Vickie: Médecin par Jour. Fantôme Whisperer par Nuit [Livre3

Vickie: Médecin par Jour. Fantôme Whisperer par Nuit [Livre3

last updateHuling Na-update : 2021-09-04
Language: French
goodnovel16goodnovel
Hindi Sapat ang Ratings
28Mga Kabanata
3.5Kviews
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Synopsis

Avec le mariage, l’amour et la perte à l’avant-plan, Vickie découvre des mensonges et des secrets troublants et presque meurtriers sur des personnes qu’elle pensait être des amis, et plus, tout en développant ses capacités de communication avec le monde des esprits. Avec l'aide de sa tante décédée et de son amie sorcière, elle entreprend de débarrasser sa maison des entités perverses qui s'y sont installées. Va-t-elle réussir? La romance, les frissons et les frissons dans VICKIE: Docteur le jour. Ghost Whisperer de nuit continue de vous divertir du début à la fin.

view more

Kabanata 1

1

“Berita terkini! Istana Bai Ling mengonfirmasi kaburnya Putra Mahkota Ling Chenxiao beberapa jam sebelum penandatanganan pernikahan aliansi dengan Kerajaan Yancheng. Sumber internal menyebutkan bahwa sang pangeran menolak pernikahan tersebut karena ketidaksesuaian pribadi, bahkan secara terang-terangan menyebut calon pasangannya terlalu tua seperti tante-tante.”

​Suara pembaca berita dari layar televisi raksasa di ruang tengah itu menggema, mengulang-ulang skandal kerajaan paling memalukan dekade ini.

​“Tante-tante? Huh!” Yan Zhiyao mendengus pelan. “Apa aku benar-benar setua itu?” Nada kesalnya terdengar ringan, lebih mirip geli daripada hancur.

​Tidak ada tangisan histeris ataupun bantingan barang. Sebagai seorang wanita berusia dua puluh tujuh tahun yang sejak lahir hidup di bawah ketatnya protokol kerajaan modern dan kejamnya sorotan kamera paparazzi, Zhiyao hanya menyesap air mineralnya dengan postur punggung yang tetap tegak sempurna.

​Matanya kembali jatuh pada buku yang ia genggam sebagai pelarian malam itu. Judulnya sederhana, 'Cinta di Bawah Mahkota Hitam'.

​Zhiyao baru saja menamatkannya beberapa menit lalu. Ceritanya memiliki alur yang jelas, dan seperti kebanyakan novel romansa fiksi, keadilan selalu berpihak pada protagonis. Namun, sejak halaman-halaman terakhir, ada perasaan aneh yang mengganjal di dadanya.

​Tokoh antagonis dalam buku itu—Putri Ruoyao—terus terbayang di benaknya. Seorang putri yang dijodohkan demi aliansi kekaisaran kuno, berwajah pucat dan menua sebelum waktunya. Ia dibenci tanpa diberi kesempatan, lalu disingkirkan dengan cara paling efisien oleh sang Pangeran agar pria itu bisa bersatu dengan adik perempuan Ruoyao.

​Entah mengapa, hati Zhiyao merasa iba. Nasib mereka berdua terlalu mirip. Sama-sama dijodohkan demi kepentingan takhta, sama-sama dianggap penghalang, dan sama-sama dicampakkan dengan alasan "tidak menarik".

​"Pangeran kabur demi cinta sejati. Pangeran membunuh demi cinta sejati? Ckck. Para pria keturunan raja ini sungguh konyol!" decaknya sinis.

​Tiba-tiba, udara di sekitarnya terasa hampa. Suara televisi mendadak senyap.

​Zhiyao menunduk menatap buku di tangannya yang seketika terasa panas. Huruf-huruf emas pada sampul berkilau terang, berdenyut pelan seolah memiliki napas. Cahaya tipis merembes dari sela-sela halaman, menyerap cahaya dari lampu ruang tengah sedikit demi sedikit.

​“Ah… Apa ini?" Zhiyao mengernyit.

​Belum sempat ia berpikir rasional, dalam sekejap dunia di sekelilingnya seakan retak.

​Prank!

​Gelas kaca dalam genggamannya jatuh membentur lantai. Sebuah tarikan gravitasi yang tak kasat mata mencengkeram kesadarannya, menyeretnya jatuh menembus cahaya, huruf, dan cerita.

​Ketika Yan Zhiyao membuka mata kembali, hal pertama yang ia rasakan adalah kelemahan yang absolut.

​Tubuhnya terasa sangat ringan, namun rapuh seolah tulangnya terbuat dari kaca tipis. Napasnya dangkal. Ada nyeri samar di persendian, rasa dingin tak wajar yang merayap di kulit, dan bau seduhan obat herbal yang asing memenuhi udara.

​Langit-langit di atasnya bukanlah plafon modern kediamannya, melainkan ukiran kayu kuno yang rumit.

​“Yang Mulia Putri Ruoyao… Anda sudah sadar?”

​Sebuah suara terdengar di dekatnya, lembut dan penuh kehati-hatian. Zhiyao membeku.

​Ruoyao?

​Nama itu terasa seperti sesuatu yang salah tempat. Napasnya tertahan. Pikirannya kosong selama beberapa detik, sebelum memori asing membanjiri otaknya. Ingatan milik Putri Ruoyao, sang antagonis tragis dari buku yang baru saja ia baca!

​Perlahan, Zhiyao menurunkan pandangannya. Tangan yang terbaring di atas ranjang itu kurus, teramat pucat, dengan urat-urat halus yang menonjol di balik kulit. Ini jelas bukan tangannya yang rutin melakukan perawatan di klinik modern. Kesadarannya benar-benar jatuh pada satu kesimpulan gila: ia telah masuk ke dalam cerita novel itu.

​“Ini nggak masuk akal…” suaranya serak, nyaris pecah.

​Ia mencoba duduk lebih tegak, namun tubuhnya langsung limbung. Dunia terasa bergeser, membuatnya terdiam sejenak hanya untuk menahan pusing yang mendera.

​Lalu, di tengah absurditas situasi yang bisa membuat siapa pun menjerit histeris itu, ujung bibirnya justru melengkung tipis.

​“Dari semua tokoh di buku itu…” Ia menghela napas kecil, antara pasrah dan terhibur. Ada nada geli yang sulit disembunyikan. “Aku malah jadi antagonis yang menunggu jadwal kematian?”

​Di sudut ruangan, pelayan itu menegang. Matanya melebar, jelas tidak mengerti mengapa Putri Ruoyao yang baru siuman dari pingsan di hari pernikahannya justru berbicara dengan nada aneh dan penuh geli.

​Hari sudah malam. Udara dingin merayap masuk melalui jendela kertas yang sedikit terbuka, membuat Zhiyao menggigil. Ia menarik napas dalam, menyingkap selimut sutra, dan memaksa dirinya turun. Setiap gerakan terasa berat. Ia berjalan tertatih menuju meja rias.

​Cermin perunggu di sana memantulkan wajah pucat dengan garis-garis halus. Tampak kusam dan berkerut untuk ukuran seorang gadis berusia delapan belas tahun.

​“Benar-benar… seperti orang tua,” gumam Zhiyao santai. Ia menahan tawa kecil.

​Tatapannya menajam saat menyapu deretan botol porselen di atas meja rias: krim wajah, ramuan, dan parfum. Naluri politiknya dari dunia modern yang penuh intrik berbunyi nyaring.

​“Aku harus memeriksa semuanya satu per satu.” Matanya menyipit dingin. “Tidak boleh ada yang lolos dari perhatianku.”

​Pelayan di sudut ruangan menahan napas, tampak bingung sekaligus canggung. Akhirnya ia tak tahan untuk tidak berbicara.

​“Ah… Yang Mulia… Anda benar-benar… berbeda malam ini.”

​Zhiyao menoleh melalui bahunya, senyum setengah menghiasi wajahnya. Matanya kini tidak memancarkan keputusasaan, melainkan tatapan tajam yang mengintimidasi. "Orang yang menyentuh ambang kematian akan belajar cara memandang dunia dengan cara yang berbeda."

​Pelayan itu menggigit bibirnya, ragu-ragu dan sedikit ketakutan. “Yang Mulia… apakah Anda benar-benar baik-baik saja?”

​Zhiyao hanya mengembuskan napas dan memutar matanya ke arah pintu kamar.

​Peran barunya di dunia ini jelas jauh lebih rapuh dibanding dirinya yang dulu. Namun, Zhiyao menyadari satu hal. Tubuh ini mungkin hancur, tapi jiwanya? Jiwanya adalah bangsawan yang telah bertahan dari kejamnya politik istana modern. Menghancurkan alur cerita klise ini hanyalah masalah waktu.

​Baru saja ia melirik tirai jendela, suara langkah kaki berat dan berirama terdengar dari koridor luar. Jantung lemahnya merespons dengan berdetak lebih cepat.

​Ada aura yang mendekat. Aura dominasi yang terasa familiar sekaligus menakutkan.

​Engsel tua itu berderit tajam. Saat pintu kamar terbuka, refleks Yan Zhiyao langsung bekerja. Di dunia asalnya, ia tahu persis bagaimana cara menyembunyikan kelemahan dari publik dan musuh politik. Tangannya bergerak cepat, meraih selendang tipis yang tergantung di sisi ranjang. Dengan satu gerakan lincah yang mengejutkan untuk tubuh selemah itu, ia menarik kain tersebut untuk menutupi separuh wajahnya.

​'Tidak. Jangan biarkan dia melihat wajah ini terlalu jelas.'

​Seorang pria berdiri di ambang pintu. Tinggi menjulang, mengenakan jubah kebesaran dengan pedang besar tersarung di pinggangnya, memancarkan tatapan dingin yang seolah mampu membekukan darah.

​Dialah sang Pangeran Perang Cangwu yang terkenal bengis, Ling Xiaochen.

​Pria yang di dalam naskah aslinya, bertugas mencabut nyawanya. Dan sekarang… sang algojo berdiri tepat di hadapannya.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.


Walang Komento
28 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status