near her head, which makes me think that she hit her head way too hard when I collided against h
Alec The whole city is looking for the rebels, particularly Tobias Renner and his troublesome red-headed daughter. I couldn’t stop it or say no, not without making myself seem suspicious. I had to agree with it. Either way, I’m in control of everything that happens. Everyone’s looking up to me to ta






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews