LOGINIn my last life, my sister, Raven Webster, and I rescued two eggs. Her egg hatched into Snowviper, while mine became Blazewing. But Raven stole Blazewing from me. None of us could have imagined the world would end in a brutal heatwave apocalypse. Raven died from heat stroke in that inferno. And before she died, she tricked my husband, Snowviper, into strangling me with his own tail. Somehow, we were both reborn on the very day those eggs hatched. This time, Raven snatched up Snowviper. She thought having him would keep her safe through the heatwave apocalypse. What she didn't know was that Snowviper's powers could only be fueled by drinking fresh human blood every single day.
View MoreRani tiba di Citra Asmarayudha Residence, diantar oleh Tasya. Dari balik kaca mobil, ia menatap gerbang hitam menjulang. Satpam bernama Rahman memberi salam dengan sikap kaku, membuat Rani merasa kecil dan asing, seolah baru saja melangkah ke dunia lain.
Saat mobil berhenti di depan pintu masuk megah, mata Rani membesar melihat rumah yang berdiri anggun di hadapannya. Fasad marmer putih berkilau diterpa cahaya sore, sementara taman di sekelilingnya mekar penuh warna. Tasya melirik padanya dengan senyum puas. “Selamat datang di rumah, Rani,” ucapnya manis, meski terdengar palsu. Rani turun dari mobil dengan jantung berdebar. Udara di sekitarnya dipenuhi aroma bunga eksotis bercampur dengan segarnya rumput yang baru dipangkas. Ia menggenggam erat pegangan kopernya, merasa seperti orang asing di dunia penuh kemewahan ini. Sepatu hak Tasya berketuk pelan di jalan berbatu, memimpin langkah menuju pintu depan. “Aku yakin kamu akan betah di sini,” katanya sambil melirik sekilas pada adiknya dengan senyum seakan penuh pengertian. “Dimas sudah menyiapkan kamar untukmu.” Begitu masuk ke serambi, Rani tertegun melihat kemewahan yang menyambutnya. Sebuah tangga besar melingkar ke atas, sementara lampu kristal menggantung megah di langit-langit, memantulkan cahaya pelangi di lantai marmer. Tiba-tiba, suara berat terdengar menggema di lorong. “Tasya, kau sudah kembali.” Dimas Elvano Satya muncul dari ruang kerjanya, tatapannya langsung tertuju pada Rani. Ia tampak nyaris sempurna dalam balutan jas yang rapi membentuk tubuh atletisnya, rambut hitamnya tertata tanpa cela. Kehadirannya begitu dominan, membuat jantung Rani berdegup kencang. “Jadi ini adikmu?” tanyanya, melangkah mendekat, gerakannya seperti predator yang sedang mengukur mangsa. Rani berdiri kaku, matanya terkunci pada pria itu. Dari dekat, ia bisa mencium aroma halus cologne, perpaduan kayu cendana dan sesuatu yang maskulin. Tatapannya tajam, seolah mampu menembus hingga ke dalam dirinya. “Rani,” sela Tasya, cepat-cepat meraih lengan Dimas dengan sikap posesif. “Bukankah dia manis? Aku yakin dia akan berguna di rumah ini.” Senyum tipis muncul di bibir Dimas. “Aku juga yakin begitu,” gumamnya tanpa mengalihkan pandangan dari Rani. “Ayo, biar kutunjukkan kamarmu.” Ia mengisyaratkan ke arah tangga, tangannya terulur menunggu. Rani ragu sejenak, lalu meletakkan tangannya di genggamannya. Jantungnya kembali berdegup kencang saat merasakan cengkeraman kuat dan menguasai itu. Ia menuruti langkah Dimas menaiki tangga, matanya tak lepas dari punggung lebar pria itu, dari cara jasnya jatuh mengikuti bahu kokoh setiap kali ia bergerak. Mereka melewati lorong panjang yang dipenuhi lukisan mahal dan karpet mewah. Rani merasa kian kecil, bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya menantinya dengan keputusan tinggal di rumah ini. Dimas berhenti di depan sebuah pintu, lalu mendorongnya terbuka. Sebuah kamar luas tersingkap, dipenuhi nuansa pastel lembut. Tempat tidur empat tiang besar berdiri di tengah ruangan, dihiasi tirai sutra dan bertumpuk bantal empuk. “Ini kamarmu,” ujar Dimas, menyingkir sedikit agar Rani bisa masuk. “Semoga sesuai dengan harapanmu.” Rani ragu di ambang pintu, matanya terbelalak menatap kemewahan di dalam. Ruangan itu lebih besar daripada seluruh apartemennya dulu, lantainya tertutup karpet lembut, ada area duduk dengan sofa dan kursi mengelilingi meja kopi, meja rias berukir indah menempel di dinding, dan jendela setinggi langit-langit menampilkan pemandangan taman hijau yang menakjubkan. “Ini… indah sekali,” bisiknya, melangkah masuk. Ia meletakkan koper di sisi ranjang, merasa canggung dengan gaun hitam sederhana yang dikenakannya di tengah ruangan penuh kemewahan. Saat ia masih berdiri kikuk, Dimas berdehem. “Aysha akan mengajakmu berkeliling dan menjelaskan aturan rumah ini,” katanya, nada suaranya tak memberi ruang untuk membantah. “Ikuti instruksinya dengan baik.” Belum sempat Rani menjawab, seorang wanita masuk. Pakaian hitam dengan celemek putih membalut tubuhnya, rambutnya disanggul rapi. Rani langsung menebak: Aysha, kepala staf rumah tangga. “Selamat datang, Rani,” sapa Aysha dengan senyum ramah. “Saya Aysha. Hari ini saya akan menemanimu berkeliling.” Dimas hanya mengangguk singkat, lalu berbalik keluar dan menutup pintu di belakangnya. Rani menoleh pada Aysha, diliputi campuran lega sekaligus gugup. “Mari kita mulai dari dapur,” kata Aysha ceria, memberi isyarat padanya untuk ikut. “Penting bagimu memahami bagaimana segalanya berjalan di sini.” Mereka menuruni tangga besar menuju dapur luas yang dipenuhi peralatan modern. Rani nyaris terpana melihat ukurannya. Segala sesuatu dari baja tahan karat berkilau di bawah cahaya terang, sementara sebuah meja marmer besar berdiri di tengah ruangan. Rani tak tahan untuk menyusuri permukaannya dengan jemari, kagum pada kehalusannya. “Pertama-tama,” Aysha menunjuk panel di dinding, “di sinilah semua aturan dan jadwal rumah tercatat.” Ia mengetuk layar sentuh, dan daftar instruksi muncul. “Kamu harus hafal. Tuan Dimas menuntut kesempurnaan.” Rani mengangguk sungguh-sungguh. Kata-kata seperti kebersihan, ketepatan waktu, dan kerahasiaan terasa membebaninya. Ia sadar tanggung jawab yang dipikulnya jauh lebih berat dari perkiraannya. Tur berlanjut ke ruang tamu, penuh barang antik dan karya seni mahal. Rani mendengarkan dengan tekun, berusaha menyerap setiap detail. “Sekarang, biar saya tunjukkan cara menata meja makan,” kata Aysha sambil menuntunnya ke ruang makan besar. Meja mahoni panjang terbentang, cukup untuk menampung dua puluh orang. Ia mulai mengeluarkan peralatan makan dan gelas kristal, menjelaskan aturan penempatan satu per satu. Rani memperhatikan seksama, mencoba menirukan. Namun saat ia meraih gelas, sikunya tanpa sengaja menyenggol vas di dekatnya. Vas itu jatuh dan pecah berantakan di lantai. Rani membeku, jantungnya berdegup kencang. Pecahan porselen berkilau menyebar di atas lantai kayu. Senyum Aysha sempat memudar, tapi ia segera menguasai diri. “Tidak apa-apa,” katanya lembut namun tegas. “Kecelakaan bisa terjadi. Tapi di rumah ini, kita harus selalu berhati-hati.” Ia berlutut, memunguti pecahan besar, lalu memberi isyarat agar Rani mengambil sapu dan pengki. Saat mereka membersihkan bersama, Aysha terus berbicara dengan nada menenangkan. “Saya tahu ini terasa berat, Rani. Rumah ini punya aturan dan tuntutannya sendiri. Tapi sekarang kamu bagian dari keluarga, dan kami akan membantumu menyesuaikan diri.” Rani mengangguk penuh rasa terima kasih. Ada kelegaan yang menyeruak, meski hatinya masih diliputi kecemasan. Setelah semuanya beres, Aysha berdiri dan menepuk bahunya dengan hangat. “Kamu akan baik-baik saja,” ujarnya sambil tersenyum. Tangan hangat Aysha di bahu Rani menghadirkan sedikit rasa nyaman, seperti jeda singkat di tengah hari yang penuh tekanan. “Terima kasih,” gumam Rani pelan, matanya tertunduk. “Aku berusaha sebaik mungkin untuk mengerti semuanya.” “Kamu baik-baik saja,” balas Aysha lembut, nadanya menenangkan. “Kalau ada yang membingungkan atau kamu butuh bantuan, jangan ragu untuk bertanya. Kami semua ada untuk mendukungmu.”Snowviper's eyes flashed with a cruel gleam as his voice turned icy. "Guess I've been too nice to you. You've been living off my powers, and you still dare to hit me?"Instead of backing down, Raven only grew more hysterical."The only reason I let you drink my blood before was because your powers kept me alive. But look at you now—water's about to flood the whole house! What good are you to me anymore? I must've been blind to choose you. I would've been better off with that stupid phoenix!"Snowviper sneered. "Didn't you already choose that stupid phoenix in your last life? Tell me, how'd that work out for you?"Raven was struck silent, choking on her words.He tilted his head, smiling coldly. "Still, you reminded me of something. Just sitting here with you is a waste of time, don't you think?"A flicker of hope lit up Raven's eyes. "Are you saying you know a way out of here?"He gave a careless shrug. "With my ability, freezing this flood solid isn't exactly a challenge."Rav
Through the bronze mirror, I saw the floodwaters nearly reaching Raven's window.No wonder she was calling me. But still, she was the one begging for help, and she had the nerve to act all high and mighty.Her impatient voice rang out again. "Hey, why aren't you saying anything? I'm only agreeing to work with you because you're my sister. Don't be ungrateful."I gave her a mocking smile. "Oh, should I be thanking you, then?"She didn't catch the sarcasm at all. "Of course! I'm basically saving your life. Now grovel and beg me.""Forget it. Save that favor for someone else."I hung up on her with a sharp click.A second later, the phone rang again. I didn't want to answer, but curiosity got the better of me. I wanted to hear what she'd come up with this time.On the other end, Raven put on her fake magnanimous act. "Fine. Since you're my sister, I'll lower my standards. You don't need to grovel anymore. Just come find me and Snowviper, and take us to the top of Mount Cashmoore."
I couldn't help but laugh when I saw Blazewing's puffed-up, angry face.My smile only made him angrier. "Don't ever go to her again! In our past life, you hatched me, but she stole me away! She tricked me into thinking she was you. I can't believe I wasted all that loyalty on her!""How do you even know I was the one who hatched you?" I asked."You sang to me while I was still in the egg. You were totally off-key. When I heard Raven sing, I knew right away she wasn't the real one. She sings too well. "After I realized that, I thought about sneaking off to find you and trading places with Snowviper, but then the heatwave apocalypse hit. I figured with his cooling powers, you might actually be happy with him. I never thought he'd treat you like that."I froze, embarrassed that he could hear me singing even before he hatched.Then the reality of it all sank in again—we were either going to drown or roast alive. I sighed. "I can't believe it. Even with a second chance at life, I sti
Blazewing told me to stay put in the cellar while he flew up to check things out.It felt like forever before he finally came back down. He looked rattled and told me the floodwater outside was getting worse. Sure, the cellar had a cover over it, but with so much water piling up, he was afraid we'd be completely underwater in just a few days.That was when it clicked for me.The crazy heat must've melted the glaciers at the South Pole. With all that water and the temperature this high, no wonder it kept raining nonstop. If this went on, it would be flooding everywhere.And when that happened, Blazewing and I would end up drowning right here in this cellar.I shared my thoughts with him, and he agreed it made sense."We have to get out of here and move above ground," I said.He bit his lip. "I know. We can't stay down here. But the heat outside is brutal. If we move up, we'll just burn alive instead."He lowered his head while he spoke, "I'm sorry, I can't give you a better life






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.