LOGINIt was the fifth year of my engagement to Jake Zimmer. Just as we were preparing to get married, his first love came back. Suddenly, every promise he had made to me meant nothing. Because of her, he began to resent everything I did. That was when I realized I was nothing compared to the woman he truly loved. I was tired, so I let go. I gave them my blessing and walked away from Jake’s life for good. But then, he changed his mind. He came back in tears, begging me not to leave.
View MoreNADIA
- 1 Talak 100 "Punya suami gini amat. Awas kalau pulang nanti kujatuhi talak 100 kamu, Mas." Nadia mengomel sambil memandang jam dinding kamar. Kalimat yang sebenarnya hanya sebagai penghibur diri. Padahal hatinya terasa perih. Ia tahu suaminya pergi ke mana dan dengan siapa. Dengan wanita itu. Seseorang yang disembunyikan dan begitu dilindungi oleh Davin. "Pulanglah. Mari kita bicara baik-baik. Aku sudah ikhlas melepasmu." Dan ketika Davin pulang jam sebelas malam, Nadia hanya diam. Talak 100 tidak jadi diucapkan. Hatinya terlampau sakit. Sebelumnya ia pasti bertanya ini itu. Kenapa pulang telat? Ada masalah apa? Apa yang bisa kubantu? Kalau ada sesuatu ceritakan dan aku akan mendengarmu. Namun sekarang Nadia diam. Karena semua pertanyaan tidak pernah dijawab. Davin paling hanya bilang, "Itu urusanku." Ya, memang benar. Itu urusannya. Selina hanya urusan Davin. Nadia mengambil baju kotor suaminya yang diletakkan di sofa kamar sebelum pria itu masuk kamar mandi. Kemeja biru di tangannya, menguar aroma parfum perempuan. Ketika diperhatikan, ada noda lipstik di bagian dada, dekat dengan saku. Dada Nadia sesak. "Aku ada meeting tadi," ucap Davin tiba-tiba saat keluar dari kamar mandi. Ketika itu Nadia sudah berbaring miring menghadap dinding. Ia tersenyum getir. Disangka suaminya, Nadia tidak tahu apa-apa. "Ada relasi datang dari luar kota," lanjut Davin. "Kamu mendengarku, kan?" "Aku nggak nanya, Mas. Bukankah aku nggak perlu tahu urusanmu. Itu yang kamu bilang padaku." Nadia tidak bisa menahan diri. Davin terkejut sambil memandang istrinya. Nadia tidak pernah bicara kasar padanya. Bahkan setelah dirinya berhari-hari tidak pulang. Padahal dulu Nadia suka sekali bercanda. Walaupun itu tidak menarik perhatian suaminya. Davin tetap kaku. Memandangnya dengan datar. Dan Nadia berlalu dengan candaan yang tidak lucu. "Lain kali, lebih rapi lagi kalau sedang bermain-main. Nggak usah ninggalin jejak. Tanpa jejak yang tertinggal pun, aku sudah tahu semuanya. Kamu berusaha menyembunyikan dia dariku." "Apa maksudmu?" Nadia turun dari pembaringan. Ia mengambil ponselnya dan mengirimkan semua bukti kencan suaminya dengan wanita itu. Jelas saja Davin terkejut. Dari mana Nadia mendapatkan semua fotonya. Tidak mungkin mengikutinya ke mana pun ia janjian dengan Selina. Mereka punya bayi yang baru berusia dua tahun. Tentu saja Nadia tidak akan mengajaknya keluar berjam-jam dalam pengintaian. "Aku dan Selina ada urusan kerja." Davin mengelak. "Pekerjaan apa sampai parfum dan lipstik pun menempel di bajumu?" Dahi Davin mengernyit. Nadia mengambil kemeja suaminya dari keranjang cucian. Lalu meletakkan dengan paksa ke tangan suaminya. Davin diam beberapa saat memperhatikan noda itu. "Ya. Kamu benar, Nad. Aku memang bersamanya." Davin bicara lirih. Namun pengakuan itu menghantam dada Nadia. Dan malam itu dimulainya perang dingin di antara mereka. Hingga pengakuan Davin yang bilang mencintai Selina, membuat Nadia sadar. Dia kalah. Dia tidak pernah memenangkan hati suaminya. Meski sudah empat tahun membersamainya. Padahal dengan Selina tidak ada hubungan apa-apa. Tapi pertemanan mereka ternyata istimewa. "Kami sudah pernah terlanjur bersama," ujarnya lirih. Dan membuat hati Nadia semakin hancur dengan tubuh gemetar. "Baiklah. Kita bercerai saja," ucapnya singkat. Jiwa Nadia remuk sudah. 🖤LS🖤 Dua bulan kemudian .... "Cepat sembuh. Seminggu lagi sidang ikrar talak kita. Pengacara Mas yang tadi ngabari aku." Begitu tenangnya Nadia bicara di samping brankar lelaki yang sebentar lagi akan bergelar mantan suami. Seolah kehancuran dua bulan yang lalu sudah terlupakan. "Lagian Mas nggak mungkin nikah dengan Selina dalam keadaan babak belur begini, kan," lanjut Nadia sambil tersenyum. Mengajak pria itu bercanda. Namun terasa garing. Karena sama sekali tidak lucu. Davin hanya menatapnya lekat. Ada sesuatu yang sulit ia jelaskan. Satu perasaan hampa yang baru ia sadari. Nadia tetap bersikap biasa saja. Meski kalimat itu terasa menyengat di dadanya. Ia harus tegar meski hatinya hancur. Seolah luka itu tenggelam di dalam senyum dan raut wajahnya yang tenang. Bukankah ia sudah terbiasa. Biasa pura-pura tidak tahu apa yang terjadi di belakangnya. Antara Davin dan Selina. Biasa memaafkan atas semua kesalahan suaminya. Tapi sekarang, ia sudah tidak seperti dulu lagi. "Makasih kamu sudah datang," jawab Davin dengan suara serak. "Tadi aku dikabari Mama Septa. Oh, ponselmu bunyi, Mas." Nadia mengambilkan ponsel Davin yang berpendar di atas nakas. Sambil menunggu pria itu menerima telepon, Nadia memperhatikan tangan kanan Davin yang diperban, wajahnya pucat. Sosok yang dulu membuat Nadia jatuh cinta setengah mati, bahkan sebelum mereka menikah karena perjodohan. Namun setelah papa pria itu meninggal setahun yang lalu, Davin memutuskan menceraikan Nadia. Meski mamanya sendiri mati-matian menentang. Nadia akur. Empat tahun sudah ia berusaha merebut hati suaminya, tapi nyatanya cinta lelaki itu hanya untuk wanita lain. Sekarang Nadia sadar. Untuk apa mencintai seseorang yang tidak membuat dirinya dicintai kembali. Dan perpisahan ini biarlah berjalan damai. Demi ibunya, demi calon mantan mertua yang begitu sayang padanya, juga demi Adam. Anak yang sebenarnya tidak diharapkan kehadirannya oleh papanya sendiri. "Jangan hamil dulu. Kita butuh proses untuk adaptasi dan kita nggak tahu bagaimana hubungan pernikahan ini nanti." Begitulah Davin bicara setelah mereka menikah. Namun setahun kemudian Nadia hamil. Davin kecewa. Dia tidak pulang malam itu dan entah tidur di mana. Besok sorenya pulang dan bersikap seperti biasa. Meminta haknya seperti biasa. Ironis sekali bukan. "Bagaimana keadaan Adam?" tanya Davin setelah selesai menelepon dan meletakkan ponselnya di atas meja. "Dia baik-baik saja." Davin mengangguk samar. Ada sesuatu yang menegang di kepalanya. Sebuah rasa bersalah. Mungkin juga rasa kehilangan yang ia sendiri tidak berani mengakui. Meski ia memilih Selina, tapi tak bisa menghapus fakta bahwa ada darahnya yang mengalir dalam diri bayi berusia dua tahun itu. Dan Nadia, sosok yang mendampinginya empat tahun ini. "Aku minta maaf." "Aku selalu memaafkanmu. Mulai sekarang jangan minta maaf lagi. Kita sudah sepakat mengakhiri semuanya." Nadia tersenyum sambil memandang Davin. Ketenangan itu, dari mana datangnya. Davin melihat Nadia bicara tanpa beban. Keheningan menggantung. Sampai akhirnya pintu diketuk dari luar. Lalu terkuak perlahan dan muncul wanita berambut sebahu. Wajah cantiknya terlihat khawatir. Selina. Wanita yang selama empat tahun menunggu Davin menceraikan Nadia. Wanita yang selama empat tahun menjadi bayangan kelam dalam rumah tangganya. Wanita yang sangat dicintai Davin, meski katanya mereka hanya sahabat. "Nadia, kamu di sini?" sapa Selina sambil tersenyum ramah. Seolah tidak ada masalah apapun di antara mereka. "Mama yang ngabari tadi. Sekarang beliau masih sholat asar di Mushola." Nadia menaruh tali tas di bahunya lantas berdiri. Ia memandang Davin. "Mas, aku pulang dulu. Semoga lekas sembuh. Jangan lupa, datang di sidang ikrar talak kita." Davin menelan saliva. Nadia memandang Selina yang sedang menaruh barang bawaan di meja. "Sel, aku pamit. Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam." Setelah itu Nadia keluar tanpa menoleh ke belakang lagi. Entah kenapa dada Davin terasa seperti tertusuk sesuatu. Ketenangan Nadia mengoyak pertahanannya. Wanita itu begitu siap menghadapi perceraiannya. Padahal dulu ia selalu menutup mata dengan kesalahan-kesalahan suaminya. "Aku akan mendampingi saat ikrar talakmu nanti, Mas." Selina tersenyum sambil duduk di kursi bekasnya Nadia tadi. Next .... - Hai, teman-teman pembaca semuanya. Ketemu lagi dengan cerbung baruku ya. Selamat membaca 🫰🏻🫰🏻When Madison rushed Dylan to rinse the burns with cold water, she finally realized what had happened. Someone had slammed into him from behind, and scalding pear syrup had splashed all over his back.He had also been holding a steaming cup of ginger tea, which he said he brought for her because she had been coughing lately. But the impact knocked it out of his hands and spilled it all over him. His palms were red and swollen from the burn.Madison quickly called the front desk and asked them to pick up a set of men’s clothes. Then she rushed back into the office building to find some ice packs.Just as she stepped out, she ran into Jake.He looked shaken and awkward. “Madison, I’m so sorry. I didn’t mean to bump into him.”Only then did she realize it was Jake who had hit Dylan.Her brows furrowed. “What are you doing here?”Jake hesitated. “I remembered you liked baked pears. I searched all over the city to find a shop that still makes them. I wanted to bring you some.”“I don
As soon as Madison stepped inside, Jenny watched her closely. “You really let go of the Zimmer family heir?”Madison shook her head. “There’s nothing to let go of. Once I walked away, I never planned to look back.”Jenny beamed. “That’s more like it.”She scoffed. “That guy only comes running back when the influencer he picked over you ends up with someone else and calls him rich and gullible. He swore he’d never make the same mistake again, but the second Xena Ford showed up, he forgot all about you. Who knows—next time it might be a Jenna Ford or a Wendy Ford.”Madison gave a quiet laugh. “I’m not going back.”Jenny raised her voice. “And just to be clear, this has nothing to do with my brother! But if you let that man treat you like a yo-yo, calling you back whenever he wants, then don’t blame me for cutting ties. I’d rather skip meals than hear another word about you being hurt by him.”Behind her, Dylan nudged Jenny. “Come on, sis. That’s enough.”Jenny grinned. “Okay, okay
Madison shook her head and spoke evenly. “You’re the heir to the Zimmer family. If anything, I was never good enough for you. The engagement is over. There’s no need to joke about it, Mr. Zimmer. Goodbye.”She said the word “goodbye,” but everything about her tone and expression made it clear that she meant it for good. She had already started to close the door when Jake called out, “Wait!”He scrambled to take off his backpack, dropped to his knees, and quickly unzipped his suitcase.“I mean it. I know I messed up, but I’m trying to make things right. Look, I found everything you once threw away. Your sapphire earrings, the rings... I even worked with the same designer to recreate a brand-new set for us.“And here’s the preserved rose and the scrapbook you gave me…”Madison took a step back, eyeing the pile of mementos in front of him with a calm, distant look. “Those are your things, Mr. Zimmer. You don’t need to show them to me.”Jake stayed kneeling on the floor, looking up
Jake had imagined a dozen possible scenarios, but the one thing he hadn’t considered was that someone else might already be by Madison’s side.She really didn’t want him anymore.He stood frozen at the door, his mind spinning so fast he couldn’t even figure out what kind of expression to wear.Dylan looked at the man outside the door, dragging a suitcase and carrying a backpack. After a moment of silence, he asked again, “Can I help you?”Jake replied stiffly, “My name is Jake Zimmer. I’m here to see Madison Spencer.”At the mention of his name, something flickered across Dylan’s face, but it passed quickly. He gave Jake a polite smile. “Wait here.”Then he turned back toward the apartment and called out, “Maddie, Jake Zimmer’s here to see you.”Maddie.Jake blinked, thrown off. He had always called her Madison and never used a nickname.“Did she like it when he called her that? Or was it because they were especially close that he could?” he wondered.Without realizing it, Ja






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.