LOGINLana wants to disappear from the world after scandalous rumours were spread about her by her best friend and ex-boyfriend who had been cheating on her. When she stumbled on a website offering a job as a live-in tutor somewhere far away. Lana grabs that chance to disappear. Everything seems nice and calm on the surface until the bloody ink of her pen touches the contract, and she finds herself thrust into another world she never knew existed— Werewolf and Monsters. Alpha Ronan is not only ruthless but extremely cautious when it comes to protecting his pack. After a chance meeting with Lana, he finds out that she is his destined mate. He brings her over to his house under the guise of tutoring his daughter, knowing fully well that she wouldn't be able to leave the pack. He doesn't care about the matebond because she is human and presumably weak, but he wouldn't let her go as well because she still belongs to him. Not until he realizes that his two brothers are also in love with her, and they are more than willing to claim her as his. Now, he has to contend with his personal feelings and traditions because he wouldn't let anyone close to her. She belongs to him!
View MoreAluna selalu percaya, pernikahan adalah tentang kepercayaan yang diulang setiap hari.
Bukan kepercayaan besar yang heroik—bukan janji setia yang diucapkan dengan suara bergetar di altar—melainkan hal-hal kecil yang nyaris tak terlihat. Seperti menunggu tanpa bertanya ketika suami pulang terlambat. Atau memilih diam ketika pesan singkat di ponselnya terkunci rapat. Atau mengabaikan perasaan aneh yang sesekali muncul, lalu mengusirnya dengan dalih: aku hanya terlalu lelah. Pagi itu, Aluna berdiri di dapur rumah mereka yang rapi dan tenang. Aroma kopi hitam menguar perlahan, memenuhi ruangan dengan kehangatan palsu. Ia menuangkannya ke dalam cangkir favorit suaminya—putih dengan garis tipis emas di bibir cangkir—sebuah kebiasaan kecil yang tak pernah berubah sejak tahun pertama pernikahan mereka. Langit di luar jendela mendung. Abu-abu. Seperti firasat yang tak berani ia akui. Langkah kaki terdengar dari arah tangga. Aluna menoleh, senyum refleks langsung terbit di wajahnya. “Kopi sudah jadi,” katanya lembut. Raka muncul dengan kemeja biru muda yang sudah disetrika rapi. Wajahnya tampak segar, terlalu segar untuk seseorang yang pulang hampir tengah malam. Rambutnya tersisir sempurna, arloji mahal melingkar di pergelangan tangan kirinya—hadiah ulang tahun dari Aluna dua tahun lalu. “Terima kasih,” ujar Raka sambil meraih cangkir. Ia menyesap kopi itu tanpa menatap istrinya. Aluna memperhatikan gerak-geriknya. Cara Raka berdiri, cara ia menatap layar ponselnya terlalu lama, cara jari-jarinya bergerak cepat mengetik pesan lalu segera menguncinya kembali. “Pulang jam berapa semalam?” tanya Aluna pelan, seolah hanya basa-basi. Raka tak langsung menjawab. “Hampir jam dua. Ada rapat mendadak.” Aluna mengangguk. Ia tidak bertanya lebih lanjut. Tidak pernah. Ia duduk di kursi makan, memperhatikan suaminya dari jarak yang kini terasa asing. Ada sesuatu yang berubah dalam diri Raka. Bukan perubahan yang mencolok—tidak ada parfum asing, tidak ada bekas lipstik murahan, tidak ada panggilan telepon mencurigakan yang ia dengar langsung. Yang ada hanyalah jarak. Jarak yang tumbuh diam-diam, seperti retakan rambut di kaca. Nyaris tak terlihat, tapi perlahan melebar. “Besok malam aku juga pulang agak telat,” kata Raka tiba-tiba. “Klien dari luar kota.” “Baik,” jawab Aluna cepat. Raka tersenyum sekilas, lalu mencium keningnya—singkat, nyaris formal—sebelum melangkah pergi. Pintu rumah tertutup. Dan keheningan kembali mengambil alih. Aluna duduk sendirian cukup lama, menatap cangkir kopi yang tak tersentuh. Ada rasa pahit yang menetap di lidahnya meski ia belum menyesap apa pun. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Jangan berlebihan, batinnya. Raka hanya sibuk. Ia mengulang kalimat itu berkali-kali, seperti mantra. Namun siang harinya, mantra itu mulai kehilangan kekuatannya. Aluna memutuskan mengantar makan siang ke kantor Raka. Sudah lama ia tak melakukannya—kesibukan masing-masing membuat kebiasaan kecil itu menghilang begitu saja. Ia tak memberi kabar lebih dulu. Ia ingin memberi kejutan. Gedung kantor Raka menjulang tinggi dengan dinding kaca berkilau. Aluna melangkah masuk dengan tote bag berisi bekal yang ia masak sendiri pagi tadi. Satpam mengenalnya, tersenyum ramah, dan membiarkannya masuk tanpa banyak tanya. Di lift, Aluna berdiri sendiri. Cermin memantulkan wajahnya yang tampak tenang—perempuan awal tiga puluhan dengan riasan tipis, rambut diikat sederhana. Tak ada yang istimewa, namun rapi. Selalu rapi. Pintu lift terbuka di lantai eksekutif. Suasana kantor hening, hanya suara ketukan keyboard dan langkah kaki yang tertahan. Aluna melangkah menuju ruang direktur—ruang kerja Raka—namun berhenti beberapa meter sebelum pintu. Pintu itu tidak tertutup rapat. Awalnya, Aluna hanya mendengar suara Raka. Tertawa kecil. Bukan tawa formal yang biasa ia dengar saat rapat keluarga atau acara resmi. Tawa itu ringan. Lepas. Hangat. Lalu terdengar suara perempuan. “Pak Raka ini bisa ya… bikin orang susah fokus kerja.” Nada suara itu lembut, sedikit manja, dan terlalu akrab. Aluna berdiri membeku. Ia tidak langsung mengintip. Tidak berani. Jantungnya berdetak keras, telinganya panas, dan napasnya terasa berat. Ia tahu, satu langkah kecil ke depan akan mengubah segalanya. Namun kakinya bergerak sendiri. Dari celah pintu kaca, Aluna melihat mereka. Raka duduk di kursinya, tubuhnya condong ke depan. Di hadapannya berdiri seorang perempuan muda dengan rok pensil dan blus putih. Rambutnya tergerai rapi, wajahnya cantik dengan cara yang segar—terlalu segar. Perempuan itu tertawa kecil, lalu—dengan gerakan yang tampak begitu alami—menyentuh lengan Raka. Sentuhan singkat. Namun cukup. Cukup untuk membuat dunia Aluna bergeser. Raka tidak menepisnya. Ia justru tersenyum, mata mereka bertaut lebih lama dari seharusnya. Ada sesuatu di udara di antara mereka—sesuatu yang tidak pantas berada di ruang kerja seorang pria beristri. Aluna mundur satu langkah. Tangannya gemetar. Bekal makan siang terasa berat, seolah beban itu kini bukan sekadar makanan, melainkan kenyataan yang menekan dadanya. Ia berbalik sebelum ada yang menyadari kehadirannya. Langkahnya cepat, nyaris berlari, sampai ia kembali masuk ke lift dan pintu menutup dengan bunyi lembut yang terasa seperti vonis. Di dalam lift, Aluna menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya pucat. Namun matanya—anehnya—tidak berkaca-kaca. Tidak ada air mata. Yang ada hanyalah kesadaran perlahan, dingin, dan menyakitkan: bahwa kecurigaannya selama ini bukan ilusi. Di rumah, Aluna duduk di tepi tempat tidur mereka. Bekal makan siang masih utuh, tak tersentuh. Ia meletakkannya di meja kecil, lalu membuka ponselnya. Ia menggulir galeri foto. Foto pernikahan mereka. Foto liburan. Foto ulang tahun. Senyum-senyum yang dulu ia percaya sepenuhnya. Ia berhenti di satu foto—Raka memeluknya dari belakang, dagunya bertumpu di bahu Aluna, tersenyum lebar ke arah kamera. Sejak kapan senyum itu tidak lagi untukku? Aluna mengunci ponselnya. Malam itu, ketika Raka pulang lebih awal dari biasanya, Aluna menyambutnya dengan senyum yang sama seperti pagi tadi. “Aku masak sup favorit kamu,” katanya lembut. Raka tampak terkejut sesaat, lalu tersenyum. “Wah, jarang-jarang.” Mereka makan malam bersama. Mengobrol tentang hal-hal remeh. Raka bercerita tentang pekerjaan. Tentang target perusahaan. Tentang rencana liburan yang tak jelas kapan akan terwujud. Aluna mendengarkan dengan saksama. Tak satu pun pertanyaan ia ajukan. Tak satu pun kecurigaan ia ungkapkan. Di dalam kepalanya, sebuah keputusan mulai terbentuk—pelan, tenang, dan mematikan. Jika Raka memilih berbohong dengan rapi, maka Aluna akan belajar tersenyum sambil menyimpan luka. Karena ini baru awal. Dan setiap pengkhianatan, selalu punya harga yang harus dibayar.Lana's POVI woke to the smell of coffee and the unfamiliar feeling of sun warming my face. For a disorienting second, my heart lurched, expecting the grey stone walls of the compound, or the heavy, familiar wood of the Lancaster bedroom. Then it settled: cream-colored walls, the soft sigh of central air, the distant hum of a city waking up twenty floors below.Bastien’s luxury apartment. Our new life.I padded out to the open-plan living area. Bastien stood at the stainless-steel kitchen island, a giant looking absurdly delicate holding a French press. He was wearing sweatpants and a simple grey t-shirt that strained over his shoulders. The sight was so disarmingly normal it made my chest ache.“You’re supposed to be sleeping in,” he rumbled, pouring a mug of inky coffee and sliding it toward me. “City’s noisy. Took me half the night to get used to it.”“It’s a good noise,” I said, wrapping my hands around the warm mug. It was the noise of anonymity. “Thank you. For this.”He shrugge
Ronan's POVThe sound of Finn’s voice, low and venomous in the hallway, was the final straw. He caused all of this so he had absolutely no right to feel wronged.I was out of the study and down the hall before the thought fully formed. I turned the corner to see him crowding her against the wall, his posture aggressive, his words a sharp, quiet assault. She looked exhausted, hollowed out, but her chin was still lifted in that defiant way that once made my heart swell and now made it feel like it was being crushed in a vise.“Enough,” I said, my voice cutting through the tension like a blade.They both flinched, turning. Finn’s eyes flashed with a mix of guilt and defiance. Lana’s were just… weary.“Alpha, I was just,”“I heard what you were just doing,” I interrupted, my tone leaving no room for argument. I walked forward, inserting myself physically between them, forcing Finn to take a step back. I kept my back to Lana. I couldn’t look at her. Not now. “She made her choice. Bastien m
Lana's POVI let the words simmer.“You are not leaving my territory with him,” he stated, each word a law etched in stone.A strange calm settled over me. This was the reaction I’d expected. This was the Alpha who couldn’t conceive of losing. “You don’t have a say in it, Ronan. We had a deal. A week to choose. I chose. The terms were clear: if I chose someone else, I could leave with them. You agreed.”“I agreed to a farce to placate you and my traitorous brothers!” he snarled.“I did not agree to you walking out of my life!”“You don’t get to rewrite the rules now that you’ve lost,” I said, my voice steady even as my heart battered my ribs. “This isn’t a challenge you can dominate into submission. This is the consequence of your own actions. Of the secrets, the pressure, the wars you dragged me into without my consent. And it’s the consequence of everyone in this house telling me the best thing I could do for you was to let you go.” I took a shallow breath. “So I’m letting go. We’re
Lana's POVEveryone was quiet for what felt like an eternity even if it was only just a few seconds.Then, Ronan made a sound. It was a low, wounded noise from deep in his chest, the sound of an animal mortally struck. The fire in his eyes didn’t just die; it was extinguished by an avalanche of pure, utter devastation. He took a single, stumbling step back.Finn’s face went blank, a perfect mask of military neutrality, but his knuckles were white where they gripped the arm of the chair.Bastien… Bastien looked shocked. Then, slowly, a profound, heartbreaking understanding dawned in his eyes. He wasn’t seeing victory. He was seeing a duty he’d promised to fulfill.I forced myself to speak into the void, my voice trembling but clear. “Ronan… Finn… I’m sorry. This isn’t a rejection of who you are. It’s a choice for what I need right now. And I have my reasons.”“Reasons,” Ronan echoed, the word a hollow rasp. “What reasons? What could possibly,”He was cut off as Bastien pushed himself o






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.